Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Akhirnya terbongkar


__ADS_3

“Tidak. Kamu tidak boleh pergi kemanapun!” Ucap suara laki-laki yang ada di samping ku dengan gagah dan berdiri menguping pembicaraan kami entah sejak kapan.


Papa. Dia berdiri di tengah lorong dengan menenteng tas kerja nya dan wajah yang begitu tegang.


Papa menghampiri ku dan Mama dengan cepat. Dia menyimpan jas dan tas nya di kursi dan menatap ku dengan sedih.


“Apa yang Papa dengar itu benar?” Ucap Papa menatap ku tajam.


Mama masih saja diam di tempatnya dengan memalingkan wajah entah apa yang di fikrikan nya.


Aku menganggukan kepala ku dengan lemah.


“Selama ini Kara adalah cucu kandung Papa?” Tanya nya kembali tak percaya.


“Maafkan aku Pa” ucap ku dengan lirih.


“Kamu membesarkan cucu kandung Papa sendirian? Tanpa bantuan dari kami keluarga nya?”


“Pa” aku menatap mata Papa begitu sedih.


“Aku tahu apa yang di lakukan aku dan Nicko saat itu adalah suatu kesalahan yang besar, aku tahu perbuatan kami tidak bisa di maafkan,tapi aku mohon untuk kalian tidak membenciku” ucap ku memohon.


“Benar. Kesalahan kalian tidak mudah untuk di maafkan” ucap Mama akhirnya berbicara.


Aku menatap Mama dengan tegang.


“Apa yang di lakukan kalian itu adalah benar kesalahan yang begitu besar” lanjut Mama dengan menatap ku penuh kecewa.


“Tapi kehadiran Kara adalah suatu anugrah untuk Mama” ucap Mama merubah ekspresinya dengan pilu.


“Kamu tahu? 5 tahun lalu Mama pernah berdo’a agar Mama bisa cepat menikahkan Nicko dan mendapatkan cucu yang bisa menghangatkan keluarga kami,Mama begitu ingin memiliki cucu yang cantik atau tampan untuk mengisi kebahagiaan kami. Karena Mama sudah tidak bisa lagi mendapatkan anak” ucap Mama mengingat penyakit Mama yang begitu sulit mendapatkan anak lagi.


“Mungkin ini adalah jawaban atas dari do’a Mama. Mama tidak menyangka jika Kara terlahir dari rahim mu,Mama tidak pernah tahu jika kamu adalah wanita yang terbaik untuk Nicko. Mama terlalu terpaku dengan tujuan Mama,Mama terlalu egois hingga Mama mengorbankan anak Mama satu satu nya. Maafkan Mama karena sudah membuat mu kecewa,Mama merasa bersalah kepada Jenny” ucap Mama mulai menangis.


Mama memeluk ku begitu erat dengan tangisan yang begitu kencang.


“Maafkan Mama Fawnia tolong maafkan Mama” ucap Mama.

__ADS_1


Aku menangis sejadinya mendengar Mama meminta maaf seperti itu. Ternyata semua tidak seperti apa yang aku takutkan, ternyata Mama menerima dengan baik kesalahanku dan Nicko. Mama kecewa,namun masih bisa memaafkanku. Aku sangat beruntung memiliki mereka.


Lalu kami bertiga duduk di kursi menunggu Nicko dan dokter datang.


“Nicko memang memiliki penyakit thalassemia seperti Mama,penyakit kami memang masih di kategorikan ringan,namun tetap saja sulit di sembuhkan,setiap kali kambuh dan ada penyakit,Mama harus sering kali mendapatkan transfusi darah ke rumah sakit,dan itu sangat lelah,sampai Mama pernah di vonis oleh dokter tidak akan hidup lebih lama lagi”


“Itu membuat Mama sedih dan putus asa,sampai Mama menikah saat itu dan belum memiliki Nicko,Mama di bantu Ibu mu Jenny untuk berobat di singapore,namun hasilnya Mama hanya bisa menyembuhkan sekitar 90% saja dari pengobatan itu,dan tetap memiliki penyakit thalassemia yang pasti akan Mama turunkan ke anak Mama nanti. Lalu akhirnya Mama memiliki Nicko dan Mama juga membawanya ke singapore untuk mencegah thalassemia itu memperburuk kondisinya,dan hasilnya berhasil. Nicko hanya mengidap thalassemia minor atau ringan dan Mama kira itu tidak akan berdampak kepada keturunan nya,namun ternyata hasilnya sama saja”


Aku memegang tangan Mama dengan lembut.


