
Setelah sampai di kantor,aku dan Bima mengantarkan Nicko sampai ke ruangan nya dan aku menyerahkan dulu beberapa berkas kepadanya lalu aku kembali ke luar dan masuk ke meja kerja ku.
Bima juga ikut berhenti di ruangan ku dan dia menghampiri ku.
“Faw. Kamu lapar?” Tanya Bima.
Aku menatap nya dan menganggukan kepala ku sambil tersenyum.
“Aku juga lapar. Karena semua kerjaan kita sudah selesai dan Pak Ferdy juga sedang beristirahat, bagaimana kalau kita ke kantin dulu” ajak Bima.
Aku mengangguk begitu setuju dengan ajakan nya.
“Baiklah” jawab ku dan aku menyimpan dulu semua map ku di meja dan pergi bersama Bima.
Aku tidak tahu apa Nicko memperhatikan kepergian ku dengan Bima atau tidak,namun aku berusaha untuk tak melirik ruangan nya dan cepat pergi dari sana.
Sampai lah kita di kantin yang berada di lantai dasar kantor ini. Kantin ini berada di luar dan tampak seperti restaurant kecil yang menyuguhkan beberapa macam makanan berat sampai cemilan untuk seluruh karyawan yang bekerja.
Aku dan Bima duduk di salah satu meja bundar dan menunggu pesanan kami datang.
“Faw. Sebenarnya sudah lama sekali aku mau membicarkan ini dengan kamu” ujar Bima membuat ku tegang.
Aku begitu curiga dengan pembicaraan apa yang mau di sampaikan oleh Bima. Ini pasti tentang Nicko. Karena Bima adalah satu-satu nya orang yang selalu bersama dengan ku juga Nicko. Bahkan dia pun tahu bagaimana sikap baik yang Nicko berikan kepadaku begitu berbeda ,sampai-sampai membuat Bima selalu terlihat bingung.
Aku langsung minum jus lemon ku untuk membasahi kerongkongan ku yang mulai kering.
“Aku menyukai kamu saat pertama kali kita bertemu”
Aku tersedak dengan apa yang di sampaikan Bima. Sampai aku hampir menyemburkan air minum yang berada di dalam mulutku.
“Faw…Faw!” panik Bima memegang punggung ku.
“It’s Ok. It’s ok.. Aku baik-baik saja” ucap ku menghalangi tangan nya yang memegang punggung ku.
“Sorry. Aku terkejut dengan ucapan mu” ucap ku sambil menelan ludah,dan mengusap bibir ku dengan tissue.
“Iya aku tahu, ini terlalu terburu-buru”
“Sangat Bim” timpal ku.
“Tapi aku benar-benar sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan ini untuk kamu Faw”
Aku menatap nya dengan bingung.
“Saat pertama kali aku bertemu kamu,aku sudah merasa jika kamu adalah wanita baik,kamu cantik juga anggun. Dan seiring berjalan nya waktu aku semakin merasa kalau aku memang sudah jatuh hati padamu,kamu gigih dalam bekerja,kamu ramah kepada siapapun, bahkan..”
“Bim stop!” Ucap ku menghentikan bualan nya yang hanya akan membuat ku mual mendengar nya.
Aku menyingkapkan rambut ku ke belakang telinga sebelum aku siap berbicara serius kepada Bima. Aku membenarkan posisi duduk ku dan menggeserkan tubuh ku agar lebih dekat dengan Bima.
“Kita belum mengenal baik satu sama lain. Kamu belum begitu mengenal aku,bagaimana latar belakang aku,bagaimana kehidupan aku, apa masalah aku,dan bagaimana sikap ku sebenarnya di luar kantor,kamu belum lihat semua itu”
“Yang kamu tahu hanya aku yang berperan sebagai seorang sekretaris Pak Ferdy,dan bagaimana aku menjalankan profesi ku. Kamu tidak tahu peran aku di luar bagaimana kan?” Ucap ku mencoba untuk membuat Bima mengerti.
__ADS_1
“Tapi kita bisa saling mengenal sambil menjalani nya”
“Ini tidak akan mudah Bim”
“Bagaimana kamu tahu kalau kita saja belum mencoba nya”
Aku menggelengkan kepala ku sambil mengusap kening ku yang mulai pusing dengan ucapan Bima.
“Bim. Kalau kamu mengajak ku kesini hanya mau membahas tentang hati. Lebih baik aku pergi” ucap ku mengancam nya dengan hendak berdiri namun Bima menahan tangan ku.
“Faw tunggu.. sebentar” panik nya.
“Oke aku minta maaf. Aku tidak bermaksud memaksa,hanya saja aku terlalu menyukai mu” wajah Bima berubah muram.
Aku jadi merasa tidak enak kepada Bima. Tapi aku pun tidak bisa terus membahas tentang perasaan nya yang hanya akan membuat situasi tambah rumit.
“Bim. Rasa suka yang kamu miliki mungkin itu wajar. Tapi sebaik nya, hubungan kita pertahankan seperti ini. Aku tidak pernah mengharapkan menjalin hubungan yang lebih serius di dalam lingkup kerja ku. Karena itu akan sangat menyulitkan pekerjaanku” ucap ku berusaha membuat Bima mengerti.
Bima masih terdiam,entah apa yang sedang di fikirkan nya,dia terlihat kecewa sekaligus bingung.
Aku menyentuh tangan Bima di meja dengan begitu lembut nya.
“Kita bisa menjadi partner kerja yang baik tanpa hubungan spesial. Kamu boleh menyimpan perasaan yang kamu punya, tapi jangan menuntut ku untuk membalas nya” pinta ku menatap dia begitu dalam,sambil terus memegang tangan nya di meja.
