Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Oma dan Opa Kara


__ADS_3

Ketika di perjalanan pulang,fikiran ku sudah di buyarkan dengan kejadian tadi di meja makan. Kenapa bisa Nicko tidak pernah bercerita tentang alergi nya kepada Kirana. Bagaimana dia menyembunyikan itu semua dari Kirana?


“Memang nya kamu tidak pernah mengatakan yang sebenarnya tentang alergi kamu kepada Kirana?” Tanya ku melirik dia di spion mobil.


“Tidak” jawab nya singkat dengan terus menatap keluar jendela.


“Kenapa ?”


“Karena itu tidak penting”


“Bagaimana tidak penting. Dia kan akan menjadi istri mu nanti, bagaimana jika dia tidak tahu apa-apa tentang mu setelah kalian menikah? Apa kamu tidak bisa membayangkan bagaimana dia nanti menyiapkan makanan untuk mu? Lalu dia memberikan wijen di setiap masakan nya!” Omel ku menceramahinya.


“Aku tidak berniat menjadikan dia seorang istri” jawab nya dengan nada yang dingin.


Aku terdiam tak lagi bicara. Entah apa maksdu yang di katakan Nicko. Kenapa bisa dia mengatakan hal seperti itu lagi,sementra kali ini sudah jelas dia sudah masuk ke jenjang pertungan dengan Kirana, bukankah itu awal jika Nicko sudah bisa membuka hatinya untuk orang lain ?


Sesampainya di kantor aku langsung memarkirkan mobil nya di depan kantor dan segera turun dari mobil nya. Nicko pun ikut turun dan dia pindah ke kursi kemudi. Aku masih berdiri di samping mobil nya menunggu Nicko pergi.


“Besok aku memberikan mu hari libur karena sudah bersedia lembur untuk hari ini” ujar Nicko.


Aku masih menatap Nicko dengan dingin, fikiran ku masih di ganggu dengan kejadian tadi di meja makan, dan pernyataan Nicko yang tidak ingin Kirana menjadi istrinya.


“Baiklah. Terimakasih” lalu mobil dia melesat cepat menghilang dari hadapan ku.


Aku pulang kerumah dengan badan yang sudah amat terasa lelah dan lemas. Aku masuk ke dalam apartemen ku, dan mendapati Keysa juga Kara tertidur di sofa ruang tamu berdua. Aku tersenyum melihat wajah cantik Kara yang sedang tertidur pulas di lengan Keysa. Aku mendekati nya dan berjongkok di samping nya. Aku membelai rambut Kara dan mencium kening nya. Aku sangat menyayangi nya, rasa lelah ku pun seketika hilang ketika aku melihat wajah mungil nya.


Keysa terlihat menggeliat,dan membuka sedikit matanya.


“Eh lo. Baru pulang?” Tanya Keysa berusaha membuka matanya.


“Iya. Thank you ya udah nemenin Kara sepulang kerja lo, pasti lo cape juga kan?” Tanya ku dengan nada yang begitu pelan.


“Gak apa-apa kali Faw. Lo kaya ke siapa aja. Gue juga ga mau Kara kenapa-napa” ujar Keysa begitu baik nya.


“Ya udah. Gue pindahin Kara ke kamar dulu ya” ucap ku sambil berhati-hati menggendong nya.


Aku membaringkan Kara di tempat tidur dan menyelimuti badan nya dengan selimut tebal,aku mengecupnya sekali lagi dan keluar dari kamar tidur.


Keysa sudah bangun dari tidur nya dan berjalan menuju pantry,aku menyusulnya dan duduk di kursi pantry menunggu Keysa membuatkan susu caramel untuk ku.


“Gimana meeting nya ? Lancar?” Tanya Keysa mengingat kan ku kembali kepada tunangan Nicko.


“Lancar lancar aja. Gue meeting sama tunangan nya Nicko” ucap ku sambil menopang dagu ku dengan tangan karena begitu lelah nya.


“Tunangan ?” Tanya nya dengan wajah terkejut.