“Ma. Aku yakin Kara akan kuat seperti Mama dan Nicko. Karena selama ini yang aku lihat dari Kara adalah kekuatan yang dimiliki Kara begitu sama dengan Nicko dan Mama” ucap ku berusaha tersenyum.


Mama ikut tersenyum melihatku.


“Mama masih tidak menyangka jika Kara adalah cucu Mama,Mama jadi lebih takut sekarang kehilangan Kara”


“Aku juga sama” ucap ku kembali takut terjadi hal yang tidak di inginkan kepada Kara.


“Aku tidak pernah menyesal untuk memiliki Kara,justru aku merasa jika Kara adalah kebahagiaan ku seutuhnya. Dia telah membuat aku bangkit untuk hidup di dunia yang penuh dengan masalah ini” ucap ku.


Lalu Nicko akhirnya datang dengan dokter yang membawanya pergi. Ekspresi nya masih saja khawatir membuat aku,Mama dan Papa jadi ikut khawatir.


“Bagaimana Kara?” Tanya ku ketika menghampiri Nicko.


“Kita do’a kan yang terbaik untuknya ya”


“Kenap? Ada apa dengan dia?” Tanyaku histeris menatap Nicko dan dokter.


“Anak Ibu akan kami tangani sebaik mungkin, dia mengalami cedera ringan di bagian otak,dan setelah kami cek ternyata dia memiliki riwayat keturunan yaitu thalassemia minor. Kita membutuhkan transfusi darah,dan beruntungnya darah Ayah nya sama jadi kita langsung cepat menindak lanjuti” ucap dokter.


Aku melirik Nicko yang sedang menatap ku dengan pilu.


“Tapi anak kita akan baik-baik saja kan Nick?” Tanyaku kembali bersedih.


“Kara akan baik-baik saja. Dia anak ku,dia memiliki darahku,aku yakin dia bisa melewati ini” ucap Nicko meyakinkanku.


“Kamu harus janji jika Kara akan baik-baik saja” ucap ku dengan terus menangis seolah ragu kepadanya.

__ADS_1


Nicko menarik ku kedalam pelukan nya dengan cepat.


“Aku janji Fawnia aku janji”


Mama dan Papa pun saling merangkul dengan sedih,mereka pun pasti ingin Kara selamat,karena akhirnya mereka tahu jika Kara adalah cucu mereka.


Lalu kami semua kembali duduk di kursi menunggu dokter yang berada di ruang ICU.


“Jadi Mama dan Papa sudah tahu?” Tanya Nicko menatapku. Yang pasti terdengar oleh Papa dan Mama.


Aku melirik Mama dan Papa lalu mengangguk dengan pelan.


“Apa kamu di marahi?” Tanya Nicko.


“Kamu yang harusnya di marahi!” Ucap Papa dengan kesal.


“Sudah berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab”


Aku dan Nicko terkejut melihat Papa yang begitu emosi seperti itu.


“Harusnya kamu sebagai laki-laku memiliki jiwa yang besar,harus mau bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan dengan Fawnia. Ini malah membiarkan Fawnia membesarkan Kara sendirian” ujar nya mulai membela ku.


“Pa. Papa kan tahu aku sudah mencari Fawnia kemanapun”


“Ya tapi kenapa bisa sampai kamu kehilangan Fawnia?” Ujar Papa aku hanya bisa tersenyum tipis melihat Papa memarahi Nicko seperti ini.


“Kamu lagi! Sudah tahu kamu hamil oleh anak ini malah nikah nya sama orang lain” ucap Papa memarahiku.


“Pa. Sudahlah,tidak perlu membahas itu ya,sekarang kan semuanya sudah tahu tentang Kara,lebih baik kita mulai mendo’akan Kara yang terbaik agar kita bisa memeluknya”


“Tidak ! Papa mau setelah Papa sadar,kamu dan Kara pindah kerumah!” Ucap Papa begitu tegas,dan Mama hanya bisa diam mendengarkan Papa.


“Tapi Pa..”


“Tidak ada tapi” ujar Papa kepadaku.


Aku menghela nafasku begitu dalam, karena watak Papa begitu sama dengan Nicko. Begitu keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2