Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Pasar malam


__ADS_3

Setelah makanan kami semua sudah habis, Bima segera membayar semua makanan yang telah kami pesan.


“Ma ayo kita ke pasar malam, Kara mau naik carousel kuda Ma” ucap Kara dengan tidak sabar.


“Sebentar sayang, kita kan baru selesai makan”


“Sudah. Ayo kita pergi keburu pagi,nanti pasar malam nya berganti jadi pasar pagi” ujar Bima membuat ku berfikir untuk sejenak.


“Apa sih Bim?” Tanya ku ketika tersadar lawakan nya yang baru ku mengerti.


Lalu kita pun tertawa.


“Ya sudah ayo”


Dan kami pun kembali melajukan mobil menuju pasar malam yang begitu ramai dan begitu banyak sekali wahana permainan untuk anak maupun untuk orang dewasa.


Begitu kami sampai dan masuk ke dalam pasar malam,Kara langsung menarik tangan ku untuk berkeliling mencari wahana pertama yang ingin dia naiki.


“Sebentar sayang pelan-pelan” pinta ku dengan tangan terus di tarik nya.


Bima tertinggal di belakang kami,dan dia hanya memperhatikan Kara yang begitu bahagia bisa mengunjungi pasar malam ini.


Aku tersandung batu yang menancap di tanah, dan menabrak orang yang hendak melewatiku.


“Eh maaf Mbak” ucap ku kepada dua orang yang sudah ku tabrak.


“Iya tidak apa-apa” jawab wanita itu.


“Ada batu besar itu bahaya banget” ucap ku tidak ingin di salahkan dan menunjuk batu yang telah membuat ku tersandung.


“Iya Mbak tidak apa-apa” jawab wanita itu sambil pergi meninggalkan ku.


Lalu aku tersadar jika tangan ku sudah tidak lagi di genggam oleh Kara. Aku mencari Kara di sekitar ku.


“Kara!” Teriak ku mencari dia.

__ADS_1


“Karaa!!” Aku terus memutar tubuh ku mencari dia di sekitar ku,dia tidak ada di dekat ku.


“Karaa! kamu dimana sayang!” Aku berlari kesana kemari mencari dia di antara orang-orang yang berlalu lalang di sekitar sana.


Aku mulai panik, aku mendengar Bima memanggil ku namun tak ku hiraukan. Aku terus berlari mencari Kara dengan terus memanggil nama nya.


“Karaaa!!” Teriak ku membuat semua orang melirik ku dengan aneh.


Aku memegang kepala ku merasa pusing,terus mencari Kara di celah celah orang orang yang menghalangi pandangan ku.


“Kar…” ketika hendak aku meneriaki nama Kara lagi,tiba-tiba aku melihat seorang pria yang sedang menggendong Kara di depan penjual permen kapas berkarakter.


Kara sedang mengambil sebuah permen kapas berbentuk hello kitty kesukaan nya.


“Kara” Panggil ku melemah ketika aku melihat siapa yang tengah menggendong Kara.


Bima berlari dan berhenti di samping ku.


“Faw,Kara sudah ketemu?” Tanya Bima.


Namun aku tak menjawab nya,dan mata ku terus tertuju kepada satu arah dengan raut wajah yang terkejut namun lega.


Iya itu Nicko. Nicko sedang menggendong Kara dan Kara pun tampak senang di raut wajah nya.


Dengan cepat aku menghampiri Kara di ikuti oleh Bima. Aku langsung memegang tangan Kara dan memeluk nya yang masih ada dalam gendongan Nicko.


“Sayang” panggil ku kepada Kara dengan nada yang khawatir.


“Kamu tidak boleh lagi pergi sendiri seperti ini! Mama takut sayang, gimana kalo Kara di culik sama orang lain? Nanti Mama sedih” ucap ku terus memegang kedua pipi Kara.


“Kara ga di culik kok Ma,Kara bertemu Om Nicko tadi lalu Kara mau permen kapas” jawab Kara dengan polos nya.


