Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Kebahagiaan yang sebenarnya


__ADS_3

Aku terkejut melihat Ben yang sudah berdiri di hadapan kami bertiga. Ben menatap ku dengan tersenyum, lalu dia menatap Kara yang yang tengah di gandeng oleh ku juga Nicko.


Ben berjalan menghampiri kami. Dan kami bertiga hanya terdiam di tempat kami dengan bingung.


“Fawnia” sapa Ben lagi dengan lembut.


“Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya ku dengan tidak ramah.


“Aku sedang ada urusan”


“Lalu apa yang kamu lakukan disini?” Tanya nya balik.


“Aku juga sedang ada urusan” jawab ku dengan ketus.


Lalu dia menatap Kara dengan tak percaya. Aku juga yakin Kara pun pasti bingung melihat Ben, karena dulu dia sering sekali melihat wajah Ben di ponsel ku. Namun aku sangat berharap jika Kara melupakan wajah Ben.


“Apakah ini?” Tanya Ben menatap ku.


“Iya” jawab ku dengan sinis.


“Dia anak ku” lanjut ku dengan tidak ramah.


Ben berjongkok menatap mata Kara dengan begitu dalam. Aku melihat kesedihan yang tersirat di wajah nya. Bagaimana pun dulu ketika Kara di dalam kandungan ku, Ben lah yang selalu mengelus perut ku dan mengajak nya berbicara. Dan dia memang telah menyayangi Kara sebelum Kara lahir ke dunia ini.


“Karamel” panggil Ben dengan begitu lemah.


Kara menatap ku dengan bingung. Aku yakin, Kara pasti telah melupakan wajah Ben yang sering di lihat nya di ponsel ku.


Nicko sama sekali tidak keberatan melihat Ben menyapa Kara dia membiarkan Ben berbicara dengan Kara.


“Kamu sudah besar, kamu juga sangat cantik, aku tidak menyangka dia bisa secantik ini seperti mu Fawnia” ujar Ben memuji ku.


Namun aku tidak merasa terpuji dengan ucapan nya.


“Terima kasih Om” jawab Kara dengan manis.


Ben tersenyum mendengar suara Kara yang begitu lucu.


“Wajah Om seperti Papa Ben yang ada di ponsel Mama dulu” ucap Kara membuat ku terkejut.


Aku menatap Nicko yang ada di samping ku. Karena ternyata Kara masih mengenali wajah Ben.


Ben pun ikut terkejut sekaligus senang mendengar apa yang di katakan Kara.

__ADS_1


“Iya. Ini Papa Ben, ini Papa Ben. Kara kenal dengan Papa Ben?” Ucap Ben dengan begitu senang nya.


Kara menggelengkan kepala nya.


“Tidak Om. Kata Mama, Papa Ben sudah meninggal dia sudah ada di surga” jawab Kara dengan polos nya.


Ben tampak lemas mendengar ucapan Kara.


“Benar sayang. Papa Ben yang sering Mama ceritakan, dia sudah meninggal, dan orang meninggal tidak mungkin hidup kembali kan ?” ujar ku dengan sinis.


“Pa. Kara lapar” ucap Kara kepada Nicko yang tambah membuat Ben terkejut.


“Lapar?” Jawab Nicko dengan tersenyum.


Lalu Nicko menggendong Kara untuk menjauhkan Ben darinya.


“Kita cari makan ya. Kita pergi ke Restaurant favorit Kara” ucap Nicko.


Lalu Nicko pergi meninggalkan ku dengan Ben. Nicko begitu mengerti jika aku ingin berbicara sebentar kepada Ben, jadi dia membawa Kara pergi lebih dulu.


Ben bangun dari jongkok nya, dan aku melihat wajah kecewa Ben yang begitu tersirat.


“Kamu tidak pantas berkata seperti itu kepada Kara. Kamu itu bukan Papa nya! Bahkan kamu menemani aku membesarkan nya saja tidak!” Ucap ku dengan emosi.


“Lalu kemana kamu selama ini?”


“Aku sudah bilang aku ada masalah yang sangat berat yang menyebabkan aku harus melakukan semua ini”


“Alasan itu tidak cukup kuat untuk aku Ben! Alasan kamu tidak sebanding dengan apa yang aku alami selama ini”


“Tapi aku mau kita bisa bersama kembali dan bisa membesarkan Kara bersama-sama”


“Terlambat Ben. Kara sudah menemukan Papa kandung nya, dan kita bertiga sudah memutuskan untuk hidup bersama”


“Kamu tidak bisa melakukan ini. Kamu sudah berjanji kepada ku agar anak yang ada di kandungan mu akan menjadi anak ku. Selama kamu hamil aku yang sudah menjaga dan merawat dia kan? Bukan Nicko!”


