Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Tidak akan pernah sebanding


__ADS_3

Ketika sampai di lantai dimana ruangan kami berada. Aku dan Nicko terdiam melihat Ben yang masih saja menunggu di ruang tunggu. Kedua rekan kerja Ben terlihat duduk dengan santai di sana, sementara Ben terus berdiri menghadap jendela melamun dengan menatap pemandangan di luar jendela sana.


Nicko berjalan menuju ruang tunggu dengan cepat, dan aku mengikuti nya. Ben mendengar suara langkah kaki ku dan Nicko masuk ke ruang tunggu.


“Oh Hallo Pak Ferdy” ujar Ben, lalu ke dua rekan kerja Ben pun ikut berdiri menyambut Nicko.


“Mohon maaf saya telah membuat anda menunggu. Seperti nya ada hal penting yang perlu anda sampaikan kepada saya sampai anda menunggu saya seperti ini” ujar NIcko dengan wajah yang datar menatap Ben. Sementara aku terus memalingkan wajah ku enggan untuk menatap nya.


Aku tahu Ben tengah mencuri pandang kepada ku, aku bisa merasakan nya, namun aku masih tidak ingin melihat dia.


“Iya Pak. Untuk kerja sama ini saya di minta untuk Papa saya menemui Bapak. Karena katanya kerja sama kita sempat terputus beberapa waktu lalu dan kita harus mulai dari awal”


Aku merasa tersindir dengan apa yang di ucapkan Ben. Ya kerja sama kami sempat terputus karena dia, karena masalah kematian dia yang ternyata tidak pernah terjadi.


“Kalau begitu mari ikut saya ke ruangan saya, kita bicara di dalam” ujar Nicko mengajak Ben dan rekan nya untuk ikut ke ruangan nya.


Ben menganggukan kepala, dan mengikuti kami dari belakang. Aku tahu, Ben masih terus memperhatikan ku, seperti nya dia sedang memperhatikan perubahaan ku dan ingin sekali bertegur sapa dengan ku.


Ketika kami semua telah berada di ruangan Nicko dan duduk di sofa tamu, aku duduk di samping Nicko dengan menyiapkan sebuah tablet di tangan ku untuk mencatat setiap embahasan yang di perbincangkan.


Rekan kerja Ben mulai mengeluarkan sebuah berkas dan di berikan kepada Nicko, Nicko langsung mengambil alih berkas itu dan Ben menjelaskan semua detail nya dengan begitu teliti, sedangkan aku terus saja untuk fokus mencatat semua nya di tablet. Nicko dan Ben terus beradu pendapat dan berdiskusi dengan kerja sama mereka, dan sesekali Ben melirik ku. Nicko pun memperhatikan mata Ben yang terus melirik ku, namun aku tak mempedulikan itu.


Setelah selesai Nicko mengakhiri perbincangan mereka.


“Baiklah kalau begitu saya terima semua tawaran anda”


“Terima kasih Pak Ferdy atau agar lebih akrab saya panggil dengan Pak Nicko” ujar Ben terdengar meledek.


Dia menyindir ku yang selalu bercerita tentang Nicko. Namun tampak nya Nicko sama sekali tidak terusik dengan permintaan Ben.


“Biasanya yang memanggil saya dengan nama Nicko hanya orang terdekat saya saja, tapi jika Pak Ben mau, Pak Ben boleh memanggil saya dengan apa saja” jawab Nicko begitu bijak sana.


Ben tersenyum dengan ramah.


“Baik terima kasih, semoga kerja sama kita akan berlangsung baik ya. Dan semoga semua rencana kita akan lancar dan rilis bulan depan”


“Oh iya. Saya hampir lupa, mungkin untuk grand opening nanti kita bisa undur sampai pernikahan kami selesai?” Ujar Nicko teringat dengan pernikahan kita yang sudah di janjikan di awal bulan depan.

__ADS_1


Raut wajah Ben berubah terkejut, dia menatap Nicko dengan bingung.


“Pernikahan? Kami ?” Tanya Ben dengan kikuk.


“Iya” jawab Nicko dengan tersenyum.


Nicko melihat ke arah ku dengan tersenyum bahagia. Dia meraih tanganku dan menggenggam tanganku dengan lembut.


“Saya dan Fawnia akan melangsungkan pernikahan di bulan depan” ujar Nicko membuat Ben semakin terkejut.


Ben diam untuk sejenak, dia melihat ke arah ku dengan tak percaya, namun aku menatap dia dengan dingin.


“Pernikahan? Bagaimana bisa?” Tanya Ben semakin terlihat bingung.


Seseorang mengetuk pintu ruangan Nicko. Itu Bima,dia masuk setelah dia mengetuk pintu.


