Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Suatu kejanggalan


__ADS_3

Ketika malam tiba di rumah, aku sedang menemani Kara bermain di kamar dengan menggunakan baju piama. Kara sedang bermain di tab nya, dan aku menemani Kara di samping nya. Lalu suara ponsel ku berdering di atas meja kerja. Aku segera mengambil nya dan kembali ke tempat tidur duduk di samping Kara.


Keysa. Seperti nya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan nya ketika aku pindah ke rumah orang tua Nicko padahal ini baru hitungan hari.


“Hallo Key”


“Hay Faw, gimana kabarnya?”


“Gue baik, lo gimana?”


“Ih bukan elo, Kara maksud gue” ujar Keysa menjengkelkan.


“Kara udah mulai baik, ada apa? Tumben telepon jam segini?”


“Iya gue lagi suntuk nih, kangen banget sama Kara”


“Iya nih, Kara juga udah banyak nanyain elo,kapan main kesini?”


“Besok gue pulang kok, sekarang istirahat dulu di tangerang”


“Oh iya. Minggu depan juga gue ada jadwal ke jogja dari kantor”


“Sama Nicko?”


“Iyalah, orang Nicko Bos nya, gue kan cuma dayang”


“Istri maksud lo, Hahah”


“Apaansih lo”


“Yee, iyalah, kalo dayang kan pembantu kali Faw, elo kan malah di jadikan ratu sama Nicko, ya berarti lo istri nya”


“Ih, ga jelas banget deh lo”


“Terus Kara gimana? Bukan nya pengobatan dia sampe 2 minggu?”


“Lusa gue mau check up Ke dokter, mau tanya, kalo Kara udah bisa bepergian jauh apa belom, kalo bisa ya pasti gue sama Nicko bawa Kara ke jogja nanti”


“Keren banget ya, Ibu Bapak nya kerja, anak di bawa juga, sweet banget deh kalian”


Aku mengkerutkan kening ku mendengar ocehan Keysa.


“Aduh Key, lo kebanyakan nonton drama deh”


“Hahahaha”


“Ya udah, besok gue pulang, kalo ga cape gue kesana ya”

__ADS_1


“Iyaa”


“Mana Kara ? gue mau ngomong”


“Ini”


Lalu aku mendekatkan telepon ku kepada Kara dengan me load speaker suaranya,dan aku tetap memegangi handphone nya.


“Sayang aunty Key mau bicara dulu sebentar” pinta ku agar Kara berhenti dulu bermain di Tab nya.


“Hallo aunty Key?”


“Hay cantik, lagi apa sayang?”


“Lagi gambar aunty sama Mama”


“Ih pinter banget. Kara cepet sembuh ya,biar bisa main di taman lagi sama aunty”


“Tidak aunty, nanti aunty aja yang main kesini, soalnya Oma sama Opa buatin Kara taman mainan di halaman belakang” aku terkejut mendengar ucapan Kara yang baru saja aku ketahui.


“O ya?”


“Iya”


“Oke kalo gitu, nanti aunty main kesan ya”


“Bye sayang”


“Bye Aunty”


“Ya udah gue tutup ya Key” ujar ku sambil masih menatap Kara dengan bingung.


“Oke Faw. See you”


“See you”


Lalu aku menutup telepon nya,dan Kara tetap melanjutkan acara menggambarnya.


“Kara. Memang Oma dan Opa bilang mau buatin taman bermain di halaman?” Tanya ku dengan manis.


“Iya Ma. Oma sama Opa katanya mau buatin perosotan sama ayunan di halaman belakang untuk Kara”


“O ya?” Tanya ku ragu.


“Iya Ma. Karena tadi pagi Kara mau bermain ke taman tapi ga boleh sama Oma, lalu Oma janji mau buatkan taman di halaman belakang dekat kolam renang”


Aku tersenyum mendengarnya. Mama dan Papa berkata seperti itu pasti hanya untuk menenangkan Kara agar dia tidak bermain dulu keluar rumah.

