
Acara makan pun selesai.
Aku dan Kara berkemas membereskan barang-barang kami di kamar ku untuk segera kembali ke apartemen.
“Mah. Tante Kirana itu siapa?” Tanya Kara membuat ku menatap dia sejenak dan kembali melipat baju-baju nya yang baru saja di cuci.
“Tante Kirana itu teman nya Om Nicko sayang. Kenapa ?” Tanya ku kepada Kara yang seperti nya tengah memikirkan sesuatu.
“Tante Kirana tidak akan bawa Om Nicko pergi kan?”
Aku terkejut mendengar pertanyaan Kara.
“Kenapa Kara tanya seperti itu?” Tanya ku.
“Kara sayang Om Nicko,Kara tidak mau Om Nicko di ambil orang lain” ujar Kara dengan sedih, seperti dia mengerti dengan situasi yang di lihat nya.
Aku menatap nya dengan pilu. Bahkan Kara pun merasakan ketakutan yang sama dengan ku,padahal belum tentu dia mengerti dengan masalah kami semua.
Aku memegang kedua pipi Kara dengan lembut. Untuk menenangkan Kara yang cemberut.
“Om Nicko tidak akan pernah meninggalkan Kara. Dia tidak akan di ambil oleh siapapun,dia hanya milik Kara” ucap ku dengan begitu dalam menatap kedua bola mata nya.
“Benarkah?” Tanya Kara tak percaya.
“Iya”
Kara tersenyum kepada ku lalu dia memeluk ku.
“Kara sayang Mama dan Om Nicko” ucap nya di pelukanku.
“Mama juga sayang Kara. Dan Om Nicko” jawab ku dengan haru.
Aku sedih sekali mendengar Kara yang sudah begitu mencintai Ayah nya sendiri di keadaan yang seperti ini. Keysa benar, Kara ini adalah anak kecil yang tidak berdosa,tidak sepatutnya dia merasakan akibat dari kesalahan yang aku dan Nicko perbuat. Dia berhak bahagia.
“Aduh romantisnya” ujar Mama Nicko yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.
“Hey Ma. Sini masuk”
Mama berjalan menghampiri kami dan duduk di samping Kara.
“Kamu sudah mau pulang Faw?”
Aku menganggukan kepala ku dengan tersenyum manis.
“Iya Ma. Aku belum mempersiapkan untuk besok,Kara harus sekolah dan aku pun harus bekerja”
Ucap ku sambil tersenyum dan kembali memasukan baju-baju Kara ke dalam tas besarku.
“Apakah kamu sudah memikirkan untuk kembali kesini?” Tanya Mama membuat ku diam sejenak untuk mencerna pertanyaan nya.
“Memang nya kenapa? Kenapa Mama bersikeras untuk aku kembali tinggal disini?” Tanya ku dengan manis.
__ADS_1
“Mama kesepian Faw” jawab Mama dengan raut wajah sendu.
Aku menatap Mama dengan serius,aku takut melihat dia sedih,aku tidak ingin melihat dia menangis untuk kesekian kalinya.
“Mama rindu suasana rumah yang dulu”
Raut wajah ku berubah dingin.
“Suasana rumah seperti apa yang Mama maksud?” Tanya ku dengan tanpa ekspresi.
“Suasana yang hangat dengan adanya kamu dan Nicko. Dengan ramai nya di sore hari, banyak nya cerita di meja makan, dan selalu ada hal istimewa setiap minggu nya” jawab nya dengan begitu senang membayangkan hal yang di ingatnya.
Aku ingin sekali mengatakan kepadanya jika kebahagiaan yang dia alami saat itu adalah kebahagiaan yang sudah aku rancang dengan Nicko demi menutupi hubungan kami. Aku selalu bersikap tak acuh kepada Nicko,dan Nicko selalu menjahili ku layaknya seperti kaka beradik di hadapan orang tua nya hanya demi menutupi hubungan kami. Namun aku menelan baik-baik kenangan itu.
“Ma. Tolong mengerti lah” ucap ku sambil memegang tangan Mama di pangkuan nya.
“Bukan nya aku tidak mau kembali lagi kerumah ini. Tapi aku hanya sudah mulai dewasa Mah, dan aku sudah merasakan zona nyaman dengan hidup berdua dengan anak ku. Aku janji, tidak akan membuat Mama kesepian lagi. Aku dan Kara akan selalu mengunjungi Mama” ucap ku meyakinkan Mama.
Mama menatap ku dengan tersenyum semu.
“Oma jangan sedih. Nanti Kara ikut sedih” ucap Kara menatap Oma nya dengan kasihan.
“Oh sayang” Mama langsung menggiring Kara ke pelukan nya.
“Oma tidak sedih lagi kok. Oma cuma takut Kara tidak main kesini lagi”
“Tidak dong Oma. Kara dan Mama akan terus kesini temenin Oma,agar Oma tidak kesepian lagi”
“Janji” Kara mengangkat telunjuk kanan nya kepada Oma.