“Maaf mengganggu Pak. Tapi Pak Dimas sudah menunggu Bapak, janji bertemu di ruang meeting dengan Pak Dimas sudah lewat 20 menit yang lalu” ujar Bima.


Nicko melirik ke arah ku. Karena aku lupa untuk mengingatkan Nicko dengan pertemuan mereka. Nicko masih menggenggam tangan ku yang tersimpan di lahunan ku.


“Kamu disini dulu,tunggu aku” ucap Nicko.


Aku begitu paham dengan kata ‘tunggu aku’ itu maksudnya apa. Dia meminta ku untuk berbicara dengan Ben dan menyelesaikan semuanya.


“Maaf Pak Ben saya harus bertemu dengan tamu saya, nanti kita bisa atur lagi jadwal pertemuan kita”


Ben hanya bisa mengangguk dengan raut wajah yang masih kikuk lalu kembali menatap ku dengan bingung.


“Biar aku bicara dulu dengan Pak Ben” ujar ku dengan terus menatap Ben dengan sinis.


“Baiklah” jawab Nicko dengan pengertian.


“Maaf saya tinggal dulu Pak” pamit Nicko.


Ben menatap Nicko dengan masih saja kikuk.


“Oh iya Pak”

__ADS_1


Nicko berjalan keluar ruangan di ikuti dengan Bima.


“Bisa kalian berdua menunggu di luar?” Pinta Ben kepada kedua karyawan nya.


“Baik Pak” jawab mereka lalu mereka berdua keluar membiarkan aku dan Ben berdua di ruangan Nicko.


Ben dan aku masih saja terus beradu tatap dengan tajam. Aku ingin sekali menangis dan berteriak kepadanya, karena bisa-bisa nya dia muncul dengan semudah ini di hadapan ku tanpa ada penjelasan sebelum nya.


“Bagaimana kamu bisa menikah sementara aku ini masih menjadi suami mu” ucap Ben membuat ku merenyitkan dahi dengan menahan air mata.


Aku terkejut dengan pernyataannya yang merasa bahwa dirinya masih menjadi suami ku.


“Suami?” Tanya ku dengan sinis.


“Suami macam apa yang meninggalkan ku selama 4 tahun dan mengatakan kepada semua orang jika dia sudah mati” ucap ku dengan penuh amarah.


Aku tidak pernah ingin ada air mata di hadapan Ben,aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan nya.


“Aku sudah menjadi single parent selama 4 tahun lebih Ben. Status ku sudah sendiri di tinggal mati oleh mu”


“Tapi aku belum mati Fawnia, aku bisa menjelaskan semua nya”


“Menjelaskan apa? Apa yang mau kamu jelaskan?” Tanya ku sinis sedikit berteriak.


“Kamu tahu? Selama 4 tahun aku di hantui rasa bersalah karena sudah membuat mu tiada, aku terus di salahkan oleh kedua orang tua mu karena kematian mu. Kamu tahu selama ini aku menderita karena kehilangan mu?” Ucap ku dengan kesal dan mulai bernada tinggi kepadanya.


“Aku minta maaf Fawnia. Aku tidak bermaksud membuat mu seperti ini, aku pun terpaksa melakukan nya. Ini semua karena bisnis ku di kalimantan yang membuat ku harus menghilang jika tidak…”


“Apapun alasan mu, itu tidak akan pernah sebanding dengan penderitaan yang aku rasakan selama ini Ben!” ucap ku memotong pembicaraan nya.


“Aku sudah cukup hidup dengan kesengsaraan yang kamu berikan. Perusahaan kamu hancur karena orang yang kamu percaya memegang kendali perusahaan kamu ternyata dia berkhianat. Dan kamu tahu? Aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan dimanapun, bahkan sepertinya aku menjadi karyawan swasta di sebuah perusahaan pun mereka tidak mau mempekerjakan aku yang sudah tercemar nama baik nya”


“Hidup ku lebih sulit lagi ketika orang tua kamu mengambil semua nya dari aku. Aku harus hidup dari awal, mencari bagaimana cara mendapatkan uang,bagaimana cara nya aku bertahan hidup tanpa ada orang satupun yang bisa membantu ku, bagaimana aku bisa bertahan dengan Kara,selama 4 tahun aku kami hidup hanya memakai uang tabungan ku sendiri. Aku tersiksa selama ini Ben,aku sudah berada di titik terendah dalam hidup ku karena kehilangan semuanya termasuk kamu”


Aku begitu sedih mengingat keterpurukan ku selama dia menghilang.


“Dan aku baru sadar, ternyata hidup ku lebih terpuruk karena aku memutuskan untuk mau menikaha dengan kamu”

__ADS_1


__ADS_2