
Selesai mandi dan mengganti pakaian dengan baju babydoll untuk tidur aku berbaring di samping Kara yang tertidur nyenyak. Aku begitu gundah, memikirkan apa yang tengah di bicarakan oleh keluarga Kirana dan keluarga Nicko di bawah.
Aku resah menunggu Nicko. Aku tidak bisa tidur, aku penasaran dan ingin tahu apa yang sedang di bahas mereka. Sepintas aku ingin sekali turun ke bawah dan menguping pembicaraan mereka, namun akan sangat memalukan jika aku ketahuan oleh mereka. Akhirnya aku hanya bisa terus khawatir di atas tempat tidur ku.
Suara pintu kamar terbuka, aku langsung bangun dan menatap Nicko dengan khawatir.
“Bagaimana?” Tanya ku langsung.
Nicko menutup kembali pintu kamar ku dan berjalan menghampiriku.
“Bisakah setidak nya aku mandi dan mengganti pakaian ku dulu?” Pinta Nicko.
“Waktu mu hanya sebentar”
Nicko menatapku dengan merenyitkan dahi.
“Ayo cepat mandi, aku ingin segera tahu ceritanya” ucap ku mengusir dia dari hadapan ku.
Beberapa saat kemudian Nicko keluar dari kamar mandi dengan baju polos berwarna abu dan celana berwarna putih panjang. Aku dengan tidak sabar menunggu Nicko duduk di kursi balkon dengan tidak bisa diam. Rasanya begitu lama sekali dia mandi, mungkin karena aku terus menunggu nya segera selesai.
Nicko akhirnya datang dan duduk di samping ku. Aku membenarkan posisi duduk ku untuk segera mendengarkan dengan seksama cerita Nicko.
“Bagaimana?”
“Kami sepakat untuk membatalkan pernikahan kami” ucap Nicko membuat ku memutarkan bola mata ku.
“Aku sudah tau itu akan terjadi, tapi alasan apa yang kalian katakan kepada Kirana untuk membatalkan pernikahan kalian?” Tanya ku dengan raut wajah penasaran.
Nicko menatap ku dengan dingin,lalu dia kembali memandang ke depan untuk bercerita.
Beberapa saat lalu di ruang tamu.
Setelah membaringkan Kara di tempat tidur,Nicko kembali ke lantai bawah menemui keluarga Kirana yang katanya telah menunggu Nicko dari sore hari.
“Hallo Pak Handoko, hallo tante” sapa Nicko kepada ke dua orang tua Kirana.
Nicko duduk di antara Papa dan Mama nya, tepat berhadapan dengan ketiga tamu yang ada di hadapan nya.
“Kamu habis mengantar anak Fawnia ke rumah sakit?” Tanya Papa nya Kirana mulai ber basa basi.
“Iya Pak. Hari ini jadwal check up dia”
“Iya Mama mu sudah menceritakan kecelakaan anak Fawnia kepada kami semua tadi”
Nicko menganggukan kepala nya.
“Nak Nicko. Maaf,Tante mau tanya. Kamu kemana saja selama ini?” Tanya Mama nya Kirana.
__ADS_1
“Kirana bilang kamu kerap kali menghilang bahkan tidak membalas pesan nya satupun. Kalian ini kan sudah bertunangan, dan kalian pun harus segera merencanakan pernikahan kalian jangan terus di tunda seperti ini” ujar Mama Kirana begitu tegas.
“Iya Nak Nicko. Sudah banyak sekali yang menanyakan kepada kami berdua tentang kapan pernikahan kalian akan di gelar” sambung Papa Kirana.
Nicko menatap kedua orang tua nya dahulu sebelum dia menjawab semua pertanyaan nya.
“Bu Cantika” panggil Mama kepada Mama Kirana.
Kedua orang tua Kirana langsung menoleh secara bersamaan kepada Mama.
“Maaf bu saya mau menanyakan sesuatu dulu kepada kalian” ujar Mama dengan begitu ramah.
“Maaf Bu. Ada suatu hal yang tidak pernah di ketahui oleh Kirana tentang Nicko sebelum nya” ucap Mama begitu membuat terkejut Papa dan Nicko.
Nicko dan Papa takut jika Mama akan begitu saja menceritakan tentang Kara kepada keluarga Kirana.
“Apa itu tentang alergi Nicko dengan biji wijen?” Ujar Kirana teringat tentang acara makan malam nya yang telah di kacau kan dengan kehadiran ku saat itu.
Mama tersenyum dengan manis.
“Mungkin itu adalah salah satu hal kecil nya” jawab Mama semakin membuat bingung semua orang di ruang tamu.
“Nicko memiliki suatu penyakit keturunan Pak Handoko Bu Cantika” ujar Mama akhirnya.
Membuat Nicko tetap saja terkejut mendengar hal yang selalu di sembunyikan oleh Mama dan Papa nya kepada semua orang.
“Iya Pak Handoko”
“Nicko memiliki penyakit thalassemia, penyakit yang di turunkan oleh Papa saya dan sekarang di alami oleh Nicko, dan kemungkinan bisa terjadi juga kepada anak Nicko suatu saat nanti. Walaupun penyakit thalassemia yang kami alami tergolong tidak berbahaya, namun tetap saja itu adalah penyakit kan?”
“Thalassemia?” Tanya Kirana kepada kedua orang tua nya.
