
Aku hendak pergi meninggalkan mereka yang mulai seru bermain.
“Mau kemana ?” Tanya Nicko menghentikan langkah ku.
“Aku mau pergi ke kamar. Beristirahat” jawab ku ketus.
“Kamu fikir aku babysitter ? Aku tamu disini,sebaiknya kamu membuat kan aku minum. Susu caramel” pinta nya dengan begitu seenak nya.
Aku baru saja akan memaki nya tapi Kara ikut berbicara.
“Kara juga mau” ujar Kara dengan tersenyum kepadaku.
Permintaan Kara tentu tak bisa aku bantah. Aku tersenyum kepada Kara dan Nicko dengan hati yang begitu kesal.
“Oke” jawab ku, dan dengan terpaksa aku membuatkan mereka berdua susu caramel di pantry.
Aku merasa sudah menjadi seorang istri yang sedang membuatkan minum untuk suami dan anak ku yang sedang bermain bersama di dalam rumah, dan aku berfikir seolah keluarga ini akan sempurna jika kami bersama seperti ini. Namun aku langsung menepis fikiran ku, dan kembali ke dunia ku yang nyata. Aku harus ingat, jika Nicko sudah bertunangan,dan ku tidak boleh terbalut oleh masa lalu ku.
Setelah selesai membuat susu caramel, aku membawa gelas nya ke ruang tamu untuk mereka yang sedang bermain. Aku menyimpan susu caramel itu di meja ruang tamu. Lalu aku duduk di sofa dan melihat Kara begitu bahagia nya bermain dengan Nicko dengan menggambar sebuah bunga di dalam pad nya. Nicko pun terlihat begitu ramah kepada Kara, dan dia bisa begitu cepat mengambil hati Kara. Apa dia merasakan jika Kara adalah anak kandung nya? Namun lagi-lagi aku menepis itu. Tidak mungkin Nicko bisa menyangka hal seperti itu.
Malam pun tiba. Kara terlihat sudah begitu lelah bermain, namun Nicko masih tampak begitu segar dan tidak tampak sekali dia kelelahan. Nicko terus membacakan sebuah cerita Peri taman cantik kepada Kara yang berada di samping nya yang sedang menaharan rasa kantuk. Namun Kara berusaha untuk tidak tertidur dan terus mendengarkan cerita dari Peri itu. Tidak lama kemudian akhirnya Kara tertidur, di pangkuan Nicko tanpa permisi.
Aku terkejut dan segera mendekati nya.
“Biarkan saja” ujar dia menghentikan ku yang akan mengambil Kara dan memindahkan nya.
“Aku mau memindahkan nya ke kamar” ucap ku dengan sedikit berbisik.
“Tidak perlu. Biarkan dia tertidur disitu”
“Lalu kamu?”
“Kenapa? Aku tidak boleh bermalam disini?” tanya nya membuat ku menatap nya tajam dan langsung menggendong Kara dengan ketus menatap Nicko.
__ADS_1
Kara tertidur di bahu ku.
“Aku minta kamu pulang. Besok kamu ada meeting pagi sekali” ucap ku mengingatkan tentang jadwal nya.
Lalu dengan malas dia berdiri dan mengambil jam tangan nya.
“Kenapa kamu selalu menjadwalkan meeting pagi untuk ku? Apa tidak bisa kamu jadwalkan siang hari?” Tanya nya mengingat Nicko dari dulu adalah seorang pemalas, dan paling sulit untuk bangun pagi.
“Kenapa?” Tanya ku dengan memelotoi nya.
“Kamu tidak menyukai pekerjaan ku? Kalau begitu pecat saja aku, gampang kan? Lalu kamu cari sekertaris lain di luar sana, pasti banyak” Lanjut ku dengan begitu jutek nya. Dan aku kembali mengelus punggung Kara.
“Itu tidak mungkin terjadi” jawab nya dengan lemah.
“Kenapa?” Tanya ku dengan masih saja ketus.
Nicko tampak bingung untuk menjawab nya.
“Karena sulit sekali mencari sekretaris yang bagus seperti mu” jawab Nicko membuat ku tidak puas dengan jawaban nya.
“Pulanglah. Aku mau menidurkan Kara” ucap ku langsung pergi meninggalkan nya sendiri di ruang tamu.
