
Hari baru di kantor. Dengan perasaan yang baru dan kebahagiaan yang baru dengan Nicko. Akhirnya aku tidak perlu lagi berpura-pura untuk tidak mempedulikan nya dan tak mengacuhkan nya, kini aku bisa tersenyum kepadanya setiap saat dan bisa melihat Nicko dengan penuh kasih sayang.
Hari ini aku memakai kemeja blus sutra berwarna abu berlengan panjang dan memakai rok span hitam selutut ku. Rambut ku di buat bergelombang dan di ikat agar mempermudah pekerjaan ku yang super sibuk hari ini.
Ketika aku sedang sibuk mengotak atik komputer ku seseorang masuk ke dalam ruangan ku dengan tubuh tinggi gagah, dan memakai pakaian kantor berwarna biru gelap. Papa Nicko. Aku terkejut melihat kehadiran nya lalu aku berdiri dan menyambutnya dengan sopan.
“Papa mau bicara dengan mu juga Nicko” ujar Papa dengan wajah yang begitu serius.
Aku mulai tegang. Aku mengingat masalah ku dengan orang tua Ben kemarin lusa, apakah ini ada kaitan nya dengan masalah itu?
Aku masuk ke dalam ruangan Nicko mengikuti Papa. Papa duduk di sofa dengan melepaskan kancing jas nya dan menghela nafas begitu dalam. Aku dan Nicko saling melempar pandang dan duduk di sofa berdampingan di hadapan Papa.
“Kenapa perusahaan Prawira membatalkan kerja sama nya?” Tanya Papa membuat ku menutup mata ku begitu malu.
Ternyata benar ini tentang orang tua Ben. Ucapku dalam hati sambil menundukan kepala.
“Kemarin Pak Bowo menelepon Papa dan mengatakan jika kerjasama kita di batalkan. Dan ketika Papa menanyakan ada masalah apa, dia meminta Papa untuk menanyakan langsung kepada kalian” aku terus menundukan kepala begitu takut menatap Papa Nicko.
Aku malu telah mengacaukan bisnis mereka,aku takut semua ini akan menjadi masalah besar untuk perusahaan kami, namun aku lebih takut jika Papa tau apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
“Pak Bowo dan Bu Irene adalah mantan mertua Fawnia Pa” ujar Nicko akhirnya.
Papa menatap ku dengan bingung.
__ADS_1
“Benar itu Faw?” Tanya Papa.
Aku mengangguk pelan dengan terus menundukan kepala ku.
“Lalu apa masalahnya? Kenapa bisa sampai mereka tidak mau bekerja sama dengan perusahaan kita? Apa kamu memiliki masalah pribadi dengan mereka ?” Tanya Papa mengintrogasi ku dengan serius.
“Mereka menjelek-jelekan Fawnia di depan semua orang Pa,bahkan Ibu Irene mengatakan jika Fawnia bukan lah wanita baik-baik, dia juga menyangkut pautkan tentang kematian Ben di depan semua orang,apakah pantas Fawnia di perlakukan seperti itu di hadapan semua orang?” Jawab Nicko dengan kesal mengingat kejadian kemarin.
“Kenapa bisa Mama nya berbicara seperti itu kepada kamu Nak, apa yang sudah kamu lakukan sampai-sampai membuat dia semarah itu?”
Aku mengepal kedua tangan ku, aku tak sanggup untuk berterus terang kepada Papa,aku belum siap, aku terus diam menundukan kepala ku untuk menyembunyikan rasa panik ku. Dan aku yakin Nicko melihat ketakutan ku.
“Itu karena..” ujar Nicko entah apa yang akan di jelaskan nya.
“Karena aku sudah hamil sebelum aku dan Ben menikah” jawab ku memotong ucapan Nicko yang aku takutkan memberi kejujuran kepada Papa nya.