“Apa kamu fikir hanya karena 8 bulan kamu menemani kehamilan aku di apartemen kamu,akan sebanding dengan kamu meninggalkan penderitaan kepada ku selama 4 tahun?” Ucap ku dengan sedikit berteriak.


Aku sudah sangat muak dengan nya. Dia terus saja membahas janji yang di buat nya sendiri, padahal dia sendiri yang telah membuat perjanjian itu berakhir dengan sendirinya.


“Dengarkan aku Ben. Aku sudah memaafkan segala kesalahaan mu, aku juga akan melupakan semua kebohongan yang telah kamu buat, bahkan aku akan melupakan campakan orang tua mu yang sudah menyiksa ku dengan Kara selama 4 tahun ini. Tapi, dengan satu syarat” ucap ku mengambil ancang-ancang untuk melanjutkan ucapanku.


“kamu jangan pernah mengganggu aku,mengganggu Nicko dan juga mengganggu Kara, jauhi Kara sejauh mungkin, jangan pernah berani untuk muncul di hadapan Kara dengan masih menyebut kamu sebagai Papa Ben, jangan pernah berfikir untuk bisa masuk ke dalam kehidupan kami lagi,jika tidak, selamanya aku tidak akan pernah melupakan perbuatan jahat kamu!” Ancam ku dengan begitu tajam.

__ADS_1


“Cam kan itu!”


Ben menatap ku dengan kecewa. Wajah nya terlihat miris, dia seperti tidak terima dengan apa yang aku katakan.


“Fawnia” panggil Ben.


Aku berjalan dengan cepat meninggalkan nya.


“Fawnia tunggu!” Ucap Ben berusaha menghentikan ku,namun aku terus berjalan dengan cepat meninggalkan nya dan menyusul Nicko juga Kara.


Aku menahan rasa sedih ku. Aku tidak ingin Kara melihat ku bersedih, aku terus berjalan dengan cepat menuju parkiran mobil. Nicko melihat ku dari kejauhan, dia terlihat begitu cemas.


“Apa yang dia lakukan?” Tanya Nicko begitu aku menghampiri nya di samping mobilnya.


“Dia tidak melakukan apapun. Aku hanya memberikan dia sedikit peringatan agar tidak mengganggu Kara” ucap ku.


“Dimana Kara?”


Nicko melirik dalam mobil nya,dia menunjuk dengan wajah nya.


“Ben tidak boleh bersikap seperti itu di hadapan Kara. Dia tidak berhak mengaku dirinya sebagai Papa Kara sekarang. Ini semua kesalahan yang di buat nya sendiri, dia harus menanggung akibat nya” ucap ku akhirnya dengan sedih.


“Aku tahu. Semua ini salah nya, tapi jika bukan karena kepergian nya, mungkin aku tidak akan pernah mengetahui tentang Kara kan?” Tanya Nicko menatap ku serius.


Aku mengerutkan kening ku.


“Apa maksud mu?”


“Ada yang perlu aku tanyakan kepadamu” ucap Nicko dengan masih serius.


“Apa jika Ben tidak pernah meninggalkan kamu selama ini, kamu akan tetap menyembunyikan Kara dariku?” Tanya Nicko membuat ku terdiam.


Karena aku tidak pernah memikirkan hal besar itu sebelum nya. Aku tidak pernah tahu bagaimana kedepan nya jika saat ini aku masih bersama Ben. Karana dulu aku sudah berjanji kepada Ben akan menjadikan Kara sebagai anak nya.


Aku tidak berani menjawab pertanyaan Nicko, aku takut akan salah bicara. Nicko memegang pipi ku dengan lembut.


“Seharusnya aku membenci Ben karena telah merebut mu dariku, dan seharusnya aku juga membenci nya karena telah membuat mu menderita selama ini. Tapi, di sisi lain aku pun bersyukur karena apa yang telah di perbuat Ben, bisa mempertemukan ku dengan mu juga Kara. Aku tahu ini salah, aku tahu seharusnya aku tidak bersyukur dengan penderitaan yang kamu alami, tapi aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang aku dapat sekarang. Aku bisa kembali mendapatkan mu, dan mengetahui jika Kara adalah anak kita”


“Aku mohon, izinkan aku untuk bisa membahagiakan mu dengan Kara. Aku ingin menjadi Ayah yang baik untuk nya, dan aku ingin bisa ada di samping mu untuk selamanya” ucap Nicko dengan begitu mengharukan.


Tidak sadar air mata ku sudah mengalir di pipi. Aku begitu tersentuh dengan keinginan Nicko. Aku merasakan bagaimana besarnya cinta Nicko kepada ku juga Kara.


Aku memeluk Nicko dengam begitu erat, aku menangis di bahu nya, dan Nicko pun memeluk ku dengan penuh kasih sayang. Dia membuat ku merasa tenang.

__ADS_1


__ADS_2