Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Mempercayai Riri


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Aku masih berjibaku berusaha mengurus kantor cabang Papa dengan baik. Sejauh ini tidak ada masalah, Riri pun selalu bisa menangani segala macam kendala yang menghambat jalan nya pekerjaan kami. Aku mulai di sibukan dengan jabatan ku sebagai Direktur. Aku tidak terlalu menyukai status ku sekarang, bukan karena aku tidak bisa menangani nya, tetapi pekerjaan ku menjadi terlalu banyak dan menjadi banyak di kenal orang, berbeda dengan statusku sebagai sekretaris, yang jarang sekali di sorot dan di perhatikan orang-orang.


Aku juga jadi selalu telat pulang ke rumah karena jarak tempuh yang lebih jauh yang harus aku tempuh membuat aku tidak memiliki banyak waktu untuk di rumah. Namun untung saja Nicko bisa mengerti itu, dan Kara pun bisa di beri pengertian jika ini tidak akan berlangsung lama.


Dan setiap kali aku pulang, aku selalu mendapati Kara telah tertidur pulas dan Nicko duduk di kursi luar kamar untuk menungguku. Dia pasti selalu menanyakan kegiatan ku di kantor, dan menanyakan kendala apa saja yang tidak bisa aku tangani disana. Dia masih begitu khawatir namun dia masih bisa terima dengan kesibukan ku. Karena dia pun pasti sedang sibuk mengurus perusahaan yang hampir droop karena masalah Ben. Dan dalam diam pun aku berusaha membantu Nicko mengembalikan perushaan kami seperti semula.


Di tengah pertemuan ku dengan client di kantor, aku mendapatkan sebuah telepon masuk di ponsel ku yang di pegang Riri. Riri membantu mengangkat telepon itu, dan aku terus berbicara kepada client ku menjelaskan tentang kerja sama kita.


Riri menghampiri ku dengan raut wajah panik.


“Maaf” ucap Riri kepada tamu yang ada di hadapan ku, lalu dia mendekatkan wajah nya di telinga ku.


“Telepon dari Ben”


Aku terkejut mendengar nama Ben di sebut nya. Aku langsung menatap Riri, dan dia menunjukan telepon itu masih tersambung di ponsel ku. Aku menatap kedua tamu ku.


“Saya permisi sebentar untuk menjawab telepon penting” pinta ku dengan sopan meminta izin.


“Oh iya silahkan” jawab tamu ku yang begitu baik.


Aku mengambil alih ponsel yang ada di tangan Riri dan keluar dari ruang meeting.


“Hallo”


“Hay Faw” sapa Ben dengan menyebalkan.


“Bagaiman kabarmu?”


“Tidak perlu basa basi, ada apa kamu menghubungi ku?” Tanya ku kesal.


“Ini sudah satu minggu Faw dan kamu masih belum memberikan jawaban”


Riri ikut keluar dari ruang meeting.


“Sebenarnya kamu ingin proyek kita kembali berjalan atau tidak? Kesuksesan perusahaan mu sekarang ada di tangan mu, kamu harus memikirkan dengan matang untuk mengabaikan perusahaan mu”

__ADS_1


“Ben. Tentu aku mau perusahaan ku tetap bertahan, tetapi kamu membuat pilihan yang terlalu berat”


“Berat? Aku hanya meminta kamu menemani ku Fawnia, selama proyek itu berjalan. Aku hanya ingin kembali merasakan ada di dekat mu, bisa di perhatikan oleh mu” ujar Ben dengan masih saja terdengar enteng.


Aku langsung meminta Riri membawa I-pad nya dengan isyaratan gerakan tangan. Lalu Riri kembali masuk ke dalam ruang meeting untuk membawa I-pad nya. Dengan cepat aku mengambil Pad nya dan menyelipkan ponsel di telinga dan bahu ku.


“Oke beri aku waktu…” ucap ku menggantung dengan terus mencari sesuatu di Pad nya.


