Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Tentang Ben


__ADS_3

Nicko dengan cepat menggelengkan kepalanya.


Ya,ekspresi yang sudah bisa aku tebak. Dia pasti akan langsung menolak ide bodohku. Kita baru saja menghancurkan Ben kemarin,dan sekarang dengan enteng nya kita akan meminta bantuan Ben untuk memecahkan masalah kita yang lain nya. Mungkin Nicko hanya tidak ingin merendahkan dirinya di depan Ben,dia tidak ingin lagi berurusan dengan Ben apalagi meminta pertolongan nya.


“Ya itu hanya ide yang ada di kepalaku. Kalau kamu punya cara lain ya kita pasti akan pilih cara lain Nick. Coba kamu fikirkan” ucap ku berusaha meyakinkan Nicko.


“Dia sudah 4 tahun di Kalimantan,dia bisa memanipulasi data nya disana,dia bisa menghilangkan jejak,mengganti identitasnya,bahkan dia bisa dengan mudah memakai nama lain untuk bertahan hidup disana. Aku yakin, dia pasti akan dengan mudah bisa membantu kita untuk mencari data orang yang sedang kita cari disana”


“Tapi tidak Ben” ucap Nicko dengan penuh penolakan.


“Ya Oke. Kalau begitu coba kita cari jalan lain lagi,sementara yang aku punya hanya itu” jawab ku dengan menahan ego ku.


Sebenarnya aku juga sangat tidak ingin berurusan lagi dengan Ben. Tapi sejak awal, ketika nama Kalimantan disebutkan dalam masalah ini,yang muncul di kepala ku hanya nama Ben. Karena masalah yang sudah aku alami sebelum nya itu berawal dari tambang batu bara Ben di Kalimantan. Jadi Kalimantan bisa di sebutkan adalah awal dari kehancuran ku dan Ben.


Sore hari nya kita sampai dirumah. Aku dan Nicko langsung menemui Kara yang sedang bermain di taman belakang dengan Mbak Susi.


Kara memakai dress merah dengan motif bunga bunga di rok nya. Dia memakai bandana pink dan dengan poni yang menutupi kening nya.


Kara langsung berlari ke arahku dan juga Nicko ketika dia melihat kami.


“Mama..Papa..“ teriak Kara lalu dia memeluk ku juga Nicko.


Nicko langsung menggendong nya.


“Kara sedang apa?”


“Tadi Kara lihat kupu-kupu Pa”


“O iya? Kupu-kupu nya warna apa?”


“Warna kuning sama hitam,tapi kupu-kupunya besar Pa”


“Terus kupu-kupu nya kemana?”


“Kupu-kupunya sembunyi di bunga nya Oma disana Pa”

__ADS_1


“Terus”


“Kata Oma kupu-kupu nya tidak boleh di tangkap, karena dia hidup nya harus terbang kesana kemari buat hibur Kara,kalau kupu-kupu nya di tangkap dia nanti sedih ga bisa terbang”


Aku hanya tersenyum melihat percakapan mereka.


“Lalu sekolah Kara tadi bagaimana ? Kara pintar di sekolah?” Tanya ku dengan membenarkan rambut nya yang menutupi pipi chubby nya.


“Kara di sekolah baik Ma. O iya,tadi ada Papa Ben ke sekolah”


Mataku langsung membulat mendengar nama Ben di sebutkan Kara. Nicko juga tidak kalah terkejut mendengarnya.


“Papa Ben?!” Tanya Nicko.


Entah dia terkejut karena Kara masih memanggil Ben Papa atau dia terkejut karen kehadiran Ben di sekolahnya.


“Iya Pa. Tadi waktu Kara dan Mbak Susi nunggu di jemput Pak Ruli,Kara lihat Papa Ben ada di sebrang di dalam mobil. Dia lihat Kara terus,tapi tidak turun dari mobil,Kara dadahin Papa Ben,terus Papa Ben juga dadahin Kara”


Aku melirik Mbak Susi di samping ku. Dia hanya bisa diam tidak tahu mungkin harus berbicara bagaimana.


“Ben ada di sekolah Kara?” Tanya ku kepada Mbak Susi.


