
“Selama ini Fawnia menyembunyikan tentang..”
Prrraaannnngggg
Suara benturan di ikuti jatuhnya suatu benda terdengar dari arah kamar ku. Kita bertiga langsung menengok ke arah kamar,aku dan Nicko segera berlari ke kamar,Nicko lebih cepat membuka kan pintu kamar ku dan terlihat Kara yang sudah tergeletak di lantai dengan kursi dan meja kerja ku yang terjatuh.
“Kara!” Teriak ku ketika melihat Kara yang tidak bergerak sama sekali di lantai.
Nicko dengan cepat langsung membawa Kara dan memeriksanya apakah dia terluka,kepala Kara terlihat langsung lebam sepertinya Kara mengalami benturan keras di kepalanya sehingga membuat dia tak sadarkan diri.
“Karaaa!” Teriak ku secara histeris.
Nicko dengan cepat mengangkat Kara dan membawa Kara keluar dari kamar. Mama yang ikut panik juga mengikuti Nicko.
“Cucu Oma,kamu kenapa sayang?” ucap Mama begitu sedih.
Aku meraih tas ku yang ada di meja dan mengikuti Mama juga Nicko sambil menutup pintu apartemen ku.
Aku melihat Nicko begitu panik karena Kara terkulai begitu lemas di gendongan nya. Aku,Mama dan Nicko masuk ke dalam mobil milik Nicko. Mama duduk di samping Nicko dan aku duduk di belakang memangku Kara yang terbaring di lahunan ku.
“Sayang,bangun lah” ucap ku sambil menangis.
Nicko tidak berbicara sedikit pun,dia terus melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit.
“Cepat Nak,Mama tidak bisa memaafkan diri Mama jika terjadi apa-apa dengan Kara” ujar Mama.
Aku terus mengelus pipi Kara berharap dia bangun sambil menangis. Aku pun sama tidak akan bisa memaafkan diriku jika sesuatu terjadi kepadanya.
“Kara sayaangg.. bangunlah sayang” lirih ku sambil terus menangis.
Mama sangat begitu terlihat khawatir terus melirik ke jok belakang. Mama juga memegang tangan Kara sambil berurai air mata. Aku begitu merasakan,bagaimana pun Mama marah terhadap ku atau Nicko, Mama akan selalu menyayangi kami, apalagi Kara.
Kami sampai di depan IGD dan Nicko berlari mengelurakan Kara dari mobil dan menyerahkan nya kepada suster yang juga ikut tergesa-gesa membawa brangkar pasien. Nicko membaringkan nya di tempat tidur dorong itu dan dia memarkiran mobil nya dengan cepat di tempat parkir.
Kita bertiga begitu panik mengikuti Kara ke ruang ICU,dan ketika kami akan ikut masuk ke dalam ruang ICU suster menahan kami.
__ADS_1
“Tolong tunggu disini,kita akan memeriksanya dengan baik” ucap suster berbaju putih itu lalu dia menutup pintu ICU.
Aku terus menangis melihat Kara masuk ke dalam ruang ICU. Ini adalah kali pertama aku bisa lalai memperhatikan Kara. Ini adalah kecerobohan terbesarku dengan tidak meminta Kara untuk diam di kamar dan tidak melakukan apa-apa. Karena aku tidak sempat untuk meminta Kara menunggu dengan baik di kamar,aku terlalu terpaku dengan perdebatan ku dengan Mama.
Aku menempelkan punggungku di dinding dan menangis dengan begitu takut. Nicko terus mondar mandir kesana kemari untuk menghilangkan ketakutannya,sementara Mama duduk di kursi di sebelahku dengan memejamkan mata dan berdoa.
Beberapa jam berlalu,setelah banyak nya perawat yang keluar masuk ke dalam ruang ICU dengan tergesa-gesa,membawa alat,contoh darah dan lainya,akhirnya kali ini dokter keluar dari ruang ICU dengan melepaskan masker untuk menemui kami,dan kami bertiga langsung menyerbunya.
“Siapa orang tua nya?” Tanya dokter dengan tegas.
“Saya”
“Saya” jawab ku dan Nicko secara bersamaan.
Mama yang berada di samping ku terlihat heran menatap Nicko.
“Siapa yang mengidap thalassemia?” Tanya nya lagi.
Aku mengerutkan kening mendengar penyakit yang asing di telingaku.
“Saya” ucap Nicko dengan terus menatap dokter.
Kali ini aku yang terkejut menatap Nicko.
Ternyata masih ada rahasia yang belum aku ketahui dari Nicko. Yang aku ingat,dulu Nicko sering sekali rutin untuk check up ke dokter bersama Mama nya,namun aku tidak pernah tahu untuk apa mereka terus memeriksa kesehatan ke rumah sakit. Aku hanya mengira itu check up kesehatan biasa, karena Mama sering melakukan hal yang kepadaku setiap bulan nya,hanya saja aku tidak cepat lelah atau pun banyak sakit-sakit an seperti Nicko dulu. Aku tidak pernah tahu jika Nicko memiliki sebuah penyakit. Apakah itu pernyakit berbahaya ?
