Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Aku siap


__ADS_3

Ketika waktu nya makan malam. Kami bertiga menuju lantai bawah untuk menemui Mama dan Papa.


“Opa..!” Teriak Kara begitu melihat Opa nya yang sudah duduk di meja makan.


Dia berlari begitu saja kepada Opa nya. Dan Papa pun menyambut nya dengan bahagia. Seharian memang dia belum bertemu dengan Opa nya. Aku duduk dengan Nicko di samping Papa.


“Opa baru pulang?” Tanya Kara ketika dia telah duduk di pangkuan Papa.


“Iya Opa baru pulang sayang”


“Kara kangen Opa”


“O ya?” Tanya Papa tak percaya.


Kara menganggukan kepala nya.


“Opa. Kapan kita berenang?” Tanya Kara sambil cemberut.


“Hmm Kara kan masih sakit” ujar ku memperingati nya sambil membawa lauk ke piring bulat ku.


Kara semakin cemberut mendengar ucapan ku.


“Kara mau berenang?” Tanya Papa.


“Iya” jawab nya dengan masih saja mengerucutkan bibir nya.


“Oke. Kita berenang ya, tapi nanti setelah Opa tidak sibuk kerja, sekarang kan Opa nya masih harus kerja di kantor”


“Opa kerja nya lama juga?” Tanya Kara.


“Iya. Opa kan harus giat kerja, supaya beliin mainan yang banyak untuk Kara”


“Oke Opa” jawab Kara kembali ceria.


“Sudah sini. Opa nya mau makan dulu” pinta ku.


Mama segera mengambil Kara lebih dulu dan di duduk an di samping nya. Mama bantu membawa kan Kara makanan ke atas piring.


“Kamu tidur disini Nick?” Tanya Papa tersadar anak nya ikut duduk makan malam dengan nya.


“Iya Pa” jawab Nicko sambil memasukan daging ayam ke mulut nya.


“Iya Opa. Malam ini Papa tidur sama Kara sama Mama” ujar Kara dengan polos.


Seketika aku terdiam. Dan melirik Kara dengan diam-diam. Aku takut Mama dan Papa berfikir yang tidak-tidak tentang ku dan Nicko.


“Oh kalian akan tidur bersama?” Tanya Papa meledek ku dan Nicko.


“Bukan begitu Pa” tangkis ku dengan canggung karena malu dengan apa yang di fikirkan Papa.


“Tapi Kara minta untuk Nicko menemani nya tidur malam ini” lanjut ku membenarkan.

__ADS_1


“Loh kenapa hanya malam ini saja?” Tanya Mama.


“Iya karena..” ucap ku kembali berfikir.


“Karena mungkin malam ini Kara kangen Papa nya” jawab ku yang masih efisien.


“Nicko” panggil Papa kepada Nicko yang sedang serius untuk makan.


“Kapan kamu akan pindah kesini?”


“Nanti” jawab Nicko dengan dingin.


“Nanti kapan? Kasian Kara, dia sudah mau di temani Papa nya”


“Setelah aku menikah dengan Fawnia” jawab nya membuat ku membulatkan mata dan menatap nya.


Mama dan Papa pun ikut menatap ku dengan bingung sedangkan Kara terus saja makan tak mengerti situasi membingungkan ini.


“Jadi kapan akan di segerakan?” Tambah Mama dengan wajah yang sumringah.


Aku mulai terlihat bodoh,seketika aku bingung dan terlihat kikuk.


“Kalian harus segera menikah, Kara sudah semakin besar, Mama tidak mau hubungan kalian terus tidak jelas seperti ini tanpa ikatan ini akan berpengaruh untuk Kara kedepan nya” pinta Mama mulai serius.


Aku melirik Nicko yang ikut diam mendengar ocehan Mama.


“Bulan depan” jawab Nicko membuat ku semakin terkejut dan membulatkan mata menatap nya.


“Bagus lah. Karena Papa sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian, dan Papa tidak ingin hadiah ini di tunda semakin lama?”


“Hadiah?” Tanya ku.


“Iya. Papa sudah siapkan hadiah untuk pernikahan kalian”


Aku tak bisa berkutik, aku bingung harus menyangkal bagaimana dengan hal ini. Aku kesal kepada Nicko kenapa bisa dia memutuskan menikah di bulan depan, padahal kita belum berbcara apapun tentang hal ini.


Selesai makan aku,Nicko dan Kara kembali ke kamar untuk segera tidur. Kami bertiga sama-sama menggosok gigi di kamar mandi di depan bercermin. Sesekali aku melirik bayangan Nicko di cermin dengan kesal, dan menggosok gigi ku dengan begitu kuat nya. Setelah selesai Nicko kembali menggendong Kara ke tempat tidur besar ku dan kami mulai berbaring di atas nya.


Kara menjadi penghalang untuk ku dan juga Nicko. Aku menunggu Kara untuk tidur sampai aku akan membahas kembali pembicaraan di meja makan tadi. Nicko terlihat begitu menyayangi Kara, mata nya tak lepas memandangi wajah Kara yang mungil. Dia mengusap-usap pipi Kara dengan lembut lalu dia mengecup kening Kara. Kara pun tertidur dengan lelap.


Aku melirik Nicko dengan tajam.


“Aku mau bicara” ucap ku dengan berbisik.


“Aku tahu” jawab nya lalu dia bangun dari tidur nya dengan hati-hati dan pergi mengajak ku ke balkon untuk berbicara.


