
Keesokan pagi nya aku telah mandi dan bersiap untuk kembali bekerja. Aku menatap Kara yang terbangun karena kebisingan ku.
“Pagi sayang” sapa ku sambil mengeringkan rambut ku yang basah dengan haridryer.
“Pagi Mama. Mama mau bekerja?”
Aku mematikan hairdryer dan memasukan nya kembali ke lemari. Aku menghampiri Kara dan duduk di samping tempat tidur.
“Iya. Mama harus bekerja dengan Papa, tapi nanti sudah pulang dari bekerja, Mama akan belikan permen kesukaan Kara”
“Permen caramel?” Tanya nya.
“Iya. Kara senang?”
Dia mengangguka kepala nya sambil tersenyum..
“Kalau begitu Kara harus baik ya disini, harus nurut sama Oma”
“Iya Ma”
“Ya udah. Kara tidur lagi, nanti Kara di bangunkan Oma untuk sarapan ya”
“Kara ga sekolah Ma?”
“Kara kan masih sakit, jadi Kara harus sembuh dulu”
“Oke”
Aku mencium kening Kara dengan lembut.
“Papa mana?” Tanya Kara.
“Papa Nicko..”
Lalu pintu kamar ku terbuka lebar.
“Papa” panggil Kara dengan senang nya.
Nicko tersenyum sambil menghampiri kami.
“Selamat Pagi bidadari Kecilku” sapa Nicko berdiri di samping Kara.
“Papa sudah mau bekerja juga ya?”
“Iya”
“Cepat pulang ya, biar bisa nemenin Kara lagi”
Nicko tersenyum dengan manis nya.
“Baiklah” jawab Nicko.
Lalu dia pun mengecup kening Kara dengan lembut.
“Papa pergi dulu”
Kara mengangguk, lalu aku dan Nicko keluar dari kamar, meninggalkan Kara dan menutup pintu dengan rapat.
“Kamu menginap disini?” Tanya ku sambil berjalan di samping Nicko menuju tangga.
__ADS_1
“Menginap? Ini kan rumah ku”
Aku mendelikan mataku.
“Iya maksud ku tidak pulang ke rumah kedua mu?” Tanya Nicko.
“Nanti jika Mama sudah mengizinkan kita untuk pindah dari sini, baru aku akan membawa kalian kesana”
Aku menghentikan langkah ku dan menatap nya.
“Kita? Kamu akan membawa aku dan Kara pergi dari sini?”
“Iya” jawab nya dengan dingin.
Aku bingung sekali dengan keinginan nya, namun hati ku begitu keberatan dengan pilihan nya. Kenapa bisa dia dengan mudah nya ingin membawa ku dan Kara pergi dari sini padahal aku baru saja bisa menerima rumah ini kembali di hidup ku.
“Aku tidak menerima keluhan ataupun penolakan, aku tidak mau aku di pisahkan dengan Kara” ucap Nicko.
“Kalau begitu, bawa saja Kara sendiri” ucap ku dengan ketus sedikit nada mengancam.
“Baiklah” jawab Nicko denga enteng,dan dia kembali berjalan meninggalkan ku.
Namun jawaban nya malah membuat ku membulatkan mata dan takut jika hal itu bisa saja terjadi.
“Sebentar. Nicko” panggil ku dengan panik sambil mengejarnya, aku harus meralat ucapan ku, karena tidak mungkin membiarkan Kara meninggalkan ku,walau sebenarnya hal itu tidak mungkin terjadi.
Ketika sampai di parkiran mobil,Nicko membuka kan pintu mobil untuk ku.
“Apa?” Tanya ku dengan bingung pura-pura tidak mengerti apa maksud dia membuka pintu mobil nya.
“Masuk” jawab nya.
“Tidak mau” jawab ku tak acuh.
Nicko menarik baju ku dan memaksa ku untuk masuk.
“Nicko!”
Dia berhasil membuat ku masuk ke dalam mobil nya. Aku duduk dengan wajah yang kesal dan menatap lurus tak menghiraukan nya.
“Kita kan satu kantor, kenapa kita harus pergi sendiri-sendiri” ucap nya sambil membenarkan duduk nya di belakang kemudi di sampingku.
“Tapi aku mau pergi sendiri”
“Aku tidak mengizinkan nya”
Aku ingin sekali memakinya, namun aku tidak bisa, akhirnya aku hanya bisa menyerah dan kembali menatap lurus ke depan.
