
Setelah Kara dan Nicko puas untuk belajar berenang. Nicko melilit tubuh Kara dengan handuk, dan dia mengeringkan tubuh nya dengan handuk kimono nya. Setelah dirasa keirng, Nicko lalu membawa Kara ke lantai atas untuk menemui ku dan mengganti pakaian Kara.
Ketika Nicko dan Kara masuk ke dalam kamar ku,mereka mendapati ku sedang membuka lemari baju dan mencoba-coba baju lama ku ketika masih bersekolah dan kuliah.
“Hay sayang” sapa ku kepada Kara yang berlari menghampiri ku.
Aku berjongkok untuk menyambut nya.
“Sudah selesai berenang nya?” Tanya ku dengan tersenyum berusaha untuk tegar.
“Sudah Ma” jawab Kara.
“Kalau begitu kita ganti dulu baju nya ya”
Aku berjalan ke tempat tidur untuk membawa tas gandong Kara yang berisikan baju ganti nya.
Dengan terus tersenyum dan seolah tidak terjadi apa-apa,aku mengganti pakaian Kara dengan terus di perhatikan Nicko yang berdiri di hadapan ku. Aku yakin dia hanya ingin melihat keadaan ku saja.
“Kamu kenapa belum pakai baju?” Tanya ku menatap Nicko ketus.
Namun Nicko malah terus menatap ku dengan dingin,seolah dia tahu jika aku sedang berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
“Ayo Nicko. Pakai dulu pakaian mu, dari kemarin kamu belum ganti pakaian kan?” Tanya ku mengingatkan hal itu.
Kara telah selesai aku pakaikan pakaian baby doll berwarna pink, lalu aku menyisir rambut nya sambil bersenandung bernyanyi kesukaan nya.
Lalu terlihat Kara mencari sesuatu di sekitarnya.
“Oh iya ikat rambut Kara ketinggalan,biar Kara bawa dulu ke bawah ya Ma” ucap Kara sambil meninggalkan kami berdua dengan cepat,
“Kara..” panggil ku hendak mengejarnya,karena aku tidak ingin di tinggalkan berdua dengan Nicko di situasi seperti ini.
Lagi-lagi Nicko menarik tangan ku, dan membiarkan Kara pergi keluar kamar meninggalkan kami berdua.
Mata kami bertemu. Nicko menatap ku dengan dingin,dan aku menatap nya dengan pilu mengingat ucapan Mama nya.
“Jangan berusaha tegar di hadapan ku” ucap Nicko sambil terus menggenggam lengan ku.
“Aku tidak berusaha tegar untuk mu. Tapi untuk Kara” ucap ku menyangkal prasangkanya.
Kesedihan ku tidak bisa aku tutupi lagi. Aku menatap Nicko denga begitu sedih.
“Aku tahu hati mu sakit mendengar apa yang di katakan Mama. Aku juga merasakan hal yang sama Faw” ujar Nicko dengan raut wajah yang tulus.
“Aku juga sedih Mama tidak mengetahui jika sebenarnya dia sudah memiliki seorang cucu dariku. Dan cucu itu telah di sayangi nya sekarang”
Aku mulai sedih mengingat hal itu.
__ADS_1
“Kenapa kita tidak mengatakan yang sejujurnya sekarang ? Agar kita bisa tenang”
Aku menggelengkan kepala ku dengan perlahan menatap nya begitu sedih.
“Bukan ke tenangan yang akan aku dapatkan jika kita mengatakan semuanya sekarang. Tapi kekecewaan yang amat mendalam Nicko. Aku tidak mau kehilangan mereka,dan aku lebih baik mengorbankan perasaan ku di bandingkan aku harus kehilangan mereka lagi” ucap ku dengan begitu pedih.
Nicko tampak terkejut mendengar ucapan ku. Dia mengkerutkan kening nya tak percaya.
“Mengorbankan perasaan?” Tanya nya mengulang ucapan ku.
“Maksud mu? Kamu ingin melihat aku menuruti keinginan orang tua ku? Kamu ingin melihat aku menikah dengan wanita lain? Kamu mau Kara selamanya tidak tahu tentang Ayah kandung nya?” Terdengar sekali nada kecewa dari ucapan Nicko.
“Apa yang kamu fikirkan Fawnia?” Tanya nya tak menyangka.
Aku diam tak bisa menjawab nya. Aku pun begitu gundah,tidak tahu harus berbuat apa. Yang aku inginkan hanyalah memiliki pengganti orang tua ku yang bisa menyayangi ku sepenuh nya tanpa ada kebencian. Dan aku sudah mendapatkan nya dari orang tua Nicko selama ini. Namun aku hanya membuat satu kesalahan,kesalahan yang amat besar sampai aku takut kehilangan mereka,yaitu mencintai Nicko,anak mereka satu-satunya.
“Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Aku tidak akan pernah mau menikah dengan orang lain, walaupun kamu akan pergi menghilang lagi dari kehidupan ku,atau kamu tidak akan pernah menganggap ku sebagai ayah Kara,atau bahkan kamu akan menikah lagi. Aku tidak akan pernah mau menikahi wanita lain selain kamu” ucap Nicko mempertajam kalimat terakhirnya.
