
Keesokan hari nya.
Kami bekerja seperti biasa. Nicko dan aku sudah berada di ruangan kami masing-masing untuk mengawali kesibukan kami di tempat kerja,dan Keysa juga sudah kembali ke kantor nya. Kami sangat berterimakasih atas bantuan Keysa kemarin,karena dia sudah banyak sekali membantu kami mengumpulkan beberapa bukti yang besar untuk di ungkap.
Dan hari ini,aku dan Nicko memiliki beberapa misi untuk mendapatkan bukti lain nya. Bukti pertama yang kami butuhkan itu ada pada Bima. Hari ini dia sudah kembali bekerja,kembali dari cuti nya. Aku harus bisa mencari tahu dengan siapa Bima berkomunikasi di Kalimantan,apa yang dia dan kakak nya lakukan disana,dan apa tujuan Bima kembali membawa perusahaan orang tua nya yaitu PT.MFP ke perusahaan kami lagi. Entahlah, aku hanya yakin ada yang Bima sembunyikan, entah itu baik ataupun buruk, yang pasti aku sangat yakin jika semua itu akan berkaitan dengan perusahaan kami nantinya,dan aku harus segera mengetahui rahasia itu sebelum sesuatu terjadi pada perusahaan kami.
Untuk misi yang ini tentu aku akan membutuhkan orang lain untuk membantu ku. Karena aku tidak ingin Bima curiga dengan gerak gerik ku. Aku harus bersikap seperti biasa,seolah tidak tahu apa-apa tentang nya ataupun tentang fhoto yang aku temukan di laci kerja nya,walaupun setiap detik aku selalu memikirkan nya. Untuk apa dia menyimpan fhoto itu? Dan siapa laki-laki yang bersama Papa ku di dalam fhotonya? Aku harus segera mencari tahu. Aku akan meminta tolong orang lain untuk itu.
Riri. Dengan senantiasa dia mau membantu ku,tentunya dengan suatu imbalan. Imbalan nya tidak besar,dia hanya ingin mendapatkan jatah libur di waktu yang dia inginkan. Imbalan yang terlalu mudah untuk Nicko,namun begitu bermakna untuk Riri,karena dia akan pergi ke luar negri untuk menonton idola kesayangan nya,entah apa nama group boyband nya itu yang pasti dia begitu fanatik untuk bisa menonton nya di Korea.
Misi pertama.
Riri harus bisa meminjam Handphone Bima dan mengecek chattingan nya dengan siapapun yang membahas tentang David kakak nya atupun perusahaan MFP itu. Terserah bagaimana caranya,aku percayakan kepada Riri untuk hal itu.
Riri mengikuti Bima ke toilet pagi itu. Dan ketika Bima masuk ke dalam toilet laki-laki Riri menunggu Bima di pintu toilet perempuan yang berada di samping nya. Riri menunggu Bima keluar disana dengan bersembunyi. Dan ketika Bima keluar dari toilet Riri tiba-tiba mengecek handphone nya sendiri dan marah-marah tidak jelas.
“Duuhh tega banget sih ni cowo, bisa-bisa nya dia nipu gue dan keluarga gue,padahal keluarga gue udah percaya banget sama dia,telepon gue ga di angkat mulu lagi!” Ucap Riri dengan bicara keras dan pura-pura menangis ketika Bima keluar dari toilet.
Bima melirik Riri sebentar dengan muka datar nya lalu dengan rasa tidak peduli nya dia hendak melangkahkan kaki. Riri melihat ke arah Bima dan langsung memanggilnya.
“Eh eh eh Bim” panggil Riri dengan suara di buat sendu.
“Ya” sahut Bima menghentikan langkahnya dan membalikan badan melihat Riri.
Riri memasang wajah sedih nya mengampiri Bima.
“Pinjem hp lo dong,gue mau telepon cowo gue Bim. Dia janji mau lamaran ke rumah gue sore ini pulang kerja tapi dia malah ngilang ga ada kabar,padahal keluarga gue udah banyak persiapan di rumah,dia ga bales chattingan gue,dia ga angkat telepon gue,bahkan gue telepon orang tua nya pun ga mereka angkat Bim, gue kasian sama keluarga gue yang udah siapin acara lamaran hari ini,tapi cowo gue malah...”
“Iya iya iya ini,gue pinjemin hp gue,udah jangan banyak cerita cepetan gue banyak kerjaan yang ketinggalan” ujar Bima terlihat begitu risih dengan cerita Riri yang sama sekali tidak ingin di dengar nya.