Nicko mengemudikan mobil nya dengan cepat menuju kantor. Dan setelah sampai dia langsung memarkirkan mobil di parkiran vip dan langsung keluar dari mobil nya. Dia membawa koper dan tas yang ada di bagasi, lalu aku pun berjalan dengan cepat meninggalkan dia di belakang,namun ternyata langkahku kurang cepat, Nicko bisa berhasil mengibangi jalan ku dan berjalan di sampingku.
Aku berdecak dengan kesal dan menghentikan langkah ku sebelum kami berdua masuk ke dalam kantor.
“Ayolah Nicko, ini kantor, aku tidak mau ada orang lain yang melihat kita seperti ini” pinta ku dengan begitu kesal dan lelah dengan sikap nya.
“Kamu kan sekretaris ku,sudah seharusnya kamu terlihat bersama ku kan?”
“Ya tapi kan..”
Belum sempat aku melanjutkan ucapan ku Nicko sudah memberikan ku koper dan jas nya.
__ADS_1
“Pegang ini agar tidak ada orang lain yang mencurigai kita” ucap Nicko dengan seenak nya.
Lalu dia berjalan mendahului ku, aku masih terdiam dengan kesal dengan apa yang sudah ada di tangan ku, namun apa boleh buat, dia benar, dengan seperti ini tidak ada yang mencurigai kami.
Kami sampai di ruangan, aku masuk ke dalam ruangan Nicko untuk menggantung jas dan menyimpan koper di meja kerja nya. Nicko langsung sibuk dengan membuka komputernya dan membaca isi pesan yang masuk ke e-mail nya.
“Ternyata aku ada pertemuan di luar kota, minggu depan” ucap Nicko.
“Dengan perusahaan mana?” Tanya ku ikut membaca pesan nya.
“Oh yang di Jogja itu, dia memajukan pertemuan nya?” Tanya ku lagi.
“Iya” jawab Nicko dengan singkat.
“Apa aku perlu ikut?” Tanya ku dengan menatap nya bingung.
Lalu Nicko menatap ku dengan tajam dan berdiri dengan tegap menatap ku.
“Menurut mu dengan siapa aku harus pergi?” Tanya nya dengan kesal.
Aku memasang wajah kikuk ku, dan menggaruk rambut ku yang tidak gatal ini.
“Ya, mungkin saja kamu mau pergi dengan asisten mu saja”
“Aku harus membawa mu Fawnia”
“Tapi Kara bagaimana ? Dia kan sedang sakit” ucap ku mencari alasan.
lalu Nicko tampak diam berfikir.
“Biar aku fkirkan dulu” ujar nya.
Lalu aku berbalik dan meninggalkan nya di ruangan. Aku kembali ke ruangan ku dan menaruh tas ku di atas meja,aku duduk dengan begitu berat nya di atas kursi kerja ku dan mulai membuka komputerku.
Ternyata benar, banyak sekali pesan yang masuk ke dalam e-mail ku, padahal aku tidak masuk baru 3 hari saja, tetapi pekerjaan sudah seperti di tinggalkan satu minggu.
Seseorang masuk ke dalam ruangan ku. Itu Pak Zayden, dia masuk lalu tersenyum kepadaku.
“Selamat Pagi Pak” sapa ku sambil tersenyum ramah.
“Pagi. Aku mau bertemu Nicko” ucap nya sambil menghampiri mejaku.
“Dia ada di ruangan nya” jawab ku.
“Bagaimana keadaan anak kalian?” Tanya Zayden membuatku tersentak membulatkan mata menatap nya.
“Tenang saja,hanya aku yang tahu” ujarnya seolah membaca ketakutan ku.
“Aku dan Nicko sudah berteman sejak lama sekali, dan dia banyak menceritakan tentang mu”
“Jadi Bapak Zayden sudah tahu tentang ku sejak pertama kali?” Tanya ku mengingat saat interview dialah orang pertama yang menangani ku.
“Tentu saja. Saat itu aku juga tekejut ternyata Fawnia yang selalu di ceritakan Nicko,melamar di perusahaan dia sendiri”
Aku tersenyum kikuk mendengar cerita Zayden.
“Dan aku semakin terkejut ternyata kalian sudah punya anak” ujar Zayden membuat ku semakin panik dan menatap keluar jendela ku.
“Bisakah kita tidak membicarakan ini di kantor Pak. Aku takut ada yang mendengar nya” ucap ku dengan khawatir.
__ADS_1
“Tenang lah. Mulut ku ini bisa tertutup rapat, aku juga masih membutuhkan pekerjaan ini” ujar Zayden meledek ku lalu dia masuk ke dalam ruangan Nicko.
Aku terus melirik Zayden sampai dia menghilang dari balik pintu dan mulai kembali panik. Kenapa bisa Nicko mengatakan semua nya termasuk tentang Kara kepada Zayden.