Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Hal yang tak mungkin


__ADS_3

“Benar kah Mama berkata seperti itu?” Tanya ku begitu tak percaya.


“Kamu tidak percaya?” Tanya Nicko dengan kesal.


“Tidak” jawab ku dengan jujur.


Karena sebelum nya Mama adalah orang yang selalu membuat ku takut untuk mencintai Nicko, dan sekarang tiba-tiba saja Mama jadi begitu setuju dengan hubungan ku dengan Nicko,apalagi dia meminta kami untuk segera menikah.


“Kalau begitu tanyakan sendiri kepada Mama” jawab Nicko sambil berdiri dari duduk nya dan berjalan masuk ke dalam kamar.


Aku terus menatap Nicko yang meninggalkan ku sendiri di balkon. Aku kembali memikirkan cerita dari Nicko dan terus bertanya-tanya apa benar semua akan baik-baik saja setelah kami menikah? Atau akan ada masalah lain yang datang? Namun aku menggelengkan kepala ku dan membuang segala prasangka buruk yang selalu menghantui fikiran ku. Aku harus percaya kepada Nicko, jika semua akan baik-baik saja.


Esok hari nya. Aku sudah bersiap dengan baju kantor ku untuk pergi bekerja. Aku telah bersiap di kamar ku namun Nicko masih belum keluar dari kamar nya. Dengan kesal aku berjalan ke kamar Nicko dan membuka sedikit pintu nya untuk mengintip ke dalam. Nicko tidak ada di kamar nya, namun suara dari dalam toilet terdengar seperti ada yang mandi. Aku menghembuskan nafas dengan kesal dan masuk ke kamar nya.


“Nicko! Kamu masih mandi?” Teriak ku di balik pintu kamar mandi dengan berkecak pinggang.


Lalu suara shower terdengar berhenti.


“Fawnia? Itu kamu?” Teriak nya di dalam kamar mandi.


“Tentu saja ini aku!” Jawab ku dengan kesal.


“Kenapa masih mandi, apa yang kamu lakukan sejak tadi?”


“Tadi aku membalas pesan dari client dulu” jawab nya lalu shower air di kamar mandi nya kembali terdengar.


Aku berdecak dengan kesal, dan hendak keluar dari Kamar nya. Namun aku melihat lemari pakaian Nicko terbuka lebar. Aku melirik pintu kamar mandi memastikan Nicko masih di dalam, dan melirik sekeliling kamar nya untuk mencari apakah Nicko sudah menyiapkan baju kerja nya atau belum. Lalu aku berjalan mendekati lemari pakaian nya, dan memilih baju kerja untuk nya. Memilih kemeja putih,rompi berwarna linen, jas berwarna creamy dan celana bahan berwarna coklat untuk menyelaraskan pakaian nya agar warna nya tidak bertabrakan. Lalu aku pergi ke lemari dasi nya dan memilih kan dasi berwarna coklat untuk nya,aku ikut letakan dasi itu di atas pakaian yang sudah aku siapkan dengan rapih di atas kasur, dan tidak lupa dengan sepatu juga kaos kaki nya, aku pilihkan dan aku simpan di bawah tempat tidur. Setelah selesai aku segera pergi ke luar kamar dengan berlari, takut jika Nicko mempergoki ku sedang menyiapkan pakaian kerja nya.


Beberapa saat kemudian aku turun ke bawah bersama Kara untuk sarapan.


“Faw. Hari ini Mama mau ajak Kara ke luar untuk bermain” ujar Mama sambil mengoleskan selai di atas roti nya.


“Main kemana Ma?”


“Kara bilang dia butuh kertas gambar dan pensil warna baru untuk dia menggambar”


“Biar aku saja yang belikan nanti pulang kerja ya Ma” ucap ku sambil membantu Kara untuk menyeduh cereal nya.


“Tidak apa-apa, Mama juga bosan diam di rumah terus menerus, Mama juga ingin keluar untuk menghilangkan penat”


“Baiklah” jawab ku sambil tersenyum.


“Papa” panggil Kara ketika melihat Nicko menghampiri meja makan.

__ADS_1


Aku pun langsung melirik Nicko di belakang ku. Dia menenteng jas coklat di lengan nya, dan tersenyum dengan manis kepada Kara. Nicko memakai semua pakaian yang telah aku siapkan,bahkan kelihatan nya tidak ada yang tertinggal satu pun.


“Waw, tumben kamu senada sekali pakaian kerja nya hari ini” puji Mama dengan menggoda Nicko.


Nicko tersenyum dengan manis,dia sama sekali tidak menoleh ke arah ku. Karena dia tahu, jika dia memberi tahu Mama dan Papa bahwa aku yang telah menyiapkan pakaian kerja nya, itu akan membuat aku malu.


“O iya Papa lupa. Apa Pt.Prawira sudah kembali menghubungi mu?” Tanya Papa teringat tentang perusahaan keluarga Ben yang kembali meminta kerja sama dengan kami.


