Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Liburan telah selesai


__ADS_3

4 hari kemudian.


Acara liburan kita telah berakhir. Aku, Nicko dan Kara segera berkemas untuk pulang.


“Bagaimana liburan nya?” Tanya Nicko ketika kami telah berada di dalam kabin pesawat untuk perjalanan pulang.


Aku melirik Kara dulu untuk membiarkan ia yang menjawab.


“Seru Pa. Nanti kita ke pantai lagi ya”


“Iya. Nanti Papa ajak Kara ke pantai yang lebih bagus dari ini”


“Yeeee” seru nya begitu bahagia.


Aku tersenyum melihat Kara.


“Oh iya. Besok aku akan langsung bekerja, ada beberapa pekerjaan kantor yang tertinggal kemarin”


“Dan kamu harus mengambil libur dulu untuk beristirahat” ujar Nicko membuat ku mengerutkan kening ku.


“Libur?”


“Ya. Aku akan memberikan waktu kamu libur beberapa hari untuk menemani Kara”


“Lalu pekerjaan ku?”


“Biar aku dan Zayden yang tangani”


Aku mulai curiga dengan Nicko.


“Kenapa? Ada apa?”


“Tidak ada. Hanya saja ada beberapa masalah di kantor”


Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Nicko.


“Maksud nya? Masalah seperti apa sampai aku tidak boleh ikut mengatasinya ?” Tanya ku mulai kesal.


Kara melihat ke arah kami berdua secara bergantian. Nicko khawatir jika Kara harus melihat perdebatan kami lagi.


“Kita bicarakan ini di rumah” ujr Nicko.


Aku diam tak menjawab nya, dan aku terus menatap Nicko dengan penasaran.


Aku tidak mengerti dengan apa yang di katakan Nicko. Sejak awal kita pergi berlibur, Nicko seperti memiliki beban tersendiri yang ia tidak ingin bagikan dengan ku. Dia terlihat resah namun dia berusaha menyembunyikan nya, tapi sayang nya aku terlalu bisa membaca gerak gerik nya. Aku terlalu tahu tentang Nicko, dia tidak bisa menyembunyikan apapun dariku.


Akhirnya kita telah sampai di rumah. Kami bertiga telah di sambut dengan hangat oleh Papa dan Mama di depan pintu rumah.


“Karaaa” teriak Mama pertama kali melihat Kara masuk ke rumah.


Kara langsung berlari menuju Oma nya yang telah melentangkan kedua tangan nya untuk menyambut Kara.


“Omaaaa” teriak Kara.


Lalu Kara memeluk Oma nya dengan begitu erat.

__ADS_1


“Oma Kara kangen Oma”


“O ya?”


“Iya Oma. Kara minta Papa sama Mama supaya Oma nyusul kesana, tapi kata Papa Oma lagi sibuk” ujar Kara dengan tingkah lucu nya.


Mama dan Papa tertawa mendengar nya. Karena Kara kira Lombok itu tempat yang dekat sehingga Mama dan Papa bisa menyusul kesana dengan cepat.


“Iya Oma sedang sibuk disini”


“Kara ga kangen sama Opa?” ujar Papa seolah dia sirik kepada istrinya.


“Kangen dong Opaa” ujar Kara juga memeluk Opa nya agar adil.


“Gimana liburan nya? Kara senang?” Tanya Papa.


“Senang Opa. Kara disana berenang dengan ikan nemo” ucap Kara begitu antusias untuk bercerita.


“Terus Kara bermain sama ombak disana, Kara lihat lumba-lumba juga di kebun binatang”


“Wah seru sekali” ujar Papa.


“Kita ga di sambut?” Tanya Nicko dengan wajah heran membuat Mama dan Papa melirik kami bersamaan.


Aku menyenggol lengan Nicko sambil tersenyum.


“Kalian sudah terlalu banyak di sambut di rumah ini sejak kecil” ucap Mama dengan dingin nya.


Nicko menghela nafas.


“Baiklah” dia kembali menarik kedua koper yang di bawa nya masuk ke dalam rumah.


“Papa mau bicara dulu dengan Nicko sebentar ya” pinta Papa.


Aku langsung tersenyum dan menganggukan kepala ku. Walaupun sebenarnya aku penasaran, namun aku tidak bisa memaksa mereka menceritakan apa yang telah terjadi sebenarnya.


“Ayo kita masuk” ajak Mama sambil menuntun Kara.


Aku mengikuti mereka di belakang menuju ruang keluarga, duduk di sofa yang begitu empuk dan menyandarkan kepala ke belakang melepaskan rasa lelah karena perjalanan yang begitu panjang.