Aku diam tak menjawab.


“Kok bisa?”


“Lo di ajak jadi WO nya?” Ledek Keysa, sambil menyeduh susu caramel dan kopi cappuccino.


“Sialan lu” umpat ku dengan mendelikan mataku.


“Meeting nya tetep membahas bisnis sama orang tua Kirana. Tapi Kirana ikut meeting sekalian makan malem katanya. Terus lo tau ga? Masa Kirana ga tau kalo Nicko alergi wijen” ucap ku mengingat kejadian itu.


“Lah emang Nicko alergi wijen?” Tanya nya.


“Iya. Nicko dari kecil tuh ga bisa makan yang ada wijen nya,makanya kalo apa-apa tuh makanan dia suka di jaga sama orang tua nya. Bahkan makanan gue pun jadi ikut ga pake wijen gara - gara dia”


“Terus gimana ?”


Keysa menyimpan susu caramel di hadapan ku, dan meneguk kopi cappuccino milik nya.


“Ya Kirana sama orang tua nya kaget lah, pas gue kasih tau kalo Nicko itu alergi wijen. Ya lagian kenapa dia ga kompromian dulu sih sama gue,bilang kalo semua itu dia sembunyiin dari Kirana”


“Kayaknya Nicko emang ga pernah bilang sama siapa-siapa deh tentang alergi nya itu,makanya yang tau cuma elo doang”


“Masa sih?” Tanya ku mengkerutkan kening.


“Coba lo tanya, sama siapa tuh assistant nya Nicko?”


“Bima?” Jawab ku.


“Iya si Bima, coba tanya sama dia, tahu ga tentang hal itu”

__ADS_1


Aku jadi mengingat tentang Bima di kantin kantor.


“Gue jadi inget. Bima tadi siang nyatain cinta nya sama gue” ucap ku dengan raut wajah yang malas.


“Hah?!!” Teriak Keysa.


“Diem sih lo,Kara bangun nanti!” Kesal ku mengacungkan sendok susu ku seolah akan memukulnya.


“Sorry sorry sorry” ucap nya dengan kembali mengecilkan suaranya.


Lalu aku menceritakan semua kepada Keysa sampai Keysa tidak percaya dan malah tertawa. Aku pun ikut tertawa karena memang itu terdengar sangat konyol sekali. Aku dan Bima tidak pernah ada pembicaraan apapun selain pekerjaan, bahkan bertemu hanya di kantor, dan Bima tidak pernah berani untuk menghubungi ku di luar jam kerja.


Keysa hanya tertawa mendengar cerita ku, dan menganggp hal itu lucu. Ya memang semua itu lucu,bahkan aku saja masih tidak percaya tiba-tiba Bima menyatakan perasaan nya kepadaku.


Keesokan harinya. Aku segera mandi di pagi hari dengan Kara. Aku bersiap untuk mengajak Kara pergi ke luar memanfaatkan hari libur ku ini. Aku memakaikan Kara baju berwarna putih dengan rok pendek berwarna coklat. Aku menggeraikan rambut nya dan melingkarkan bando korea di kepalanya. Sementara aku memakai baju santai rajut oversize berwarna coklat dan celana berwarna putih. Agar senada dengan Kara.


“Kita mau kemana Ma?” Tanya Kara ketika aku memakai kan nya sepatu kets kecil nya.


Aku tersenyum kepadanya, karena hari ini aku memutuskan untuk membawa dia bertemu kakek nenek nya. Aku fikir ini saatnya aku bertemu dengan Mama Nicko, dan memperkenalkan Kara kepada mereka, dengan rahasia yang masih akan ku simpan dengan rapih.


“Kita mau bertemu sama Oma Shinta dan Opa Rio” ucap ku kepada Kara.


Wajah Kara terlihat begitu bahagia mendengar sepasang nama yang sering aku ceritakan kepadanya.


“Kita mau main di rumah Oma Shinta dan Opa Rio?” Tanya Kara.


Aku menganggukan kepala ku dengan tersenyum kepadanya.


