
Kita sampai di makam orang tua ku.
Makam di lahan yang begitu luas dan begitu banyak gundukan tanah yang sama di sekitar nya. Begitupan makam orang tua ku, yang sudah terbalut dengan rumput hijau yang begitu segar di atas gundukan tanah nya.
Aku dan Papa meletakan bunga di atas makam kedua orang tua ku. Aku perlahan duduk di samping makam Mama ku. Aku mengelus batu nisan yang bertuliskan nama Mama ku disana. Aku mengelus batu itu tersenyum melihat nama nya seolah yang telah aku sentuh itu adalah wajah Mama,lalu aku mencium batu itu dan mulai menangis.
Di dalam hati aku mencurahkan isi hati ku kepada Mama. Aku menceritakan tentang apa saja yang sudah aku alami selama ini sampai aku kembali bertemu dengan orang tua Nicko dan menikahi anak nya. Tentu Mama pasti tidak akan menyangka hal itu akan terjadi,apalagi aku. Aku menghapus air mataku dan melirik punggung Papa Rio yang terlihat sedang menangis di samping makam Papa ku,dia memunggungi namun isakan nya terdengar begitu jelas. Seperti nya Papa begitu sedih mengenang Papa kandung ku. Seperti nya dia terlihat begitu sakit sekali dengan melihat makam Papa.
Kenapa Papa bisa sampai sesedih itu di makam Papa kandung ku atau makam sahabat nya itu? Apa Papa memiliki suatu kenangan yang menyakitkan sampai dia terlihat begitu bersedih,menangis terisak seperti itu?
Lalu setelah berziarah,aku dan Papa kembali pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa diam tidak tahu harus seperti apa melihat Papa yang sepertinya masih menangis.
Lalu aku memberanikan diri untuk mengelus bahu nya. Papa melirik ku dengan mata yang masih begitu sembab,lalu Papa kembali menangis,dia menarik ku ke dalam pelukan nya. Aku menerima pelukan Papa dengan penuh kasih sayang.
“Maafkan Papa ya Nak”
Aku hanya bisa diam mendengar Papa meminta maaf. Mungkin Papa masih merasa tidak tega melihat aku kehilangan kedua orang tua ku.
“Sampai kapan pun Papa masih tidak bisa membalas semua kebaikan Papa kandungmu. Papa kandung mu terlalu berjasa untuk Papa. Yang bisa Papa lakukan hanya ini,menjaga mu hingga akhir hayat Papa dan menjadikan kamu keluarga seutuh nya Papa” ucap Papa dengan penuh kesedihan.
Aku begitu terharu mendengar nya. Aku terus memeluk Papa dengan menyandarkan kepala ku di bahu nya berusaha menenangkan dia,karena aku tidak tahu lagi harus bagaimana aku berbicara kepada nya. Sulit untuk menjelaskan jika aku beruntung bisa menjadi bagian keluarga Papa dan menjadi istri dari Nicko. Aku harap Papa bisa merasakan kebahagiaan ku itu.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar ku dan melempar tas yang aku bawa ke atas kasur. Aku langsung melepas pakaian ku dan pergi ke kamar mandi untuk menyiram seluruh badan ku dari rasa panas yang tersisa di makam tadi. Aku masuk ke kamar mandi dengan sudah menanggalkan semua pakaian ku. Aku menatap diriku di cermin memikirkan kembali tentang perkataan Papa di perjalanan tadi. Kenapa bisa Papa berkata jika sampai kapan pun dia tidak akan bisa membalas semua jasa orang tua ku? Padahal jika di lihat sekarang,usaha nya sudah jauh lebih sukses di bandingkan dulu dengan Papa.
Aku langsung menyingkirkan semua hal yang ada di otak ku dan berjalan menuju bawah shower dan menyalakan air nya. Air dingin langsung menyapu tubuh ku dengan begitu segar nya dari kepala hingga ujung kaki ku,aku memejam kan mataku dengan terus membiarkan air membasahi tubuhku. Tiba-tiba aku terkejut dengan kehadiran seseorang memegang pinggang ku dari belakang. Aku langsung membuka mata ku dan melihat siapa yang sudah datang ke dalam kamar mandi ku.
Nicko. Tentu saja dia,siapa lagi ?
Dia tersenyum dengan manis kepadaku dan mencium bibir ku dengan lembut. Dia pun tidak memakai sehelai pakaian di tubuhnya dan ikut bergabung di bawah kucuran air shower bersama ku. Kita melakukan nya di kamar mandi,lalu setelah itu kami benar-benar mandi.
