
Keesokan hari nya. Aku kembali kepada hirup pikuk ku di tempat kerja. Aku segera menyalin semua hasil meeting ke dalam komputer ku dan menelepon partner kerja Nicko untuk membuat janji bertemu.
Lalu suara telepon kantor ku berdering.
“Hallo”
“Ke ruangan ku sekarang”
“Iya” jawab ku setelah aku tahu itu dari Nicko.
Lalu aku segera menutup buku ku dan masuk ke dalam ruangan nya.
“Sekarang aku ada meeting mendadak,tolong siapkan berkas yang sudah aku kirim ke email kamu”
“Oke” jawab ku singkat.
“Hari ini kita akan segera pergi menuju PT. Prawira”
Mataku terbelalak mendengar sebuah perusahaan yang begitu mengejutkan untuk ku.
“Nanti tolong kamu atur lagi pertemuan ku yang selanjutnya,sekarang kita harus segera pergi kesana, ini peluang besar kita,karena perusahaan itu mengajukan kerja sama yang amat besar”
Aku masih diam terpatung di tempat ku. Mata ku masih membulat mendengar perusahaan milik orang tua Ben di sebutkan Nicko.
“Fawnia” panggil Nicko untuk menyadarkan ku dari lamunan.
“Ya” sahut ku dengan wajah bingung.
“Kenapa kamu diam saja?” Tanya nya.
Aku menggelengkan kepala ku dengan kikuk.
“Aku siapkan dulu berkas nya” jawab ku dengan wajah masih saja kikuk,lalu segera pergi dari ruangan Nicko dan menjalankan perintah dari Bos ku itu.
Aku duduk begitu lemas di kursi kerja ku. Nafasku menjadi begitu berat, dadaku merasa sesak mengingat bagaimana aku di campakan oleh keluarga Ben, dan bagaimana sulit nya aku untuk tidak lagi berurusan dengan mereka. Dan sekarang, lagi-lagi aku harus berurusan dengan mereka.
Aku terdiam begitu lama dengan meremas kedua tangan ku yang mulai berkeringat. Aku benar-benar takut,tapi aku harus bisa bersikap se pofesional mungkin. Aku tidak mungkin mengatakan kepada Nicko tentang keluarga Ben. Aku takut banyak pertanyaan dari nya yang hanya akan menyudutkan ku akhirnya kepada Kara.
Aku berusaha menenangkan diri, aku harus kuat dan aku harus bisa. Entah apa yang akan terjadi disana nanti ketika aku kembali bertemu kedua orang tua Ben. Aku mengharapkan mereka bisa pura-pura tidak mengenalku dan bersikap profesional seperti ku.
Aku dan Nicko langsung pergi dari kantor menuju PT.Prawira,dimana kedua orang tua Ben berada.
Aku berusaha tenang, namun begitu sulit. Karena aku masih ingat betul,bagaimana kedua orang tua Ben begitu membenci ku sampai mau mengambil hak asuh Kara. Sampai akhirnya aku harus membeberkan kebenaran nya tentang Kara.
“Kamu kenapa?” Tanya lagi Nicko di dalam mobil. Dia melihat ku dengan tatapan begitu mencurigakan.
“Kamu sakit?” Tanya nya.
Aku menggelengkan kepala ku.
“Hanya sedikit sakit kepala” jawab ku denganberusaha untuk baik-baik saja.
Nicko kembali diam namun terus menatap ku dengan curiga.
“Silahkan kita sampai” ujar Bima yang menghentikan mobil nya di depan sebuah pintu gedung yang tak kalah besar nya dari gedung milik Nicko.
Aku terus memegang sebuah catatan dan berkas untuk bahan meeting kami nanti. Aku berjalan di belakang Nicko dan mengikuti nya sampai ke dalam. Wajah ku terus tertunduk di belakang Nicko, jantung ku semakin lama semakin berdegup dengan cepat.
Aku melihat,orang tua Ben dari jauh. Mereka sedang berbincang dengan beberapa pegawai mereka.
__ADS_1
“Itu Pak Ferdyan” ujar seorang karyawan nya memberi tahu Papa Ben.
Mereka semua langsung menghampiri Nicko dan menyambutnya dengan begitu baik. Mama Ben pun ikut menyambut Nicko dengan tersenyum begitu ramah nya. Mereka masih belum menyadari kehadiran ku di belakang Nicko.
Aku terus mengatur nafas ku agar terlihat lebih tenang.
