Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Akhirnya terbongkar


__ADS_3

“Kamu tidak boleh pergi kemanapun” ucap laki-laki yang berdiri di samping kami dengan gagah dan entah sejak kapan dia berdiri disana.


Papa. Dia berdiri di tengah lorong dengan menenteng tas dan menggantungkan jas di tangan satunya.


Aku terkejut dengan kehadiran Papa, dan Mama pun menatap suaminya dengan masih berurai air mata.


Papa menghampiri kami dan langsung menatap ku dengan tajam. Aku hanya bisa menatap mata Papa dengan berlinang air mata. Aku sangat takut dengan tatapan nya. Aku takut dia kecewa dengan apa yang telah dia dengar.


“Apakah apa yang Papa dengar itu benar?” Tanya Papa dengan raut wajah yang tak percaya.


Aku menganggukan kepala ku dengan lemah. Jantung ku begitu berdegup dengan hebat, aku takut dengan tatapan Papa seperti itu.


“Selama ini Kara adalah cucu kandung Papa?” Tanya Papa lagi. Dan aku pun menjawab nya dengan anggukan kepala lagi.


Mama masih saja terdiam di belakang Papa seperti sedang berfikir dengan keras,entah apa yang di fikirkan nya.


“Kamu membesarkan cucu Papa sendirian?” Tanya nya lagi.


“Maafkan aku Pa”


“Selama ini Kara adalah cucu Papa dan kamu menyembunyikan nya dari kami?” Tanya Papa terus saja terlihat tak percaya.


“Pa” aku menatap Papa dengan lemah.


“Aku tahu apa yang aku lakukan dengan Nicko saat itu adalah suatu kesalahan yang besar, aku tahu apa yang kami lakukan benar-benar tidak bisa di maafkan. Tapi aku mohon…”


Aku menjeda kalimat ku untuk menlan kesedihan ku ulu.


“Mohon untuk kalian tidak membenci ku” ucap ku begitu menyedihkan.


“Benar” ucap Mama akhirnya bersuara.


Mama manatap ku dengan kecewa.


“Apa yang kalian lakukan itu memang benar-benar tidak bisa di maafkan”


Aku begitu lemas mendengar Mama mulai kecewa kepadaku.

__ADS_1


“Kalian sudah melakukan hal di luar batas wajar,kalian terlalu menggugu ego kalian hanya karena perasaan yang kalian miliki”


Aku diam merasa sedih mendengar ucapan Mama.


“Tapi kehadiran Kara,merupakan suatu anugrah terbaik untuk Mama” lanjutnya membuat ku membulat kan mata dan menatap Mama dengan tak percaya.


Mama mulai tersenyum kepada ku walaupun dengan meneteskan air matanya,dia masih bisa tersenyum.


“Kamu tahu ? 5 tahun lalu Mama pernah berdo’a agar Nicko mendapatkan pujaan hatinya dan segera menikah,agar Nicko bisa cepat memberikan Mama cucu yang akan menghangatkan suasana rumah. Karena Mama sudah mulai merasa kesepian Fawnia,Nicko sudah beranjak dewasa,dan kamu pun juga. Mama jadi lebih sering sendirian di rumah tanpa ada nya penghangat yang menemani Mama”


“Mama sakit Faw, Jenny pun tahu itu. Mama tidak bisa hamil lagi”


Aku menatap Mama dengan masih belum mengerti.


“Mama sudah di vonis tidak bisa kembali memiliki anak selain Nicko. Rahim Mama di angkat untuk kesembuhan Mama,dan Mama begitu bahagia ketika Mama bisa mengurus kamu. Mama sudah menganggap kamu anak kandung Mama sendiri,Mama begitu bahagia bisa membesarkan kamu dengan Nicko, sampai Mama sering lupa jika kamu bukan lahir dari rahim Mama. Mama memang tidak pernah terfikir jika kalian akan tumbuh dewasa dan akan saling menyayangi”


“Mungkin ini semua adalah jawaban dari do’a-do’a Mama. Mama selalu berdo’a untuk kebaikan Nicko,Mama selalu berharap Nicko menemukan kebahagiaan nya. Mama selalu khawatir jika dia tidak bisa mencari jalan hidup nya sendiri, karena Mama tau betul bagaimana prilaku Nicko yang selalu dingin menganggap masa depan itu akan mudah untuk di hadapi”


“Dia tidak tahu bagaimana kejam nya kehidupan sekarang, dia tidak tahu bagaimana perjuangan Mama dan Papa untuk bisa di titik ini. Tapi ternyata Mama salah”


Aku pun jadi ikut bersedih dengan belaian tangan Mama yang terasa begitu tulus.


“Mama minta maaf Nak,karena Mama terlalu egois untuk bisa men sukses kan Nicko dan tidak pernah mengerti perasaan kalian. Tidak seharusnya Mama memperlakukan kalian seperti ini”


Aku terus bersedih di kedua tangan Mama yang terus memegang kedua pipi ku.


“Mama minta maaf. Mama begitu bersalah kepada Jenny. Dia pasti akan kecewa melihat anak nya di perlakukan seperti ini oleh sahabatnya sendiri”


Aku menggelengkan kepala ku sekuat tenaga.


