
Hari ini adalah hari libur ku dengan Nicko. Aku bangun di pagi hari sekali dan menatap diri ku di depan cermin. Ini adalah hari terakhir Kara check up ke rumah sakit. Aku dan Nicko akan pergi bersama untuk melihat hasil pengobatan nya selama di rawat di rumah.
Aku mendengar suara langkah masuk ke dalam kamar ku. Aku mengikat rambut ku sambil terus menatap pintu.
Nicko. Dia membuka pintu kamar dan langsung menghampiri Kara di tempat tidur.
“Apa dia masih tertidur lelap?” Tanya nya sambil duduk di samping Kara dan mengusap rambutnya dengan lembut.
“Ya. Kamu bisa bangunkan dia, agar dia cepat mandi”
Nicko melepas sandal nya dan ikut berbaring di samping Kara. Aku menatap Nicko yang malah ikut tertidur di samping Kara sambil memeluk nya.
Aku berkecak pinggang melihat kelakuan nya, lalu menggelengkan kepala ku dengan menghela nafas begitu dalam. Memang Papa dan anak itu memiliki sifat yang sama, sulit untuk bangun pagi.
Aku mandi lebih dulu agar bisa menyiapkan baju dan sarapan untuk mereka. Lalu aku membangunkan Kara dan Nicko setelah siap semuanya.
“Bangun sayang” ucap ku mengusap lembut wajah Kara.
Aku juga menggoyang goyang kan tubuh Nicko yang berada di samping Kara.
“Nicko”
Nicko merejapkan mata nya sedikit demi sedikit.
“Ayo bangun Nicko!” Ucap ku dengan terus menggoyangkan tubuh nya.
“Bisa tidak membangunkan ku dengan lebih lembut” ujar Nicko dengan mengerutkan kening nya.
“Bisa tidak biasakan bangun di pagi hari?” Balas ku berbalik meledek nya.
“Apa nanti setelah menikah kamu akan masih seperti ini?” Tanya nya mulai perdebatan.
“Kenapa memang nya? Kamu keberatan?” Ucap ku sambil bangun dari tempat tidur dan menggendong Kara yang sudah mulai terbangun dan ku bawa ke kamar mandi.
Nicko tak terdengar lagi menjawab, dia mengalah, dia tidak ingin memulai perdebatan kami. Mungkin memang benar, aku harus mulai bersikap sedikit manis kepada nya, karena sebentar lagi aku akan menjadi istri nya, dan bukan kah suami istri harus lebih terlihat mesra dan romantis??
Aku menggelengkan kepala ku membayangkan bagaimana jadinya jika aku tiba-tiba berbuat manis kepada Nicko nanti, pasti akan terasa lucu untuk ku dan untuk Nicko. Karena selama 25 tahun ini aku dan Nicko telah hidup bersama, dan kami selalu saja bertengkar juga bercanda, akan sangat lucu ketika tiba-tiba saja aku berubah manis kepada nya.
Setelah bersiap diri di kamar, aku dan Kara segera menyusul Nicko dan semua di meja makan untuk sarapan. Mama dan Papa sudah berada di meja makan, sementara aku tidak melihat Nicko disana.
“Dimana Nicko? Dia belum turun?” Tanya ku kepada Mama.
“Belum,Mama belum melihat nya”
Mama menatap ku dengan heran.
__ADS_1
“Apa kalian semalam tidak tidur bersama ?” Tanya Mama membuat ku berbalik heran menatap nya.
“Tentu saja tidak” jawab ku dengan malu juga kikuk.
“Karena kemarin Mama lihat kalian tidur bersama di kamar mu” ujar Mama membuatku tambah malu.
“Itu kan karena Kara yang meminta, dia sedang manja ingin tidur dengan Nicko” jawab ku dengan salah tingkah.
Aku membantu Kara duduk di kursi nya dan aku ikut duduk di samping Kara dengan berusaha tenang.
Nicko akhirnya turun dari kamar nya dan dia duduk di samping Kara. Nicko menatap Kara sambil tersenyum, dia mengelus pipi Kara dan mencium kening nya.
“Papa kok lama sekali?” Tanya Kara kepada Nicko.
“Iya. Papa kesulitan mencari pakaian” jawab Nicko dengan manis.
Aku merasa tersindir karena aku tidak menyiapkan pakaian Nicko seperti sebelum nya. Aku hanya merasa jika itu belum waktu nya, aku tidak ingin memanjakan Nicko sebelum kami menikah, tapi kenapa sekarang aku menjadi merasa tidak enak mendengar nya.
