
Setelah meeting selesai,aku pergi ke pantry untuk membuat susu caramel untuk aku dan juga Nicko,namun disana aku melihat ada Riri yang duduk di meja pantry sendirian dengan brownis di atas meja nya.
Aku menghampiri Riri sambil membawa dua cangkir kosong ke hadapan nya.
“Hay” sapa ku kepada Riri yang seperti nya sedang begitu menikmati potongan brownis coklat yang ada di tangan nya.
“Oh Hey” jawab nya dengan mulut penuh dengan brownis.
“Rakus banget sih lo,pelan-pelan aja,gue juga ga akan minta” ledek ku sambil sedikit tersenyum melihat begitu lahap nya Riri makan.
Lalu aku menarik toples berisi bubuk susu caramel ku dan langsung mengisi 2 cangkir kosong yang aku bawa dengan susu caramel nya.
“Gue laper belum makan dari pagi” ujar Riri dengan kesal.
Aku hanya tertawa mendengarnya.
Aku melirik sekitar ku,yang benar-benar sepi di dalam pantry.
“Temen-temen geng lo mana?” Tanya ku karena aneh saja melihat Riri berkeliaran sendiri tanpa ada dayang dayang yang selalu mengekor nya.
“Ya mereka kerja lah,mereka kan harus kerja yang giat supaya ga di bilang ga ada progresif sama Ibu Sekretaris Pak Ferdy” ledek Riri mengingat waktu itu aku pernah memberi peringatan kepada mereka yang begitu menyebalkan kepadaku.
Aku langsung tertawa bahagia mengingat kejadian itu kembali,sedangkan Riri terus saja makan tidak menghiraukan ku yang sedang menertawakan nya.
“Gue masih inget banget lagi” ucap ku mengakhiri tawaan ku walaupun masih terus tersenyum.
“Iya lah. Itu tuh hal yang ga bisa di lupakan oleh gue dan juga temen-temen gue. Gila seorang anak baru bisa-bisa nya bikin geng kita mati kutu kaya gitu” timpal Riri yang seperti nya masih saja sebal dengan sikap ku saat itu.
“Bagus kalau begitu,jadi ga ada yang berani macem-macem kan sama gue” ucap ku dengan sombong nya.
“Iya lah. Apalagi sekarang? Nyari bunuh diri tu orang kalau ada yang berani macem-macem sama Istri Pak Direktur ini”
Aku kembali tertawa dengan ocehan Riri. Lalu aku teringat tentang Bima kembali.
Aku menyimpan dulu cangkir berisikan bubuk caramel ku sebelum aku isi dengan air panas.
“O iya Ri. Lu kerja disini udah lama emang?” Tanya ku.
Riri menatap ku dengan bingung.
“Kenapa?”
“Ya ngga,gue cuma pengen tau aja. Segimana senior nya elu disini” ucap ku dengan masih meledek nya sambil menahan senyum ku.
__ADS_1
Riri menelan dulu potongan brownis terakhir yang ada di tangan nya.
“Gue disini udah sekitar 2 tahunan,dan baru menjabat sebagai admin itu baru sekitar 1 taunan”
“Oo” jawab ku sambil menganggukan kepal secara perlahan.
“Berarti lebih dulu Bima sama elo?”
Riri kembali mengerutkan kening nya sambil mengingat sesuatu.
“Iya. Dari kantor ini masih di pegang sama Bokap Lu,atau mertua lu Pak Rio,Bima udah kerja langsung jadi assisten. Terus 2 taun kemudian kantor ini di alihkan sama suami lu Pak Ferdy dia masih di percaya Pak Rio buat nemenin Pak Ferdy sebagai assisten nya juga,ya sampai sekarang”
Aku kembali menganggukan kepala ku sambil terus berfikir.
“Emang kenapa sih?”
“Engga. Tadi tuh Bima mau ajuin jadwal cuti bulanan nya sama Nicko,soalnya gue penasaran dia kalau cuti apakah ada acara keluarga ? Atau kepentingan keluarga ? Atau hal lain nya gitu,sampai dia rutin banget setiap bulan ajuin jatah cuti nya”
“Iya kan itu hak dia mau ambil cuti kapanpun juga. Yang penting emang tiap bulan kita semua disini punya jatah cuti kan?”
“Bukan gitu maksud gue” ucap ku,karena Riri benar-benar tidak menangkap omongan ku.
“Gue tuh selama ini ga pernah tahu tentang latar belakang Bima Ri. Tentang keluarga nya,darimana dia asal, terus dimana dia tinggal sekarang, dia punya saudara kandung apa ngga, jadi gue cuma penasaran aja,karena dia ga pernah cerita apapun sama gue tentang latar belakang keluarga nya” ucap ku berusaha menjelaskan kepada Riri.