“Assiiikkk” seru Kara terlihat begitu gembira.


Setelah 4 tahun lamanya,akhirnya aku bisa mempertemukan Kara dengan orang tua Nicko. Selama beberapa tahun terakhir aku selalu menceritakan kepada Kara jika dia pun memiliki Oma dan Opa sendiri yang sedang jauh dari rumah nya,karena Kara kerap sekali menanyakan tentang mereka, namun aku selalu memberi alasan jika Oma dan Opa nya masih sibuk tidak bisa bertemu Kara. Dan inilah saatnya aku untuk mempertemukan mereka.


Aku dan Kara segera pergi menuju rumah Mama dan Papa Nicko yang berada cukup jauh dari apartemen ku. Aku masih begitu ingat rumah Papa dan Mama Nicko yang masih berada di komplek yang sama dengan rumah ku dulu. Namun setelah banyak nya renovasi,rumah Nicko jadi tampak begitu berbeda, sudah tampak lebih tinggi dan lebih megah dari sebelum nya.


Aku dan Kara sampai di depan rumah Nicko. Aku membuka kaca jendela mobil ku untuk menyapa security yang bertugas disana. Security itu tampak baru dan dia juga tidak mengenali wajah ku.


“Maaf Mbak mau bertemu siapa?”


“Ibu Shinta dan Bapak Rio ada ?”


Aku diam sejenak dan menarik nafasku.


“Fawnia” jawab ku.


Tiba-tiba saja aku merasa gugup masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan Mama Nicko. Aku takut Mama nya akan berubah dingin kepadaku setelah sekian lama aku pergi dari rumah ini tanpa ada kata pamit.


Security terlihat serius berbicara dengan telepon di dalam pos nya. Dan dengan cepat dia langsung membuka kan pintu untuk ku.


“Silahkan Mbak” ujar security itu.


Aku menganggukan kepala ku kepada security itu dan menyetir mobil masuk ke dalam parkiran rumah. Aku begitu ingat bagaimana terakhir kali aku meninggalkan rumah ini dengan di bawa pergi oleh Nicko, dan Teriakan Mama nya pun masih selalu ku ingat.


Sampai kapan pun hubungan kalian tidak akan pernah Mama restui.


Aku memejam kan mata untuk menenangkan diri ku dan menarik nafas begitu dalam.


Aku menatap Kara yang menatap ku bingung.


“Ayo kita turun” ucap ku melepaskan seatbelt nya.


Aku turun terlebih dahulu dari mobil dan membantu Kara turun dari mobil.


Aku menggenggam tangan Kara dengan erat dan mengajak nya masuk ke dalam rumah.


Aku berdiri di depan pintu rumah mengumpulkan keberanian yang penuh untuk bertemu dengan Mama Nicko yang sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya. Lalu sebelum aku memijit bel rumah,tiba-tiba pintu terbuka lebar dan terlihat seorang wanita yang begitu cantik dengan cepolan rambut, baju gaun pendek dan anting yang menggantung di kedua telinga nya,tengah menatap ku terkejut.


Aku sulit untuk mengedipkan mata ketika melihat Mama Nicko sudah berdiri di hadapan ku. Mama Nicko pun melihat ku dengan tak percaya dan dengan mata yang berkaca-kaca.


“Mama” bisik ku.


“Fawnia” balas nya dan langsung memeluk ku begitu erat.


Tangis kita pecah begitu saja ketika kita akhirnya bisa berpelukan lagi seperti ini.


Aku salah,ternyata hangat nya kasih sayang Mama Nicko masih begitu terasa. Mama Nicko masih menyayangiku,dia ternyata tidak terlihat menyimpan dendam kepadaku. Rasa gugup ku pun seketika hilang.

__ADS_1


Mama Nicko memegang kedua pipi ku dan melihat ku dari ujung rambut hingga ujung kaki,untuk melihat perubahan diriku.


