
Dua hari setelah nya.
Seperti biasa aku sudah terbangun lebih dulu di bandingkan Nicko dan Kara. Karena kantor ku menempuh jarak yang jauh dan hari ini aku ada meeting pagi.
Nicko terbangun karena suara gaduh ku yang tergesa-gesa untuk pergi. Nicko meregangkan tubuh nya lalu duduk di atas tempat tidur dan bersandar dengan selimut masih menyelimuti kaki nya.
“Kamu tidak lelah?” Tanya Nicko menatap ku dengan khawatir.
Aku melirik Nicko sebentar, dan kembali berdandan di depan cermin.
“Kenapa?” Tanya ku dengan kembali menatap cermin.
“Kamu pergi lebih pagi dan pulang selalu malam”
“Nick. Ini hanya tinggal beberapa hari lagi”
“Bukan itu yang aku tanyakan. Apa kamu tidak merasa lelah,atau kamu menikmati status mu sebagai direktur disana?”
Aku terpatung untuk sejenak dan mentapa Nicko dengan lemas.
“Apa yang kamu khawatirkan?”
Nicko melirik Kara, seolah Kara adalah jawaban atas pertanyaan ku.
“Kamu jadi tidak ada waktu untuk bersama dengan Kara. Kamu terlalu sibuk dan mengabaikan nya”
“Aku tidak mengabaikan nya Nick, aku hanya kelelahan”
“Iya itu maksud ku”
“Nick dengar, jika kamu khawatir aku akan menikmati pekerjaan ku disana,itu tidak akan terjadi. Setelah aku selesai dengan tugas ku di kantor itu, aku akan kembali bekerja denganmu dan kembali menjaga Kara”
“Aku tidak meminta mu untuk bekerja Fawnia, aku ingin kamu sepenuh nya menemani Kara” pinta Nicko kembali membuat ku terdiam.
“Aku ingin kamu dirumah, dan menjaga Kara sepenuh nya” lanjut Nicko.
“Aku tidak bisa”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin bekerja menemanimu”
Kini Nicko yang diam mendengarkan jawaban ku.
Setelah selesai berdandan, aku berdiri membawa tas ku dan mendekati Nicko untuk mencium bibir nya.
“Aku tidak ingin perdebatan kita berlanjut lebih lama,aku minta kamu tidak perlu khawatir tentang itu” ucap ku yang masih membuat Nicko diam.
Lalu aku mencium kening Kara untuk perpisahan.
“Bye sayang” bisik ku kepada Kara yang masih tertidur.
“Aku pergi dulu”
“Oke”
Lalu aku pergi dari kamar dan menuju lantai bawah. Mama sudah ada di meja makan menyiapkan sarapan.
“Pagi Ma”
“Pagi sayang, ayo sarapan dulu” ucap Mama sambil menyimpan minuman di meja makan.
__ADS_1
“Euh aku buru-buru Ma, aku sarapan di jalan saja”
“Oh oke”
Aku mencium pipi Mama dan segera berjalan cepat keluar rumah.
Supir ku dan Riri sudah ada di dalam mobil menunggu ku di depan rumah. Setelah aku masuk ke dalam mobil, sang supir langsung mengemudikan mobil ke kantor.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di kantor dan kita berdua langsung menuju ruangan kita untuk mempersiapkan bahan untuk pertemuan dengan perusahaan Naken Furniture,yang di pegang oleh orang yang telah aku cari selama ini.
Aku telah menunggu di ruang meeting dengan Riri, menunggu dengan sabar dan tenang berhadapan dengan wanita itu. Aku tidak boleh gegabah, aku harus tetap bersikap profesional sebisa mungkin di hadapan wanita itu. Lalu tidak lama kemudian, pintu ruangan meeting terbuka dan seorang wanita masuk ke dalam ruang meeting dengan membawa 2 orang karyawan nya yang entah itu asisten atau sekretarisnya, yang berdiri di belakang Sheilla.
“Selamat Pagi” sapa Sheilla lalu dia memperhatikan Riri.
“Pagi” sapa Riri yang berdiri di samping ku, sedangkan aku terus duduk di ujung meja menatap Sheilla dengan tajam.
Sheilla seperti sedang melihat Riri dan berusaha mengingat sesuatu. Walaupun mereka tidak saling kenal tapi mereka berdua satu sekolah dan sempat bertemu di acara reuni beberapa waktu lalu.
Sheilla lalu menatap ku dan memperhatikan dengan jelas wajahku. Dia seperti nya sempat tidak mengenali ku, namun raut wajah nya berubah terkejut menyadari jika yang sedang duduk di kursi adalah aku.
“Pagi” sapa ku dengan tatapan yang begitu dingin kepadanya.
Sheilla masih terlihat terkejut dan menatap ku seolah aku ini adalah hantu.
“Mari duduk Mbak Sheilla” pinta Riri kepada Sheilla dan dua karyawan nya.
Namun Sheilla masih saja terpatung menatap ku dengan mata nya melotot.
“Bu!” Panggil karyawan perempuan yang ada di belakang Sheilla.
Sheilla tersadar dan menatap karyawan nya.
“Kita duduk” ajak karyawan nya.
“Fawnia” ucap ku memperkenalkan diri.
Dan kepada Sheilla pun aku menjabat tangan nya dan memperkenalkan diriku sambil menatap wajah nya dengan tajam.
“Fawnia”
“She..Sheilla” jawab Sheilla dengan terbta bata.
