
Ini memang aneh. Namun aku menyingkirkan segala prasangka buruk tentang keluarga Ben.
“Ya Mungkin mereka memang sudah percaya dengan perusahaan mu untuk bekerja sama,dan mereka tidak lagi memperdulikan masalah ku. Mungkin mereka cukup pintar untuk tidak mencampuri urusan pribadi dengan bisnis” ucap ku dengan perasaan yang padahal masih ragu.
Nicko terus terdiam berdiri sambil menatap layar komputer nya.
“Apakah aku harus menerima tawaran ini?” Tanya nya ragu.
Aku mendekati nya dan mengelus lengan Nicko dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Nicko. Kita pernah dimarahi Papa karena kita kehilangan mereka,dan semua itu salah ku, karena masalah pribadi ku, dan sekarang kesempatan ini datang lagi, kita jangan sia-sia kan kesempatan ini. Karena mungkin saja mereka sudah cukup profesional untuk mengesampingkan masalah ku”
Nicko menatap ku dengan sayu dan bingung. Aku tahu, dia hanya menghawatirkan tentang ku, karena aku pun sama , masih saja ragu untuk mulai bertemu lagi dengan mereka, namun aku tidak boleh egois, aku harus bisa profesional, dan mementingkan perusahaan kami.
“Baiklah. Atur jadwal pertemuan ku dengan mereka”
Aku tersenyum manis kepada Nicko sambil menganggukan kepala.
“Aku kembali ke ruangan ku, jika ada apa-apa hubungi aku” manis ku kepadanya.
“Oke”
Lalu aku berjalan keluar ruangan Nicko dan duduk di meja kerja ku. Aku membuka pesan e-mail di komputer ku, dan menatap kembali pesan yang di kirim dari perusahaan orang tua Ben. Aku membaca kembali isi pesan itu, dan mengira-ngira, apa benar mereka mau mengesampingkan masalah ku? Karena jujur saja, aku pun ragu dengan ini, setelah sekian banyak sekali drama yang aku lalui dengan keluarga Ben, kenapa akhirnya keluarga Ben kembali mau berurusan dengan ku ? Apakah mereka lupa jika mereka sudah sangat membenci ku karena kehilangan Ben ?
Aku menggelengkan kepala ku, dan segera melihat jadwal Nicko untuk membuat janji bertemu kembali dengan PT.Prawira itu.
Ketika sore hari dan waktunya pulang, seseorang datang ke ruangan ku dengan memakai jas biru tua dan begitu gagah juga wibawa, dia membawa beberapa ajudan di belakang nya.
Itu Pak Handoko,Papa nya Kirana. Aku langsung berdiri menyambut nya.
“Selamat sore Pak” sapa ku dengan manis.
“Sore. Ferdy ada di dalam?”
“Ada Pak”
“Bisa saya bertemu dengan nya?”
“Di tunggu sebentar” dengan canggung aku langsung mengangkat gagang telepon ku dan menelepon Nicko.
“Hallo Pak. Maaf mengganggu, ada Pak Handoko mau bertemu dengan Bapak”
__ADS_1
“Baik”
Setelah mendengar jawaban nya, aku langsung menutup telepon nya dan kembali tersenyum kepada Pak Handoko.
“Silahkan Pak. Pak Ferdy sudah menunggu”
Dia hanya tersenyum lalu dia berjalan menuju ruangan Nicko. Ajudan nya dengan sigap membantu membuka kan pintu dan mempersilahkan Pak Handoko masuk.
Aku kembali duduk dan termenung di tempat ku. Fikiran ku kembali berkecamuk tentang Kirana. Aku hampir lupa tentang Kirana. Bagaimana carany Nicko bisa menyelesaikan masalah nya dengan Kirana? Apa semua ini bisa berpengaruh dengan perusahaan juga?
Beberapa saat kemudian Papa Kirana keluar dari ruangan Nicko. Aku kembali berdiri dan memberikan dia senyuman terbaik ku. Dia balas senyum kepada ku sambil terus berjalan.
“Terima kasih Fawnia”
“Sama-sama Pak Handoko” jawab ku. Lalu mereka menghilang dari ruangan ku.
