
Aku sudah memiliki babysitter sekarang. Nama nya Mbak Susi. Dia beberapa tahun lebih tua dariku, namun dia belum menikah,dan Mbak Susi ini memang terlihat baik sekali dan begitu penyayang. Dia bekerja mengurus Kara hanya selama aku bekerja saja, setelah itu dia pulang.
Setelah pekerjaan ku yang melelahkan selesai,aku pulang dan menyiapkan Kara makanan untuk makan malam.
“Maa” panggil Kara saat dia duduk di pantry menemani ku memasak.
“Mmmm” gumam ku untuk me respond panggilan nya,karena aku masih begitu sibuk memasak di depan wajan ku.
“Om Nicko kapan main lagi kesini?” Tanya nya membuat ku diam tersentak dengan pertanyaan nya.
“Kenapa nanya nya Om Nicko?” Tanya ku dengan kembali memasak.
“Om Nicko baik” jawab nya membuat ku melirik nya sebentar dan tersenyum.
“Memang Mbak Susi,Mama,Aunty Key ga baik?”
“Apa nih ngomongin Aunty Key” suara Keysa tiba-tiba saja terdengar di pantry ku.
Aku melirik dia kebelakang. Keysa baru saja datang dengan baju kerja nya dan tas yang di jinjing nya.
“Hayyooo lagi ngomongin Aunty yaa?” Tanya Keysa memegang pipi Kara.
“Ngga. Kara lagi ngomongin Om Nicko” jawab Kara dengan polos nya membuat ku memejamkan mata karena sampai saat ini aku belum menceritakan kepada Keysa dengan kedatangan Nicko tempo lalu.
“Nicko?” Tanya Keysa dengan terkejut.
“Kok kalian ngomongin Nicko?” Tanya Keysa kepadaku.
“Iya. Om Nicko waktu itu main disini nemenin Kara main” lagi-lagi Kara membuat Keysa terkejut mendengar kejujuran nya.
“Whatt!!” Teriak Keysa membuat Kara bingung.
“Aunty kenapa?” Tanya Kara.
“Hehe ngga sayang. Aunty Key cuma kaget aja” jawab nya sambil tersenyum kikuk.
“Jadi Om Nicko main disini sama Kara?” Tanya Keysa mengintrogasi Kara yang begitu polos.
“Iya kita main disini sampai malam,Main gambar,belajar menulis,masukin puzzle sama bacain Kara dongeng”
Kara begitu antusias bercerita tentang keseruan dia bersama teman barunya.
“Oh iya? Wah Om Nicko juga baik banget loh sama Aunty Key” ujar Keysa dengan omong kosong nya.
Jelas-jelas Keysa belum pernah bertemu lagi dengan Nicko dari 5 tahun yang lalu.
“Aunty Key kenal sama Om Nicko?”
__ADS_1
“Kenal” jawab nya dengan begitu meyakinkan.
“Kalau gitu boleh telepon Om Nicko ga aunty? Kara kangen sama Om Nicko” Tanya Kara semakin membuat ku menggelengkan kepala dan tidak ingin melihat mereka di belakang ku.
“Boleh” jawab Keysa.
Aku membiarkan Keysa terus membual kepada Kara, aku kira dia hanya akan berpura-pura menelepon Nicko,karena aku tahu Keysa tidak memiliki nomor Nicko. Namun tiba-tiba suara laki-laki terdengar di sebuah telepon.
“Hallo” mataku terbelalak mendengar suara Nicko di dalam sambungan telepon.
Aku membalikan badan ku dan melihat Keysa sedang memegang handphone ku dan mengarahkan nya kepada Kara.
Keysa video call Nicko dengan handphone ku.
“Keysaa!” Teriak ku dan langsung merebut ponsel ku di tangan nya. Aku me reject telepon itu dan menatap nya dengan kesal.
“Lo apa-apa an sih Key?” Tanya ku dengan kesal nya.
“Lo kenapa sih? Gue kan cuma penuhin keinginan nya Kara” jawab Keysa dengan wajah nya yang begitu menyebalkan.
Aku baru saja mau kembali memaki nya tapi aku melihat Kara yang terkejut dengan tingkah ku memarahi Keysa.
“Mama marahin Aunty Key karena Kara ya?” Tanya Kara dengan wajah begitu bersalah nya.
“Bukan.. bukan sayang” panik ku menyentuh kepala nya dengan lembut.
Lalu handphone ku kembali berdering. Itu telepon dari Nicko. Aku menatap Keysa dengan kesal,tapi dia malah bertingkah seolah tidak bersalah. Lalu aku melirik Kara yang terus saja terlihat muram dan sedih. Dan akhirnya dengan terpaksa aku mengangkat video call dari Nicko.
“Sorry tadi Kara yang telepon” ujar ku langsung tanpa ber basa-basi.