“Mama nya juga terus menyalahkan ku karena kematian Ben, dia menyalahkan aku karena Ben tewas di perjalanan ketika akan menghampiri ku yang sedang melahirkan,padahal Ben tewas di pesawat yang dia tumpangi nya karena memang ada kesalahan di mesin pesawat dan menewaskan seluruh awak kapal,Papa juga pasti melihat beritanya 5 tahun lalu,itu jelas bukan salahku,dan di tambah lagi mereka tidak mendapatkan hak asuh Kara Pa, karena aku lebih berhak untuk mengasuhnya di banding mereka dan itu membuat mereka semakin membenci ku” ucap ku mulai meneteskan air mata karena begitu sakit nya jika aku mengingat masa itu.
Papa diam mendengar penjelasan ku yang begitu menyedihkan.
“Aku minta maaf jika aku sudah mengacaukan semua nya Pa, tapi sejak awal aku pun sudah bersikap profesional kepada mereka dan berusa untuk tidak mengungkit masalah pribadi kami, tapi mereka malah menceritakan semua nya di hadapan semua orang, membuat aku malu dan terpojok. Lalu aku pergi dari sana dan Nicko mengejarku”
Papa nya menyandarkan tubuh nya di sofa dan menghela nafas begitu panjang. Aku terus saja mengepalkan tangan ku untuk menahan rasa cemas ku,aku mengusap air mata di pipi ku. Nicko membantu mengusap air mata ku, dia terlihat begitu sedih. Dia menguatkan ku dengan tatapan nya yang mendalam.
__ADS_1
“Mereka tidak boleh seperti itu kepada anak Papa” ujar nya mulai merasa kesal.
“Harusnya mereka tahu attitude sebagai seorang CEO. Masalah pribadi tidak boleh di campurkan dengan masalah bisnis!” Kesal nya.
“Papa harus bicara kepada mereka!” Ujar Papa langsung berdiri dari duduk nya membuat ku panik dan cemas.
“Papa mau kemana?” Tanya ku begitu panik ikut berdiri dengan Nicko.
“Papa harus meluruskan ini dengan mereka. Tidak sepatutnya mereka memperlakukan kamu seperti itu, mereka pikir siapa mereka? Bisa seenak nya mengatakan jika kamu bukan wanita baik-baik,harusnya dia juga menyalahkan anak nya karena menyebabkan kamu hamil !” Aku melirik Nicko dengan ekor mata ku, dan Nicko pun terlihat melirik ku.
Aku yakin dia merasa tersindir dengan apa yang di katakan Papa nya. Lalu aku menatap Papa dengan seksama.
“Apa yang akan Papa lakukan jika ada di posisi mereka ?” Tanyaku dengan hati-hati.
Papa menatap ku dengan mengerutkan kening. Lalu dia menatap Nicko, anak pria satu-satunya dia yang begitu dia percaya.
“Tidak mungkin anak Papa akan melakukan hal yang memalukan seperti itu”
Hati ku seketika menjadi retak hancur begitu berkeping-keping mendengar Papa begitu mempercayai Nicko seperti itu.
“Nicko tentu terdidik dengan baik oleh kami dan dia tidak akan mungkin menaruh kami di posisi seperti orang tua Ben” lanjut Papa dengan begitu percaya diri.
Aku mencoba menahan diriku. Nafas ku sudah terasa begitu berat. Jantung ku mulai berdebar begitu kencang,kini rasa takut kembali menyerang ku.
__ADS_1
Papa langsung berjalan cepat ke luar ruangan dan di kejar oleh Nicko. Nicko berusaha untuk menghentikan Papa dan membujuk Papa untuk tidak berbuat macam-macam dengan keluarga Ben. Tentu Nicko pun harus menghentikan Papa nya agar tidak menemui orang tua Ben, karena jika sampai itu terjadi, orang tua Ben pasti akan menjelaskan semua nya dengan detail. Dan akhirnya rahasia Kara akan terbongkar.
Aku menjatuhkan diriku di sofa dan mulai menangis. Aku semakin takut untuk mengatakan kebenaran tentang Kara kepada mereka, aku takut mereka ikut membenci ku seperti orang tua Ben walaupun di keadaan yang berbeda. Aku tidak ingin lagi menaruh kebencian di banyak orang. Aku ingin hidup penuh kedamaian, aku tidak ingin di benci oleh orang-orang yang aku sayangi.