Mama terlihat bingung dan terlihat memikirkan sesuatu begitu keras,sementara aku hanya bisa terdiam.
“Ikuti saya” pinta dokter kepada Nicko.
Lalu Nicko dan dokter meninggalkan aku dan Mama yang masih saja terlihat terkejut tak percaya dengan apa yang dia dengar. Aku kembali bersandar di tembok dengan sedih dan menunggu Mama untuk bertanya.
Mama menatap ku dengan kecewa. Dia menghampiri ku dengan perlahan.
“Kara adalah anak Nicko?” Tanya Mama dengan nada begitu berat menahan tangis nya.
__ADS_1
Aku tak sanggup untuk menjawab nya dan terus memalingkan wajah ku dengan meneteskan air mata.
“Apakah Kara benar cucu kandung Mama?” Tanya Mama mulai ikut menangis.
Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan Mama sama persis seperti apa yang Nicko katakan ketika pertama kali dia tahu jika Kara adalah anak kandung nya.
“Kenapa bisa Mama baru tahu ini Fawnia? Kenapa kalian menyembunyikan nya dari Mama?” Ucap Mama dengan kecewa.
Aku menatap Mama sebentar dengan sedih. Aku tidak sanggup untuk mulai bercerita kepadanya.
“Aku pun tidak tahu dengan kehamilan ku saat itu Ma, awal nya aku pergi dari rumah dan akan kembali setelah keadaan rumah membaik. Tapi ternyata aku tahu aku hamil, hamil anak Nicko. Aku tahu apa yang aku lakukan dengan Nicko itu sudah di luar batasan,aku tahu aku sudah melakukan kesalahan dengan Nicko ketika kami berdua kabur dari rumah. Tapi semua nya sudah terllanjur, dan ternyata aku sudah hamil mah,aku sudah hamil ketika aku kabur dari rumah” Ucap ku begitu pedih.
“Apa yang harus aku lakukan Ma? Apa jika dulu aku mengatakan yang sejujurnya kepada Mama,Mama akan memaafkanku?”
“Mama bersikeras mau menikahkan Nicko dengan wanita pilihan Mama, Mama dengan jelas mengatakan jika Mama sangat menentang hubungan kami dan tidak akan pernah menyetujui hubungan kami. Aku bingung Ma, aku pun ikut frustasi menjalani nya”
Dan Mama hanya mendengarkan dengan seksama dan ikut tak percaya.
“Aku hampir putus asa, aku merasa hidup ku sudah tidak berguna lagi ketika aku tahu aku sudah hamil anak Nicko. Aku tidak sanggup menerima kekecewaan dari Mama dan Papa yang sudah begitu mempercayaiku,aku lebih baik mati menyusul orang tua ku di surga, dari pada aku harus menanggung semua resiko berat itu. Tapi akhirnya aku malah melahirkan dan membesarkan anak ini hingga sekarang. Aku pun tidak tahu apa yang aku lakukan, tapi aku merasa Kara adalah penguat hidupku hingga saat ini”
Mama mulai menangis dengan fikiran yang entah marah,kecewa atau masih tidak percaya.
“Aku tidak pernah mengharapkan sosok Ayah untuk Kara Ma,karena aku yakin,aku bisa membesarkan nya sendiri,dan sebenarnya dari awal aku tidak mau Kara tahu Ayah kandung nya siapa,aku hanya ingin Kara mengetahui hanya Ben lah ayah kandung nya. Tapi takdir malah mempertemukan aku dengan Nicko, dan takdir juga yang membuat Nicko tahu jika Kara adalah anak nya, semua bukan karena keinginan ku Ma, mungkin ini sudah jalan nya agar Kara menemukan hak nya sebagai anak Nicko”
Begitu berat aku harus berkata yang sejujurnya kepada Mama,tapi aku harus melakukan ini ,karena semua telah terlanjur.
Mama masih diam menatap ku masih menangis,aku melihat kekecewaan Mama yang teramat dalam. Dia menutup mulut untuk menahan rasa terkejut nya.
“Aku tahu Mama akan kecewa. Aku tahu apa yang di lakukan aku dan Nicko itu salah,tapi aku juga tidak menginginkan nya Ma,aku juga tidak pernah membayangkan jika aku bisa memiliki seorang anak dari Nicko”
Mama masih diam tak menjawab.
Aku menghela nafasku begitu dalam sebelum aku kembali berbicara.
“Jika Mama meminta aku untuk pergi dengan Kara,aku akan pergi. Aku akan mengorbankan segalanya demi menghormati kalian. Aku tahu Mama ingin yang terbaik untuk Nicko,aku begitu mengerti Ma,aku akan melakukan apapun untuk kalian. Tapi kali ini aku mohon,jika aku pergi jangan pernah mencari lagi aku dan Kara”
__ADS_1