Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Bertahan


__ADS_3

Aku dan Nicko pulang dengan perasaan yang begitu kacau. Aku masih saja memikirkan Ben, dan Nicko pun merasa kahawatir melihat keadaan ku yang seperti ini.


Ketika sampai di parkiran rumah, aku membuka pintu mobil dengan begitu lemas nya. Nicko mengikuti ku berjalan tepat di belakang ku, dia terus menatap ku dengan cemas.


Aku membuka pintu rumah dan berjalan menuju kamar ku. Dan melewati ruang keluarga yang terlihat ramai.


“Mama…” teriak Kara membuat suasana hati ku berubah seketika.


“Hay sayang..” balas ku dengan raut wajah yang bahagia ketika melihat Kara berlari ke arah ku.


Kara langsung memeluk ku dan aku langsung menggendong nya. Aku berusaha tersenyum di hadapan Kara.


“Mama kenapa? Kok lemes Mah?” Tanya Kara menyadari sikap ku yang lemah tak seperti biasa.


“Lemas? Kayak nya Mama kecapean, karena kerjaan Mama banyak sekali di kantor” jawab ku memberi alasan.


“Kalau begitu Mama istirahat dulu ya” ucap Kara dengan begitu perhatian.


Aku tersenyum menatap nya lalu mencium kening Kara dengan lembut. Aku begitu menyayanginya, aku masih saja merasa beruntung telah memilikinya. Aku akan sangat menyesal jika saat itu aku memutuskan untuk bunuh diri, dan kehilangan nya.


“Kara tunggu di sini dengan Oma ya” ucap Mama yang masih duduk di sofa.


“Iya Oma” jawab Kara.


Aku menurunkan Kara. Dan Kara kembali bermain dengan Oma nya. Nicko merangkul ku dan memijat lengan ku.


“Kita ganti pakaian dulu” ucap Nicko.


Aku menganggukan kepala ku dengan lemah, dan dia membawa ku ke lantai atas untuk mandi dan mengganti pakaian ku.


Aku segera mandi mendinginkan kepala ku dan mengganti pakaian ku dengan baju rumahan, lalu aku duduk di depan meja rias dan menatap wajah ku di pantulan cermin.


Aku mendengar suara langkah kaki mendekati kamar ku.


“Aku akan bicara dengan Papa” ujar Nicko yang telah berdiri di depan pintu dengan berganti pakaian.

__ADS_1


Aku menatap Nicko di meja rias ku,sambil berfikir untuk sejenak. Apakah menjelaskan sekarang kepada Papa adalah waktu yang tepat? Namun aku pun tidak ingin menunda lagi tentang masalah baru ini, biarlah Nicko menjelaskan kepada Papa tentang Ben yang ternyata masih hidup,lalu mempermasalahkan status ku yang masih menjadi istrinya.


Aku menganggukan kepala ku. Lalu Nicko langsung pergi ke lantai bawah dan menemui Papa di ruang kerja nya. Aku menatap diriku di dalam cermin dan menyiapkan diri ku untuk menemui Mama dan bicara juga kepadanya.


Aku turun ke lantai bawah untuk menemui Kara dan Mama yang berada di ruang keluarga. Kara dan Mama sedang bermain ular tangga di atas meja dengan terus tertawa dan bahagia. Aku menghampiri mereka dengan memasang wajah tersenyum menyembunyikan kegundahan ku.


“Sayaanggg” sapa ku kepada Kara.


“Mama.. sini Ma, Kara di ajari main ular tangga sama Oma” ujar Kara begitu bahagia nya.


Lalu aku duduk di samping Mama.


“Bisa?” Tanya ku.


“Bisa dong Ma. Kara kan pintar” ujar Kara.


Mama terus menyelidik wajah ku. Aku menatap Mama dengan canggung.


“Ada apa?” Tanya Mama yang sudah bisa menebak raut wajah ku yang seperti telah memiliki beban masalah.


“Bicaralah pada Mama? Ada masalah apa?” Tanya nya lagi.


“Ini tentang Ben Ma” jawab ku.


Mama mengerutkan kening nya.


