
Aku segera berlari masuk ke dalam apartemen ku dan mencari Keysa maupun Kara.
“Aku pulaaangggg” teriak ku dengan riang gembira.
Aku melemparkan tas kecil ku dan menyambut Kara yang sudah berlari ingin memeluk ku.
“Uh sayaannggg. Hari ini baik sama aunty Keysa?” Tanya ku kepada Kara.
“Baik dong Ma. Aunty Keysa ajakin Kara main ular tangga tadi”
“Kara pinter ga main nya?”
“Pinter dong”
Lalu Keysa menghampiri kami berdua. Dia berjalan tampak lemah dan wajah nya begitu kusut. Dia tampak tak bersemangat.
“Hay Key” sapa ku dengan senyuman yang tidak lepas dari wajah ku dan tidak memperdulikan wajah kusut Keysa.
“Tau ga? Akhirnya gue lolos wawancara sama HRD tadi. Dan besok gue tinggal wawancara sama direktur utama nya untuk tahu gue lolos apa ngga buat kerja disana” ucap ku dengan begitu bangga nya.
“Tapi gue yakin banget, kalau besok juga gue pasti bisa lolos wawancara sama Direktur Utama nya. Gue yakin 100%”
Keysa tampak begitu cemas namun dia memaksakan senyuman keluar dari bibir nya.
“Lo kenapa?” Tanyaku dengan menatap nya bingung.
“Hah?” Dia terlihat tampak aneh sekali.
“Ngga. Gue ga apa-apa,gue cuma kecapean aja tadi” jawab Keysa dengan menunjuk Kara.
“Iya iya iya sorry. Nanti kalau gue udah bener-bener kerja disana gue bakalan sewa Baby Sitter untuk Kara”
“Iyaaa” jawab Keysa masih saja terlihat kikuk.
Namun aku tak memperdulikan ke anehan Keysa karena aku sudah terlalu bahagia untuk saat ini.
Aku memberikan caramel untuk Kara sesuai janjiku. Dan aku segera mengganti pakaian ku dengan baju santai dan menguncir rambut ku seperti ekor kuda.
Keysa sudah pulang lebih dulu tadi sore, dan seperti biasa hanya tersisa aku dan Kara di apartemen berdua. Kita menghabiskan waktu di ruang tamu dan bermain kesana kemari dengan senang nya.
Lalu ketika jam sudah menunjukan jam 21.00 aku langsung segera merapikan meja pantry juga mainan Kara.
“Karaa sekarang sudah jam berapa?” Tanya ku kepada nya agar dia melihat jika itu adalah waktunya dia untuk masuk kamar.
Namun Kara masih terlihat asik bermain di ruang tamu dengan Ipad nya.
“Tapi Kara masih menggambar Ma”
__ADS_1
“Oke. Mama hitung sampai 10 dan menggambar nya harus selesai ya” pinta ku dengan memberikan dia waktu untuk menyelesaikan gambarnya.
“1…2…3…4…5…6…7…8”
Kara terlihat sekali sangat terburu-buru untuk mewarnai bunga yang di buatnya di ipad. Walaupun terlihat berantakan dan abstark namun gambar bunga itu lumayan terlihat berbentuk.
“9…10.. oke times up” ucap ku sambil menghampiri nya dan merapikan ipad nya.
“Oke” jawab nya tanpa melawan ataupun sedih.
“Kita lanjut lagi besok menggambarnya ya”
“Oke” jawab nya lagi.
Lalu dia mengikuti ku masuk kedalam kamar dan ikut menggosok gigi di kamar mandi.
Aku begitu bahagia melihat malaikat kecil ku yang begitu cantik dan terus selalu terlihat bahagia. Tidak terasa dia sudah semakin membesar dan semakin dewasa.
Kenapa waktu begitu cepat ?
Tanya ku di dalam hati ketika kami sedang menggosok gigi berdua di wastafel kamar mandi. Dia naik ke atas meja untuk mengimbangi tinggi ku dan agar bisa ikut melihat dirinya di dalam cermin. Aku tersenyum melihat kegemasan nya dan mengelus pipinya dengan jariku. Kara diam dan begitu serius menggosok giginya.
Setelah selesai kami pun bersiap untuk tidur.
“Oke saatnya tidur”
“Ada apa?” Tanya ku heran.
“Apa nanti Mama akan tinggalin Kara?” Tanya nya yang membuat ku terenyuh.
“Kenapa Kara ngomong kaya gitu?” Tanya ku begitu cemas dan berusaha menenangkan nya.
“Karena Mama akan kerja, dan Mama mau simpan Kara dengan orang lain” ujar nya dengan begitu polosnya.
Aku tersenyum mendengar itu dan mengelus rambutnya dengan lembut.
“Hey. Mama bukan tinggalin Kara. Tapi selama Mama kerja, Mama ga bisa bawa Kara ke tempat kerja Mama, karena nanti bos nya Mama Marah sama Mama, dan Mama ga boleh kerja lagi disana, terus kalau Mama ga kerja Mama ga bisa beliin Kara mainan dong”
“Kara gak apa apa kok Ma ga di beliin mainan, asal Mama ga di marahin bos Mama. Kalo bos Mama Mara-mara nanti bilang Kara ya”
Aku kembali tersenyum mendengarnya. Dia sudah terlalu cepat dewasa dan semakin membuat ku takut untuk kehilangan nya.