Aku berusaha untuk menutupi rasa canggung ku darinya. Aku tidak ingin terlihat gugup di hadapan nya. Itu akan sangat menyulitkan ku.
Aku masuk ke dalam kamar dan menidurkan Kara di tempat tidur. Namun ketika aku hendak bangun kembali Kara memanggil ku.
“Mama”
“Iya sayang” sahut ku. Lalu Kara memeluk ku di dalam tidur nya.
Ya. Dia tidak akan bisa tertidur pulas jika tidak memeluk ku seperti ini. Lalu aku tersenyum dan mencium kening nya. Aku mendengar langkah Nicko yang semakin mendekat, namun aku tak ingin memalingkan wajah ku menatap nya. Lalu dia masuk ke dalam kamar dan mematikan lampu dan menutup kamar ku sebelum akhirnya dia pergi.
Aku terdiam di kamar tidur ku dan memikirkan kembali tentang Nicko. Ini begitu menyakitkan, perasaan ku yang dulu sempat tersesat kini kembali pulang. Aku merasakan itu. Rasa cinta ku kembali untuk nya.
__ADS_1
Esok pagi di kantor. Aku sudah begitu sibuk menemani Nicko meeting dengan semua client nya. Aku duduk di samping Nicko dan menyalin apa saja yang sudah di bahas dalam meeting ini. Dan seperti biasa, meeting berjalan dengan lancar. Aku dan Nicko berdiri untuk memberi salam perpisahan kepada semua client nya dan aku membereskan semua berkas juga laptop ku untuk di bawa kembali ke meja kerja ku.
“Hari ini aku ada pertemuan penting dengan presiden kantor kita jangan sampai ada yang mengganggu sampai selesai jam makan siang” pinta Nicko dengan mengkancingkan jas nya.
“Apa ada pengecualian?” Sindir ku tanpa sama sekali menyadari kalimat nya yang menyebutkan tentang ‘presiden kantor kita’.
“Maksud nya?”
“Ya aku takut saja, tunangan mu tiba-tiba datang kembali dan dia memaksa untuk menemui mu. Nanti aku bisa di pecat lagi” ledek ku dengan menatap nya begitu malas.
“Sudahlah. Tidak perlu membahas itu” pinta nya dengan raut wajah yang kesal.
Setelah merapikan berkas ku, kami keluar dari ruang meeting dan menuju ruangan kami kembali. Setiap orang yang menatap Nicko langsung menyapa nya begitu sopan, dan Nicko hanya membalas nya dengan anggukan kepala saja.
Setelah sampai di ruangan ku. Aku langsung menyimpan semua berkas di meja ku dan laptop di samping komputer ku. Aku kembali membuka laptop dan menyalin arsip ke komputer kantor. Tidak lama seseorang pria setengah paruh baya masuk ke dalam ruangan ku.
“Selamat siang. Ada yang bisa saya ban…tu” ucap ku dengan kata terakhir yang menggantung karena aku begitu terkejut melihat siapa pria yang baru masuk ke ruangan ku.
Pria setengah paruh baya itu pun tak kalah terkejut nya melihat ku. Perawakan nya yang tinggi dan berisi, rambut nya yang sudah mulai sedikit memutih membuat ku amat sangat merindukan nya.
“Papa” bisik ku dengan mata yang begitu terbalalak menatap mata Papa Nicko.
“Fawnia” balas nya tak kalah terkejut.
Lalu aku keluar dari meja kerja ku dan langsung memeluk nya dengan begitu erat.
“Fawniaa. Nak kamu kemana saja selama ini?”
Air mata ku tiba-tiba saja mengalir deras. Papa Nicko membalas pelukan ku dengan begitu erat dan terus mencium rambut ku.
Aku begitu merindukan sosok Ayah yang ada dalam dirinya. Dia adalah pengganti Papa selama ini. Aku begitu menyayangi nya karena dia tidak pernah sekalipun membedakan ku dengan Nicko. Om Rio,adalah sahabat Papa yang akhirnya menggantikan sosok Papa setelah Papa meninggal.
“Aku merindukan Papa” ucap ku masih dalam pelukan nya.
__ADS_1
Nicko melihat kami berpelukan di balik jendela nya. Dia begitu terharu dengan pertemuan kami ini. Dengan tidak sadar air mata Nicko pun ikut menetes dan dia segera mengusap nya.