“Iya juga sih. Gue juga memang ga terlalu deket sama Bima dari dulu,karena kan dia orang nya super cuek banget,bahkan sama cewe tuh dia sering banget bersikap dingin” ucap Riri membuat ku merenyitkan dahi tak percaya. Karena mengingat dulu Bima dengan mudah menyukai ku,dan malah dengan waktu yang singkat dia berani menyatakan perasaan nya kepada ku.
“Tapi yang pernah gue denger dari temen-temen gosip gue..” ucap Riri terus berusaha mengingat sesuatu. Tentu saja Riri pasti selalu bisa mendapatkan berita panas di kantor ini dengan cepat karena dia di sebut si ratu gosip perusahaan.
“Katanya nya dulu itu bokap nya Bima pengusaha yang sangat besar sekali di segala bidang. Terus katanya usaha Bokap nya itu bangkrut dan bikin bokap nya Bima jadi depresi,dan yang gue denger sih katanya bokap nya udah meninggal karena depresi berat itu. Dan dia tinggal cuma sama nyokap nya aja”
Aku terus membulatkan mata mendengar cerita Riri.
“Dia anak tunggal?”
“Mmm gue ga tau persis sih tentang itu,tapi katanya Bima itu punya kaka,cuma Kaka nya ga pernah sekalipun keliatan atau pernah di ceritain sama Bima di kantor ini,jadi kaya Bima tuh privacy-in banget keluarga nya dari semua orang”
Aku berfikir dengan cerita Riri.
“Kenapa ya?” Bingung ku berusaha memikirkan alasan Bima kenapa bersikap seperti itu.
“Ya kita juga ga tau. Yang pasti si Bima itu udah terkenal sangat tertutup banget sama orang-orang kantor”
Sebenarnya aku masih penasaran dengan semua kisah tentang Bima di luar kantor,namun seperti nya yang bisa Riri ceritakan hanya sampai situ. Riri masih belum bisa membuat ku puas dengan cerita tentang Bima. Entah kenapa aku masih saja penasaran dengan latar belakang Bima.
__ADS_1
Setelah aku menyeduh susu carame ku,aku langsung menghampiri Nicko di ruangan nya dan memberikan salah satu cangkir ke atas meja nya.
“Susu Caramel agar kamu bisa lebih tenang” ucap ku dengan tersenyum kepadanya.
Nicko membalas senyuman ku tanpa beranjak sedikit pun dari tempat duduk nya.
“Terimakasih”
“Sama-sama” jawab ku sambil terus memegang cangkir ku dengan kedua tangan.
“Bima sudah pergi lagi ?” Tanya ku sambil melirik ke belakang ku memastikan Bima sudah tidak ada disana.
Wajah Nicko langsung berubah menjadi dingin.
“Kenapa menanyakan dia?” Tanya Nicko dengan kesal.
“Aku hanya mau bertanya apa tidak boleh?” Ucap ku dengan nada yang tidak kalah kesal kepadanya.
“Sudah” jawab nya dengan memalingkan wajah nya.
“Dia hanya mau memastikan,jadwal cuti nya sudah aku terima atau belum”
“Dia dapat cuti?” Tanya ku.
“Iya”
“Aku tidak?” Tanya ku meledek dengan memasang wajah yang begitu ketus kepadanya.
Nicko menyilangkan kedua tangan nya di meja dan menatap ku dengan dingin.
“Untuk apa kamu mengambil cuti. Kamu bisa berlibur sesuka hatimu,tidak akan ada yang melarangmu,bahkan Presiden Perusahaan ini pun tidak akan berani menegurmu karena kamu tidak masuk kerja” ujar Nicko dengan tegas.
Aku hanya bisa diam di tempat ku berdiri dengan terus memegang susu caramel ku yang seperti nya sudah mulai dingin.
“Lagi pula Bima mengambil cuti bulanan nya untuk menemui kakak nya yang ada di luar kota. Itu sudah menjadi jadwal rutin nya setiap bulan” jawab Nicko dengan kembali membuka berkas yang ada di meja nya.
“Kakak nya?”
“Iya” jawab Nicko.
Aku kembali teringat cerita dari Riri tentang kakak Dari Bima. Riri bilang kakak Bima tidak pernah di ketahui oleh siapapun di kantor ini,mereka semua hanya tau cerita tetapi tidak pernah tau wujud orang tua Bima seperti apa.
Kenapa aku jadi pensaran dengan Bima?
__ADS_1