__ADS_1


Keesokan pagi nya, aku sudah bersiap untuk pergi ke kantor dengan menggunakan pakaian formal ku yang banyak mengiktui style korean look ini. Lalu Aku begitu aneh dengan suara bising dari luar rumah, seperti ada orang yang sedang membangun rumah. Awal nya aku tidak merasa terganggu, karena suara tukang bangunan tidak terlalu nyaring ke kamar ku, namun semakin lama aku semakin mendengar suara gaduh di bawah rumah. Aku keluar dari kamar ku dan melihat ke lantai bawah. Begitu ramai sekali di bawah sana dengan beberapa orang yang mondar mandir kesana kemari membawa alat-alat bangunan. Aku mengkerutkan kening ku, aku tidak di beri tahu jika rumah ini akan di renovasi. Lalu aku turun ke bawah menemui Papa yang sedang berdiri di tengah rumah memperhatikan orang-orang yang keluar masuk rumah nya.


Dan aku terkejut ketika melihat ada orang yang sedang membawa perosotan berwarna merah melewati ku menuju halaman.


“Pa” panggil ku kepada Papa dengan raut wajah ku yang bingung.


“Hay sayang” saut Papa.


“Maaf ya, jalan depan Papa tutup karena rumput nya baru Papa renovasi minggu lalu, Papa tidak mau rumput baru Papa rusak”


“Kok ada perosotan?” Tanya ku tanpa menggubris cerita nya.


Papa terus memperhatikan tukang-tukang ini dengan serius walaupun dia masih memakai pakaian tidur nya.


“Iya. Ini untuk Kara, Mama kemarin yang meminta” jawab Papa membuat ku teringat omongan Kara semalam.


Aku menarik nafas ku begitu dalam. Dan menghembuskan nya dengan kesal.


“Pa. Kenapa harus di buatkan taman seperti ini sih Pa? Ini tidak perlu, Kara masih bisa bermain di taman dekat sini”


“Memang nya kenapa? Ini juga kan untuk cucu Papa”


“Tapi apa tidak berlebihan seperti ini?”


“Berlebihan bagaimana? Papa hanya mau Kara senang tinggal disini, dan agar dia pun tidak suntuk menjalani pengobatan nya”


“Pa..” rengek ku dengan raut wajah sedih.


“Sudah. Jangan mengeluh seperti itu, Papa membuat ini untuk Kara bukan untuk mu, cepat pergi bekerja, agar kamu cepat pintar dan cepat juga memegang bisnis sendiri” ujar Papa yang sama menyebalkan nya dengan Nicko.


Papa meninggalkan ku begitu saja menuju halaman belakang. Dan aku masih menatap nya dengan perasaan tidak enak.


Sebenarnya aku senang Papa dan Mama memperhatikan Kara sampai begitunya, hanya saja aku masih merasa tidak enak, karena Kara baru beberapa hari tinggal disini dan sudah merepotkan semuanya. Walupun sebenarnya aku tahu, apa yang mereka lakukan hanya untuk membuat Kara senang.


Seperti biasa, aku pergi bersama Nicko ke kantor. Dan aku kembali membawa koper dan jas nya menuju ruangan nya. Nicko langsung menyalakan komputer dan membuka e-mail nya.


“Faw” panggil Nicko dengan mata terus menatap komputer nya.


Aku yang sedang menggantungkan jas Nicko langsung menoleh ke arah nya.


“Kenapa?”


“Coba lihat ini” ujar Nicko dengan wajah yang begitu terkejut.


Dengan penasaran aku segera berjalan mendekati nya dan ikut melihat apa yang membuat dia terkejut. Itu adalah pesan dari perusahaan orang tua Ben. Mereka kembali mengajak kerja sama dengan perusahaan kami, dan sudah pasti itu membuatku dan Nicko sangat bingung. Kenapa bisa tiba-tiba orang tua Ben kembali mengajak kerja sama dengan kantor kita setelah perdebatan hebat yang kami lakukan di kantornya terakhir kari waktu itu adalah pertemuan yang begitu panas.


Nicko menatap ku dengan heran, dan aku pun ikut bingung memikirkan kejanggalan itu.

__ADS_1


__ADS_2