Aku melirik Nicko yang sudah memasang raut wajah yang begitu kesal. Ingin sekali aku memaki nya,kenapa bisa dia menghampiri Kara tanpa memberi tahu ku dulu,namun aku teringat dengan Bima yang ada di belakang ku.


“Selamat malam Pak Ferdy” sapa Bima dengan begitu sopan dan ramah nya.

__ADS_1


“Bapak sedang disini?” Tanya Bima kepada Nicko.


“Ya kebetulan saya sedang melewat ke pasar malam ini dan saya ingin sekali berjalan jalan disini” jawab Nicko yang amat sangat tidak masuk akal.


Aku mengangkat satu halis ku ketika mendengar alasan Nicko.


Sejak kapan Nicko mau berjalan-jalan di tempat ramai seperti ini?


“Oh begitu. Bapak sendirian? Atau bersama Mbak Kirana?” Tanya Bima melihat sekitarnya mencari seseorang yang dia kenal.


Aku sudah mulai merasa kesal sekali mendengar nama Kirana.


“Oh tidak. Saya sendiri” jawab Nicko sambil melirik ku.


“Kebetulan sekali Bapak menemukan Kara ya Pak. Untung saja Kara bertemu dengan paman nya disini” ujar Bima membuat aku dan Nicko membulatkan mata secara bersama.


“Paman?” Tanya ku dan Nicko bersamaan.


“Iya Paman” jawab nya dengan tanpa berdosa.


“Bukankah kamu di asuh oleh kedua orang tua Bapak Ferdy kan ? dan di anggap anak oleh Pak Rio. Berarti kamu di anggap sebagai adik nya Pak Ferdy, berarti Kara adalah keponakan Pak Ferdy” ujar Bima menjelaskan kepada ku. Namun aku hanya menatap Bima dengan kikuk karena apa yang katakan nya itu benar menurut persepsi orang lain yang tahu cerita kami di luar.


Nicko tampak memejam kan mata mendengarkan ocehan Bima yang sulit di terima.


“Dengar” ujar Nicko kepada Bima.


“Fawnia bukanlah adik kandung ku, dan aku bukanlah paman Kara,jadi jangan memanggil ku sebagai paman nya” ujar Nicko dengan menahan diri.


Aku takut Nicko semakin jauh menjelaskan kepada Bima,dan malah membuat Bima menjadi bingung.


“Kara mau bermain komedi putar kan ? Yuk ajak Om Nicko ke komedi putar ya,keburu antrian nya panjang” ucap ku sambil mendorong punggung Nicko agar dia tidak berlarut larut dalam kekesalan nya.


Bima tampak masih bingung berdiri di tempat nya,namun dia menggelengkan kepala nya dan melupakan hal itu lalu menyusul kami ke komedi putar.


Kami sampai di antrian komedi putar atau yang Kara kenal dengan Carousel seperti apa yang sering dia lihat di tv nya. Carousel itu tampak besar dengan bermacam-macam patung kuda atau hewan lain yang bisa di tunggangi di sekitarnya. Dan lampu nya pun begitu banyak berwarna kuning,membuat penampilan komedi putar itu tampak bersinar dan indah.

__ADS_1


Nicko dan Kara langsung menaiki salah satu kuda besar di atas nya. Mereka duduk berdua disana dengan wajah yang begitu bahagia. Aku dan Bima berdiri di samping carousel menonton mereka. Aku memotret kebersamaan Kara dan Nicko yang tampak senang,aku tersenyum melihat mereka akhirnya bisa bersatu dengan keadaan bahagia seperti ini. Dan aku melihat Nicko pun tampak bahagia dengan terus tersenyum dan memegangi Kara.


Aku merasa keluarga ku hampir sempurna. Kara akhirnya bisa merasakan kasih sayang dari seorang ayah dan Nenek juga Kakek nya, walaupun dia belum mengerti dengan permasalahan yang selama ini mengganggu Ibu nya ini. Tapi aku lega karena Kara bahagia.


__ADS_2