“Ada apa dengan Ben?”


“Ben…” ucap ku begitu berat mengatakan nya.


“Ben masih hidup Ma, dia tadi datang ke kantor kita” ucap ku kembali bersedih mengingat itu.


Mama membuka mulut nya terkejut. Dia pun pasti tidak percaya dengan apa yang aku katakan, namun memang seperti itulah keadaan nya.


“Kenapa?? Kenapa bisa Ben..”

__ADS_1


Mama terlihat sulit sekali merangkai kata-kata.


“Iya Ma. Itu juga yang sedang aku cari tahu dengan Nicko, kenapa bisa Ben memalsukan kematian nya”


“Apa dia ada masalah?” Tanya Mama.


“Entah lah Ma, aku tidak yakin , tapi dulu Ben pernah mengatakan jika tambang batu nya sedang ada masalah. Tapi aku tidak tahu persis masalah nya seperti apa, hanya saja Ben terlihat panik dan dia pergi ke kalimantan tepat 1 bulan sebelum aku melahirkan”


“Lalu?”


“Lalu 1 bulan kemudian aku dan keluarga nya mendengar kabar dia meninggal”


“Bukan kah kamu bilang kamu mendengar Ben meninggal karena dia kecelakaan pesawat saat itu? Apa kamu dan keluarga Ben mendapatkan bukti jika ada Ben di dalam pesawat itu?”


“Yang aku ingat saat itu, hanya Mama Ben memperlihatkan bukti fhoto tiket Ben sebelum Ben pulang ke Jakarta, itu tepat saat aku akan melahirkan Kara di rumah sakit. Dan pesawat yang mengalami kecelakaan itu sama persis dengan pesawat yang akan di tumpangi Ben”


Mama terlihat ikut bingung mendengar cerita ku. Dia memegang kepala nya dan ikut memikirkan hal itu.


“Lalu tadi apa kalian sempat membicarakan alasan Ben melakukan hal itu?”


Aku menggelengkan kepala ku.


“Aku terlalu marah tadi, aku sangat membenci nya Ma. Karena selama 4 tahun ini aku di buat sengsara oleh nya, aku terus di sudutkan oleh keluarga Ben atas kematian nya. Belum lagi perusahaan nya hancur, mereka menyalahakan ku dan membuat ku sulit mendapatkan pekerjaan. Apakah aku masih harus bisa mendengar alasan nya berpura-pura mati? Sementara aku tersiksa karena dia?” Ucap ku begitu sedih.


Mama terlihat mengasihani ku. Dia memegang tangan ku dengan erat.


“Kamu tidak perlu khawatir. Kamu sudah memiliki Mama,Papa,Nicko juga Kara. Biarkan saja masalah Ben kamu lupakan, sekarang kita akan membangun kebahagiaan kamu kembali ya”


“Tapi Ma. Ben bilang jika aku masih berstatus sebagai istrinya, dan dia tidak akan membiarkan aku menikah dengan pria lain termasuk Nicko”


Mama memegang pipi ku dengan lembut,lalu menatap ku begitu dalam.


“Sayang. Kamu begitu tahu bagaimana Nicko, kamu lebih mengenal Nicko dari pada kami. Percayalah,Nicko tidak akan membiarkan siapapun menghalangi kebahagiaan nya. Apalagi kamu tahu bagaimana besarnya Nicko mencintai kamu kan ?” Ucap Mama berusaha menyadarkan ku.


“Mama yakin, jika Nicko tidak bisa di halangi oleh siapapun,dia tidak akan mungkin membiarkan orang lain akan menghalangi kebahagiaan kita”

__ADS_1


“Yang pasti kamu harus selalu percaya kepada Nicko. Nikco tau cara bagaimana melindungi kamu. Mama bisa percaya itu nak”


Aku mencerna apa yang di katakan Mama. Mama benar, Nicko sangat mencintai ku, dia tidak mungkin semudah itu jatuh hanya karena ancaman Ben. Nicko pasti akan bisa mengatasi Ben, dan pernikahan kita akan lancar seperti apa yang di harapkan.


__ADS_2