“Sayang kamu tidak apa-apa?” Tanya nya dengan wajah yang masih saja menangis terharu sambil memeriksa tubuh ku memastikan aku sehat dan utuh.


“Aku baik Ma. Mama apa kabar?” Tanya ku yang masih ikut menangis.


“Mama baik sayang”


Mama nya kembali memegang pipiku dengan lembut,dan menatap ku begitu sedih,dia masih tidak percaya melihat ku ada di hadapan nya.


“Kamu kemana saja Nak? Kenapa kamu tidak pulang lama sekali. Apa Mama sudah membuat kamu sakit hati sampai kamu pergi meninggalkan kami?” Tanya nya begitu menyakitkan hati ku.


“Tidak Ma. Bukan seperti itu, Mama sama sekali tidak pernah menyakiti ku”


“Lalu kenapa kamu pergi?” Tanya Mama nya begitu dramatis sambil terus memegang lengan ku dengan menangis.


Mulutku terkunci. Aku tak sanggup untuk mengatakan yang sejujur nya kepada Mama Nicko.


Lalu Mama Nicko menatap ke bawah di samping ku. Dia menatap Kara.


“Ini??” Tanya Mama Nicko mengusap air mata nya dengan bingung melihat Kara.


“Iya Ma. Ini anak aku,namanya Kara” ujar ku dengan tersenyum padanya.


Mama Nicko tampak terkejut lalu tersenyum begitu bahagia.


“Astagaa,Mama sudah punya cucu?” Tanya Mama Nicko berjongkok untuk melihat Kara.


“Hay Oma Shinta” sapa Kara membuat Mama Nicko membulat kan matanya dan terlihat sekali dia begitu terkejut dan terharu karena Kara bisa mengenalinya padahal ini adalah pertemun pertama mereka.


“Oh sayang. Iya ini Oma Nak, ini Oma nya Kara” lalu di memeluk Kara dengan begitu erat nya dan dia kembali menangis.


Mama Nicko melepaskan pelukan nya dan dia melirik ke arah parkiran.


“Mana suami mu?” Tanya Mama Nicko mengingatkan ku kepada Ben.


Aku kembali muram setiap kali ada yang menanyakan keberadaan Ben.


“Dia sudah meninggal Ma. Dia meninggal ketika aku baru saja melahirkan Kara” jawab ku.


Mama Nicko langsung berdiri dan mengusap lengan ku.


“Sayang. Mama minta maaf, turut berduka untuk suami mu ya”


Aku mengangguk dan tersenyum manis kepadanya.


“Ayo kita masuk. Papa pasti akan terkejut melihat kehadiran kamu nak” ujar nya dengan menggandeng tangan kecil Kara.


“Aku sudah pernah bertemu dengan Papa Ma” ucap ku membuat Mama kembali terkejut.


“Dimana? Kenapa tidak beritahu Mama?”


“Karena aku takut kamu bawel dan meminta segera bertemu Fawnia dan cucu ku” ujar Papa yang tiba-tiba saja datang entah darimana.


“Papa” panggil ku sambil memeluk nya.


“Hallo sayang. Akhirnya kita bertemu lagi”


Aku tersenyum kepadanya dan dia melirik Kara.


“Jadi ini Karamel nya Opa” ujar Papa Nicko sambil menggendong Kara.


Dan Kara pun tampak tidak keberatan menyambut kehangatan Papa Nicko.


“Hallo Opa Rio”


Papa Nicko tampak senang Kara sudah tahu nama nya lebih dulu.


“Jadi kamu sudah tahu dengan Opa mu ini?” Tanya Papa.


“Sudah dong Opa. Mama sering cerita kalo Oma Shinta dan Opa Rio orang baik dan sayang sama Kara” ucap Kara begitu polosnya.


“Oh tentu sayang. Oma dan Opa begitu sayang sama Kara” ujar Mama sambil kembali mencium pipi tembem Kara.


“Ayo kita bicara di sana” ajak Papa Nicko.

__ADS_1


Kita semua berjalan menuju ruang keluarga rumah ini.


__ADS_2