“Please Bim. Kamu satu-satunya teman yang aku percaya disini,dan sejujur nya aku tidak pernah mengharapkan hubungan apapun dengan kamu lebih dari teman kerja. So please,jangan membuat perasaan kamu lebih jauh lagi ya,dan buat aku kecewa sama kamu” ucap ku dengan begitu penuh harap.
Bima kembali tersenyum walaupun terlihat berat,namun dia terlihat bisa menerima jawaban ku.
“Baiklah. Terimakasih karena tidak mencaci ku saat kamu menolak nya” ujar Bima membuat ku tersenyum menertawakan ucapan nya.
“Ekheemmmm” suara seseorang berdeham di samping kami.
Nicko. Dia berdiri dengan tegap di samping kami dengan tangan yang di masukan ke dalam saku celana dan menatap Bima begitu tajam.
Bima langsung melepaskan genggaman tangan ku dan berdiri menyapa Nicko.
“Sore Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya nya dengan cemas.
“Sedang apa kamu disini?”
“Kita baru mau makan Pak” jawab Bima.
Aku kembali meneguk minuman ku dengan tidak mengacuhkan Nicko.
“Kamu” ucap Nicko menatap ku.
Aku berdiri dengan malas nya dan ikut berdiri di samping Bima.
“Kamu lupa saya minta kamu untuk menyiapkan jas saya?” Tanya nya begitu tajam
Aku menatap Nicko dengan tersenyum yang begitu manis namun begitu terpaksa.
“Maaf Pak. Saya kira Bapak masih beristirahat” jawab ku dengan manis.
__ADS_1
“Saya minta jas saya sekarang di siapkan!” Pinta Nicko dengan begitu tegas.
Ingin sekali aku memaki nya saat ini, karena sikap egois nya yang benar-benar tidak pernah hilang. Namun aku kembali mengingatkan diriku tentang siapa Nicko disini dan apa jabatan ku untuk nya.
Nicko membalikan badan nya dan berjalan meninggalkan kami. Aku menatap Bima.
“Aku duluan ya Bim. Maaf aku tidak bisa menemani mu. Lain kali kita makan di luar” ucap ku membuat Nicko menghentikan langkah nya dan melirik kami berdua di belakang nya dengan sinis.
Aku merasakan jika Nicko tidak suka melihat kedekatan ku dengan Bima,namun aku tak memperdulikan nya. Aku berjalan mengikuti Nicko menuju ruang kerjanya.
Sesampainya di ruangan Nicko,dia langsung duduk di sofa nya dan menatap ku dengan dingin dan ketus nya. Aku terus tak menghiraukan nya dan berjalan menuju lemari baju nya lalu mengambil kemeja juga jas untuk dia pakai.
Aku menunjukan kepadanya jas yang akan di pakai nya untuk acara dinner nanti.
“Aku tidak mau, itu terlalu cerah” lalu dengan malas aku kembali memilih jas dan kemeja nya.
“Aku suka jas nya, tapi tidak suka dengan kemeja nya” ujar nya dengan terus mengomentari pakaian yang kerap aku tunjukan kepadanya.
“Tidak”
“Tidak” dia terus saja mengerjai ku dengan menolak pakaian pilihan ku.
“Ayolah. Kalau kamu merasa semua pakaian ini tidak cocok untuk kamu pakai, kenapa pakaian ini kamu masih simpan di dalam lemari?” Tanya ku dengan kesal.
“Karena aku mau menyimpan nya” jawab nya dengan santai.
“Ck” aku berdecak dengan memicingkan mata kepadanya.
“Lalu kenapa kamu tidak pilih sendiri saja pakaian mu untuk kamu pakai,kenapa menyusahkan ku kalau semua pilihan ku tidak cocok? Atau kamu bisa telepon tunangan kamu saja kan untuk membantu mu memilih jas?” Kesal ku dengan sedikit berteriak kepada bos ku ini. Aku sengaja menyinggung tunangan nya dalam perdebatan ini.
“Untuk apa aku meminta pendapatnya?” Ketus nya kepadaku.
“Ya agar dia bisa memilihkan baju mana yang pantas untuk kamu pakai bertemu dengan nya malam ini!” Kesal ku dengan terdengar begitu menyeramkan.
Nicko memalingkan wajah nya dengan malas. Seperti nya dia malas membahas tentang Kirana. Dia sama sekali tak berkomentar lagi.
Dengan emosi aku kembali memilih pakaian untuk nya. Aku memilih jas berwarna biru gelap dan kemeja berwarna biru terang lalu aku bawa keluar dari lemari nya,dan ku simpan di hanger dekat lemari berkas nya.
“Aku minta kamu pakai ini. Dan kalau kamu menolak nya lagi, lebih baik kamu pilih sendiri jangan merepotkan ku!” Ancam ku dengan kesal dan langsung berjalan menuju pintu untuk keluar.
“Mau kemana?” Tanya nya.
“Mau keluar” jawab ku tanpa menoleh nya dan terus berjalan keluar.
“Mau kembali makan dengan Bima?” Tanya nya terdengar meledek.
Aku kesal mendengar dia bertanya seperti ini,lalu aku berbalik menatap nya dengan begitu tajam
“Nafsu makan ku sudah hilang. Aku mau buat minum” jawab ku dengan mendelikan mata.
“Membuat susu caramel? Boleh buatkan juga untuk ku?” Tanya nya dengan hati-hati.
Sebenarnya dia tidak perlu bertanya seperti itu, mengingat dia adalah seorang bos tentu dia bisa menyuruhku sesuka hatinya. Aku jadi merasa telah menindas nya dan membuat dia malah segan kepadaku.
__ADS_1
Aku tak menjawab dan langsung pergi dari sana. Aku membuat kan dia susu caramel kesukaan kami berdua dan kenangan masa lalu kembali teringat.