Lalu mereka bertiga duduk berdampingan di samping ku.
“Bagaimana perjalanan nya?” Tanya ku dengan tersenyum kepada Sheilla.
“Hah?!” Tanya Sheilla dengan kikuk dan masih saja shock.
“Oh iya perjalanan nya lancar” jawab nya akhirnya.
Lalu Sheilla segera membuka berkas untuk menghilangkan rasa gugup nya, dan kedua karyawan nya membuka laptop juga catatan.
“Maaf saya meminta janji bertemu hari ini, karena ada sesuatu yang perlu saya sampaikan” ucap ku.
“Oh iya tidak apa-apa” jawab Sheilla.
“Papa mertua saya sedang sibuk, dan meminta saya untuk meng-handle kantor ini untuk sementara waktu”
Sheilla tampak mengerutkan kening nya.
“Papa mertua?” Tanya nya dengan hati-hati.
__ADS_1
“Iya Papa mertua saya” jawab ku dengan jelas.
Sheilla hanya terlihat mengangguk dengan perlahan dengan wajah kebingungan.
Riri lalu memberikan sebuah berkas kepadaku.
“Saya memiliki sebuah history record tentang perusahaan kalian” ucap ku dengan mengambil sebuah catatan dari tangan Riri.
“Perusahaan kalian beberapa kali terdapat kendala dengan proyek yang sedang berjalan, dan ini tidak terjadi sekali saja. Kendala ini sudah berkali-kali berjalan dan kalian tidak memiliki progresif tentang ini”
Sheilla dan kedua teman nya tampak terkejut dan menatap ku.
“Maaf Bu Fawnia, kendala yang kami hadapi ini sudah biasa dan biasanya Pak Rio tidak pernah mempermasalahkan ini dengan besar”
“Karena itu. Papa saya terlalu sibuk untuk membenahi kantor ini,sampai dia tidak sadar beberapa proyek nya memiliki kendala. Dan tugas saya disini adalah untuk membereskan masalah-masalah kecil yang berpotensi akan merugikan perusahaan kami!” Jawab ku dengan tegas.
Sheilla tampak terdiam tak menjawab. Lalu dia berbicara kepada karyawan di samping nya untuk meminta suatu data, lalu setelah data yang di minta keluar Sheilla memperlihatkan laptop nya kepadaku.
“Ini hasil riset kami, kami memang memiliki beberapa kendala karena…”
“Kerja sama kita, di batalkan!” Jawab ku dengan memotong penjelasan Sheilla.
Sheilla menatap ku dengan terkejut tak percaya, dia mengepalkan tangan nya dan menahan dirinya untuk tidak melawan ku. Aku bisa melihat rasa kesal dari raut wajah nya, namun dia tidak bisa melakukan apapun. Dia telah mengetahui kenapa aku bisa bersikap setega itu kepadanya, tentu dia tahu apa sebab nya.
Kedua karyawan nya menatap ku secara terkejut.
“Maaf Bu Fawnia tapi berikan kami penjelasan dulu, kami memiliki alasan kuat kenapa kami selalu mengalami kendala dalam proyek ini” ucap karyawan Sheilla yang membantu Sheilla menjelaskan.
Aku menatap karyawan Sheilla dengan tatapan yang begitu sinis.
“Kesepakatan ini sudah di setujui oleh Pak Rio pemilik sah perusahaan ini. Dan dia malah baru melihat data-data proyek yang begitu banyak masalah dengan perusahaan kalian”
“Pak Rio, tidak pernah membicarakan tentang masalah ini, karena dia merasa jika masalah yang tengah di hadapi dengan perusahaan kalian tidak akan berdampak buruk. Tapi apa hasilnya ini” ucap ku sambil melempar beberapa berkas kepada mereka, yang memperlihatkan begitu lama permintaan barang kami di respond, dan banyak sekali keluhan dari pihak estate dengan ketidak puasan terhadap barang mereka.
Mereka bertiga terdiam. Lalu aku menatap Sheilla.
“Bu tolong lah, kami akan memperbaiki semua nya” ucap karyawan Sheilla dengan panik.
“Kenapa baru sekarang setelah kami memberikan keluhan?”
“Bu, tapi kami berjanji akan memperbaikinya” ucap karyawan dia yang satu nya lagi.
Aku menatap Sheilla yang masih saja terlihat panik dan enggan menatap ku.
“Hanya satu cara untuk memperbaiki semuanya, dan itu saaaangat mudah”
“Apapun Bu, katakan lah, kami akan berusaha memenuhi nya” ujar karyawan Sheilla dengan bersungguh-sungguh.
“Saya ingin Bos kalian ini buka suara” ucap ku dengan tajam.
Kedua karyawan itu melempar pandang dengan bingung, dan Riri menatap mereka dengan dingin.
Lalu Riri berdiri.
“Maaf, apa Mbak berdua ini bisa keluar lebih dulu, biarkan Bu Fawnia dan Bu Sheilla berbicara empat mata untuk masalah ini” ucap Riri.
“Tapi kami juga harus tahu”
Aku melirik karyawan Sheilla.
“Percayalah, ini akan cepat selesai. Dan aku hanya perlu bicara kepada bos kalian secara pribadi” ucap ku terus menatap Sheilla.
__ADS_1
Lalu mereka bertiga keluar. Tersisa aku dan Sheilla di ruangan meeting ini.