
Aku mengendarai mobil ku sendiri menuju perusahaan Ben berada. Aku begitu tidak sabar untuk bertemu dengan nya,ingin bertanya apa yang dia lakukan? Kenapa dengan mudah dia menarik kerja sama kami?
Begitu banyak pertanyaan yang telah aku siapkan dalam kepala ku. Aku memacu mobil ku menuju kantor Ben berada, dan setelah sampai di kantor besar nya aku langsung menuju meja resepsionis.
“Aku mau bertemu dengan Pak Ben” pinta ku kepada resepsionis wanita yang belum sempat menyapa ku.
Dia melihat aku tergesa-gesa, dan langsung menuruti permintaan ku untuk menghubungi Bos nya lewat telepon.
“Maaf dari Mbak siapa?” Tanya resepsionis itu ketika sedang ber telepon.
“Fawnia” jawab ku singkat.
Lalu setelah menyebutkan nama ku kepada orang yang ada di sebrang telepon, resepsionis itu terlihat mengangguk dan melirik ku sesekali.
“Silahkan Mbak. Mbak sudah di tunggu di ruangan Pak Ben, dan Mbak akan di antar oleh rekan kerja saya”
Aku mengangguk mendengar ucapan resepsionis itu, dan menunggu karyawan yang akan mengantarkan ku ke ruangan Ben. Tidak lama, seorang laki-laki datang dengan berlari dan langsung berdiri tegap di hadapan ku.
“Maaf telah menunggu Mbak Fawnia. Mari saya antar ke ruangan Pak Ben” ujar laki-laki itu.
Aku tak menjawab nya dan hanya mengikuti dia kemanapun dia melangkah. Dia membawa aku ke lift dan mempersilahkan aku untuk masuk lebih dahulu, lalu karyawan ber jas hitam itu memijit tombol lift ke nomor 6 dan berdiri di depan ku. Setelah lift sampai ke lantai 6 dengan cepat, dia mengantar ku menuju ruangan Ben berada.
“Silahkan Mbak. Pak Ben sudah menunggu”
Karyawan itu hanya membuka kan pintu untuk ku, dan setelah aku masuk ke ruangan itu, dia langsung pergi begitu saja dengan cepat. Mungkin Ben yang meminta nya untuk pergi setelah mengantarkan aku ke ruangan nya, dan Ben sekarang telah terlihat berdiri bersandar di meja nya dengan santai menyambutku dengan senyuman nya.
“Hay Fawnia” sapa Ben dengan manis namun membuatku muak.
“Kenapa aku tidak terkejut kamu datang ke kantor ku hari ini?” Tanya Ben dengan terus tersenyum kepada ku.
Bibir ku menyeringai menatap dia penuh dendam.
“Karena kamu sudah tahu aku akan menemui mu setelah masalah yang baru saja kamu buat” ucap ku dengan penuh emosi.
“Masalah?” Tanya nya dengan mengerutkan kening.
“Masalah apa?” Lanjut nya dengan berlagak tidak mengerti.
“Aku tidak membuat masalah Fawnia. Aku hanya membatalkan kerja sama kita, itu saja”
“Itu proyek besar Ben!” Ucap ku dengan penuh penekanan.
__ADS_1
“Aku tidak peduli”
“Kamu tidak boleh seenak nya menggagalkan proyek itu, kamu harusnya tau itu akan bisa menghancurkan reputasi perusahaan kita”
“Perusahaan kita?”
Ben tersenyum dengan sinis mendengar ucapan ku, lalu dia memasukan kedua tangan nya ke dalam saku celana nya.
“Perusahaan ku akan baik-baik saja, hanya perusahaan kamu yang akan hancur”
Aku begitu geram dengan nya, aku memicingkan mata menatap Ben dengan emosi.
“Apa tujuan mu Ben, kenapa kamu lakukan ini?”
Raut wajah Ben berubah dingin. Dia berjalan mendekati ku dan berdiri begitu dekat di hadapan ku.
“Karena aku tidak suka melihat mu bahagia dengan orang lain” ucap nya dengan tajam dan berani.
Aku menatap Ben dengan kesal.
“Ini masalah kita Ben, tidak ada sangkut paut nya dengan pekerjaan kita. Tidak seharusnya kamu mencampurkan masalah pribadi kita dengan masalah pekerjaan”
“Tentu ada kaitan nya. Kamu bahagia dengan keluarga mu karena perusahaan itu membuat kamu kembali kepada mereka”
“Aku hanya ingin kamu tetap bersama ku Fawnia” ujar nya membuat ku semakin emosi.
“Kamu gila Ben!” Caci ku kepadanya.
