
Malam pun tiba. Aku segera membantu Nicko memakai kemeja dan jas nya di dalam ruangan Nicko.
“Kamu tidak mengganti pakaian mu?” Tanya Nicko ketika aku membantu nya memakai kan dasi.
“Untuk apa? Yang mau makan malam kan kamu, bukan aku” sinis ku kepadanya.
“Tapi dari pagi kamu belum mandi lagi kan?” Tanya nya dengan mengkerutkan kening seolah dia jijik menatap ku.
Aku menghempaskan dasi nya dan melipatkan kedua tangan ku.
“Lalu kenapa? Kamu keberatan? Kalau begitu aku tidak perlu ikut. Bereskan!” ketus ku dengan memelotoinya.
Raut wajah Nicko berubah seperti ketakutan.
“Setidaknya,cuci wajah mu dan rapikan rambut mu. Kamu terlihat begitu kacau” ujar nya dengan hati-hati dan tanpa melirik ke arah ku.
Walaupun dia berusaha menutupi ketakutan nya itu, tapi aku bisa lihat jika dia ketakutan jika aku benar tidak ikut dia malam ini.
Aku pergi ke luar ruangan nya dengan malas untuk mengikuti keinginan nya.
Aku pergi ke toilet dan menatap wajah ku di depan cermin wastafel,pantas saja Nicko berkomentar seperti itu karena memang aku terlihat begitu lelah dan begitu kacau. Aku langsung mencuci muka dan merias kembali wajah ku dengan kosmetik yang ada di dalam tas ku. Walaupun aku masih begitu kesal kepada Nicko, namun aku tetap tidak boleh membuat nya malu dengan memiliki sekretaris yang kacau seperti ini.
Setelah selesai berdandan dan merapikan wajah juga pakaian ku,aku kembali ke luar dan menghampiri Nicko yang sudah siap untuk pergi.
“Dimana Bima?” Tanya ku,karena aku tidak mendapati nya sejak tadi.
“Aku minta dia untuk pulang”
“Kenapa?”
“Karena ini termasuk acara pribadi. Dan aku tidak mau membuat dia lembur kerja” ujar Nicko sambil berdiri menatap ku dingin.
Wajah ku terkejut dan tidak menerima dengan apa yang di katakan nya.
“Kenapa Bima di bolehkan pulang dan aku tidak?”
“Apa kita harus membahas ini lagi?” Tanya Nicko dengan memasukan kedua tangan ke dalam saku celana nya.
“Tentu saja. Aku juga ingin pulang” pinta ku dengan tegas.
Nicko berjalan menghampiri ku dengan tatapan nya yang tajam.
“Aku sudah bilang ini adalah meeting pribadi. Dan kamu termasuk ke dalam urusan pribadi ku” ucap Nicko terus menatap ku dengan tatapan nya yang penuh arti.
Aku memalingkan wajah ku tidak ingin terus bertatapan dengan nya. Lalu Nicko melangkah pergi meninggalkan ku keluar dari ruangan nya. Dengan kesal aku mengikuti Nicko berjalan mengekor di belakang nya. Kita berdua telah sampai di teras kantor dan menunggu mobil Nicko di antar kan ke depan kantor. Aku berdiri tegap di samping nya dengan membawakan koper dan jas Nicko di tangan ku.
Security kantor membantu ku menyimpan bawaan ku di bagasi mobil. Lalu dengan cepat aku mendahului Nicko duduk di kursi kemudi. Nicko tampak terkejut melihat ku yang menerobos masuk ke kursi kemudi nya,dan dia menatap ku bingung.
“Silahkan Bapak duduk di belakang” ucap ku dengan tersenyum yang begitu merekah kepadanya.
Security membantu membuka kan pintu penumpang. Dan dengan terpaksa dia mengikuti kemauan ku untuk duduk di kursi belakang dan membiarkan aku yang mengemudi. Lalu mobil pun berjalan pergi dari kantor.
“Menepilah. Biarkan aku yang menyetir” pinta Nicko merasa tidak nyaman dengan posisi duduk seperti ini.
__ADS_1
“Kenapa? Aku kan sekretaris mu. Sudah sepatutnya aku melayani mu bukan?” Ledek ku dengan terus serius mengemudi.
“Sudah berhentilah.. Fawnia !!”
