
“Terus dia juga sempet bilang, katanya dia sempet penasaran sama jerigen itu, dia sempet liat rekaman cctv buat liat siapa yang udah buang jerigen nya. Dia cuma mastiin orang yang buang jerigen itu apa keluar dari komplek itu atau bukan. Tapi kata dia, ga ada cctv yang ngarah ke selokan itu jadi dia ga dapet bukti apa-apa”
Aku terus berfikir dengan keras memikirkan hal itu. Aku tidak pernah curiga dengan kebakaran rumah ku dulu, karena aku sudah berusaha untuk percaya jika tragedi kebakaran rumah ku di akibatkan oleh korsleting listrik. Namun aku tidak pernah berfikir jika rumah ku dulu bisa saja sengaja di bakar oleh orang lain yang tidak bertanggung jawab.
“Faw? Are you okay?” Tanya Keysa yang melihat ku begitu panik dan tengah memikirkan sesuatu.
“Ya. Gue baik-baik aja” ucap ku dengan wajah yang masih saja linglung.
Aku memegang kening ku dengan mulai bingung.
“Euh. Lo bisa anter gue kesana?”
“Mau apa?” Tanya Keysa dengan lemas dan malas. Karena dia bisa menebak aku pasti akan melakukan hal yang tidak di inginkan nya.
“Ya gue mau tanya sama satpam itu, gue mau tau lebih jauh masalah itu”
“Tapi Faw, lo kan mau married, pernikahan lo tinggal beberapa hari lagi, jangan dulu deh lo main detektif detektifan kaya gitu, gue khawatir terjadi apa apa sama lo”
“Tapi gue harus tau Key, gue harus mastiin semuanya, kalau sampai memang apa yang di curigai satpam itu bener, gue harus ungkap semua nya”
“Ya tapi ga sekarang Faw, Nicko juga pasti khawatir sama lo, dia juga pasti ngelarang lo buat ga banyak pepergian dulu”
Aku jadi teringat dengan Nicko. Jika dia tau tentang kecurigaan ku atas kejanggalan kematian orang tua ku, dia pun pasti akan khawatir dan malah akan berbuat lebih jauh dariku.
“Nicko jangan sampai tau hal ini” ucap ku dengan serius menatap Keysa.
“Kenapa ?”
“Gue mau cari tau tentang ini sendiri, gue ga mau dia ikut repot dengan hal ini, dia terlalu banyak kerjaan dan gue ga mau nambah beban dia”
“Iya itu terserah lo, asal lo pinter - pinter aja nyembunyiin masalah ini dari dia” ucap Keysa membuat ku harus lebih berpikir keras.
Aku merasa gundah, aku heran kenapa semua masalah yang telah terkubur begitu lama kini tergali kembali. Pertama,tentang kehancuran perusahaan aku dan Ben dulu, yang telah berusaha aku lupakan pahit nya, kini ku rasa harus di ungkap secara tuntas agar tidak mengganjal di hidup ku. Kedua misteri kebakaran rumah ku. Padahal aku sudah menganggap itu semua memang takdir, dan keteledoran manusia karena tidak menyadari bahaya di sekitar nya, tapi kecurigaan dari satu orang ini, telah membuat ku tercuci otak dan ingin aku gali lebih dalam kebenaran nya. Aku mulai risau karena semua masalah ini datang ketika aku akan memulai hidup baru ku dengan Nicko, aku harap semua masalah ini tidak akan bisa menghambat kebahagiaan ku dengan keluarga kecil ku.
Beberapa jam kemudian aku dan Keysa memutuskan untuk pulang.
“Lo yakin mau nunggu Nicko disini aja?” Tanya Keysa saat dia sudah membereskan semua barang-barang nya ke dalam tas dan bersiap untuk pulang.
__ADS_1
“Iya ga apa apa, Nicko minta gue buat nunggu dia disini”
“Udah di hubungi?”
“Udah gue Whatsapp kok”
“Gue tinggal ga apa-apa?” Tanya Keysa meminta pulang karena dia memiliki kepentingan lain malam ini.
“Iya tinggal aja, gue ga apa-apa kok”
“Bener ya?” Tanya nya yang seperti nya tidak enak meninggalkan ku sendiri di caffe itu.