Kara tidak henti-henti nya berbicara kepada Mama, menceritakan semua yang di alami nya selama di Lombok. Kara begitu mengingat semua kejadian selama di Lombok. Aku hanya bisa diam dan menerka nerka tentang apa yang di bicarakan Papa dan Nicko. Aku terus melamun menatap langit-langit rumah besar ini dengan tatapan kosong.


“Faw” panggil Mama sambil menyentuh paha ku.


Aku tersentak, terkejut lalu menatap Mama.


“Eh iya Ma”


“Kamu capek ya? Kenapa kamu tidak istirahat dulu di kamar?”


“Iya Ma. Seperti nya aku harus mandi dan mengganti pakaian ku”


“Ya sudah sana. Biar Kara, Mama yang menemani”


Aku menganggukan kepala ku.

__ADS_1


“Kara mau nunggu disini sama Oma?” Tanya ku kepada Kara.


Sepertinya dia tidak terlihat lelah sedikitpun dengan perjalanan yang begitu panjang ini.


“Iya Ma. Kara mau disini aja”


“Ya sudah kalau begitu Mama ke atas dulu, Mama mau mandi. Kara tidak boleh nakal ya”


“Iya” jawab nya tanpa menoleh ku.


“Ya sudah Ma, aku naik ke atas dulu ya, nanti setelah selesai aku yang jaga Kara”


“Iyaaaa sudah sana” pinta Mama.


Aku tersenyum dulu kepada Mama untuk mengucapkan rasa terimakasih ku, lalu aku pergi meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga.


Aku masuk ke dalam kamar ku dan segera pergi mandi untuk menyegarkan tubuh ku. Setelah selesai aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Nicko sedang membuka baju nya dan menenteng handuk membelakangiku.


“Aaa!!!” Teriak ku sambil memegang handuk kimono ku.


Nicko terkejut dan dia ikut takut melihat ku.


“Kenapa?!” Tanya nya dengan bingung.


Seketika aku tersadar jika kita sudah bersuami istri. Lalu aku mulai menjadi kikuk dan terlihat bodoh. Karena aku belum terbiasa melihat Nicko di kamar ku ketika aku sedang bertelanjang seperti ini.


“Tidak, aku kira kamu orang lain” jawab ku berdalih dan berusaha untuk tenang.


Nicko terus menatap ku dengan bingung. Aku semakin terlihat salah tingkah, dan aku memalingkan wajah ku darinya. Aku berjalan dengan cepat ke lemari pakaian ku dan membuka lemari ku dengan tergesa gesa. Aku yakin Nicko masih memperhatikan aku di belakang sana, dan aku terus berusaha menyembunyikan wajah kikuk ku darinya.


Aku memberanikan diri membalikan badan ku kepada nya sambil membawa baju untuk ku pakai.


“Kamu kenapa masih berdiri disana? Kamu mau mandi kan?” Tanya ku dengan ketus.


“Ya cepat kalau begitu”


Nicko melemparkan handuk nya ke tempat tidur. Lalu dia menghampiri ku dengan dingin. Aku terdiam di tempat ku dan terpatung melihat dia berjalan mendekatiku.


Dia menyandarkan satu tangan nya di lemari dan mendekatkan wajah nya kepadaku. Nicko menatap ku dengan begitu tajam. Dan aku hanya bisa diam dengan rasa gugup ku,walaupun kami sudah bersuami istri, tapi aku masih saja merasa gugup jika dia melakukan hal seperti ini.


“Kamu kenapa? Kamu gugup?” Tanya Nicko membaca gerak gerik ku.


Aku mengerutkan kening ku.


“Gugup ?” Tanya ku sambil menertawakan nya.


“Untuk apa aku gugup?” Ketus ku sambil berusaha menghindarinya namun Nicko menarik kembali tangan ku.


Dia terus mendekatkan wajah nya kepada ku dan membuat ku menutup mata ku dengan tegang.


“I Love You” bisik nya di telinga ku membuat ku membuka mata ku dan menatap nya begitu dekat.


Aku tersenyum kepadanya dengan malu dan langsung mencium pipi nya dengan lembut.


“I Love You too”

__ADS_1


Lalu Nicko berjalan menuju kamar mandi nya.


Bisa-bisanya aku masih saja tegang melihat dia bertelanjang dada seperti itu. Padahal status kita sudah suami istri,dan sebelum nya aku sudah pernah melihat dia telanjang bulat. Tetapi sekarang aneh rasanya kita bisa bebas seperti ini di dalam rumah,yang banyak penghuni rumah juga Kara.


__ADS_2