
Kara melambaikan tangan nya kepada ku,aku membalas lambaian tangan nya.
“Pak Ferdy seperti nya sudah begitu dekat dengan Kara” ucap Bima dengan terus memperhatikan Kara dan Nicko.
“Ya mungkin karena Kara sudah beberapa kali bertemu dengan Nicko” jawab ku.
“Aku kira Pak Ferdy adalah sosok yang begitu dingin dan tidak acuh,apalagi kepada anak-anak”
Aku tertawa mendengar ucapan Bima. Ya memang begitu lah Nicko, dia selalu terlihat tak acuh kepada orang lain apalagi kepada anak kecil
“Aku kira dia tidak akan pernah terlihat semanis ini. Karena, setiap hari aku hanya melihat dia begitu ketus jika di tempat kerja,dan jarang sekali tersenyum. Tapi sekarang, aku melihat Pak ferdy bisa tertawa seperti ini dan terlihat begitu bahagia bersama Kara ,semua ini jadi mematahkan penilaian ku terhadap nya”
“O ya?” Tanya ku dengan tersenyum.
“Memang nya Pak Ferdy ini sedingin itu?” Tanya ku dengan nada meledek sambil memperhatikan Nicko.
“Aku serius Faw. Dari awal aku bertemu dengan Pak Ferdy,dia itu terlalu serius dan tidak sekali pun terlihat tersenyum kepadaku. Bahkan dia sering kali cuek dengan kami yang berusaha ramah kepadanya, bahkan dia jarang sekali masuk kantor, dengan alasan yang jujur bahwa dia sedang malas,akhirnya selalu menumpahkan segala pekerjaan nya kepada Pak Zaydan. Namun akhir-akhir ini aku melihat perubahan Pak Ferdy begitu drastis”
Aku menunduk mendengarkan cerita Bima.
“Pak Ferdy jadi semangat untuk bekerja, dia serius menjalankan bisnis nya dan aku jadi lebih sering melihat Pak Ferdy tersenyum di kantor” lanjut nya
“Apakah kamu pembawa keceriaan untuk Pak Ferdy?” Tanya Bima membuat ku terkejut menatap nya.
Aku merasa gugup, lalu aku tertawa untuk menutupi rasa gugup ku.
“Mana mungkin aku membawa keceriaan untuk Nicko” ucap ku berdalih.
“Bukan kah sejak kecil kalian sudah berteman?” Tanya lagi Bima.
Aku terdiam sejenak dan mengingat lagi masa kecil kami.
“Memang benar,sejak kecil kami sudah berteman bahkan mungkin sampai sekarang. Tapi itu bukan berarti aku membuat perubahan besar untuk Nicko kan?” Jawab ku dengan terus saja menyangkal omongan Bima.
“Tapi perubahan dia begitu terlihat ketika kamu bekerja di kantor Nya. Kamu sering sekali membuat Pak Ferdy patuh kepadamu, bahkan aku sering sekali melihat Pak Ferdy takut kepadamu. Kamu bisa mencairkan Sikap Pak Ferdy yang sejak lama sudah membeku”
Aku diam tak bisa kembali menyangkal omongan Bima.
“Ya mungkin Pak Ferdy takut dengan mu karena dia tidak ingin kamu pergi lagi dari rumah nya,kamu sudah di anggap anak Pak Rio kan? Dan mungkin Pak Ferdy tidak ingin kembali kehilangan teman baiknya” ucap Bima yang masih saja mengira aku di anggap sebatas teman masa kecil Nicko.
Aku lalu tersenyum ketika mendengar Bima mengatakan itu,Bima masih saja beranggapan jika Nicko menganggap ku biasa saja untuk hidupnya.
“Iya mungkin seperti itu”
“Lalu bagaimana dengan Kara?” Tanya Bima.
Aku kembali mengerutkan keningku.
“Kara? Kenapa dengan Kara?” Tanya ku bingung.
“Apa kamu tidak ingin mencari Ayah baru untuk Kara?” Tanya Bima membuat ku tersentak membulat kan mata dengan lebar.
Aku terkejut dengan pertanyaan nya,dan aku kembali sulit untuk menjawab.
“Mamaa” teriak Kara yang sudah selesai bermain permainan komedi putar. Dia berlari ke arah ku di ikuti Nicko di belakang nya.