“Iya sayang. Mama pasti bakal bilang Kara”
Lalu dia memeluk ku dengan erat dan penuh dengan kasih sayang.
“Love you Ma,good night”
__ADS_1
“Love you too Kara,and good night sweetheart”
Lalu kami berdua tertidur sambil berpelukan.
Hari esok kembali tiba. Hari itu aku bergegas dengan cepat untuk menemui Kepala Direktur di ruang kerja nya yang berada di lantai 10 dan di gedung berbeda.
Aku sudah meminta ijin kepada resepsionisnya lagi dan dia meminta aku untuk duduk dulu di luar pintu Pak Direktur Utama itu.
Aku duduk dengan sigap dan manis. Membenarkan rambut ku dan baju ku untuk berhadapan dengan bos besar ini. Lalu telepon resepsionis itu berdering begitu nyaring,dan wanita itu segera menangkat nya.
“Hallo” sapanya ketika telepon sudah menempel di telinga nya.
“Oh iya pak” jawab nya yang entah menerima telepon dari siapa. Namun dia berbicara sambil melihat ke arah ku.
“Oh baik pak mohon maaf. Iya Pak”
Lalu dia menutup telepon nya dan berdiri melihat ku.
“Mbak Fawnia”
“Iya Mbak” jawab ku sambil menghampirinya.
“Mbak sudah di tunggu di dalam oleh Pak Ferdy” ujar resepsionis itu.
“Oh oke baik Mbak”
Pak Ferdy adalah nama Direktur di perusahaan ini. Fikirku dalam hati.
Lalu dengan perlahan aku membuka pintu besar itu dan masuk kedalam dengan perasaan yang gugup. Ternyata ruangan itu terdiri dari 2 pintu, yang pertama yang baru saja aku lewati adalah ruang kerja yang lebih kecil dan tampak kosong, dengan banyak nya map dan berkas yang berjejer di meja dan lemari di belakang nya. Meja itu tampak kosong, aku fikir kemana orang nya,sehingga meja nya terlihat begitu rapih tak tersentuh. Lalu pintu selanjutnya adalah pintu ruang Direktur utama yang terbuat dari kaca tebal sehingga aku bisa melihat langsung isi ruangan pak Direktur itu seperti apa. Hatiku terus saja berdegup kencang ketika aku masuk kedalam ruangan yang luas dan sangat megah ini. Dan sebagian besar dinding nya pun terbuat dari kaca sehingga aku dapat melihat keluar gedung dengan indah nya.
Pak Ferdy ini sedang menerima telepon dengan telepon genggam nya dan menatap keluar jendela. Dan aku hanya berdiri menunggunya memerintah ku untuk duduk. Dia masih terus berbiacara dengan seseorang di sebrang telepon terdengar begitu serius dan terus membelakangi ku. Perawakan nya tidak berbeda jauh dengan Pak Zayden yang kemarin aku temui. Namun sepertinya Pak Ferdy ini jauh lebih wibawa dan amat sangat rapih dan tampan mungkin,karena aku hanya melihat bagian belakang nya saja.
Akhirnya Pak Ferdy ini terlihat telah selesai berbincang dengan orang di dalam telepon nya. Aku bersiap diri untuk menghadapinya. Dia berbalik dengan wajah yang masih tertunduk menatap ponsel nya.
Aku menyelidik wajah Pak Ferdy ini,aku menajamkan penglihatanku,aku seperti melihat hantu. Mata ku mulai melebar melihat dengan jelas wajah nya,tanpa ku sadari mulutku terbuka sedikit karena saking terkejut melihat wajah Pak Ferdy. Jantung ku berdegup kencang,seketika aku merasa jika hati ku mulai tidak karuan. Hidung nya yang mancung,bulu mata yang lentik, dan kulit putih yang begitu mulus dan tampan,membuat aku dengan mudah mengenali siapa dia.
Nicko !
Ucap ku di dalam hati.
Mataku terus terbuka lebar tak percaya. Tubuh ku bergetar hebat. Tangan ku meremas map yang tengah ku pegang,aku langsung memalingkan pandangan ku ke lantai dengan panik.
Orang yang selama beberapa tahun ini aku hindari,kini dia sedang berdiri di hadapan ku. Dia sudah begitu berubah menjadi seseorang yang begitu gagah dan berwibawa. Nicko teman masa kecil ku yang aku kenal kini,sudah sangat dewasa dan begitu tampan.
Dia menaruh telepon genggam nya di atas meja,lalu menatap ku dengan dingin dengan memasukan tangan di saku celana nya. Dia sama sekali tidak terkejut melihat ku berdiri di hadapan nya.
Aku ingin sekali berlari dari sana,dan meninggalkan dia kembali. Namun aku tertahan dengan ingatan ku tentang Kara. Dan aku masih saja terus berdiri di hadapan Nicko dengan kembali memandangi wajah nya yang begitu sulit ku percaya.
__ADS_1