“Itu penyakit kelainan darah” jawab Papa Nicko menjawab pertanyaan Kirana yang tidak bisa di jawab oleh kedua orang tua nya yang masih saja shock terdiam.
“Apa penyakit itu bisa sembuh?”
Mama Nicko kembali tersenyum dengan pertanyaan Kirana.
“Jika penyakit itu bisa sembuh, tentu saya tidak akan menurunkan nya kepada Nicko” jawab Mama dengan ramah.
“Saya pun dulu,harus selalu di transfusi darah setiap 2 bulan sekali jika ingin hidup normal, dan sekarang penyakit thalassemia saya sudah berangsur ke level yang lebih baik menjadi thalassemia minor. Dan Nicko pun selalu harus mendapatkan transfusi darah setidak nya 4 kali dalam setahun, karena penyakit nya lebih cepat di tangani di banding saya. Namun tetap saja penyakit itu belum ada obat nya untuk bisa sembuh total”
Orangtua Kirana terlihat terdiam dan berfikir dengan keras.
“Kenapa kalian baru menceritakan tentang ini kepada kami? Kenapa sejak awal Nicko tidak pernah menceritakan apapun kepada anak saya atau kepada kami?” Tanya Mama Kirana berusaha tersenyum.
“Maaf Bu, bukan maksud kami untuk menyembunyikan penyakit yang kami alami, namun saya kira, jika Kirana adalah jodoh Nicko, apapun kekurangan yang di miliki Nicko Kirana akan menerima nya. Saya memang keliru, seharusnya saya tidak terlalu percaya diri untuk mengira kalian akan menerima kekurangan Nicko dengan lapang dada setelah tahu kekurangan Nicko. Namun saya baru menyadari, hal ini adalah hal yang sangat penting, karena menyangkut keturunan yang akan kita semua miliki” ucap Mama dengan begitu hati-hati.
__ADS_1
Kedua orang tua Kirana saling melempar pandang,dan Kirana pun terlihat begitu bingung entah dia harus berkata apa.
“Sekali lagi kami minta maaf”
“Aku selalu menerima kekurangan Nicko tante. Apapun yang di alami Nicko aku sudah menerima sebelum nya” ujar Kirana membuat terkejut kedua orang tua nya.
Mama nya memegang tangan Kirana untuk memperingati nya.
Nicko terus saja terdiam tak berkata sedikit pun, dia membiarkan Mama nya yang mengambil alih, dan Papa pun hanya bisa diam karena semua nya sudah di wakilkan oleh Mama.
“Pak Rio, Bu Shinta, Nicko. Seperti nya kami harus membicarkan tentang ini dulu secara pribadi. Mohon maaf bukan maksud kami tidak menghargai kejujuran kalian ataupun rasa percaya diri kalian, tapi kami tetap harus merenungkan dengan matang tentang semua ini” ujar Pak Handoko dengan bijaksana.
Mama yang sudah mengetahui tentang respond keluarga Kirana hanya bisa menganggukan kepala sambil tersenyum dengan manis.
“Tapi Ma..” ujar Kirana dengan panik.
“Kirana. Kita bicarakan dulu ini di rumah ya” ujar Mama nya.
Kirana hanya bisa terdiam dengan pasrah dan mengikuti kedua orang tua nya berdiri untuk pulang.
“Kami permisi Pak Rio, Bu Shinta” pamit kedua orang tua Kirana.
“Baik Bu. Hati-hati untuk kalian”
“Baik terima kasih”
Lalu Kirana dan keluarga nya pun pergi dari rumah ini. Dan Kirana terus saja menatap Nicko dengan penuh rasa takut, sementara Nicko hanya menatap dingin Kirana yang pergi menjauh dari rumah nya dengan mobil mereka.
Nicko bernafas dengan lega lalu menatap kedua orang tua mereka.
“Apa ini tidak akan berpengaruh dengan perusahaan kita?” Tanya Nicko kepada kedua orang tua nya yang sudah kembali duduk di ruang tamu dengan bernafas lega.
“Kara lebih penting untuk Mama” ujar Mama dengan tegas.
“Ya, Mama benar. Papa tidak peduli jika Pak Handoko akan menarik semua aset yang dia simpan di perusahaan kita, kita bisa mulai lagi dari awal dan mencari rekan kerja yang lain”
“Apa semudah itu?” Tanya Nicko kepada Papa nya.
“Papa berharap seperti itu” jawab Papa nya dengan wajah yang ragu.
Mama mengelus tangan Nicko dengan lembut.
“Nicko. Kamu sudah terlanjur memiliki anak dari Fawnia, Mama dan Papa selalu mengajarkan mu tentang tanggung jawab, dan ini adalah salah satu tanggung jawab terbesar mu dengan menikahi Fawnia. Mama pun yakin, kalau pun dulu Fawnia telah mengetahui tentang penyakit mu, dia dan orang tua nya akan menerima segala kekurangan mu, mereka akan senantiasa menerima segala konsekuensi yang ada, Fawnia adalah orang yang tepat Nick, Mama sudah tidak peduli lagi dengan kesuksesan kamu di bidang bisnis, Mama sekarang hanya peduli kepada kebahagiaan kamu dan Cucu Mama” ujar Mama begitu menyentuh.
Nicko tampak begitu bersedih, namun dia menahan air mata nya, dia memeluk Mama dan Papa nya secara bersamaan begitu erat.
Dia sangat berterima kasih kepada orang tua nya karena akhirnya mereka telah memberikan kebahagiaan yang seutuhnya.
__ADS_1