Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Lagi-lagi menggagalkan bisnisnya


__ADS_3

Keesokan harinya di kantor. Seperti biasa,aku masih saja sibuk dengan pekerjaan ku sebagai sekertaris Nicko,dan sekaligus melayani nya sebagai kekasihku. Di hadapan seluruh karyawan,di hadapan Bima dan rekan-rekan nya yang lain,aku bersikap begitu profesional dan patuh kepada Nicko ,namun ketika sudah berdua saja,aku sering sekali bersikap seenaknya kepada Nicko bahkan aku kerap bersikap galak kepadanya jika dia mulai menyebalkan dan keras kepala.


Siang ini aku mengantar Nicko menuju client nya yang sudah menunggu kami di suatu gedung besar di daerah pemukiman warga. Gedung itu benar-benar masuk kedalam persawahan dan pemukiman orang-orang pinggiran kota. Aku saja sempat heran mengapa kita di ajak bertemu di tempat seperti ini.


Setiap perjalanan,aku melihat banyak sekali petani yang hilir mudik untuk bercocok tanam,dan juga mengangkut hasil panen mereka. Aku begitu bersyukur melihat mereka yang giat bekerja, dan mendo’akan mereka agar selalu sehat, juga lancar dalam mencari uang untuk keluarganya yang mungkin sedang menunggu mereka dirumah.


Kami sampai di sebuah gedung yang sedang di bangun,aku dan Nicko masuk ke dalam gedung itu dan kita naik ke lantai atas sambil melihat lihat sekeliling nya. Di suatu ruangan besar di lantai 3,aku melihat suatu pemandangan pinggiran kota dari atas ini. Begitu jelas sekali terlihat kepadatan dan ramai nya jalan raya di sebrang sana. Berbeda dengan di sekitar sini,begitu asri dan masih banyak sekali tanaman hijau untuk mereka berkebun.


Client Nicko berusaha menjelaskan tentang bisnis yang akan di rancangnya di sekitar sini. Dan dia mengatakan jika tanah yang akan di belinya pun masih terhitung murah sekali. Dan Nicko pun hanya terdiam memandangi luar jendela dan terus memperhatikan sekitar area sana.


“Dan bagusnya lagi Pak. Warga disini ternyata masih bisa kita nego untuk harga di turunkan kembali” ujar Client Nicko sambil tertawa puas merasa hal yang di ucapkan nya begitu lucu.


Rekan kerjanya yang lain ikut tertawa mengikuti bosnya ini.


“Ini akan jadi peluang bisnis besar untuk kita Pak,dan saya yakin mendapatkan kesepakatan dengan mereka itu mudah,karena kita riset 80% penduduk disini tidak merasakan bangku sekolah. Bukankah lebih mudah untuk kita mencuci otak mereka untuk menjual tanah nya?”


Aku begitu kesal mendengar ocehan laki-laki tua ini. Dia terlihat berdasi,ber jas,juga gagah,namun kelakuannya begitu memperlihatkan jika dia tidak berpendidikan.


“Menurut saya tidak adil untuk terus menurunkan harga kepada masyarakat di sekitar sini untuk menjual tanah mereka” Ucapku ikut bersuara dengan dingin.


Semua client Nicko yang sedang tertawa tiba-tiba terdiam menatap ku kikuk.


“Bapak tidak melihat mereka? Mereka tidak bersekolah itu karena mungkin mereka tidak mampu,dan mereka mau menjual harga murah kepada Bapak itu karena mereka sama sekali tidak mengerti tentang harga jual beli tanah”


Mereka terlihat tambah tidak senang dengan apa yang aku ucapkan. Apalagi si bos ini,dia begitu menahan emosinya jika saja dia tidak melihat ada Nicko disana.


“Bapak apa tidak bisa melihat? Tanah yang mungkin akan Bapak beli adalah ladang untuk mereka mencari sesuap nasi,itu adalah lahan mereka untuk mencari uang. Mungkin uang yang Bapak beri kepada mereka,mereka anggap begitu besar,karena mungkin mereka belum pernah memegang uang sebanyak itu sepanjang hidup nya. Namun mereka tidak sadar,jika uang yang akan bapak berikan tidak akan sebanding dengan usaha tani yang mereka miliki,yang padahal dengan lahan itu bisa membuat mereka bertahan hidup dan bahkan bisa di wariskan kepada anak cucu mereka nantinya”


Client Nicko itu semakin naik pitam. Aku bisa merasakan kesinisan nya terhadapku. Dia terlihat emosi,dan tatapan nya pun tajam.


“Anda siapa disini?” Tanya client nya dengan nada tidak suka.


Aku diam tak menjawab nya,dan Nicko terus saja menatap keluar jendela seolah tidak peduli dengan perdebatan yang terjadi di belakangnya.