“Pak Ferdy, selamat datang di perusahaan kami” ujar Papa Ben sambil menjabat tangan Nicko.
“Selamat siang Pak Bowo” balas Nicko.
“Selamat siang Pak Ferdy. Saya Irene istri Pak Bowo” ujar Mama Ben memperkenalkan dirinya.
“Ferdyan Nickolas” balas nya sambil menjabat tangan Mama Ben.
“Bagaimana perjalanan nya?”
“Lancar, tidak ada hambatan”
“Syukurlah”
“Kemarin saya sempat bicara dulu dengan Bapak Rio,dan dia bilang agar semua di serahkan sama nak Ferdy ini” ucap Papa Ben masih belum menyadari kehadiran ku.
“Ya Papa baru mengatakan nya tadi pagi, jadi saya buru-buru kesini”
“Oh iya. Dan ini sekretaris saya” ujar nya memperkenalkan aku kepada orang tua Ben.
Jantung ku semakin berdegup kencang ketika Nicko menggeserkan tubuh nya dan coba memperlihat kan aku kepada semua orang di hadapan nya.
Dengan segenap keberanian ku, aku menunjukan wajah ku kepada kedua orang tua Ben yang terlihat langsung terkejut melihat diriku di hadapan mereka lagi,setelah pertemuan kami terakhir di rumah nya waktu itu.
“Kamu!” Panggil Mama Ben dengan mata yang terbelalak,membuat Nicko bingung mendengar Ibu Irene tampak mengenal ku.
Mama dan Papa Ben masih sangat terlihat terkejut melihat ku masih hidup dan berdiri di hadapan mereka.
“Kamu bekerja untuk Pak Ferdy?” Tanya Mama Ben terdengar keberatan.
“Betul” jawab ku dengan tersenyum namun perasaan masih saja takut.
“Ibu Irene kenal Fawnia?” Tanya Nicko dengan mengkerutkan kening nya.
Mata Mama Ben begitu mendelik menatap ku seolah masih menyimpan dendam.
“Tentu saya mengenal nya. Karena dia mantan istri dari anak saya” jawab nya dengan begitu sinis menatap ku.
Namun aku berusaha untuk tenang dan tidak menatap mata nya. Papa Ben hanya bisa diam tak bisa berkutik.
Nicko menatap ku dengan bingung,mungkin dia heran kenapa aku tidak memberitahukan tentang itu sebelum nya.
“Maaf Pak Ferdy. Saya hanya ingin tahu, kenapa anda bisa mempekerjakan dia sebagai sekertaris di perusahaan Bapak? Apa Pak Ferdy tidak tahu tentang kasus sebelum nya yang dia alami?” Ujar Mama Ben mencoba membahas masalah ku dulu kepada Nicko.
“Dia pernah menghancurkan bisnis yang sudah di bangun oleh anak saya Ben. Dan bahkan dia sempat kabur dengan membawa uang client. Bukankah rekam jejak dia sudah begitu buruk untuk sebuah perusahaan yang besar seperti yang di miliki Pak Ferdy ini?”
Aku masih menahan diri ku atas segala tuduhan yang sebenarnya tidak pernah ku lakukan itu. Namun Mama Ben begitu saja percaya dengan semua kebohongan yang di buat oleh publik karena pada dasarnya dia memang membenciku.
Nicko mengangkat satu halis nya mendengar wanita ini bisa begitu luas nya membeberkan masalah ku.
“Saya tahu tentang berita itu. Tapi saya juga percaya, jika bukan Fawnia yang melakukan nya” ucap Nicko berusaha membelaku.
“Bagaimana anda bisa percaya begitu saja? Masih banyak kebohongan lain yang ternyata dia sembunyikan dari kami selama ini Pak” Tanya Mama Ben terdengar sekali masih menyimpan begitu banyak dendam kepadaku.
__ADS_1
“Kebohongan apa?” Tanya Nicko berusaha untuk memancing Mama Ben berbicara.
Aku semakin terpojok, aku tidak tau harus melakukan apa. Mama Ben pasti akan membeberkan semua nya, termasuk masalah tentang Kara.
“Dia itu seorang pembohong. Bahkan pernikahan nya pun dia buat seperti permainan” ujar nya begitu keji.
Aku menatap Mama Ben dengan panik dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Nicko terus menatap Mama Ben dengan penuh penasaran,dia membiarkan Mama Ben untuk terus membuka suara.
“Maaf Pak. Tapi memang dia sudah memanfaatkan anak saya untuk bisa menikah dengan nya” ujar nya kembali dramatis bercerita di hadapan semua orang yang ada disana.