“Iyaa Key”
“Ya udah gue pulang” pamit Keysa sambil menempel kan pipi nya ke pipi ku.
“Bye”
“Bye ati-ati ya”
“Oke”
Beberapa jam telah berlalu, aku menunggu Nicko membalas pesan ku namun dia tidak membalas nya,lalu aku berusaha menelepon nya tetapi telepon ku pun tidak di angkat oleh dia. Aku semakin kesal dan melihat sekeliling ku, aku berharap Nicko datang dan segera menjemput ku karena seperti nya caffe ini akan tutup. Aku terus berusaha menghubungi nya, namun tetap saja telepon ku tidak ada respond, dan aku berusaha menelpon Zayden, dan telepon Zayden pun tidak aktif. Aku semakin kesal, aku lelah telah menunggu dia begitu lama di sini. Kalau saja tadi aku pergi membawa mobil sendiri, aku pasti sudah pulang beristirahat dengan Kara di rumah.
Aku berdiri dengan menghela nafas yang begitu dalam lalu menenangkan diriku. Aku keluar dari caffe itu dan berdiri di depan lobby masih berusaha menghubungi Nicko.
Aku berdecak dengan kesal dan memutuskan untuk mencari taksi di sekitar sana, namun seperti nya di sekitar caffe tidak ada taksi yang stand by karena caffe sudah terlihat sepi. Dan aku enggan untuk pergi ke jalan raya karena jarak yang cukup jauh dan harus melewati taman yang gelap, aku takut ada orang jahil yang mengganggu ku. Aku mulai resah, aku pun berfikir untuk menunggu Nicko di pinggir caffe sampai dia datang, aku sudah mulai terlalu kesal kepadanya karena dia tidak mengabari ku sama sekali.
Suara handphone ku berbunyi, itu dari Bima.
Sebenarnya aku dan Bima masih belum baik-baik saja, karena persoalan kami kemarin masih membuat ku marah kepada nya. Tapi jika alasan nya pekerjaan, aku selalu terpaksa harus berbicara dengan dia secara profesional.
“Hallo”
“Hallo Faw, kamu lagi sama Pak Ferdy ?”
“Justru ini aku sedang menunggu Nicko menjemput ku di caffe”
__ADS_1
“Oh. Aku sudah coba hubungi Pak Ferdy tapi dia belum ada jawaban, perusahaan Joinus meminta kita untuk me rekap ulang hasil kerja sama nya besok pagi, tapi Pak Ferdy sulit untuk di hubungi oleh client atau pun aku”
Aku menggigit bibir bawah ku dan mulai cemas kembali.
“Iya ini aku sudah coba hubungi dia beberapa kali,tapi dia tidak mengangkat telepon nya. Aku sudah menunggu dia ber jam-jam di caffe untuk menjemputku,dan sekarang caffe sudah mau tutup dan tidak ada taksi di sekitar sini” ucap ku dengan khawatir sambil melihat kanan kiri ku.
“Caffe apa?”
“Caffe La Grande”
“La Grande yang di jalan wijaya?”
“Iya”
“Aku di depan taman golf ini, di jalan wijaya juga”
“Sedang apa disana?”
“Aku mau pulang, tapi client dari Joinus terus menelepon, jadi aku berhenti dulu di di depan taman golf dan menelepon mu”
“Oh” jawab ku dengan bingung.
Kebetulan sekali Bima ada di sekitar sini di saat aku sedang mencari pertolongan. Tapi kenapa harus Bima ?
“Mau aku antar pulang?”
Aku memikirkan dulu tawaran Bima, namun setelah apa yang terjadi antara aku dan Bima seperti nya aku tidak mau membuat dia merasa lebih sulit melupakan aku.
“Oh it’s Oke, aku tunggu Nicko disini”
“Yakin?” Tanya nya.
Aku diam sejenak untuk menjawab pertanyaan Bima.
“Yakin” jawab ku walau sebenarnya aku ragu.
“Kalau begitu, aku ikut tunggu kamu disana sampai Pak Nicko datang, ini sudah larut malam, dan aku tidak mau terjadi apa-apa dengan calon istri bos ku” ujar Bima dengan begitu baik nya.
__ADS_1
Aku hanya bisa terdiam tidak bisa menolak tawaran nya, karena memang ini sudah larut malam dan aku tidak mau menunggu Nicko di sini sendirian.