“Kamu hanya seorang sekretaris kan ? Saya tidak perlu saran atau pun pendapat dari kamu untuk ini,lebih baik kamu diam karena saya hanya membutuhkan Bapak Ferdy yang bicara,bukan anda”

__ADS_1


“Saya hanya berbicara fakta”


“Diam kamu ! saya tekankan sekali lagi,kamu ini hanya sekretaris!” Kesal nya dengan mempertajam ucapan nya.


“Oo” jawab ku dengan santai sambil menganggukan kepalaku.


Aku menggelengkan kepalaku,merasa kasihan kepadanya,karena tanpa dia sadari dia juga sudah memancing kemarahan Nicko. Dia sudah seenaknya merendahkan statusku yang hanya sebagai sekretaris dan di anggap tidak berharga di mata nya. Dia tidak tanu bahwa sekertarisnya ini juga adalah pawang dari rekan kerja nya.


Nicko membalikan badannya dengan perlahan dan menatap client nya dengan tajam. Dia memasukan kedua tangan ke dalam saku celana nya.


“Memangnya kenapa jika dia hanya seorang sekretaris ?” Tanya Nicko dengan sinis menatap client nya ini.


Client nya pun tampak panik dengan ekspresi wajah Nicko yang menyeramkan.


“Bukan begitu Pak. Maksud saya,dia kan hanya sekretaris dan dia tidak begitu mengerti tentang pemasaran seperti ini. Yang lebih paham tentu anda Pak Ferdy” ujarnya dengan gelagapan.


Nicko masih menatap client dia ini dengan tajam.


“Apa yang di sampaikan sekretaris saya itu benar. Semua ini bukan perkara mudah atau tidak mudah nya kita memulai bisnis disini,tetapi kita juga harus memikirkan nasib banyak orang yang kita buat sempit di kampung ini” ujar Nicko membela ku.


“Pak…Pak Ferdy” panggil client tua itu memanggil Nicko dengan panik.


“Pak tolonglah! Kita bisa bicarakan dulu baik-baik,kita pasti akan mendapatkan jalan tengah nya” ujar client nya memohon dengan raut wajah sedih.


“Ayo pergi” ajak Nicko kepadaku tanpa menghiraukan seluruh client nya.


Nicko berjalan dengan cepat meninggalkan kami semua.


Client Nicko hanya bisa meratatapi kepergian Nicko yang menghilang dari balik pintu. Sedangkan aku memberikan senyuman yang ramah dulu kepada ketiga client nya dan ikut pergi menyusul Nicko.


Sesampainya di kantor aku langsung mengikuti Nicko ke dalam ruangan nya.


“Maaf sudah menggagalkan bisnis mu lagi”


Ucap ku yang berdiri di depan meja kerjanya

__ADS_1


“Menggagalkan bisnis apa?” Tanya Nicko sambil melepaskan jas nya dan dia berikan kepadaku.


Aku mengambil nya dan menaruh jas nya di sebuah gantungan yang tersedia di dekat dinding ruangan nya. Nicko duduk di meja nya dan melonggarkan dasinya.


“Iya. Kalau saja tadi aku tidak berkomentar seperti itu,kerja sama kalian pasti bisa di bicarakan lagi dengan keputusan yang lebih baik” ujar ku mengingat kejadian tadi.


Nicko menghela nafas nya dan menatap ku yang sudah berdiri di hadapan nya.


“Dengar. Apa yang kamu sampaikan tadi itu benar. Aku masih cukup punya hati untuk tidak mematahkan ladang usaha mereka,lagian tempat nya pun kurang strategis dan aku tidak suka dengan tutur katanya yang terlalu menghina orang kecil”


“Sama. Aku juga tidak suka dia” ucap ku dengan kesal karena mengingat kata-kata client nya tadi.


Nicko tampak tersenyum melihat tingkah ku dan dia mulai kembali kepada pekerjaan nya di depan meja. Aku hendak melangkah pergi dari hadapan Nicko dan kembali ke ruanganku.


“Kamu mau kemana?” Tanya nya.


Aku membalikan badan ku dan mengkerutkan halis ku menatap Nicko.


“Mau ke ruanganku” jawab ku kikuk.


“Tidak bisa kamu diam disini saja?”


“Untuk apa?”


“Agar aku bisa merasa nyaman untuk bekerja”


Aku berdecak dengan kesal.


“Ayolah. Ruangan ku hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat mu” ketus ku.


“Aku bosan melihat mu di balik jendela”


“Kalau begitu robohkan saja jendela kaca nya,agar kamu bisa melihat ku secara leluasa” ujar ku dengan kesal.


Lalu aku kembali melangkah pergi dan tak mengacuhkan Nicko kembali.

__ADS_1


__ADS_2