Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Usaha yang sia sia


__ADS_3

Pernikahan kami ternyata tinggal menghitung hari. Sedangkan aku dan Nicko masih saja sibuk mengurusi perusahaan kami. Mama dan Papa sudah begitu berisik mengingatkan kami untuk banyak beristirahat dan ikut mengurusi pernikahan nya. Tapi Nicko tidak ingin ikut campur dengan hal itu, dia menerima semua keputusan dan pilihan orang tua nya untuk persiapan pernikahan.


Malam hari nya aku menghampiri kamar Nicko. Dengan memakai baju piyama baby doll ku yang berwarna putih dan bergambar panda di tengah nya, rambut ku terurai dan aku memakai sandal berbulu berwarna putih,aku masuk ke dalam kamar nya tanpa permisi. Aku melihat dia begitu sibuk duduk di meja kerja nya dengan laptop di hadapan nya. Nicko melirik ku sebentar lalu dia kembali dengan kesibukan nya. Aku berjalan mendekati dia dengan perlahan dan duduk di samping tempat tidur.


“Ada apa?” Tanya nya dengan dingin.


Aku diam sejenak dan memikirkan hal yang ingin aku katakan.


“Beberapa hari lagi kita akan menikah, ada yang ingin aku tanyakan”


Nicko tak menjawab. Sepertinya dia sama sekali tidak penasaran dengan apa yang ingin aku katakan.


“Apa setelah kita menikah aku masih bisa bekerja di perusahaan mu?”


“Kenapa?” Tanya nya dengan tanpa menolah ku.


“Apa kamu ingin mengganti posisi mu sebagai direktur?” Lanjut Nico.


Aku memicingkan mata ku melihat nya dengan kesal.


“Bukan seperti itu”


“Lalu?”


“Aku hanya ingin menerima tawaran Papa untuk bekerja di perusahaan Papa yang berada di Tangerang”


Nicko mengerutkan kening nya dengan tangan masih saja menggerakan mouse dan tatapan nya tidak lepas kepada layar laptop nya.


“Itu tawaran Papa sebelum kita memutuskan menikah”


“Ya, tapi aku ingin sekali bisa mengurus perusahaan itu Nicko”


“Untuk apa?”


“Ya aku ingin melihat potensi ku mengurus sebuah perusahaan lagi”

__ADS_1


Nicko tidak menjawab. Aku tahu dia pasti tidak akan membiarkan ku bekerja sendirian.


“Ayolah Nick, perbolehkan aku memegang perusahaan Papa” ucap ku terus berusaha dan memohon kepadanya.


“Perusahaan itu bergerak di bidang yang berbeda dengan pekerjaan mu sekarang Fawnia, aku tidak yakin kamu bisa meng handle nya”


“Aku pernah memegang perusahaan di bidang konstruksi kan dulu ketika dengan Ben” jawab ku dengan harus mengungkit masa lalu ku dengan begitu berat menyebutkan nama itu kembali di mulutku.


“Dan aku juga cukup berpengalaman untuk bisa mengatasi bidang konstruksi” ucap ku terus saja berusaha agar bisa menjadi bahan pertimbangan yang baik untuk nya.


“Aku tetap tidak akan mengijinkan nya” ujar Nicko dengan masih tidak menatap ku.


Aku begitu kesal sekali kepadanya, tapi aku begitu tahu,bagaimana pun aku meminta jika Nicko sudah berkata tidak, dia tidak akan merubah keputusan nya.


Aku berdiri dengan kesal, menatap nya sebentar lalu pergi meninggalkan kamar nya dengan emosi. Aku menutup pintu kamar Nicko dengan kencang sekali dan berdiri di depan kamar nya. Aku menghela nafas ku dengan begitu dalam, dan kembali kecewa karena aku tidak berhasil membujuk nya untuk bisa bekerja di perusahaan Papa yang berada di Tangerang.


Ada sesuatu yang aku inginkan di perusahaan itu. Sesuatu jawaban yang selama ini selalu menjadi pertanyaan ku, aku harus bisa bekerja disana, dan bisa segera mencari tahu jawaban dari pertanyaan yang selalu menghantui ku.


Aku pergi ke lantai bawah menemui Kara dan Oma yang sedang bermain di ruang keluarga.


“Hai Ma” sapa ku kepada Mama.