“Tidak Ma. Mama sudah merawat ku dengan baik sekali. Aku bersyukur karena aku bisa di besarkan oleh kalian berdua” ucap ku menepis prasangka Mama sambil menatap kedua orang tua yang berdiri di hadapan ku.


Lalu kami bertiga pun berpelukan dengan rasa haru dan bahagia.


Akhirnya. Semua rahasia tentang Kara sudah terbongkar . Dan ternyata, semua yang aku takutkan tidak pernah terjadi. Keysa benar, orang tua Nicko jauh berbeda dengan orang tua Ben. Orang tua Nicko bahkan tidak mencaci ku atau membenci ku, mereka malah menyambutku dan Kara dengan baik. Harusnya aku tidak berprasangka buruk tentang mereka, harusnya aku bisa merasakan kebahagiaan ini sejak dulu. Tapi mungkin ini memang sudah takdir yang di tulis tuhan untuk ku.


Kami bertiga duduk di dekat ruang ICU menunggu Nicko yang masih pergi di bawa oleh dokter yang menangani Kara.

__ADS_1


“Nicko memang memiliki penyakit thalassemia seperti Mama” ucap Mama dengan menatap kosong ke depan.


Aku melirik Mama yang duduk di samping ku dan aku mulai menajamkan pendengaran ku untuk mendengar cerita Mama.


“Penyakit itu adalah penyakit turunan Faw. Penyakit di turunkan dari Ayah nya Mama. Dan akhirnya Nicko dan Kara pun terkena imbas dari penyakit kami” ucap Mama merasa bersalah.


“Dulu. Sebelum menikah, Mama begitu frustasi karena harus hampir satu bulan sekali mendapatkan transfusi darah dari rumah sakit,demi bertahan hidup dan hidup normal. Mama sudah begitu lelah melakukan itu semua, sampai akhirnya dokter mengatakan jika Mama tidak mendapatkan transfusi darah,Hidup Mama akan terancam”


Aku terus terdiam dengan cerita yang baru aku ketahui ini.


“Sampai akhirnya Ibu mu Jenny membawa Mama ke singapore untuk menjalani pengobatan sebelum dia mengandung kamu. Dia membantu Mama untuk bertemu dengan dokter terbaik yang bisa menangani penyakit Mama. Dan hasilnya tidak 100% sembuh, Mama masih tetap mengidap penyakit thalassemia itu dengan kategori minor, atau bisa di bilang tidak berbahaya. Tapi tetap saja itu penyakit kan?”


“Dan Mama juga sedih ketika Mama tau Mama hamil Nicko,Mama harus menerima kenyataan jika Mama sudah menurunkan penyakit Mama kepada Nicko. Mama frustasi dan bingung, Mama memutuskan untuk mengangkat rahim Mama,Mama takut semua anak Mama akan mengidap penyakit yang sama dengan Mama. Dan akhirnya Mama mencoba membawa Nicko ke singapore juga untuk mencegah penyakit yang bersarang di dalam dirinya”


“Namun terlambat. Penyakit thalassemia sudah ada di dalam diri Nicko,dan tidak bisa di sembuhkan. Walaupun pernyakit itu tidak terlihat, tapi penyakit itu bisa turun menurun,dan jika tidak segera di obati, malah akan semakin memburuk. Mama juga sebenarnya takut jika penyakit itu akan di turunkan kepada cucu Mama kelak,karena akan sangat menyakitkan jika Mama tahu anak cucu Mama kelak memiliki penyakit yang menyakitkan. Dan ternyata apa yang di takutkan oleh Mama terjadi. Kara jadi ikut menanggung akibat lahir dari keturunan kami. Mama takut,Mama terlambat untuk menyembuhkan Kara”


Aku melihat Mama begitu merasa bersalah. Papa mengelus punggung Mama dengan penuh kasih sayang. Begitupun aku yang ikut menggenggam tangan Mama untuk menguatkan nya.


“Ma. Kara itu anak yang kuat. Walaupun dia masih kecil,tapi aku yakin Kara pasti bisa melewati semua ini. Kara memiliki darah kalian,yang sangat kuat. Jadi aku yakin jika Kara pasti bisa bertahan untuk kita semua”


Mama menatap ku dengan sedih.


“Mama..” ucap Mama seperti ingin mengatakan sesuatu namun begitu berat.


“Mama masih tidak menyangka jika Kara adalah cucu kandung Mama”


Aku tersenyum bahagai kepadanya.


“Aku juga tidak pernah menyangka jika aku memiliki anak dari Nicko Mah. Setiap malam aku selalu memandanginya yang tertidur lelap di samping ku,dan masih merasa jika semua ini hanyalah mimpi” ucapku dengan sedih.


“Terimakasih Nak. Terimakasih karena kamu sudah melahirkan Kara ke dunia ini,dan mau membesarkan nya sendiri sampai sejauh ini” ucap Papa dengan tersenyum.


“Aku tidak pernah menyesal untuk melahirkan nya Pa. Kara adalah kekuatan ku,dia yang selalu membuat ku bertahan untuk hidup di dalam sebuah masalah yang tengah aku alami. Dia malaikat kecilku”


“Dia juga sudah menjadi malaikat kecil Mama sebelum Mama tahu jika Kara adalah cucu kandung Mama” ucap Mama.


Lalu Mama kembali tersenyum manis kepada ku dengan wajah nya yang masih saja terlihat bersedih.

__ADS_1


__ADS_2