“Papa dan Mama sudah mengurus semua nya. Kalian tinggal mengatur waktu kalian untuk mengosongkan pekerjaan”
Aku mengangkat halis ku menatap Papa, aku tidak mengerti apa yang di katakan Papa. Aku menatap satu persatu orang di meja makan, seperti nya hanya aku yang kebingungan dengan apa yang telah di katakan Papa.
“Pernikahan kita” ujar Nicko menjawab kebingungan ku.
Aku menganggukan kepala ku dengan kikuk.
“Baiklah” jawab Nicko.
Aku masih saja terdiam. Aku tidak tahu harus berbuat apa, seperti nya semua sudah di tangani oleh orang tua Nicko. Aku mungkin hanya tinggal melaksanakan pernikahan nya.
“Dan nanti Kara pun memakai gaun yang sama dengan Mama” ucap Mama kepada Kara.
“O ya?!” Tanya Kara kepada Oma nya.
“Iya. Nanti kita buat gaun nya yaa”
“Oke Oma”
Lalu Kara kembali makan dengan gembira nya. Aku masih terdiam dengan rasa malu, aku merasa tidak melakukan apapun untuk pernikahan ku sendiri. Aku sangat malu kepada mereka, tapi jika aku berkomentar mereka pasti tidak akan menerima.
Setelah selesai sarapan aku dan Nicko segera pergi ke rumah sakit memenuhi jadwal check up Kara yang terakhir kali nya.
Kara sudah langsung masuk ke ruang pemeriksaan, dia di cek oleh dokter yang sama setiap kalinya. Kara pun sudah tidak canggung lagi untuk menghadapi dokter itu. Dia akan dengan manis menuruti perintah dokter. Dan aku juga Nicko hanya tinggal duduk di kursi memperhatikan Kara di tempat pemeriksaan.
Pemeriksaan pun selesai, Kara sudah sembuh dari cedera nya. Hanya saja dengan penyakit yang di miliki nya Kara jadi harus ekstra terjaga. Dia harus rutin setiap 4 bulan sekali ke rumah sakit untuk mendapatkan transfusi darah. Ini bukanlah hal yang baru untuk Nicko, karena ketika dia kecil pun, dia sudah pernah melakukan pengobatan penyakit nya.
__ADS_1
Kami bertiga keluar dari ruang pemeriksaan. Aku dan Nicko menggandeng tangan nya di kedua sisi Kara.
“Sekarang kita mau kemana Ma?” Tanya Kara menengadahkan kepala menatap ku.
Aku membuat raut wajah seolah berfikir.
“Memang nya Kara mau kemana?” Tanya ku.
Sekarang dia yang mulai berfikir.
“Kara mau ke pantai Ma”
Aku mengerutkan kening ku.
“Kenapa ke pantai?” Tanya ku sambil terus saja berjalan beriringan dengan Nicko dan Kara di lorong rumah sakit.
“Kara kan belum pernah ke pantai Ma” ujar Kara dengan mulai drama sedih nya.
“Apa?!” Tanya Nicko dengan terkejut.
Dia menghentikan langkah nya. Aku dan Kara pun ikut berhenti dan menatap nya bersamaan.
“Kara belum pernah ke pantai?”
Kara menggelengkan kepala dengan sedih. Lalu Nicko menatap ku dengan tajam.
“Apa?” Tanya ku dengan berani balas menatap nya dengan membuka mata lebar-lebar.
“Kamu fikir aku ada waktu untuk mengajak Kara liburan?” Lanjut ku dengan ketus.
Nicko tak menjawab ocehan ku. Dia langsung berjongkok untuk mengimbangi Kara.
“Kita akan ke pantai. Tapi nanti setelah Mama dan Papa menikah, kita akan liburan ke pantai yang sangat indah” ujar Nicko dengan manis kepada Kara.
“Benarkah?” Tanya Kara dengan ceria.
“Iya. Papa dan Mama akan membawa Kara liburan yang sangaattt lama, agar Kara puas bermain di pantai”
“Janji?” Tanya Kara mengeluarkan telunjuk nya.
Lalu Nicko langsung melingkarkan telunjuk nya pada telunjuk mungil Kara.
“Janji”
Kara akhirnya tersenyum bahagia dengan janji yang telah di buat Papa nya. Nicko akan membawa Kara liburan ke pantai setelah menikah, itu artinya liburan itu bisa di katakan adalah acara honeymoon kami. Aku langsung menggelengkan kepala ku membuang semua fikiran itu,karena bagaimana pun acara honeymoon kami pasti harus membawa Kara.
__ADS_1
“Fawnia!” Panggil seorang pria yang berdiri di hadapan kami dengan memakai pakaian yang begitu rapih berjas hitam.
Ben.