Lalu dia melepaskan genggaman nya dan meninggalkan ku sendiri di kamar. Aku mulai menangis, aku begitu sedih mendengar apa yang di katakan Nicko. Dulu aku pernah meninggalkan nya karena aku kira dengan kepergian ku,Nicko bisa mematuhi orang tua nya untuk menikah, tapi nyatanya usaha ku sia-sia. Dan sekarang, dia menekan kan kembali, jika sampai aku kembali menghilang, situasi tidak akan berubah,dia akan tetap teguh kepada pendirian nya, dan bisa saja Mama akan semakin membenci ku karena aku kembali menghilang.
Aku menghapus air mata ku dan mencuci muka ku di wastafel untuk menyembunyikan rasa sedih ku di hadapan semua orang. Aku harus berusaha tegar, demi Kara.
Aku turun menyusul semua orang di meja makan. Kirana juga ikut duduk makan di samping Nicko dengan bersikap manis di hadapan orang tua Nicko.
“Sayang sini kita mulai makan” sambut Mama meminta ku segera duduk.
“Ayo makan. Kirana bantu Mama masak loh” ucap Mama dengan bangga nya.
Namun Nicko sama sekali tidak terlihat excited mendengar ucapan Mama.
“Oh iya? Kirana bisa masak?” Tanya Papa menghargai usaha Kirana.
“Sedikit Om. Tapi aku sedang belajar untuk masak kok. Agar nanti kalau aku menikah dengan Nicko,aku bisa memasak makanan kesukaan nya” ujar Kirana dengan centil menatap Nicko.
Nicko masih saja tidak mengacuhkan nya. Dan ucapan nya hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Mama dan Papa Nicko.
“Dan kamu Faw?” Tanya Papa menatap ku.
“Ya”
“Kamu masih suka memasak?” Tanya Papa mengingat dulu aku sering sekali membantu Mama Nicko memasak di dapur.
“Masih Pa” jawab ku singkat.
“Kalau begitu Papa mau kamu nanti masak lagi ayam balado untuk Papa Ya?” Ucap Papa dengan tersenyum.
“Iya Faw. Mama juga kangen di bantu masak kamu” ujar Mama ikut berbicara.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi permintaan mereka. Aku melirik Kirana yang sudah menatap ku dengan tatapan tidak suka nya,namun aku tidak mempedulikan nya. Aku tahu,Kirana pasti meras gerah dengan apa yang di bicarakan oleh Mama dan Papa Nicko,namun bukan salah ku jika dia merasa tidak nyaman,karena aku tidak meminta orang tua Nicko memuji ku.
Kara menatap ku dengan sedih.
“kenapa?” Tanya ku dengan pelan.
Mulut nya tidak menjawab namun mata nya melirik sesuatu yang begitu mengganggunya.
“Apa?” Tanya ku masih berbisik.
Kara memberikan kode dengan mata nya ke arah meja makan.
Sayur bayam bening di dalam suatu mangkuk besar yang begitu banyak,kini tersaji kembali di hadapan Kara. Aku mengerti apa maksudnya. Tadi pagi Kara baru saja aku paksa untuk makan bayam,dan sekarang dirumah Oma dan Opa nya dia di suguhi lagi sayur bayam.
“Oke. Kara tidak perlu makan bayam ya,Kara mau nugget dan sosis saja?” Tanya ku.
Dengan takut Kara menganggukan kepalanya.
“Kenapa tidak mau makan bayam?” Tanya Papa kepada Kara.
Ternyata Papa memperhatikan kami berdua dan menguping pembicaraan ku.
Kara terlihat sekali ketakutan. Mungkin dia kira Opa nya akan ikut memaksa Kara untuk kembali makan bayam.
“Kara..” ucap ku mencari alasan lain selain alasan yang sama dengan Nicko.
Aku tidak ingin membuat mereka sadar jika Kara dan Nicko memiliki kesamaan.
“Tadi pagi aku sudah membuatkan sayur bayam untuk Kara, dan mungkin Kara bosan Pa jadi dia enggan untuk kembali makan bayam” ucap ku berdalih.
“Oh tidak apa-apa Kara boleh makan yang lain nya ya”
“Terimakasih Opa” jawab Kara dengan manis.
Dan semua pun segera mengalas makanan nya ke atas piring,termasuk Nicko yang hanya membawa nasi dan lauk nya daging sapi lada hitam juga nugget seperti Kara.
“Kamu tidak mau coba sayur bayam nya Nick?” Tanya Kirana dengan heran.
Nicko tidak menanggapi Kirana hanya melirik dia sebentar dan memandang Mama nya.
“Tante lupa bilang ya” ucap Mama Nicko sambil mengalaskan makanan untuk Papa.
“Nicko tidak suka makan sayur yang berbentuk daun seperti itu”
Lagi-lagi Kirana terkulai lemah,dengan apa yang baru di ketahui nya lagi tentang Nicko.
“Karena waktu kecil Nicko pernah melihat ulat di sayur bayam dan ulat nya bukan ulat sayur yang biasa,tapi seperti ulat bulu yang buat dia gatal-gatal,terus badan nya jadi bentol-bentol gitu seharian. Jadi, sampai besar seperti ini,dia masih saja sulit makan sayuran” ujar Mama Nicko menjelaskan kepada Kirana.
__ADS_1
Lalu Kirana hanya menurunkan halis nya dengan raut wajah kecewa. Seolah dia merasa sia-sia telah membantu membuatkan sayur bayam yang di dedikasikan untuk Nicko. Aku ingin tertawa,namun aku menahan nya. Dan aku menatap Kara yang hanya bisa serius dengan makanan di hadapan nya.