Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Hanya semu


__ADS_3

Beberapa jam berlalu. Kami bertiga sudah begitu lelah mengantar Kara bermain di hampir semua wahana yang ada di pasar malam ini.


“Kita pulang?” Tanya Bima mengajak ku.


“Ayo” jawab ku yang sudah mulai merasa lelah.


Aku melihat Kara yang masih saja ada dalam gendongan Nicko dan kepalanya berbaring di bahu nya.


“Pak. Biarkan saya saja yang menggendong Kara,Bapak pasti kelelahan terus menggendong Kara” ucap Bima yang ingin menolong Nicko.


“Tidak perlu” tolak Nicko dengan ketus.


“Aku tidak akan pernah keberatan menggendong Kara seharian” lanjut Nicko lagi membuat Bima terdiam.


“Tapi kita akan pulang Pak. Biarkan saya membawa Kara ke mobil saya untuk mengantarkan Fawnia dan Kara pulang” ujar Bima yang membuat Nicko menekukan halis nya terlihat tidak senang dengan keputusan Bima yang akan membawa kami.


Aku tahu apa maksud tatapan Nicko. Dia pasti tidak ingin melihat Bima mengantarkan ku dan Kara pulang.


“Bim. Aku pulang dengan Nicko saja ya, lagian rumah kita kan searah dan rumah kamu berbeda arah dengan kami. Aku ikut Nicko saja” ucap ku.


“Tapi apa Pak Ferdy bersedia?” Tanya Bima menatap Nicko yang terus menggendong Kara dan berjalan menjauh dari kami.


“Dia pasti mau” jawab ku.


“Baiklah. Salamkan salam ku kepada Pak Ferdy ya,maaf aku tidak berpamitan kepadanya”


“Nanti aku sampaikan. Hati-hati ya Bim,dan terimakasih untuk malam ini”


“Oke Faw, sampai bertemu di kantor”


“Oke Bye”


Lalu Bima pergi meninggalkan ku dan Nicko di pasar malam itu. Aku menyusul Nicko yang terus berjalan menjauhi ku.


Aku mengimbangi jalan Nicko di samping nya.


“Bima sudah pergi?” Tanya nya tanpa melirik ku.


“Sudah”


Lalu aku dan Nicko membawa Kara keluar dari pasar malam ini. Aku duduk di kursi belakang dan menaruh kepala Kara di lahunan ku. Kara sudah tidak tahan lagi menahan kantuk nya,dan aku membiarkan dia tertidur di lahunan ku. Beberapa saat kemudian kita sampai di apartemen ku. Nicko kembali menggendong Kara dengan hati-hati dan berusaha untuk tidak membangunkan malaikat kecil kami. Aku membantu membawakan barang bawaan Nicko ke dalam apartemen ku.


Kita sampai di dalam apartemen ku,dan Nicko langsung membaringkan Kara di tempat tidur . Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh kecil Kara dan mengecup dengan penuh kasih sayang kening nya. Aku hanya bisa menatap dia dengan haru sambil menutup tirai jendela kamar ku.


Nicko hendak bangun dengan hati-hati dari tempat tidur ku, namun Kara menahan lengan nya.


“Om Nicko mau kemana?” Tanya Kara yang akhirnya terbangun dengan mata yang sedikit terbuka.

__ADS_1


“Om Nicko mau pulang sayang”


“Kara mau tidur di temani Om Nicko” ujar Kara setengah sadar.


Aku dan Nicko saling melempar pandang dengan bingung. Lalu aku tak berkomentar, aku tidak bisa mencegah keinginan Kara. Namun jika Nicko keberatan pun aku tidak akan menahan nya.


“Baiklah,Om Nicko akan menemani Kara tidur” ujar nya.


Dia melepaskan dulu sweater yang di pakai nya dan tidur di samping Kara dengan memeluk dan terus melihat wajah Kara yang kembali memejam kan matanya.


Aku segera mengganti pakaian ku di kamar mandi dan ikut tidur di sisi lain Kara dengan canggung. Karena sudah lama sekali aku tidak pernah melihat Nicko tertidur di samping ku. Kalau dulu aku sering sekali melihat Nicko tidur di tempat tidur nya untuk sekedar membangunkan nya atau mengganggu nya tidur, kini seperti nya aku begitu gugup dan canggung tidur di atas satu tempat tidur yang sama dengan nya.


Aku tertidur menghadap Kara dan mengecup kepala nya dari belakang nya. Nicko menatap ku begitu dalam.


“Terimakasih” ujar Nicko sambil menatap mataku begitu tulus.


“Untuk?” Tanya ku ikut berbisik.


“Karena sudah menghadirkan malaikat kecil ku yang begitu cantik di dunia ini” lanjut Nicko.