“Sudah Pak. Fawnia sudah mengatur jadwal pertemuan kami besok lusa” jawab Nicko sambil duduk di samping ku.


Dia sempat melirik ku sedikit sambil menahan senyum nya. Aku pun ikut melirik nya diam-diam dan tersenyum malu.


“Baguslah. Papa harap kelurga Pak Wibowo bisa melupakan masalah nya dengan kamu Faw”


“Iya Pak. Aku minta maaf ya” ucap ku masih saja merasa bersalah.


“Bisakah kamu tidak meminta maaf terus menerus?” Pinta Papa dengan wajah yang begitu serius.


Membuat ku tegang dan malu.


“Papa bosan mendengar kamu terus minta maaf”


“Iya Pak, Maaf” ucap ku dengan kembali mengoles roti ku dengan selai.


Aku terkejut ketika menyadari jika aku masih saja meminta maaf kepada Papa. Papa menggelengkan kepala nya melihat tingkah ku.


Nicko terlihat menatap ku dengan lucu, dan Mama juga hanya bisa tersenyum melihat ku di omeli oleh suami nya.


Sesampainya di kantor seperti biasa aku menenteng jas dan tas kerja Nicko ke ruangan nya. Aku memakai kan jas kepada Nicko sebelum dia duduk karena sebentar lagi kita akan menghadiri meeting di ruang meeting.


“Apa kamu sedang simulasi menjadi seorang istri?” Ledek Nicko membuat ku menatap nya dengan sinis.


Namun Nicko malah tersenyum dengan senang melihat ku.


“Aku membantu mu menyiapkan semua nya, agar kamu bisa bergegas” jawab ku dengan dingin.


“Benarkah?” Tanya Nicko dengan raut wajah yang tidak percaya.


Aku membuang wajah ku dengan sinis.


“Kalau begitu, aku akan telat bangun setiap saat agar kamu membantu ku menyiapkan pakaian kerja ku”


“Apa aku terlihat seperti pembantu untuk mu?” Tanya ku dengan ketus.

__ADS_1


Nicko merenyitkan dahi nya dan menatap ku kesal.


“Apa kamu tidak bisa membedakan antara pembantu dengan seorang istri?” Tanya Nicko dengan emosi.


Aku diam menatapnya dengan kesal.


“Kamu sering melihat Mama memasak, bahkan kamu kerap membantu Mama memasak untuk Papa, apakah Mama terlihat seperti pembantu?” Tanya nya lagi masih saja dengan emosi.


Aku terdiam membenarkan ucapannya namun tetap tidak ingin kalah.


“Ya tetap saja. Aku kan belum menjadi istri mu” jawab ku dengan malu dan kikuk tidak berani menatap mata nya.


Nicko menatapku dengan mencerna ucapanku, lalu senyuman malu nya pun terpancar di wajah nya.


“Sudah lah” ucap ku untuk menghentikan senyuman konyol di wajah nya.


“Cepat bersiap. Kita ada meeting Nicko!” Pinta ku untuk mengakhiri percakapan ini.


“Ayo” ajak Nicko.


Lalu aku mengikuti Nicko dari belakang menuju ruang meeting,dengan membawa perbekalan ku untuk keperluan meeting kami.


“Pak Ferdy!” Teriak seorang wanita yang berlari mengejar Nicko.


itu Devina. Dia berlari mengejar Nicko yang hampir saja masuk ke dalam lift bersama ku.


“Kenapa?” Tanya Nicko.


“Ada yang mencari Bapak. Dia bilang dari Pt. Prawira” ujar Devina membuatku mengerutkan kening ku.


Nicko melirik ku dengan bingung.


“Apa kamu tidak salah mencatat pertemuan ku dengan perusahaan Prawira?”


Aku membuka tablet ku dan mengecek kembali jadwal Nicko untuk memastikan.


“Benar. Saya mencatat pertemuan nya besok lusa” jawab ku.


“Tapi mereka sudah disini Pak” ucap Devina.


Membuat ku dan Nicko saling melempar pandang dengan bingung. Aku yakin Nicko pasti tidak enak jika dia tidak menemui Pak Bowo, karena kerja sama mereka baru saja mau di mulai, namun Nicko juga tidak bisa meninggalkan meeting nya yang sudah membuat banyak orang menunggu.


Lalu saat itu terlihat tiga orang berjalan di lorong menghampiri kami. Mereka semua memakai jas begitu rapih, dan satu orang berjalan di depan nya dengan tampang yang begitu tak asing untuk ku. Mata ku terbelalak dan begitu terkejut melihat pria yang berjalan paling depan dan terus berjalan mendekati ku. Jantung ku berdegup begitu cepat, tubuh ku gemetar dan mata ku terus terbelalak melihat pria itu.

__ADS_1


Tak sengaja aku menjatuhkan semua barang bawaan yang aku pegang termasuk tabku. Nicko dan Devina terkejut melihat semua barangku terjatuh.


“Ben!” Bisik ku dengan tak percaya.


__ADS_2