
Malam hari nya.
Kami semua pergi ke meja makan untuk mendapatkan makan malam. Aku dan Nicko sudah berganti pakaian dengan piyama tidur kami.
“Faw” panggil Papa.
Aku menoleh kepada Papa tanpa menyauti panggilan nya. Aku terus memasukan makanan ke dalam mulut ku.
“Mulai besok lusa kamu sudah bisa mengunjungi kantor yang ada di Tangerang untuk lihat-lihat” ucap Papa membuat ku terkejut menatap nya tak percaya.
“Benarkah?”
Nicko menatap Papa dan aku secara bergantian.
“Ya Papa sudah urus semua nya, sebelum menggantikan Papa lebih baik kamu lihat-lihat dulu kesana,perkenalan dulu dengan gedung nya, dan kenalan sama orang-orang disana”
Aku mengangguk dengan semangat, lalu aku menatap Nicko yang ada di hadapan ku. Dia sudah tidak terlihat khawatir ataupun keberatan dengan keputusan yang ingin aku ambil,malah dia terlihat lebih tenang dan senang melihat aku yang begitu bahagia.
Ketika di kamar dan kami bertiga hendak tidur,Nicko mematikan dulu lampu kamar dan berbaring di posisi nya di sisi lain Kara
Aku menatap Nicko dengan begitu dalam,dan memegang tangan nya dengan lembut.
“Terima kasih ya karena sudah mengizinkan aku untuk menggantikan Papa sementara”
Nicko tersenyum.
“Aku cuma mau kamu senang. Walau sebenarnya aku ragu kamu bisa menghandle perusahaan itu sendiri, tapi aku harus percaya dan aku harus yakin jika kamu pasti bisa”
Aku menganggukan kepala ku.
“Dan aku masih punya permintaan lain” ucap ku sambil tersenyum kikuk kepada Nicko.
“Apa?” Tanya nya.
“Boleh aku meminta Riri untuk menemani aku ?”
“Riri?” Tanya nya dengan bingung.
“Iya Riri bagian Admininstrasi kamu”
“Kenapa Riri?” Tanya Nicko masih saja bingung.
“Karena dia teman kantor yang bisa aku percaya”
“Teman?”
“Iya”
“Aku kira hanya Bima teman kamu satu-satu nya di kantor” ledek Nicko.
Aku mengangkat kedua halis ku.
__ADS_1
“Baiklah, aku minta Bima saja yang menemani ku selama di Tangerang”
Nicko memicingkan mata nya dengan kesal.
“Mama sama Papa ngobrolin apa?” Tanya Kara yang sudah terlihat bingung menatap kami secara bergantian.
Aku baru tersadar jika Kara yang berbaring di antara kami belum tertidur.
“Kita sedang ngobrol masalah kerjaan sayang” jawab ku.
“Kenapa ngobrol nya disini, ga di kantor ?” Tanya Kara seolah keberatan kami masih membicarakan pekerjaan ketika bersama nya.
“Oh iya, maaf Mama lupa” ucap ku sambil memeluk Kara dengan erat.
“Papa kasian Ma” ucap Kara melihat Papa nya yang berada di belakang dia hanya menatap kemesraan kami berdua.
“Papa tidak mau di peluk” ucap ku tak mengacuhkan Nicko.
“Siapa bilang?”
Lalu Nicko merekatkan tubuh nya kepada Kara dan memeluk kami berdua dengan erat. Aku dan Nicko memberikan kecupan selamat malam kepada Kara,lalu mencium bibir ku.
“Good Night”
“Good Night Pah” sahut ku dengan Kara lalu kami tertidur
Ke esokan hari nya, aku dan Nicko kembali ke tempat kerja dan aku segera masuk ke dalam ruangan Riri.
“Udah pasti, yang ga sopan disini cuma elu aja, masuk main nyelonong aja” omel Riri tanpa aku indahkan dan aku terus melangkah mendekati Riri lalu duduk di hadapan nya.