“Hay sayang” ucap ku mengalihkan perhatian kepada Kara.
“Sudah selesai?”
“Sudah. Kara mau naik yang lain lagi dengan Om Nicko boleh?” Tanya Kara dengan manis.
Aku melirik Nicko yang masih saja bersikap dingin kepadaku.
“Boleh” jawab ku.
Lalu Kara menarik tangan Nicko ke wahana lain nya.
Kincir angin. Kincir ini juga tidak kalah ramai nya dengan komedi putar. Banyak sekali lampu yang mengitari kincir ini, dan terdapat kursi bundar yang mengitari kincir angin ini dan tampak begitu tinggi.
__ADS_1
“Kara mau naik ini” ucap Kara kepada Nicko.
Aku dan Bima terus saja diam di belakang Nicko dan Kara.
“Maaf Pak,kalau membawa anak di bawah umur harus di temani dua orang dewasa untuk mengimbangi” ucap petugas kincir angin.
Nicko melirik ku dan Bima di belakang nya.
“Kalau begitu kamu saja, aku biar tunggu disini sekalian membelikan kalian minum” ucap Bima.
“Tidak apa-apa Bim?” Tanya ku canggung.
“Iya Faw. Aku bisa menunggu disini”
“Baiklah”
Lalu aku,Nicko dan Kara naik wahana kincir angin ini.
Kincir angin ini mulai berputar ke atas dengan perlahan. Membuat kami bertiga tersenyum begitu bahagia. Apalagi Kara, yang tak henti henti nya menatap takjub pemandangan di atas kincir angin ini.
Ketika sampai di atas dan kinci angin itu berhenti sejenak. Aku menatap Nicko dengan masih penasaran.
“Kenapa bisa kamu ada disini?” Tanya ku.
“Aku sudah bilang,aku sedang berjalan-jalan disini” jawab Nicko dengan tenang.
Aku menyunggingkan senyuman ku.
“Aku ini Fawnia Nicko,bukan orang lain. Kamu tidak bisa membohongi ku” ucap ku dengan tajam kepadanya.
“Sejak kapan kamu suka berjalan-jalan sendiri di tempat ramai seperti ini?” Sindir ku.
“Sejak hari ini” jawab nya dengan ketus.
“Kamu mengikuti ku?” Tanya ku menyelidik.
Lalu Nicko balas menatap ku dengan tajam.
Aku memutarkan bola mata ku mendengar pernyataan nya. Sejak awal aku sudah menduga jika Nicko pasti telah mengikuti ku.
“Kamu fikir aku akan membiarkan kamu untuk mendekatkan Kara dengan pria lain?”
Aku mengkerutkan kening ku mendengar tuduhan nya yang tidak masuk akal.
“Mendekatkan Kara dengan pria lain? Apa maksud kamu ?”
“Kamu berusaha memperkenalkan Bima kepada Kara untuk mengenal nya lebih dekat kan? Untuk apa?”
“Ya memang untuk apa?” Tanya ku balik, karena memang pertanyaan Nicko tidak bisa aku mengerti.
“Aku kan hanya mengajak Kara makan malam dengan Bima,tidak ada maksud lain”
“Tapi lambat laun Kara akan mulai dekat dengan Bima kalau kamu terus mempertemukan Kara dengan Bima seperti ini”
“Memang menurut mu,aku akan terus bertemu dengan Bima seperti ini?”
“Ya bisa saja kan kamu mulai nyaman dengan Bima dan membuat Kara juga nyaman dengan dia”
“Tuduhan kamu itu tidak masuk akal Nicko. Yang sudah terlihat nyaman itu kamu dengan Kirana”
“Kenapa jadi membahas Kirana? Kita kan sedang membahas kamu dan Bima”
“Ya kamu fikir aku tidak tahu bagaimana kedekatan kamu dan Kirana ?”
“Kedekatan apa? Kamu fikir aku dan Kirana melakukan kedekatan seperti apa?”
“Ya semua orang juga sudah tahu tentang pertunangan kalian itu,belum lagi tadi siang juga kalian sudah membahas tentang pernikahan kalian kan?”
“Fawnia cukup ya”
__ADS_1
“Kenapa mau aku diam? Tidak terima aku membahas Kirana?”