“Hai sayang”


Aku lalu duduk di sofa dan menonton mereka dengan tersenyum.


“O iya, besok akan ada orang yang mengantarkan contoh gown pernikahan kalian, kalian setelah bekerja tidak ada acara lagi kan?”


Aku memikirkan dulu dengan jadwal ku dan Nicko besok.


“Sepertinya tidak ada”


“Baguslah. Besok kalian yang menangani mereka disini ya”


Aku menganggukan kepala ku.

__ADS_1


“Papa kemana ?” Tanya ku.


“Papa sedang menemui Pa Bowo” jawab Mama membuat ku terkejut.


Pa Bowo, Papa Ben. Untuk apa Papa bertemu dengan Papa Ben ?


“Ada urusan apa?”


“Mama juga tidak tahu, tapi seperti nya ada hal penting yang mau di sampaikan Pak Bowo, karena Papa terlihat panik sekali dan pergi dengan tergesa gesa”


Aku menjadi cemas. Aku khawatir keluarga Ben berbicara yang tidak-tidak tentang ku, aku jadi takut jika semuanya akan berdampak kepada perusahaan keluarga kami. Aku mengingat percakapan ku dengan Mama Ben waktu lalu, dan dia mengatakan jika Ben terlihat stres sekali dan marah sekali kepada mereka berdua. Aku berharap semua baik-baik saja, dan kebahagiaan ku segera di mulai.


Keesokan nya di kantor. Aku kembali menemui Riri di ruangan nya untuk kepentingan pribadi. Ya beberapa hari ini aku jadi sering masuk ke ruangan nya, karena ada sesuatu yang sedang kami kerjakan,sesuatu di luar pekerjaan kami. Aku pun tidak mengira,aku bisa berteman dengan manusia ular ini,karena jika di ingat Riri dan teman-teman nya kerap sekali menyebalkan terhadapku. Tapi ya begitu lah manusia ternyata, yang di lihat menyebalkan belum tentu dia menyenangkan,tidak seperti Devina,dia terlihat begitu baik seperti bidadari tapi ternyata di belakang dia sudah seperti macan.


Riri sebagai bagian admininstrasi memiliki ruangan kecil khusus untuk nya.


“Gimana?” Tanya Riri dengan serius ketika aku masuk ke ruangan nya.


Wajah ku begitu murung duduk di hadapan nya.


“Nicko masih ga ngizinin gue” ujar ku dengan kecewa.


Riri juga ikut kecewa mendengar jawaban ku.


“Terus gimana? Lo mau apa sekarang?”


Aku menggedikan bahu ku dengan lemah.


“Gue ga tahu. Tapi gue harus bisa pegang perusahaan itu supaya gue bisa ketemu sama cewe sialan itu” ujar ku menatap Riri dengan kesal.


“Lo termotivasi banget ya pengen ketemu sama orang yang udah bikin perusahaan lo ancur” ledek Riri sambil tersenyum dengan sinis.


Ya. Aku memiliki kesempatan bertemu dengan Sheilla, orang kepercayaan Ben dulu yang ternyata malah membuat hancur perusahaan ku. Karena aku masih merasa banyak kejanggalan dengan kejadian buruk itu.


Aku mengenal Sheilla dari pertama aku menikah dengan Ben, dan aku melihat dia orang yang begitu baik dan juga terpercaya. Dia bahkan kerap membantu tentang kehamilan ku, dia yang selalu memberi tahu ku jika sesuatu terjadi dengan perut ku, Sheilla adalah sosok yang begitu penyayang dan begitu baik. Tapi setelah kematian Ben Sheilla malah jadi membelot di perusahaan ku, sikap Sheilla pun seolah tertekan dan dia sama sekali tidak terlihat dengan tulus melakukan hal yang tidak terduga seperti itu. Aku yakin ada yang membuat dia terpaksa melakukan itu, namun dulu dia sama sekali tidak mau membuka mulut nya, dia malah kabur dan meninggalkan aku sendiri dengan kehancuran.

__ADS_1


Sebenarnya aku bisa saja menuntut nya, tetapi aku memilih untuk diam, dan membiarkan dia bebas. Aku membiarkan diriku menanggung segalanya, aku membayar semua kerugian ku dan menutup perusahaan kecil Ben.


__ADS_2