Mama terkejut melihat ikrar janji yang di minta Kara.
“Wah ini kan janji telunjuk yang selalu di lakukan Mama Fawnia dan Om Nicko” ucap Mama ternyata masih mengingatnya.
“Oke Kara sudah janji ya” ucap Mama sambil mengaitkan telunjuk nya di telunjuk mungil Kara.
Kami bertiga turun dari tangga dan kami mendapati Kirana dan Nicko yang sedang berbincang di ruang keluarga. Kirana tampak serius berbicara kepada Nicko yang hanya menundukan kepala sambil duduk santai.
“Om Nicko” seru Kara sambil berlari ke arah Nicko.
Nicko menengadahkan kepalanya dan tersenyum ketika melihat Kara menghampirinya. Nicko langsung memangku Kara ke lahunan nya.
“Sudah selesai ganti baju nya?” Tanya Nicko dengan manis kepada Kara.
“Sudah”
Kirana tampak tidak senang dengan kehadiran Kara di antara mereka. Aku merasa kasihan melihat Kirana yang terus merasa tidak nyaman seperti itu.
“Kara ayo” ujar ku mengajak Kara untuk turun dari pangkuan Nicko.
“Kita pulang sekarang?” Tanya Nicko menatap ku dengan wajah datar nya.
__ADS_1
“Iya aku dan Kara akan pulang sekarang”
“Baiklah,ayo” aku menahan Nicko.
“Eum tidak Nicko. Aku sudah memesan taksi”
Nicko menatap ku dengan bingung.
“Batalkan taksi nya” pinta Nicko dengan ketus.
“Taksi ku sudah di depan Nicko!” jawab ku dengan kesal.
“Biarlah Fawnia pulang dengan taksi. Lagian kamu kan masih ada Kirana disini,masa kamu mau tinggalkan Kirana begitu saja” ujar Mama.
Nicko terus saja menatap mata ku dengan tajam.
“Aku dan Kirana sudah selesai bicara” ujar Nicko dengan dingin.
Lalu dia berjalan meninggalkan kami semua dengan tetap menggendong Kara. Aku menggelengkan kepala ku melihat tingkah nya yang masih saja keras kepala. Mama pun menghela nafas nya begitu dalam melihat anak nya yang masih saja seperti itu.
Aku mengejar Nicko dan melihat apa yang akan di lakukan nya. Nicko tampak berbicara dengan supir taksi yang aku pesan, dia mengeluarkan sejumlah uang kepada supir taksi itu lalu taksi itu pun pergi begitu saja dari rumah Nicko.
“Loh kok. Taksi nya mau kemana?!” Seru ku dengan terkejut dan berusaha berlari mengejar taksi yang tidak akan mungkin terkejar.
“Kenapa taksi nya kamu suruh pergi?” Tanya ku kesal kepada Nicko.
“Aku sudah bilang aku yang antarkan kembali kamu pulang” jawab Nicko dengan menyebalkan.
Dia berjalan masuk kembali ke dalam pekarangan rumah nya dan memasukan Kara ke dalam mobil nya. Dia juga menyimpan barang-barang nya di kursi belakang bersama dengan Kara. Aku dan Mama hanya bisa menyaksikan Nicko yang sudah tidak bisa di kendalikan.
“Nicko” panggil Kirana.
“Nicko kok kamu tega tinggalin aku sih Nick!” Teriak Kirana dengan dramatis.
“Kita bisa bicarakan lagi itu nanti” jawab Nicko.
Itu? Tanya ku dalam hati,apa yang di maksud Nicko. Memang apa yang sudah mereka bicarakan.
“Kamu ikut pulang atau tidak?” Tanya Nicko dengan ketus kepadaku,sebelum dia masuk ke dalam mobil nya.
“Kalau kamu mau tetap memesan taksi silahkan. Kara tetap ikut denganku” ujar Nicko membuat Mama terheran-heran dengan sikap Nicko.
Lalu Nicko masuk ke dalam mobil nya dengan raut wajah yang sangat kesal.
Aku segera menghampiri Mama dan mencium punggung tangan nya.
“Ma aku pulang ya”
“Iya. Maafkan Nicko ya nak” ucap Mama mewakili anak nya yang sudah begitu menyebalkan.
Seperti nya Mama juga merasakan jika Nicko masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu kepadaku.
__ADS_1
Aku menganggukan kepala ku,dan aku melirik Kirana sekali lagi. Dia masih saja membuang wajah nya kepadaku,aku tahu dia sudah mulai merasa semakin panas. Namun aku tidak ingin terpengaruh dengan sikapnya itu,biarlah dia tidak menyukaiku. Karena aku pun tidak peduli dengan kehadirannya.