Aku diam tak bisa menjawab nya.


“Aku masih belum percaya jika aku telah memiliki buah hati dari wanita benar-benar aku cintai”


Aku begitu malu mendengar ucapan Nicko.


“Terimakasih sudah mau bertahan untuk ku dan juga Kara”


Aku tersenyum sekaligus sedih mendengar ucapan nya. Namun tidak bisa aku pungkiri jika aku bahagia dengan kehadiran Nicko di antara aku dan Kara.


Nicko menggenggam tangan ku di tubuh Kara,kita berdua akan menjaga Kara,dan akan melewati semuanya bersama-sama.


Pagi hari di hari libur kerja. Aku merasa tubuh ku begitu dingin di dalam tidur ku yang begitu nyenyak enggan untuk bangun. Aku menarik selimut ku dan aku mengerumuni tubuh ku dengan selimut tebal ku. Namun aku merasa selimut ku seperti memiliki tangan yang begitu hangat memeluk ku,aku terus menarik tangan itu untuk terus mendekap ku dari belakang. Beberapa saat kemudian aku merasakan ada hembusan nafas yang terasa di leher ku.


“Selamat pagi” sapa suara seorang laki-laki tepat di belakang ku.


Aku membuka mata lebar-lebar dan membalikan kepala ku.


Nicko. Wajah nya begitu dekat dengan tersenyum kepadaku,dan aku baru menyadari jika dari tadi yang aku tarik bukan hanya selimut,tapi juga tangan Nicko. Dia memeluk ku begitu erat dari belakang. Lalu dengan cepat aku berusaha untuk bangun namun Nicko menahan nya.


“Mau kemana?” Tanya Nicko.


“Dimana Kara?” Tanya ku dengan cemas menyadari jika Kara tidak ada di tempat tidur.


Aku tidak mau membalikan kepala ku dan menatap Nicko.


“Kara sudah bangun lebih dulu,mungkin dia sedang di ruang tamu,dan menunggu Mama dan Papa nya bangun” ujar nya membuat ku mendelikan mata.

__ADS_1


“Sudah lah ayo bangun” pinta ku dengan terus melepaskan tangan nya dari tubuh ku. Namun Nicko tidak mau melepaskan nya.


“Nickoo!!” Panggil ku memperingati dia untuk tidak berbuat macam-macam.


Namun Nicko menatap ku dengan begitu penuh kasih sayang.


“Selamat pagi Fawnia” ujar Nicko menyapa ku kembali sambil mengecup bibir ku dengan manis.


Aku menatap mata Nicko, mengingat masa-masa dulu ketika kami sering kali menyapa di kala pagi siang ataupun malam dengan begitu manis nya ketika kami bertemu di manapun.


“Selamat pagi Nicko” jawab ku dengan membalas senyuman nya.


“Bisakah aku tinggal disini bersama kamu dan Kara?” Pinta Nicko dengan manis.


Aku membuang wajah ku dengan malas,mendengar dia berusaha untuk membujuk ku.


“Kara hanya meminta mu untuk menemani nya tadi malam saja”


“Jika Kara ingin aku menemani nya setiap malam?”


Aku menatap tajam Nicko dengan kesal.


“Diamlah, ayo bangun” ujar ku tak ingin menjawab nya dan memaksa Nicko untuk ikut bangun juga dari tempat tidur ku.


Lalu aku dan Nicko bangun bersama dan keluar dari kamar tidur. Aku mendapati Kara sedang bermain di luar dengan buku gambar favorit nya.


“Selamat pagi Mama,selamat pagi Om Nicko” sapa Kara dengan tersenyum.


Nicko terlihat tersenyum mendengar Kara juga ikut menyapa kami.


“Selamat pagi malaikat kecil ku” jawab Nicko sambil mendekati Kara dan mencium pipi nya.


Kara tampak senang dengan sapaan hangat yang di berikan Nicko. Aku pun ikut mencium pipi Kara.


“Kara kenapa bangun sendiri? Kenapa tidak membangunkan Mama?”


“Mama tidur nya nyenyak, Kara tidak mau mengganggu Mama dan Om Nicko. Mama capek kerja kan?” Aku tersenyum mendengar perhatian yang di berikan Kara.


“Iya sayang,terimakasih”


Aku melirik Nicko yang sudah duduk di sofa di belakang Kara.


“Siapa yang mau susu caramel?” Seru ku sambil berjalan menuju pantry.


“Aku!” Teriak Nicko dan Kara secara bersamaan.


Aku tertawa melihat kekompakan mereka, dan mereka pun ikut tertawa karena merasa hal itu lucu.

__ADS_1


__ADS_2