“3 hari lagi untuk memberikan keputusan” ucap ku setelah menemukan jadwal pertemuan ku dengan cewe sialan itu di adakan besok lusa.


“3 hari?” Tanya Ben.


“Ya aku butuh waktu cukup lama untuk memikirkan nya”


“Oh 3 hari bukan waktu lama untuk aku menunggu mu”


“Ya, dan 4 tahun pun bukan waktu yang lama untuk memberikan keputusan yang tepat untuk meninggalkan mu kan ?” Ledek ku, dengan membahas kembali kenangan pahit itu.


Ben terdiam tak menjawab, mungkin dia sedang memikirkan ucapan ku yang menyakitkan.


“Aku masih ada kepentingan, jangan hubungi aku lagi sebelum aku yang menghubungimu!” Lalu aku menutup telepon nya dan kembali memberikan ponsel kepada Riri dengan kesal.


“Relaks Faw, tenang dulu, lo masih ada client di dalem. Selesaikan dulu urusan mu yang ini, lalu lo boleh marah-marah sepuas hati lo di ruangan nanti” ujar Riri mengingatkan ku dengan situsi sekarang.


“Oke”


Aku menarik nafas ku begitu dalam dan mengeluarkan nya lewat mulut dengan perlahan, lalu setelah tenang aku kembali masuk ke dalam ruang meeting dan bertemu dengan client ku.


Setelah beberapa saat aku dan Riri kembali ke ruangan ku dan duduk di meja kerja ku dengan begitu lega nya.


“Cape banget gue” rintih Riri yang duduk dengan lelah di sofa tamu.


“Gue juga” ucap ku sambil mengibaskan tangan membuat angin untuk leher ku yang berkeringat.


“Gue ga sabar besok lusa ketemu sama cewe sialan itu” ucap ku sambil bersandar dengan santai di kursi ku dan menatap langit-langit ruangan dengan membayangkan bertemu dengan Shiella.


“Misi kita harus lancar, dan harus serapih mungkin jangan sampe Pak Rio tahu ini”

__ADS_1


“Iya gue udah muak banget kerja disini, gue kangen kantor gue, gue kangen kerja bareng Nicko dan kangen banyak waktu sama Kara”


“Oh iya. Gimana sama Kara, bukan nya dia anak dari Ben ya” tanya Riri yang masih belum tahu tentang Kara.


Aku diam dan memikirkan jawaban ku untuk menjawab pertanyaan nya. Apakah aku masih harus berbohong kepada Riri atau bisa jujur saja.


“Ri” panggil ku kepada Riri tanpa menoleh kepadanya.


“Hm” gumam Riri menyauti panggilan ku.


“Apa gue masih bisa percaya sama lo?” Tanya ku dengan melamun.


“Kenapa?”


“Ada sesuatu yang mau gue ceritain sama lo, tapi gue minta ga ada lagi yang tau tentang ini termasuk temen-temen deket lo”


Terdengar suara terkekeh dari mulut Riri, dia menertawakan ucapan ku.


“Kalau lo masih ragu sama gue, ngapain lo ajak gue ke permainan detektif-detektif an lo ini?” Tanya Riri sambil terus menertawakanku.


“Kara itu bukan anak Ben” ucap ku akhirnya sambil melirik Riri untuk melihat ekspresi nya.


Dan ya sesuai perkiraraan ku. Riri terkejut dan menatap ku dengan bingung.


“What!”


“Kara itu anak Nicko”


“Hah!” Riri semakin terkejut mendengar apa yang aku katakan.


Dia langsung berjalan dengan cepat menghampiri ku dan duduk di hadapan ku untuk mendengarkan lebih jelas cerita ku.


“Kara anak Pak Nicko?”


“Iya”


“Kok!”

__ADS_1


Lalu dengan tenang aku menjelaskan semua kepada Riri orang baru yang bisa aku percaya. Aku hanya merasa jika Riri juga bisa menjaga rahasia ku seperti Keysa, dan dia pasti bisa di percaya dan di andalkan untuk menyimpan semua rahasia ini baik-baik.


__ADS_2