__ADS_1
Riri begitu jago ber acting,dia begitu mendalami peran nya sebagai wanita yang lemah dan tersakiti.
Dengan percaya nya Bima menyodorkan handphone kepada Riri. Riri menerima nya dengan wajah yang masih di buat sedih.
“Thank you Bim” jawab Riri sambil mulai membuka kunci handphone Bima.
Namun Riri kembali memberikan handphone itu kepada Bima dengan raut wajah masih saja sedih.
“Kode Hp nya Bim”
“Oiya”
Bima langsung membuka kunci handphone nya.
Riri berpura-pura mengetik no handphone pacarnya di handphone Bima. Lalu dia menempelkan handphone itu ke telinga nya.
Bima pun ikut senang melihat pacarnya Riri mau mengangkat telepon dengan no yang berbeda. Dia tidak tahu bahwa no telepon yang Riri tekan itu nomor random,dan no itu sama sekali tidak aktif.
“Kamu kemana aja beib?” Tanya Riri sambil menangis.
Bima pura-pura tak melihat Riri,di melempar pandang kesembarang tempat. Namun Riri berpura-pura jika dia risih di dengarkan oleh Bima.
“Bim pinjem bentar ya” ujar Riri,sambil membawa handphone Bima ke dalam toilet wanita walaupun Bima belum terdengar menjawab ucapan Riri.
Riri masuk ke toilet wanita dan mengunci nya,dia berjalan cepat ke depan washtafel dengan mulut yang terus mengoceh seolah dia sedang bertengkar dengan pacarnya agar bisa di dengar Bima di luar. Sementara tangan Riri dengan cepat membuka isi pesan Bima dan chattingan nya di aplikasi lain untuk mencari keyword “David” ataupun “PT.MFP” dan Riri mengambil fhoto no telepon yang terlihat mencurigakan sambil sesekali dia melirik ke arah pintu memastikan Bima tidak mendobrak pintu yang sudah di kunci itu.
Riri menemukan beberapa chatting yang berisikan nama David di dalam nya,namun dia tidak menemukan percakapan yang membicarakan hal tentang perusahaan MFP itu. Riri langsung kembali menghilangkan jejak di handphone Bima dan menghapus no telepon yang baru saja di hubungi nya untuk ber acting,berjaga-jaga saja takut Bima mengecek no telepon itu.
Lalu tidak lama Riri keluar dan mendapati Bima sudah berdiri di depan toilet nya. Dengan ekspresi terkejut sekaligus masih pura-pura sedih Riri mengembalikan handphone Bima dengan sendu.
__ADS_1
“Thank ya Bim”
“Udah selesai telepon pacarnya?”
“Udah” jawab Riri sambil mengangguk lemah.
“Terus gimana lamaran nya?” Tanya Bima dengan keingin tahuan nya.
Riri harus kembali mencari jawaban nya.
“Lamaran tetap di batalkan,karena ternyata selama ini dia sudah berbohong” jawab Riri.
Bima mengangkat satu halisnya mendengar jawaban Riri.
“Ternyata dia udah nikah Bim,dia udah punya anak. Dia bohongin gue,dia bilang dia belum menikah,dia janji mau nikahin gue,dia janji mau bawa gue tinggal di Bali,tapi ternyata dia udah married,dan punya 5 orang anak. Lo bayangin jadi gue ga Bim?” Ucap Riri dengan begitu dramatis dan menepuk nepuk bahu Bima seolah dia menumpahkan kekesalan nya kepada Bima.
“Iya iya” ucap Bima mencoba sabar.
“Lo rasain gimana rasanya jadi gue Bim,sakit nya tuh ga bisa di ungkapin kata-kata Bim”
“Iya Ri,iya gue ngerti”
“Ngga Bim,lo ga ngerti, lo tuh cowo sama aja. Lo cuma bisa pura-pura ikut sedih dengan keadaan gue,padahal lo sama sekali ga peduli kan Bim” ucap Riri tiba-tiba berubah marah kepada Bima,dan tentu saja membuat Bima tambah bingung dengan perubahaan sikap Riri.
Lalu Riri pergi dari hadapan Bima dengan kesal.
Bima hanya bisa diam mendengar Riri. Dengan eskpresi yang bingung dan sangat tidak peduli. Bima menggelengkan kepala nya lalu dia pergi dari sana dan berjalan menuju ruang kerja nya.
Misi pertama telah selesai.
__ADS_1