Setelah memastikan mereka benar-benar menjauh dari ruangan ku, aku dengan cepat berlari ke ruangan Nicko dengan penasaran.
Nicko terkejut melihat kehadiran ku yang tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu, dan berlari kecil menghampirinya. Dia terus menatap ku dengan bingung. Aku berdiri di hadapan nya dengan memegang meja.
“Apa yang baru saja kalian bicarakan?” Tanya ku dengan wajah yang penasaran.
“Apa maksud mu?”
“Iya, apa yang baru saja kamu dan Pak Handoko bicarakan ? Kalian baru saja membahas sesuatu kan?” Tanya ku dengan sedikit memaksa dia untuk menajawab.
“Kenapa kamu jadi ingin tahu dengan apa yang sudah aku bahas dengan orang lain?” Tanya Nicko meledek.
Aku menatap nya dengan kikuk. Dan berusaha mencari alasan.
“Aku ini kan sekretaris mu” jawab ku dengan berani.
“Jadi aku berhak tau apa yang sudah kamu bahas dengan client mu”
Nicko hanya menaikan satu halis nya mendengar ucapan ku. Lalu dia berdiri di hadapan ku dengan dekat dan melipat kedua tangan nya.
“Apa yang ingin kamu dengar?” Tanya Nicko menyelidik.
Aku seperti di beri kesempatan untuk menanyakan rasa penasarn ku.
“Apa kamu membahas tentang pernikahan mu dengan Kirana?” Tanya ku dengan hati-hati.
__ADS_1
Nicko seolah tahu jika itu adalah pertanyaan yang ingin aku ajukan. Dia menggaruk halis nya.
“Apa maksud mu? Kamu ingin melihat aku menikah dengan Kirana?” Tanya nya dengan raut wajah dingin.
Aku langsung memelototi nya dengan kesal.
“Tentu saja tidak! Justru karena itu aku bertanya, aku hanya khawatir jika dia tau kamu tidak ingin menikah dengan anaknya, lalu Pak Handoko akan mencabut kerja sama kalian” ucap ku dengan kesal.
“Tenang lah. Pak Handoko itu cukup profesional, dia tidak pernah ikut campur dalam urusan pribadi anak nya. Selama ini yang aku bahas dengan dia, hanya sebatas kerja sama”
“Benarkah?” Tanya ku tak percaya namun bahagia.
Nicko hanya diam menatapku untuk sesaat.
“Lalu bagaimana?” Tanya nya tiba-tiba.
“Bagaimana apanya?” Ucap ku balik bertanya dengan raut wajah bingung.
“Bagaimana dengan pernikahan kita? Kapan kita akan membicarakan nya?” Tanya Nicko membuat ku kembali kikuk.
“Harus kah kita membahas itu sekarang?” Aku berusaha untuk menghindari pembahasan tentang itu.
“Kalau kamu tidak mau melihat ku menikah dengan orang lain, maka segeralah menerima tawaran untuk menikah dengan ku” ucap Nicko dengan wajah dingin nya.
Aku memicingkan mata menatap nya.
“Tawaran? Apa pernikahan bisa di tawarkan ?” Tanya ku dengan kesal.
Nicko selalu menganggap semua nya mudah di hadapi nya.
“Kamu kira hanya dengan di tawari seperti itu aku mau menerima lamaran nya?”ucap ku dengan kesal lalu aku berbalik hendak pergi dari hadapan nya namun Nicko menahan tangan ku.
Aku menatap lengan ku yang di genggam nya lalu kembali menatap nya yang hanya diam menatap ku dengan sayu. Aku menunggu nya untuk bicara namun dia masih saja melihat kedua bola mata ku begitu dalam.
“Apa kamu benar masih mencintai aku?” Tanya Nicko membuat ku terkejut.
Mulut ku terkunci, aku hanya terkejut dengan pertanyaan nya yang tiba-tiba saja seperti itu.
“Karena sampai saat ini, aku tidak pernah lagi mendengar kata ‘I Love You’ dari mulut mu” lanjut nya dengan wajah yang datar.
Aku terus menatap nya dengan bingung. Bukan nya aku tidak mencintai nya, justru aku begitu mencintai nya setelah kehadiran Kara, namun aku selalu lupa bagaimana cara mengungkapkan nya.
__ADS_1