
Aku hendak pergi ke luar ruangan Nicko karena sudah begitu muak melihat wajah Ben.
“Fawnia tunggu” Ben menahan tangan ku.
“Lepaskan aku!”
“Tunggu dulu aku perlu menjelaskan nya”
“Aku tidak mau mendengar nya!”
“Fawnia. Kamu harus ingat, aku yang telah menolong kamu sampai kamu masih bisa hidup hingga sekarang”
Aku terdiam mendengar ucapan nya, lalu kembali menatap nya dengan tajam. Aku menghempaskan tangan ku dengan kuat dan terus menatap nya dengan sangat keji.
“Dengarkan aku baik-baik. Jika saat itu pun kamu tidak datang, seperti nya aku akan jauh lebih baik jika aku mati. Karena setelah aku menikah dengan kamu, aku masih selalu merasa kesepian, orang tua mu pun tidak pernah menganggap ku ada, dan aku hanya hidup dalam keterperukan ku Ben, sebelumnya yang aku miliki hanya kamu, kamu yang selalu menguatkan aku. Tapi kamu malah menghilang Ben, dan berpura-pura mati, dan kamu hanya meninggalkan kesengsaraan saja untuk aku, aku semakin tertindas oleh keluarga kamu, aku semakin tertekan dengan bisnis yang kamu berikan, jadi sebenarnya,memilih menikah dengan mu adalah kesalahan terbesar dalam hidup ku”
Ben diam mendengarkan cacian ku. Dia tidak bisa berkata apapun. Aku mengusap air mata ku dan melipatkan kedua tangan di dada untuk menenangkan diri menghadapi Ben, mengeluarkan seluruh isi hati ku kepadanya.
“Kamu tahu Ben?”
“Ternyata orang tua Nicko tidak seperti apa yang aku bayangkan. Setelah mereka semua tahu tentang anak ku, mereka malah semakin menyayangiku, bahkan meminta ku segera menikah dengan Nicko. Mereka juga begitu menyayangi Karamel, anak ku, tidak sedikitpun mereka terlihat mencaci atau pun mengusir ku seperti apa yang di lakukan keluarga mu” Ben tampak terkejut mendengar nama Kara ku sebut.
“Karamel?”
“Yah. Karamel” jawab ku dengan menganggukan kepala.
“anak ku dengan Nicko” jawab ku dengan begitu jelas.
Ben tampak tidak menerima ucapanku.
“Apa?” Tanya nya tak percaya.
__ADS_1
“Tapi kita sudah sepakat untuk menjadikan Karamel sebagai anak ku Fawnia, kamu sudah berjanji untuk hal itu!” Ucap Ben dengan kesal sambil terus memainkan telunjuk nya menunjuk ku dan menunjuk dirinya, mengekspresikan kekesalan nya.
“Perjanjian yang kita buat hanya ketika saat orang tua kamu tidak mengetahui semuanya. Dan sekarang, mereka sudah mengetahui semuanya Ben, aku sudah tidak tahan lagi menahan semua rahasia mu sendiri, semua itu hanya beban untuk ku”
“Kamu tidak bisa melakukan itu Fawnia” ujar Ben tidak menerima semua kenyataan yang telah ku rubah.
“Aku bisa melakukan nya, karena dengan kamu berpura-pura mati, kamu sudah memutuskan tali pernikahan kita,dan membatalkan segala perjanjian yang kita buat. Dan satu lagi, di dalam perjanjian yang kita buat, tidak ada point untuk berpura-pura mati demi kepentingan pribadi!”
“Mulai dari sekarang jauhi aku dan juga Kara!” Pinta ku dengan begitu tajam.
Lalu aku kembali pergi melangkah meninggalkan Ben dan ketika aku membuka pintu Nicko sudah lebih dulu membuka kan pintu. Dan dia mendapati Ben mencengkram tangan ku.
“Lepaskan aku!” Pinta ku dengan emosi,lalu aku menghempaskan kembali tangan ku dengan kencang sehingga tangan ku berhasil terlepas dari genggaman nya.
“Aku belum selesai Fawnia, aku belum sempat menjelaskan apapun”
“Aku sudah bilang aku tidak memerlukan penjelasan apapun”
“Pak Ben. Jika ada yang perlu di bicarakan kita bisa bicarakan nya nanti, hari ini saya ada keperluan dengan client saya” ujar Nicko dengan tenang.