“Ya karena kedekatan ku dengan Kirana itu tidak penting”
“Dan menurut kamu kedekatan ku dan Bima juga penting?”
“Penting” tegas Nicko.
“Yang harusnya di khawatirkan itu kamu dan Kirana,bukan aku dan Bima.
Aku dan Bima tidak ada ikatan apapun selain pertemanan, sedangan kamu?” Tanya ku dengan tegas.
Kini Nicko yang terdiam.
“Mama sama Om Nicko kok berantem?” Tanya Kara membuat kami berdua diam,mati kutu dan saling menatap.
Ternyata sejak awal Kara memperhatikan kami berdua yang sedang berdebat hebat.
“Bukan sayang” ucap ku sambil tersenyum dan mengelus rambut Kara.
“Mama dan Om Nicko sedang membahas pekerjaan” jawab ku dengan manis.
“Membahas pekerjaan kok sambil marah-marah” heran Kara lagi menatap aku dan Nicko dengan wajah yang bingung.
“Bukan marah-marah. Tapi Mama sedang menegur Om Nicko yang nakal” jawab ku tak ingin di salahkan.
“Om Nicko nakal?” Tanya Kara kepada Nicko.
Lalu Nicko tersenyum manis kepada Kara dan merapihkan rambut Kara yang kusut.
“Iya sayang. Om Nicko nakal,jadi Mama marah ke Om Nicko” aku menatap Nicko dengan pilu.
“Ma, maafin Om Nicko ya, Om Nicko nya jangan di marah-marahin lagi” ucap Kara dengan polos kepada ku.
Aku tersenyum haru kepadanya.
“Om Nicko juga minta maaf ke Mama ya biar Mama ga marah-marah lagi”
Aku menatap Nicko dengan canggung. Dengan tanpa di sadari,Kara meminta kedua orang tua nya untuk saling memaafkan dan dia tidak ingin melihat kami bertengkar.
Nicko menatap ku dengan canggung,namun dari tatapan nya dia terlihat begitu mendalam.
“Aku minta maaf” ucap Nicko dengan begitu tulus.
“Aku juga minta maaf” balas ku dengan menatap nya canggung.
“Telunjuk nya mana?” Pinta Kara untuk melengkapi permohonan maaf di antara kami.
Aku mengeluarkan telunjuk ku kepada Nicko dan Nicko ikut mengeluarkan telunjuk nya,dia langsung mengikatkan telunjuk nya di telunjuk ku dan kami berdua tersenyum dengan bahagia.
Aku merasa ini sangat lucu, Kara membuat ku dan Nicko kembali tersenyum dan dia berhasil membuat kita baikan.
“Yeee Mama dan Om Nicko baikan” seru Kara.
Lalu Nicko mendekatkan wajah nya kepada ku dan mengecup bibir ku begitu saja tanpa mengacuhkan Kara di samping nya.
Aku tersentak melihat apa yang di lakukan Nicko di kincir angin yang sedang berputar ini, lalu melihat sekeliling ku,yang untung saja kita sedang berada di atas,sehingga tidak ada orang yang melihat Nicko mencium bibir ku selain Kara.
“Om Nicko ko cium Mama?” Tanya Kara dengan bingung.
“Karena Om Nicko sayang Mama” jawab Nicko.
“Om Nicko ga sayang Kara?” Tanya Kara dengan raut wajah sedih.
Lalu Nicko mencium pipi Kara dan aku pun ikut mencium pipi Kara di sisi lain nya.
“Kita sayang sekali sama Kara” ucap ku dengan penuh kasih sayang.
Lalu Kara pun mencium pipi ku dan pipi Nicko bergantian.
__ADS_1
“Kara juga sayang Mama dan Om Nicko” ucap Kara tak ingin kalah dengan kami.
Aku dan Nicko memandang Kara dengan begitu bangga nya. Anak kita sudah semakin besar, dan dia sudah semakin pintar. Sebenarnya aku ingin sekali Kara memanggil Nicko dengan sebutan Papa,namun aku harus ingat dengan masalah kedua orang tua Nicko yang belum aku selesaikan,membuat Nicko harus menahan diri di sebut Om oleh Kara sampai semua masalah selesai.