
Keesokan hari nya kembali di kantor. Aku sedang begitu sibuk megurus karyawan untuk pembukuan akhir bulan. Hari ini aku memakai rok oranye dan kemeja kuning muda, rambut ku sampai di ikat ekor kuda agar tidak menghalangi pandangan ku, dan agar pundak ku bisa merasakan udara segar dari lelah nya pekerjaan hari ini.
Ponsel ku berdering di dalam genggaman ku. Aku melihat nama di layar ponsel ku.
Mama Ben. Aku menurunkan halis ku begitu melihat siapa yang mengganggu ku di saat yang sibuk ini, namun aku ingin tahu apa tujuan nya kembali menghubungi ke nomor pribadi ku.
“Hallo” sapa ku dengan dingin.
“Hallo Faw”
“Iya ada apa Ma, euh tante maaf” ucap ku mengoreksi panggilan ku yang seperti nya sudah tidak pantas lagi aku memanggil nya dengan Mama.
“Faw. Mama perlu bicara”
Aku mengangkat halis ku, karena nada bicara nya begitu pelan, dan dia malah menyebut diri nya sebagai Mama kepadaku. Padahal jika ku ingat,terakhir kali kita bertemu dia meminta ku untuk tidak lagi memanggil nya dengan sebutan ‘Mama’.
“Maaf,Aku sibuk, kita bisa bicara nanti”
“Faw. Mama mohon”
Ini adalah hal yang paling aku benci. Yaitu ucapan permohonan dari seorang ibu, aku merasa ucapan ‘mohon’ dari Ibu kepada anak itu sangat tidak pantas, karena seharusnya anak bisa mengikuti keinginan Ibu tanpa harus di paksa dan memohon.
“Baiklah. Silahkan bicara”
“Mama tidak bisa bicara lewat telepon, kita harus bicara secara langsung, hari ini setelah pulang kerja kamu bisa menemui Mama?”
Aku menggigit bibir bawah ku untuk berpikir sejenak. Jika aku menemui Mama Ben tentu aku harus bicara dahulu kepada Nicko, dan aku harus meminta izin nya agar aku bisa pergi dengan sendiri.
“Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”
“Di Astre Caffe , hubungi Mama jika kamu sudah selesai bekerja”
“Baiklah”
Aku langsung berjalan menuju ruangan Nicko. Dia tampak begitu sibuk bekerja dengan membulak balikan berkas di hadapan nya,dan melihat layar komputer nya. Aku menutup pintu ruangan Nicko dan berjalan dengan ragu kehadapan nya.
Nicko hanya menatap ku sebentar dan kembali kepada kesibukan nya.
“Hari ini boleh aku pulang lebih awal?”
Nicko baru menatap ku dengan mengerutkan kening dan kembali melihat berkas nya.
“Kenapa?”
“Aku ada janji”
“Dengan?”
__ADS_1
“Ibu Irene”
Nicko terdiam, dia menutup berkas nya dan menatap ku dengan serius.
“Ibu Iren?”
“Iya” jawab ku kikuk.
“Kenapa Ibu Irene meminta bertemu dengan mu di luar jam kerja mu?”
“Seperti nya dia tidak akan membahas tentang pekerjaan”
“Lalu?”
“Ini tentang Ben”
Nicko terpatung menatap ku.
“Aku hanya perlu menyelesaikan semua ini dengan keluarga nya. Aku ingin mereka melupakan masalah kita”
“Tapi kenapa sendirian ?”
“Aku harus menyelesaikan ini sendiri Nicko, percayalah aku bisa mengatasi nya sendiri”
Nicko menatap ku dengan ragu.
Aku tersenyum begitu semu kepadanya, lalu pergi meninggalkan ruangan nya.
Aku duduk di meja kerja ku dan bernafas dengan begitu berat. Aku memang harus segera menyelesaikan semua masalah ku sebelum aku akan memulai hidup baru dengan Nicko. Aku harus tahu apa yang akan di katakan Mama Ben dan meminta mereka untuk melupakan semua masalah kita sebelum nya.
Aku segera mengabari Mama Ben untuk jam bertemu kami.
Lalu sekitar pukul 17.00 aku sudah sampai di caffe yang telah di tentukan oleh Mama Ben. Mama Ben sudah terlihat duduk di salah satu kursi dengan begitu elegant dan pakaian yang begitu formal. Dia tampak sendiri, tidak ada satu pelayan pribadi yang seperti biasa menemani nya disana. Aku menghampiri Mama Ben dengan terus menjinjing tas kecil ku.
“Sore Ma” sapa ku dengan dingin.
Mama Ben melihat ku dengan tersenyum begitu senang. Jujur saja, baru kali ini aku di sambut dengan hangat oleh nya, bahkan seperti nya ini adalah kali pertama Mama Ben memancarkan senyuman nya hanya untuk ku.
“Hallo Fawnia. Duduk” pinta nya.
Aku duduk di hadapan nya.
“Mau pesan apa?” Tanya Mama Ben dengan antusias.
“Aku pesan susu hangat saja”
“Baiklah” lalu Mama Ben mengangkat tangan nya kepada pelayan yang sudah siap sedia menunggu perintah dari Mama Ben.
