Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Ekspetasi yang salah


__ADS_3

Keesokan harinya kami kembali di kantor.


Aku baru saja dari ruangan Pak Zaidan untuk memberikan berkas kerja untuk nya. Lalu aku berjalan di lorong untuk kembali ke ruangan ku. Aku melewati beberapa ruangan kerja karyawan lain yang terlihat sedang sibuk, mereka sempat menyapa ku dan tersenyum kepadaku.


Sikap mereka jadi terlihat begitu kaku setelah mereka mengetahui yang sebenarnya antara aku dan Nicko. Namun aku sama sekali tidak mempedulikan itu, aku tetap bersikap seperti biasa saja dan bekerja seperti biasa.


Setelah tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu ruangan ku, aku melihat Bima keluar dari pintu itu. Seperti nya dia baru saja ke ruangan Nicko. Bima sempat melihat ku namun dia langsung berbalik dan tak mengacuhkan ku. Aku berlari mengejar Bima.


“Bima!” Panggil ku, namun dia sama sekali tak menghentikan langkah nya.


“Bima tunggu” ucap ku yang sudah berhasil meraih tangan nya.


Bima akhirnya mau menghentikan langkah nya dan menatap ku dengan ketus.


“Kamu marah?” Tanya ku dengan wajah yang tampak bersalah.


“Marah untuk apa?” Ujar nya dengan begitu dingin.


“Bim aku minta maaf karena telah menyembunyikan semua ini dari kamu”


Bima sama sekali tidak ingin menatap ku, dia terus saja melihat kesana kemari agar tidak menatap mata ku.


“Aku tahu aku salah, aku tahu seharunsya aku berusaha jujur sama kamu”


“Tidak Fawnia, kamu tidak salah, tapi aku yang salah. Aku terlalu berharap dengan apa yang sebenarnya tidak bisa aku dapatkan”


“Bim bukan seperti itu..”


“Kamu tahu. Selama ini aku kira kamu menolak ku hanya karena kamu belum siap menerima orang baru di hidup mu, aku kira dengan kesabaran yang aku miliki, hati mu akan tumbuh kepada ku dengan sendiri nya. Aku mencoba untuk tidak meninggalkan perasaan ku Fawnia, karena aku terlalu yakin, jika suatu saat kamu akan menerima aku di hidup mu, tapi ternyata kamu memilih Pak Ferdy di bandingkan aku”


“Bukan seperti itu Bim..”


“Sekarang aku malu kepada diriku sendiri. Aku malu kepada Pak Ferdy, karena selama ini dia melihat aku berusaha mendekati calon istri nya. Aku merasa canggung bertemu dengan dia sekarang Faw”


“Bim dengarkan aku dulu. Dari awal Nicko sudah tahu tentang perasaan kamu, dia tidak mempermasalahkan itu, karena dulu aku pun belum yakin untuk menikah dengan nya. Keputusan kami menikah pun baru baru ini kami fikirkan dengan matang”


“Tapi kenapa harus Pak Ferdy Faw? Kamu pun sebelum nya tahu Pak Ferdy sudah memiliki kekasih, dan mereka pun sudah berencana menikah, tapi kenapa kamu masih memilih dia? Sementara aku yang sudah menunggu mu sejak awal tidak pernah kamu berikan kepastian”


Aku termenung mendengar ucapan Bima. Aku tahu dia begitu marah kepadaku karena telah menyembunyikan kenyataan tentang Nicko.


“Apa alasan kamu Faw?”


“Aku tidak bisa menjelaskan tentang itu. Aku dan Nicko memiliki satu alasan kuat untuk kita terus bersama”

__ADS_1


“Iya apa alasan nya ? Jelaskan kepada ku Faw. Jangan membuat ku terus menerka nerka tentang mu”


“Aku tidak bisa..”


“Pak Ferdy padahal tahu juga jika kamu sudah memiliki anak kan ? Tapi kenapa dia masih mau menerima kamu?” Ujar Bima membuat ku tercengang dan menatap nya dengan sinis.


“Apa maksud mu?”


Bima tak menjawab dia hanya mengusap wajah nya dengan kasar, terlihat menyesal dengan apa yang sudah ia katakan.


“Apa kamu kira dengan status ku sebagai single parents akan membuat ku sulit untuk menemukan pasangan hidup yang bisa menerima aku apa adanya?”


“Ya tentu saja pasti ada, salah satu nya aku kan?” Jawab Bima berusaha memperbaiki kesalahan ucapan nya.


“Kamu fikir status ku ini begitu buruk di mata orang lain sehingga kamu kira seorang Nicko bisa-bisa nya menerima aku sebagai istrinya?”