“Kalau kamu mau aku ikut dengan mu malam ini. Biarkan aku menjalankan profesi ku sebagai sekretaris mu,dan cobalah untuk diam, dan jalankan profesi mu sebagai atasan ku” ketus ku menatap nya di kaca spion.
Dia memalingkan wajah nya.
“Aku tidak pernah menganggap mu sebagai pegawai ku” lirih nya begitu lemah tanpa sedikit pun melirik ke arahku.
Dan dia berhasil membuat ku diam. Selama ini memang aku berusaha menjadi sekertaris yang baik untuk nya, dan terus bersikap se profesional mungkin untuk nya. Namun terkadang Nicko memperlakukan ku sebagai Fawnia, teman masa kecil nya.
Kita sampai di suatu Restaurant yang begitu besar dan begitu megah nya. Restaurant ini adalah milik keluarga Kirana yang adalah keluarga konglomerat juga. Seperti apa yang di sampaikan kepala SDM ku saat itu,orang tua Kirana adalah salah satu client yang menanam saham besar nya di perusahaan Nicko. Sehingga mungkin inilah penyebab orang tua Nicko kembali menjodohkan Nicko dengan anak kerabat kerja nya. Seperti dulu.
Kita berhenti di depan pintu utama Restaurant dan membiarkan Nicko turun terlebih dahulu. Terlihat Kirana yang sudah berdiri disana menyambut Nicko dengan senyuman yang begitu bahagia nya.
“Ferdyyy” panggil manja Kirana dengan dress panjang yang begitu melekukan tubuh nya yang indah.
Rambut nya di jepit setengah dan ada riasan cantik yang dia pakai di rambut nya terlihat begitu berkilau,dan dress nya yang di pakai begitu terlihat glamour. Tidak salah jika orang tua Nicko menjodohkan dia dengan orang yang serasi dengan Nicko.
Aku ikut turun dari mobil ku dan menyerahkan kunci kepada pegawai Restaurant untuk di parkiran valet. Kirana begitu terkejut melihat kehadiran ku. Dan dia terus menatap ku dengan mata terbelalak.
Aku dengan tak mengacuhkan nya berjalan menuju bagasi mobil dan mengambil jas dan langsung aku pakaikan kepada Nicko lalu membawa koper kecil nya masuk menghampiri Kirana.
“Hay” sapa Nicko ketika telah mendekati Kirana dengan raut wajah yang begitu malasnya.
“Kenapa dia ikut? Ini kan acara dinner kamu dan keluarga ku Fer” kesal Kirana.
“Tapi Fer..”
“Sudahlah Kirana. Aku perlu bertemu orang tua mu sekarang” ujar Nicko dengan tak mengindahkan nya.
“Ayo masuk” ajak Nicko melirik ku ke belakang lalu dia kembali berjalan di depan ku.
Aku menundukan kepala ku kepada Kirana dengan menyapa nya dan tentu dengan senyum manis ku, lalu pergi menyusul Nicko. Namun Kirana menatap ku dengan ganas, seolah aku ini adalah penghancur suasana.
Setelah sampai di sebuah meja besar di tengah ruangan. Mama dan Papa Kirana langsung berdiri menyambut Nicko dengan begitu bahagia nya.
“Hallo Ferdy” sapa Mama Kirana dengan melentangkan kedua tangan untuk memeluk Nicko.
“Hallo tante apa kabar?”
“Tante baik. Bagaimana dengan kamu?”
“Aku baik. Hallo Om”
“Hay Fer. Kali ini kamu membawa sekertaris mu?” Tanya Papa Kirana dengan tersenyum baik dan begitu tulus, tidak seperti anak nya yang ketus dan jahat itu.
“Iya Om. Ini bisnis penting,aku perlu membawa nya”
Aku tersenyum kepada mereka dan menjabat tangan mereka satu persatu dengan menyebutkan nama ku.
“Fawnia” mereka tersenyum begitu ramah kepadaku lalu memperhatikan ku dari ujung kaki sampai kepala dengan begitu jelas nya.
__ADS_1
“Silahkan duduk”
Aku menarik kursi untuk Nicko duduk dan aku ikut duduk di samping nya. Kirana datang dengan wajah yang begitu kesal dan duduk di sisi lain Nicko dengan mendelikan mata padaku.