Ben menatap ku dengan tajam dan menyeramkan, lalu die mendekatkan wajah nya kepadaku sampai aku bia merasakan hembusan nafas nya yang hangat.
“Ya aku sudah di buat gila oleh mu. Bertahun-tahun aku memimpikan akan pulang kembali dengan kebahagiaan menanti ku, dan anak yang sudah besar yang akan memanggil ku dengan Papa,tetapi apa yang aku dapatkan? Kamu malah kembali kepada Nicko dan membuat anak yang telah aku tunggu selama ini tidak mengenali ku”
Aku menggelengkan kepala ku karena tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Ben, dia bicara seolah semua ini adalah kesalahan ku.
“Menurut mu salah siapa itu semua? Salahku?” Tanya ku dengan serius.
“Aku tidak ingin lagi membahas ini Ben. Karena masalah itu sudah begitu jelas, semua nya adalah kesalahan darimu, dan apa yang aku alami dengan Kara sekarang, itu juga kesalahan mu, kamu tidak bisa menyalahkan aku ataupun Nicko, karena kamu lah yang telah membuat kita kembali bersama sampai sat ini”
“Tapi bukan ini yang aku harapkan Fawnia!” Teriak nya membuat ku takut.
Namun aku berusaha untuk terlihat berani di hadapan nya.
__ADS_1
“Kamu ingin kerja sama perusahaan kita kembali kan?” Tanya Ben membuat ku gundah dan terdiam tak menjawab nya.
“Kalau begitu kamu harus menuruti keinginan ku” ujar Ben.
Apa yang di takutkan Nicko ternyata benar, Ben pasti akan meminta sesuatu demi proyek ini.
“Kalau yang kamu inginkan terdengar bodoh, jangan bermimpi aku akan memenuhi nya” ujar ku memperingati sambil berusaha pergi dari sana, namun Ben menarik lengan ku dengan kencang membuat ku kembali menatap nya dengan tajam.
Ben menggelengkan kepala nya.
“Ini mudah. Sangat mudah” jawab Ben sambil tersenyum begitu menyebalkan.
“Aku hanya ingin kamu menemani ku selama proyek itu berlangsung. Kamu harus ada di samping ku, dan membantu ku untuk mengurus semua nya” pinta Ben membuat ku membulatkan mata ku dengan tidak terima.
Aku melepaskan genggaman tangan Ben dengan kasar.
“Bagaimana bisa? Aku ini sekretaris Nicko, dan aku juga harus membantu perusahaan ku sendiri untuk maju dalam pembangunan proyek”
Ben kembali tersenyum dengan sinis.
“Aku tidak meminta kamu untuk menjadi sekretaris ku Fawnia. Aku tidak akan setega itu menempatkan istri ku sebagai sekretaris atau bawahan ku” ledek Ben.
“Aku ingin kamu menemani ku dalam setiap kegiatan ku membangun proyek besar itu”
“Apa kamu tidak punya karyawan lain?” Sindir ku dengan enggan sekali untuk menuruti nya.
Ben menggedikan bahunya dan menunjuk ku
“Itu terserah padamu” pinta Ben dengan berlagak tak peduli.
Aku mulai resah. Aku tidak ingi menuruti permintaan nya yang bodoh ini seperti apa yang di takutkan Papa, tapi aku harus bisa membuat Ben kembali bekerja sama dengan pembangunan proyek besar kita yang sedang berjalan.
“Aku perlu memikirkan nya” jawab ku akhirnya.
Ben tersenyum seolah dia sudah menang.
“Dan satu hal yang perlu kamu tahu. Nicko tidak pernah meminta ku untuk menjadi pegawai nya, ini karena keinginan ku yang ingin terus berada di samping nya, kedok ku sebagai sekertaris hanya agar bisa bersama nya setiap saat” lanjut ku dengan penuh keyakinan dan sengaja membuat dia panas.
“Kamu pasti tahu, bagaimana Nicko mencintai ku kan? Dia tidak akan mungkin membiarkan aku kembali pergi dari nya, apalagi sekarang setelah dia tahu tentang Kara, dia pasti akan lebih menjaga ku juga Kara, dia tidak akan membiarkan kami pergi lagi Ben”
Ben menatap ku dengan tidak terima, dia seperti kesal namun tidak bisa berbuat apapun kepadaku.
__ADS_1
“Pikirkan saja tawaran ku. Aku tidak peduli dengan kebahagiaan yang sedang kalian rasakan sekarang” ucap nya dengan dingin dan begitu egois.
Aku menatap Ben dengan tajam, lalu pergi meninggalkan ruangan Ben dengan cepat dan rasa kesal.