“Dia memanfaatkan kebaikan Ben untuk mau menikahi nya, padahal anak saya belum tentu mau dengan hati menikahi wanita seperti dia. Dan karena dia,saya menjadi kehilangan anak semata wayang saya!”
“Ma sudah cukup!” Ujar ku menghentikan nya untuk tidak terus mengungkit masa kelam itu.
“Berhenti memanggil saya Mama karena saya sudah bukan mertua mu lagi!” Ucap nya begitu kejam.
“Dan dia bahkan berbohong kepada kami tentang kehamilan nya” lanjut Mama Ben membuat ku semakin terkejut dan menatap nya panik.
“Dia tega meminta Ben untuk menikahi nya di saat dia sudah hamil dengan pria lain”
Bagaikan ada petir yang menyambar, hati ku begitu hancur mendengar apa yang di ucapkan Mama ben kepada Nicko. Mama Ben telah membongkar rahasia besar ku kepada Nicko.
“Sudah hamil lebih dulu?” Tanya Nicko memastikan ucapan Mama Ben.
“Iya. Dia hamil dengan orang lain tapi dia dengan tega meminta Ben yang bertanggung jawab, apa itu nama nya jika tidak tahu malu?” Caci Mama Ben dengan menatap ku dengan penuh kebencian.
Aku mengepalkan kedua tangan ku, untuk menahan rasa sakit ku ini. Nicko terlihat mengingat sesuatu dan mencerna suatu hal yang telah membuat nya berfikir keras.
“Dari mana anda tahu jika dia hamil bukan karena anak anda?” Tanya Nicko mengorek masalah itu agar melengkapi puzzle yang mungkin tengah ia susun dalam fikiran nya.
Mama Ben menatap Nicko dengan ragu.
“Ma sudahlah” pinta suami nya dengan memegang kedua bahu nya agar istrinya ini bisa lebih tenang,tapi Mama Ben terus menatap ku dengan amarah dan mengabaikan seluruh orang yang tengah memperhatikan kami.
“Karena anak saya memiliki suatu penyakit yang menyebabkan dia tidak bisa memiliki seorang anak. Bukan begitu Fawnia?” ucap Mama Ben akhirnya membuat Nicko membulat kan matanya.
Air mata ku tiba-tiba saja menetes di pipi ku,dan membuat ku kembali mengingat masa yang begitu kelam itu. Tubuh ku bergetar karena akhirnya semua rahasia yang aku pendam selama ini dari Nicko sudah terbongkar.
Nicko terlihat memikirkan sesuatu,dia berfikir begitu kencang sekali,seolah dia mengingat suatu hal yang begitu besar. Lalu dia membalikan badan nya dan menatap ku begitu dalam. Aku menatap mata Nicko dengan takut,aku takut dia menanyakan suatu hal yang tidak ingin aku dengar. Kami terus bertatapan dalam beberapa saat.
“Siapa Ayah kandung Karamel ?” Tanya Nicko akhirnya dengan nada yang tajam.
Mulutku terbuka namun tidak bisa berbicara. Aku bernafas begitu dalam dan menahan tangis ku. Mulut ku tiba-tiba terkunci tidak bisa menjawab pertanyaan Nicko yang begitu berat,namun tatapan Nicko sudah begitu jelas dia ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan nya. Aku begitu panik dan takut,lalu aku pergi dengan cepat meninggalkan mereka yang masih berkerumun melihat dramatis nya kejadian yang tengah mereka tonton dan berakhir setelah aku pergi.
Dengan cepat aku berlari keluar kantor dan menghentikan taksi yang hendak melintas di depan ku lalu masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu nya.
“Kemana Mbak?” Tanya supir taksi itu membuang waktu, membuat Nicko berhasil mengejar ku dan menggedor jendela mobil taksi ini.
“Fawnia keluar!” Pinta Nicko begitu menyeramkan.
“Jalan saja dulu Pak,nanti saya beri tahu” pinta ku buru-buru dan tak menghiraukan Nicko yang terus berusaha membuka pintu mobil.
“Fawnia tolong! Keluar dari mobil”
“Pak jalan saja” pinta ku kepada supir taksi yang heran melihat orang yang terus menggedor jendela mobil nya.
Lalu mobil taksi yang ku tumpangi pun akhirnya melaju meninggalkan Nicko yang berdiri di tempat nya dan terus menatap mobil taksi ku hingga hilang dari pandangan nya.
__ADS_1