“Lo tau ga? Pak Ferdy aja ge pernah berani nyelonong masuk ke ruangan gue” ucap nya masih saja mengoceh.
“Ngapain Nicko datang ke ruangan elo? Bukan nya kerjaan lo gue yang urus?” Tanya ku dengan bingung.
“Ya justru itu, dia ga pernah masuk ke ruangan gue” ujar Riri sambil tertawa, merasa lucu dengan bercandaan nya.
Aku berdecak kesal dengan ke konyolan nya.
“Gue punya perintah baru dari Pak Rio” ucap ku dengan membuat penasran dia.
“Apa?” Tanya Riri dengan penasaran.
“Gue di minta buat pegang dulu kantor nya yang ada di tangerang”
Riri membulatkan mata nya.
“Oh iya?” Tanya nya tak percaya.
“Iya”
“Kok bisa? Bukan nya biasa nya Zayden ya yang suka di minta handle-handle gitu”
__ADS_1
“Gue ga tau lah, mungkin karena perusahaan ini lagi ada trouble jadi Pak Rio sama Nicko ngebiarin gue buat pergi kesana,dan ngeluarin gue dari sini untuk sementara waktu”
“Di usir untuk sementara waktu maksud lo?” Ujar Riri dengan memperjelas ucapan ku.
“Iya begitulah”
“Ya bagus dong, jadi kesempatan lo buat ketemu sama cewe sialan itu kesampean dong”
Aku mengangguk dengan begitu bahagia.
“Mudah-mudah an lo bisa sukses ngutas khasus elo, seneng banget gue bisa bantu elo”
“Yee, tugas lo juga belom kelar kali buat bantuin gue”
Riri mengerutkan kening nya.
“Lo akan nemenin gue selama gue kerja di Tangerang, dan lo juga akan bantuin gue buat jalanin satu misi disana”
Riri melihat ku dengan merenyitkan dahi.
“Kerjaan gue double dong!”
“Tenang aja, bayaran lo bakalan gue tambah”
“Dih, ogah ya gue di bayar-bayar kayak gitu, apaan. Kesan nya gue bantu lo ga tulus gituh”
“Kalau promosi jabatan?” Tanya ku menyelidik.
Mata Riri kembali membulat.
“Nah kalau itu, baru seimbang sama kerjaan gue. Ya kali kerja pindah jauh, udah gitu tiba-tiba jadi asisten terus bantu misi rahasia lagi,masa ga ada timbal balik yang seimbang” oceh Riri membuat ku menggelengkan kepala dan memutarkan bola mata ku.
“Okeh kalau gitu kapan bisa kita mulai pekerjaan menyenangkan itu?” Tanya Riri dengan mencondongkan badan nya ke depan dan menyatukan kedua tangan nya di atas meja menatap ku dengan serius.
Lalu aku pun ikut mencondongkan tubuh ku ke depan dan mengenggam tangan ku sendiri di atas meja seperti Riri.
“Kita akan mulai besok?”
“Besok?!” Teriak Riri.
“Iya,gue di minta untuk kunjungi dulu kantor itu. Dan besok mobil kantor akan jemput lo kerumah”
“Terus ?”
“Pokok nya besok, kita bakalan bekerja seperti biasa, menerima hand over an dari orang kepercayaan Papa dan menyembunyikan status baru kita kepada seluruh client, termasuk dengan cewe sialan itu”
Riri tersenyum mendengar ku menyebut nama Sheilla dengan ‘cewe sialan’ mengikuti diri nya.
“Terus?”
Aku lalu menceritakan semua rencana ku kepada Riri dan menjelaskan secara rinci dengan apa yang akan aku lakukan selama di Tangerang, dan aku meminta Riri untuk mengikuti setiap arahan ku, dan dia harus bersikap se profesional mungkin dan berpura-pura menjadi asisten ku yang baik selama disana,tidak boleh terlihat jika dia hanya asisten tembakan atau ketahuan hanya sebagai bagian admininstrasi di perusahaan ini.
__ADS_1
Riri menerima rencana ku,dan dia bisa langsung mengerti dengan rencana ku.