Ben menatap Nicko dengan sinis. Dia menghampiri Nicko dengan kesal.
“Dengarkan saya baik-baik ! Fawnia masih berstatus istri saya, dan saya tidak akan pernah membiarkan dia menikah lagi dengan pria lain termasuk anda!” Ucap Ben memberikan peringatak kepada Nicko.
Nicko menatap nya dengan dingin namun tajam.
“Apakah kita akan membawa nya ke jalur hukum seperti apa yang telah orang tua anda lakukan kepada Fawnia?” Ujar Nicko menyindir tentang orang tua Ben yang tega memperkarakan urusan hak asuh Kara.
“Mereka ingin merampas hak asuh Kara dengan mengambil jalur hukum, padahal Kara bukan lah cucu mereka kan? Dan sekarang anda ingin menganggap Fawnia masih istri anda,sementara selama 4 tahun ini anda tidak memberikan dia kehidupan yang layak sebagai istri dan juga memberikan dia kebahagiaan? Apakah pantas anda di anggap menjadi seorang suami?”
Ben terlihat mengepalkan tangan. Dia terlihat sekali marah dan ingin menghajar Nicko jika saja ini bukan lah kantor Nicko.
__ADS_1
“Kara adalah anak saya, dan saya pun tidak akan pernah melepaskan Fawnia lagi. Saya akan menjadi ayah yang baik untuk Kara, dan suami yang bertanggung jawab untuk Fawnia”
Ledek Nicko dengan begitu tenang nya, namun membuat hati Ben seperti nya membara.
“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Sekarang silahkan anda pergi, dan urusan kita hanya sebatas kerja sama,tidak ada lagi hal yang lain yang perlu di bicarakan”
Ben menatap Nicko dengan sinis.
“Masalah ku dengan Fawnia belum selesai” ujar nya lalu dia melirik ku.
“Aku akan menemui mu lagi. Tunggu aku” ucap Ben membuat ku khawatir.
Lalu Ben pergi dari ruangan Nicko dengan kesal dan membuka pintu dengan begitu kencang nya.
Aku mengambil nafas begitu dalam, dan menghembuskan nya dengan berusaha tenang. Aku mengendalikan diri ku, aku masih begitu tidak percaya jika aku telah berdebat dengan Ben, orang yang aku anggap telah tiada dan orang yang aku tangisi setiap saat karena aku kira aku telah bersalah atas kepergian nya. Dan dia malah muncul kembali di hadapan ku dengan mengusik ku juga Nicko.
“Fawnia” Nicko memegang kedua lengan ku.
“Nicko aku..” ucap ku dengan panik kepadanya.
“Fawnia” Nicko terus saja menenangkan ku dengan menatap mataku begitu dalam dan menyentuh kedua lenganku.
“Jangan sampai laki-laki itu mengusik fikiran mu, dia tidak akan pernah bisa mengganggu mu ataupun Kara. Aku akan menjaga kalian sekuat tenaga ku,aku tidak akan membiarkan dia menyakiti kalian sedikit pun” ucap Nicko menenangkan ku.
“Aku hanya sakit hati kepadanya Nick. Aku merasabodoh karena selama ini aku selalu berdo’a untuk nya di surga sana, bahkan aku selalu merasa bersalah karena ku kira kepergian nya di sebabkan oleh ku, setiap saat aku berdo’a agar aku bisa mengulang waktu dan berharap tidak pernah bertemu dengan nya Nick. 4 tahun aku merasa terpuruk karena kepergian nya, aku merasa kesepian dengan Kara, aku bertahan hidup hanya untuk Kara Nick, Ben begitu jahat, dia benar-benar jahat” ucap ku sambil menangis.
Nicko menarik ku ke dalam pelukan nya.
“Maafkan aku” lirih nya yang terus memeluk ku dengan erat.
“Maafkan aku karena aku terlambat menemukan mu dengan Kara. Maafkan aku karena aku membiarkan kamu menikahi pria itu, maafkan aku karena kamu harus menghidupi Kara sendirian selama ini. Aku minta maaf” ucap Nicko penuh dengan penyesalan.
__ADS_1
Tangis ku semakin pecah. Kesedihan ku kini mulai kembali lagi, dan semua ini lagi-lagi karena Ben. Aku sangat membenci nya, aku tidak ingin bertemu lagi dengan nya.