“Aku tahu. Tidak mungkin kamu yang menelpon ku” jawab nya dengan dingin.
“Mana Kara. Aku mau berbicara dengan nya”
Lalu dengan berpura-pura tersenyum kepada Kara aku memberikan handphone ku kepada Kara. Aku tidak ingin membuat dia bersedih melihat wajah ku yang cemberut dan membuat dia merasa takut.
“Aunty Key. Jangan ajarin Kara ngomong macem-macem ya” ucap ku memperingati Keysa dengan tersenyum namun mata penuh dengan ancaman.
Keysa tersenyum begitu bahagia nya, dan mengangguk manis sekali namun senyuman nya itu membuat ku malah kesal kepadanya.
Aku kembali memasak dan membiarkan Kara berbicara dengan Nicko di handphone ku. Aku mengingat lagi apa yang di katakan Nicko di kantor tadi.
Bahkan perasaan yang aku miliki untuk mu,masih tersimpan rapih di dalam hatiku hingga saat ini
Dengan tidak sadar senyuman terpancar di wajah ku ketika aku mengingat itu.
Sebenarnya aku senang mendengar Nicko masih memiliki perasaan yang sama denganku hingga saat ini,namun aku tidak ingin orang lain tau tentang kebahagiaan yang tengah aku rasakan. Biarkanlah aku menyembunyikan semua ini sendiri. Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kali nya.
__ADS_1
Keesokan harinya di kantor seperti biasa aku menemani Nicko bertemu dengan client nya di luar.
Dia bertemu dengan client nya di sebuah hotel di tengah kota. Kita bertemu di ruang meeting hotel yang cukup besar dan dengan beberapa orang yang telah menunggu di dalam sana. Dengan cekatan aku terus mencatat semua point penting yang ada di dalam meeting tersebut dan mengajukan pertanyaan dengan hal yang tidak aku pahami. Aku cukup cerdas menjalani profesi ku sebagai sekretaris, sehingga aku sering sekali di puji client-client Nicko selepas kami selesai meeting.
Beberapa jam berlalu. Meeting pun selesai.
“Oke. Apa jadwal selanjutnya?” Tanya Nicko ketika kami bertiga sudah ada di dalam mobil.
Seperti biasa, aku selalu duduk di kursi belakang bersama Nicko, dan Bima menyetir di depan.
“Setelah ini Bapak bisa beristirahat dulu,dan nanti malam Bapak ada janji makan malam dengan Pak Handoko untuk membahas pembangunan cluster Royal Choice” jawab ku dengan melihat pad ku.
Ya malam ini dia ada janji bertemu dengan orang tua dari tunangan nya, karena orang tua Kirana ini juga partner kerja terpenting untuk Nicko.
Aku harus bersikap se formal mungkin dengan Nicko, karena ada Bima di depan kami sedang menyetir.
Nicko menghela nafas nya dengan raut wajah yang malas.
“Baiklah. Siapkan jas saya” jawab Nicko dengan melepaskan jas nya karena merasa gerah.
Lalu dia memberikan jas itu kepada ku.
“Jas Bapak sudah saya siapkan di ruangan Bapak, dan berkas-berkas sudah saya titipkan kepada Bima”
Nicko merenyitkan dahi nya.
“Kenapa tidak kamu sendiri yang membawa berkas nya?”
“Maaf Pak. Untuk pertemuan ini saya tidak ikut karena ada acara makan malam pribadi dengan keluarga dari tunangan Bapak” ucap ku menolak dengan sopan ajakan Nicko.
“Kenapa?”
“Ini sudah ada dalam kontrak. Saya tidak boleh ikut dengan urusan di luar pekerjaan saya”
“Kamu harus ikut. Ini juga membahas tentang pembangunan Faw”
“Tapi katanya meeting ini juga membahas pernikahan Pak Ferdy dan Mbak Kirana” jawab ku dengan masih begitu manis dan lembut, walaupun sebenarnya aku ingin sekali berteriak dan memarahi nya jika saja tidak ada Bima di hadapan kami.
“Aku mau kamu ikut” ucap Nicko dengan begitu dingin,membuat ku melirik nya dengan tajam.
Kenapa dia terus mengatakan ‘aku,kamu’ di depan Bima. Aku memperingati Nicko dengan terus memelototi nya, dan memberi isyarat menunjuk Bima dengan mata ku. Namun Nicko terus saja menatap ku dengan tatapan yang mengancam, seolah dia tidak peduli dengan kehadiran Bima di depan kami.
“Baik Pak Ferdy” jawab ku dengan kesal nya.
Aku tidak mau berdebat dengan Nicko di dalam mobil dan membuat Bima bingung melihat pertengkaran kami. Aku masih harus menjaga image ku di kantor.
Aku begitu kesal sekali. Kenapa aku harus ikut untuk membahas acara pernikahan nya?
__ADS_1