“Tante sudah pesan kan makan untuk kita sebelum mulai pembahasan bisnis kalian ya” ucap Mama Kirana dengan terus tersenyum.
Kita mulai makan malam dengan diam dan tanpa ada yang berbicara sedikit pun. Namun Kirana terlihat begitu mencari perhatian kepada Nicko dengan membawakan sajian makan untuk Nicko, dan menyuapinya.
“Aku bisa makan sendiri” tolak Nicko.
Kirana terlihat begitu kecewa dan dia begitu kesal melirik ku. Seolah dia mengira jika sikap Nicko kaku seperti itu karena adanya aku.
Setelah acara makan malam selesai,kami mulai membahas bisnis kami. Aku membuka laptop ku dan mencatat semua point penting pembahasan yang di sampaikan Papa Kirana dan juga Nicko. Aku juga membuka berkas-berkas ku untuk mencocokan data dengan data yang di miliki Papa Kirana. Aku begitu sibuk dengan pekerjaan ku mencatat semua percakapan mereka dan ikut mengeluarkan pendapat kepada Papa nya, dan ternyata Papa Kirana pun berpikiran yang sama dengan ku tentang pembangunan itu. Nicko menatap ku dengan bangga nya. Tentu Kirana yang melihat itu amat sangat tidak menyukainya.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan datang menghampiri meja kami.
“Silahkan makanan penutup dari kami,seperti biasa. Peanut Butter Cup stuffed with Reese’s Pieces” ujar Mama Kirana membuat ku terkejut saat melihat ada taburan biji wijen di atas kue nya dan aku langsung menyimpan bolpoin ku menatap tajam dessert yang baru saja di bawakan pelayan itu ke hadapan kami satu persatu.
Namun ketika pelayan itu menyajikan untuk Nicko aku menghentikan nya.
“Maaf Mas. Untuk Pak Ferdy tidak perlu. Dia alergi wijen” ucap ku mengembalikan dessert itu dari hadapan Nicko.
Keluarga Kirana menatap ku dengan bingung. Mereka lalu saling melempar pandang membuat ku ikut bingung.
Nicko menghela nafasnya tampak cemas.
“Kamu kok sok tahu banget ya. Siapa bilang Ferdy alergi wijen?” Tanya Kirana yang semakin membuat ku bingung.
“Setiap Mama menyajikan dessert ini Ferdy selalu memakan nya” ketus Kirana dengan tertawa sinis kepada ku, seolah dia telah membuat ku malu dengan pembenaran nya.
Aku mengangkat halis ku menatap Nicko. Aku tidak pernah tahu jika alergi nya bisa sembuh. Tetapi Nicko terus saja diam tak berkomentar.
“Ferdy tidak pernah memakan dessert ini” ucap Mama Kirana membuat kami semua terkejut, termasuk Kirana tentunya.
“Dia selalu meminta untuk membawa nya pulang karena alasan terlalu kenyang” ucap Mama Kirana mengingat hal yang baru di sadari nya.
Kirana terlihat begitu terkejut mendengar pernyataan Mama nya sendiri.
“Tapi kamu selalu memakan nya dirumah kan Fer. Kamu selalu bilang jika dessert nya selalu di habiskan jika sudah sampai rumah” ucap Kirana menyangkal semuanya.
Aku menatap Nicko menunggu nya untuk berbicara. Nicko tampak bingung sekali dengan tatapan semua orang yang tengah menunggunya untuk memberikan pernyataan siapa yang salah dan siapa yang benar.
Nicko melirik ku dengan takut.
“Yang menghabiskan Mama ku. Aku alergi biji wijen” ucap Nicko membuat kaget Kirana yang diam di samping nya.
Kirana tampak kebingungan sekaligus heran,mungkin dia berfikir kenapa dia bisa sampai tidak mengetahui hal besar seperti itu.
“Ke..kenapa kamu tidak pernah mengatakan nya Ferdy?” ujar Kirana berusaha tersenyum namun terlihat panik.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?” Lanjut Kirana terlihat kecewa.
Nicko hanya kembali diam tak menjawab. Dan aku berpura-pura kembali sibuk dengan mengotak atik laptop dan membuka berkas ku,tidak ingin ikut campur dengan perdebatan mereka yang tidak penting ini.
__ADS_1