__ADS_1
Caffe ini sangat berkelas dan juga megah, dan aku melihat sekeiling pun sepertinya café ini hanya di gunakan untuk orang-orang yang sangat penting saja bukan tempat untuk sekedar nongkrong muda mudi. Dan pantaslah Mama Ben meminta ku untuk bertemu disini,karena jauh dari keramaian.
“Ada apa ?” Tanya ku secara langsung tanpa basa basi.
“Fawnia. Mama mau meminta maaf” ucap Mama Ben akhirnya.
Aku tidak tahu apa yang telah merasuki nya, namun permintaan maaf dia begitu terdengar sangat aneh di telinga ku.
“Mama mau minta maaf dengan semua yang telah terjadi dengan kamu”
Aku diam tak menjawab nya, aku hanya bisa memalingkan wajah ku menyembunyikan rasa muak ku terhadapan nya mengingat penderitaan ku selama ini. Aku heran, apa dia sedang beracting ? Atau amnesia ?
“Mama tau Mama salah, Mama tau tidak sepatut nya Mama bersikap seperti itu selama ini”
“Apa yang Mama mau?” Tanya ku dengan sinis dan menghindari basa basi ini.
Mama Ben diam melihat ku dengan tersentak.
“Aku tahu Mama memiliki tujuan untuk bersikap seperti ini, karena aku yakin Mama tidak akan pernah mau mengucapkan maaf jika Mama tidak ada maksud”
“Fawnia, Mama tulus meminta maaf kepada kamu”
Aku menggelengkan kepala ku dengan begitu yakin.
“Ma. Jika Mama tulus untuk meminta maaf, Mama pasti sudah melakukan nya sejak lama sekali, walaupun aku jarang bertemu dengan Mama, tapi aku tahu persis karakter Mama seperti apa. Selama ini Mama tidak pernah sekali pun mau menganggap ku sebagai menantu bahkan untuk membahagiakan anak Mama pun Mama tidak pernah mau melirik ku. Lalu kenapa sekarang Mama mau meminta maaf? Ada apa? Apa semua ini karena Ben yang ternyata masih hidup?” Tanya ku mendesak nya.
mama Ben terlihat begitu sedih, dia menundukan kepala nya.
“Ben baru menceritakan semua nya, dia baru mengatakan semua kisah nya dengan detail. Masalah yang di derita nya sampai saat ini, semua karena Mama. Mama dan Papa tidak tahu jika Ben melakukan penyembuhan dengan cara yang bisa mencelakai dirinya. Ben tidak pernah sekali pun menceritakan nya. Dia begitu tersiksa, sampai Mama dan Papa mendesak dia untuk segera menikah”
Mama mulai menangis, isakan nya pun terdengar walaupun dia menundukan kepala nya.
“Mama takut Faw. Mama takut jika tidak ada orang yang bisa menerima kekurangan Ben”
Aku jadi merasa kasihan mendengar kesedihan Mama Ben. Aku jadi teringat Mama Nicko yang juga memiliki ketakutan yang sama dengan dia,Mama Nicko takut jika tidak ada wanita yang bisa menerima kekurangan Nicko dengan penyakit nya.
“Ben marah saat tau kami memarahi kamu Faw. Ben marah dan menyalahkan kami karena kamu meninggalkan dia”
“Kepergian ku bukan sepenuh nya karena kalian, jika saat ini pun aku tidak memiliki masalah dengan kalian, aku akan tetap meninggalkan Ben karena dia telah berani meninggalkan ku selama 4 tahun dengan berpura-pura mati”
“Fawnia, kamu harus tahu. Ben terpaksa melakukan itu”
“Apapun alasan nya, Ben tidak bisa membohongi istrinya sendiri Ma, apalagi dia telah berjanji akan menjaga ku dengan anak ku”
“Fawnia, Ben hampir terbunuh di kalimantan saat dia sedang mengecek tambang batu bara nya” aku tercengang mendengar ucapan Mama.
“Tambang batu bara nya hampir hancur, ada yang sabotase pekerjaan Ben, tapi Ben akhirnya bisa menyelamatkan nya dengan baik. Lalu beberapa hari kemudian, tambang nya mengalami kebakaran, dia memiliki kerugian besar, ada yang hampir membunuh Ben hidup-hidup disana, tapi orang itu tidak berhasil, dan Ben yakin jika orang itu gagal membunuh Ben dia akan terus menghancurkan tambang batu bara nya. Akhirnya Ben dengan orang kepercayaan nya membuat skenario, untuk memalsukan kematian Ben, dan kebetulan pesawat yang saat itu akan di tumpangi Ben mengalami kecelakaan. Dia meminta orang untuk segera memalsukan kematian nya, walaupun pilihan nya sangat berat, karena saat itu kamu melahirkan, dia harus lebih dulu menyelamatkan perusahaan nya Fawnia, karena dia banyak memikul tanggung jawab karyawan dia yang begitu banyak disana. Dia bukan mengorbankan kamu, tetapi dia meninggalkan kamu untuk beberapa tahun demi menemani mu selamanya”
__ADS_1
Aku terus mendengarkan dengan serius cerita Mama dengan mata yang mulai berair. Karena aku tidak pernah tahu apa yang di alami Ben selama di kalimantan,dan sampai saat ini pun aku tidak pernah mau mendengarkan penjelasan apapun dari Ben.