Aku menutup rapat pintu kamar dan menghampiri Nicko yang sudah bersandar di penyangga balkon dengan tampan. Ya dia selalu membuat kuterpana dengan ketampanan nya.


Aku berdiri di hadapan nya dengan tatapan kesal.


“Kenapa bisa kamu bilang kalau kita akan menikah bulan depan?”

__ADS_1


“Kamu mau kapan?” Tanya Nicko.


“Ya.. setidak nya jangan terlalu cepat”


“Aku tanya kamu mau kapan?”


Aku diam untuk beberapa saat.


“Aku tidak tahu, aku belum siap” jawab ku akhirnya dengan begitu jujur.


Nicko memasukan kedua tangan kepada saku celana parasit nya.


“Kalau aku menunggu mu untuk siap, aku yakin kamu tidak akan pernah siap. Aku harus memaksa mu untuk mau menikah,walaupun aku tidak tahu bagaimana perasaan mu sekarang terhadapku”


Aku diam mendengar ucapan nya. Kenapa bisa dia tidak tahu bagaimana perasaan ku kepada nya setelah apa saja yang sudah kita lalui. Apa hanya karena aku terlihat tak acuh kepadanya ? Atau karena aku tidak pernah lagi mengatakan cinta kepada dia ?


“Tapi jika kamu tidak bisa melakukan ini untuk ku sekarang, lakukan lah demi Kara. Karena semua yang aku lakukan hanya untuk dia, aku ingin kita merawat Kara bersama-sama dalam ikatan hubungan pernikahan” ujar Nicko begitu dalam.


Aku menatap ketulusan dari dalam tatapan Nicko. Dia begitu tulus dan begitu menyayangi Kara. Aku tidak bisa menolak keinginan nya untuk membahagiakan anak ku,dan harusnya dia tahu walaupun aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku, aku masih tetap mencintai nya sama seperti dulu, hanya saja, pernikahan? sepertinya terlalu cepat.


Aku masih saja diam memikirkan kata-katanya. Nicko memegang pipi ku dengan lembut.


“Aku juga mau membahagia kan mu, ini adalah impian masa kecil ku, menikah dengan mu. Kamu lupa itu?” Tanya Nicko membuat ku kembali ke masa kecil kami.


Ketik kami kecil dan masih duduk di bangku dasar, aku kerap sekali meminta Nicko untuk terus menemani ku di sekolah,karena aku memang penakut,dan hanya kepada Nicko lah aku selalu berlindung. Nicko selalu bilang kepada ku, jika dia akan menemani ku selama nya, sampai kami menikah nanti. Itu hanyalah ucapan masa kecil kami, dan saat itu pun kami tidak mengerti apapun tentang pernikahan, namun Nicko selalu bilang jika suatu saat kita akan seperti Papa dan Mama nya yang selalu bersama.


“Aku tahu mungkin ini bukan waktu dan suasana yang tepat, tapi aku memikirkan apa yang kamu katakan di kantor tadi. Seharusnya bukan seperti itu aku mengajak wanita untuk menikah,bukan dengan cara menekan dia,atau memaksa dia. Dan sekarang aku mau memperbaikinya” ujar Nicko semakin membuat ku tegang.


Dia mengeluarkan sesuatu dari kantung celana nya. Itu adalah sebuah box kecil berwarna merah, terbuat dari beludru halus. Aku semakin terkejut melihat Nicko berlutut di hadapan ku dengan terus memegang box merah itu di tangan nya. Angin berhembus kencang malam ini, membuat suasana menjadi tambah romantis.


“Fawnia. Dari dulu aku hanya mencintai mu, dan akan terus selalu seperti itu. Aku ingin kita selalu bersama, merawat Kara bersama, dan menjalani masa depan kita bersama. Aku tidak ingin wanita lain,dan aku hanya ingin denganmu selamanya. Will you marry me?” Ucap Nicko dengan begitu manis nya.


Tidak terasa air mata ku keluar begitu saja dan mengalir di pipiku. Aku menangis karena tidak menyangka hal ini akan terjadi. Nicko teman masa kecil ku, cinta pertama ku bahkan cinta yang sampai saat ini aku rasakan, dia sudah tumbuh dewasa bersama ku dan mengajak ku untuk menikah.


Nicko menungguku untuk berbicara,aku menahan tangisku dulu untuk menjawab nya.


“I Do” jawab ku dengan tersenyum bahagia namun dengan deraian air mata.


Wajah tegang Nicko berubah menjadi terkejut, dia tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.


“What?” Tanya nya sekali lagi.


“Aku mau Nicko. Aku mau menikah dengan mu” jawab ku dengan begitu jelas dan haru.


Nicko langsung berdiri dan memeluk ku dengan begitu erat. Dia melepaskan pelukan nya dan menatap ku.


“You still loved me?” Tanya nya menyelidik wajah ku.


“Kamu fikir selama ini aku bisa begitu saja melupakan mu ? Apalagi sekarang ada Kara di kehidupan ku yang selalu membuat ku melihat kamu di dalam diri Kara. Aku masih mencintai mu Nicko dan akan selalu seperti itu” jawab ku.


Wajah Nicko kembali bahagia dia begitu senang lalu dia segera membuka box merah itu. Itu adalah cincin berlian bermata satu,cincin itu begitu cantik dan elegant sekali, aku tidak tahu kapan Nicko mempersiapkan cincin itu.

__ADS_1


Dia menyematkan cincin di jari manis ku,dan aku melihat begitu cantik cincin ini di jari ku. Lalu kami kembali berpelukan dengan bahagia.


__ADS_2