Aku dan Nicko sudah keluar dari kamar mandi bersama-sama,dan segera memakai pakaian kami. Aku mengeringkan rambut ku yang basah dengan handuk di depan meja rias ku,sementara Nicko duduk di atas tempat tidur ku dengan laptop di lahunan nya.
“Nick”
“Ya” sahut nya tanpa menoleh ku.
“Apa kamu tau tentang PT.MFP?” Tanya ku sambil mengeluarkan hairdryer di dalam lemari tepat di bawah ku.
__ADS_1
Dia terlihat berusaha mengingat nya,namun dia malah menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Kenapa?”
Aku berfikir sejenak untuk menjawab. Apakah aku harus jujur jika aku melihat nama PT itu ada di berkas yang Bima bawa kemarin?
“Katanya perusahaan itu cukup besar,tapi kenapa kita tidak pernah mengajukan kerja sama dengan mereka?”
“Jika perusahaan mereka besar,tentu saja Papa pasti akan lebih dulu meminta ku untuk meeting dengan mereka”
“Tapi Papa tahu dengan perusahaan itu”
“O ya?”
“Ya. Dan Papa bilang perusahaan itu sudah tidak ada”
Nicko berfikir menatap ku dengan bingung.
“Apa nama perusahaan nya tadi?”
“PT. MFP. Mitra Falcon Property” jawab ku dengan berusaha mengingat arti singakatan nya.
“Seperti nya aku pernah melihat nama itu di data pribadi perusahaan”
“O ya?” Aku langsung meninggalkan hairdryer ku di atas meja rias dan berlari menghampiri Nicko.
Aku ikut bergabung di samping nya dan melirik laptop Nicko.
Nicko membuka suatu data pribadi perusahaan,dan Nicko mencari Nama perusahaan itu di keywoard. Lalu langsung muncul lah folder yang bernama 'PT.MFP’ di laptop Nicko.
Aku dan Nicko saling melempar pandang sebentar,lalu Nicko membuka folder itu.
“Ternyata benar,perusahaan kita pernah bekerja sama dengan perusahaan ini” ujar Nicko.
Folder itu hanya berisikan surat perjanjian biasa seperti surat perjanjian lain nya dengan perusahaan kami.
“Tapi kenapa Papa bilang perusahaan ini sudah tidak ada?” Tanya ku.
__ADS_1
“Ya mungkin sekarang perusahaan itu sudah gulung tikar,karena surat perjanjian ini pun di tandatangani 17 tahun yang lalu,jadi sudah begitu lama”
Aku terdiam sejenak dan berfikir untuk mengatakan yang sesungguhnya kepada Nicko.
“Nick. Sebenarnya aku tahu nama perusahaan ini karena aku pernah melihat nya di dalam tas yang Bima bawa kemarin”
Nicko menatap ku dengan mengerutkan kening nya.
“Kemarin sebelum Bima menemui mu di ruangan,tas Bima tertinggal di atas meja,tas itu terbuka dan aku melihat sebuah berkas bernama PT. Mitra Falcon Property di dalam nya,apa Bima ada kaitan nya dengan perusahaan itu?”
“Bisa jadi”
“Kamu tahu jika dulu Bima adalah anak dari pengusaha terbesar?” Tanya ku.
“Aku pernah dengar itu,tapi aku tidak tahu bagaimana persis nya”
“Aku mendengarnya dari Riri”
Kami berdua lalu terdiam berfikir.
“Coba aku ingin tahu siapa nama pemilik perusahaan ini Nick” pinta ku kepada Nicko agar dia menggerakan cursor nya ke bawah lagi.
Ttd, Drs. Indra Sucipto Mangkasubono Dharma
“Kita lihat biodata dari Bima” ucap Nicko dengan terus menggerakan cursor laptop nya untuk mencari tahu tentang hal ini.
Biodata Bima terpampang di layar laptop,dan kami langsung mencari riwayat keluarganya.
Nama data diri : Bima Ghali Wijaya
Nama ayah : Drs. Aryo Yanuarsah
Nama Ibu : Sarah Kania Wijaya
Nama Kaka : David Fradirik Wijaya
“Tapi kenapa Bima masih membawa bawa berkas perusahaan yang sudah tidak ada?” Tanya ku dengan bingung.
__ADS_1
Aku dan Nicko sepakat untuk tidak membicarakan hal ini kepada siapapun termasuk Papa setelah kami mendapatkan alasan Bima berurusan dengan perusahaan tersebut.