“Saya tidak tahu persis itu Pak Ben apa bukan bu,tapi memang laki-laki itu terus melihat Kara di dalam mobil nya”


Mbak Susi memang hanya sesekali melihat wajah Ben dulu di dalam fhoto ku. Dia tidak pernah melihat Ben secara langsung. Jadi pasti dia tidak tahu perubahan wajah Ben yang sekarang seperti apa. Namun penglihatan Kara tidak mungkin salah,dia sudah bertemu Ben beberapa kali jadi aku yakin jika apa yang di lihat Kara itu memang Ben.


Aku dan Nicko segera masuk ke kamar dan mengganti pakaian kami.


“Untuk apa Ben datang ke sekolah Kara” omel Nicko dengan nada terdengar kesal,sambil membuka kemeja kerja nya.


“Aku juga tidak tahu” jawab ku dengan malas.


Aku duduk di depan meja rias ku dan membuka high heels yang membuat sakit tumit ku.


“Dia mau sengaja bertemu dengan Kara?” Tanya nya lagi masih dengan rasa kesal nya.

__ADS_1


“Ya apalagi tujuan nya” jawab ku dengan dingin.


“Dia tidak boleh menemui Kara tanpa seizin kita”


Aku hanya bisa menghela nafas mendengar Nicko terus mengoceh tentang Ben. Aku berusaha untuk tidak menggubris nya dan menyibukan diriku dengan menghapus make up di depan cermin.


“Kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Dia bisa saja membawa Kara pergi,atau berbicara yang lain-lain kepadanya yang bisa membuat Kara bingung. Kenapa dia berani menampakan dirinya di depan Kara,apa mau dia ?”


Nicko benar-benar terlihat kesal. Mungkin rasa emosi nya yang kemarin tentang Ben belum bisa dia hilangkan dari fikiran nya.


“Dia tidak akan melukai Kara Nick” ucap ku dengan santai namun terdengar yakin,sambil terus menghapus make up ku.


Nicko diam mendengar ucapan ku. Aku yakin dia pasti merasa kecewa,karena ucapan ku terdengar seolah telah membela Ben.


Aku menyadari sikap diam nya yang secara tiba-tiba. Nicko hanya menatap ku dengan dingin di samping tempat tidur,aku membalikan badan dan balas menatap nya.


“Dengarkan aku. Ben tidak mungkin melukai Kara. Ya mungkin dia tidak meminta izin kepada kita untuk menemui Kara karena dia sudah terlalu malu dengan apa yang sudah dia perbuat kepada keluarga kita. Dan dia juga pasti akan tahu jawaban kita pasti 'tidak' untuk perizinan nya itu”


Ucap ku berusah menjelaskan agar Nicko tidak salah paham. Nicko masih menatap ku dengan dingin.


“Apa kamu baru saja membela Ben?”


Aku menggelengkan kepala ku begitu lemah menatap Nicko.


“Aku tidak mau lagi membela nya atas apa yang sudah dia perbuat selama ini. Aku hanya mengemukakan apa yang aku ketahui dan aku yakini. Ben tidak akan pernah berani melukai Kara” jawab ku.


“Sebagai orang tua,aku hanya khawatir kepada anak ku. Aku khawatir dengan keselamatan nya,aku takut orang lain akan berbuat jahat dengan anak ku. Dia juga pasti akan merasakan hal yang sama jika ada di posisiku” ucap Nicko berusaha membenarkan anggapan nya.


Aku menatap Nicko dengan semu setelah mendengar apa yang dia ucapkan. Nicko melupakan satu hal tentang Ben.


“Ya” jawab ku sambil menganggukan kepala dengan menahan kesedihan ku mengingat Ben.


“Jika Ben ada di posisi kamu dia pasti akan merasakan hal yang sama. Tapi posisi itu tidak akan pernah di rasakan Ben,Nick”


Aku mulai sedih mengingat penyakit Ben yang sangat besar itu. Dia tidak bisa mendapatkan posisi Nicko, sebagai seorang Ayah.

__ADS_1


Ekspresi Nicko berubah menjadi kikuk. Dia juga pasti merasa salah telah mengatakan hal itu. Dia lupa jika Ben tidak bisa memiliki anak.


Sebagai lelaki dan seorang Ayah tentu Nicko akan merasakan bagaimana sakit nya jika dia tidak bisa memiliki keturunan. Dia pasti akan merasa sedih jika kenyataan nya dia tidak pernah bisa menjadi seorang Ayah,mengingat dia sekarang sudah begitu bahagia memiliki Kara.


__ADS_2