Bima tak bisa menjawab, dia terus diam menatap ku dengan bingung.


“Bim. Aku menutupi semua ini kepada mu karena aku begitu mengharagai kamu,aku tidak ingin kamu sakit hati mendengar kenyaaan jika aku dan Nicko sudah memiliki hubungan spesial dari semenjak kami kecil hingga saat ini, aku tidak ingin sikap kamu berubah karena mengetahui itu, tapi ternyata ekspetasi ku terlalu tinggi terhadap kamu, aku kira kamu orang baik yang tidak boleh aku sakiti begitu saja, tapi ternyata aku salah, kamu sama saja seperti laki-laki buaya di luaran sana” ucap ku dengan penuh kekecewaan.


Lalu aku pergi meninggalan Bima dengan begitu kesal. Aku kembali masuk ke dalam ruangan ku dan duduk di kursi ku menahan air mata yang begitu memaksa ingin keluar.


Aku tidak percaya aku dan Bima akan berkahir seperti ini. Aku kira, kita masih bisa berteman walaupun dia tahu aku telah di miliki oleh Nicko, tapi sepertinya Bima tidak bisa menerima hal itu dengan cepat, dia begitu kecewa sampai-sampai dia menyakiti hati ku.


“Ada apa?” Tanya nya sambil berdiri di depan meja ku dan menaruh kedua tangan nya di meja untuk mencondongkan tubuh nya menatap wajah ku lebih dekat.


“Tidak ada” jawab ku enggan untuk menatap mata nya, karena aku takut mata ku masih basah.


“Kamu menangis?”


“Tidak” jawab ku sambil menggelengkan kepala sekuat mungkin.


“Jangan berbohong Fawnia, kamu sedang menghadapi ku, bukan orang lain”


Aku menarik nafas ku dengan perlahan dan mencoba melirik Nicko dengan ragu.


“Aku baru saja berbicara dengan Bima”


“Dia menyakitimu?” Tanya nya sambil mengerutkan kening nya.


“Tidak. Justru aku yang menyakiti hati nya,seharusnya dari awal aku tidak memberikan dia harapan, seharusnya aku mengatakan yang sejujur nya kepada nya, tapi aku malah menyembunyikan ini karena takut sikap nya berubah kepadaku” jawab ku akhirnya dengan jujur.


Nicko tak menjawab dia hanya menatap ku dengan serius.

__ADS_1


“Dia teman ku satu-satu nya disini Nick. Aku tidak memiliki teman lagi selain dia”


“Berteman dengan lawan jenis apalagi perkenalan kalian begitu singkat, akan sangat tidak mungkin perasaan nyaman tidak akan tumbuh Fawnia”


“Tapi aku bisa, aku tidak pernah memiliki perasaan apapun kepada Bima”


“Itu kamu”


Aku mengerucutkan bibir ku dengan begitu sedih.


“Aku tidak pernah tahu itu, karena aku sama sekali tidak memiliki teman laki-laki selama ini selain Ben”


“Kenapa?” Tanya nya dengan kikuk.


Lalu aku menatap nya dengan kesal.


“Kamu lupa? kamu yang menghalangi ku untuk bisa mendapat teman laki-laki dari kita sekolah SMP bahkan sampai kuliah”


“Tidak” jawab nya dengan begitu percaya diri.


“Kamu yang membuat canggung laki-laki untuk mendekati aku”


“Itu tidak benar”


“Itu benar Nicko, bahkan Keysa pun bisa melihat itu”


“Dia kan teman dekat mu, dia pasti akan mendukung setiap cerita mu”


Aku memutarkan bola mata ku.


“Itu fakta Nicko. Bahkan kamu membuat laki-laki takut untuk mendekati aku karena kamu selalu di sekitar ku”


“Karena aku selalu satu sekolah dengan kamu kan? Jadi kamu selalu melihat aku dimana pun” Nicko tetap saja tidak ingin mengakui hal itu.


“Kamu jelas-jelas mengganggu pria yang mendekatiku saat sekolah” ujar ku kembali mengungkit masa-masa kami di sekolah.


“Aku tidak mengganggu, aku hanya ikut bergabung dengan kalian, apa itu salah?”


“Tapi setelah itu kamu minta untuk aku tidak lagi dekat dengan pria itu kan?”


“Dan kamu menuruti nya” ujar Nicko membuat ku mati kutu.


Aku menatap dia sejenak lalu langsung salah tingkah. Nicko benar, aku selalu menuruti keinginan nya, padahal bisa saja aku tidak mendengarkan nya, tapi aku tetap menuruti nya.

__ADS_1


__ADS_2