
Tidak lama Nicko kembali datang dengan dokter yang tadi membawanya. Dokter dan Nicko menghampiri kami dan berdiri di depan pintu ICU.
“Bagaimana? Bagaimana dengan Kara?” Tanya ku tidak sabar.
Nicko menatap ku dengan pilu,dia memegang pipi ku dengan lembut.
“Kita do’a kan yang terbaik untuknya”
“Kenapa? Ada apa dengan dia ?” Tanya ku begitu takut.
“Anak Ibu sedang kami tangani sebaik mungkin, dia mengalami cedera ringan di otak belakang nya, dan setelah kami cek,dia ternyata memiliki penyakit keturunan yaitu thalassemia minor,kita membutuhkan transfusi darah secepatnya” ujar dokter dengan bijak dan tenang.
Aku kembali menatap Nicko dengan khawatir.
“Tapi anak kita akan baik-baik saja kan Nick?”
Nicko memegang lembut pipi ku.
“Kara akan baik-baik saja, dia anak ku, aku yakin dia akan kuat sepertiku. Kara pasti bisa melalui ini Faw” ucap Nicko persis seperti apa yang aku katakan kepada Mama.
“Kamu harus janji jika tidak akan terjadi apa-apa kepada Kara” ucap ku dengan sedih.
“Aku janji Fawnia”
Mama dan Papa pun saling merangkul menguatkan satu sama lain. Dan Nicko langsung memeluk ku,menaruh kepala ku di bahunya. Aku membenamkan wajahku di dekapan nya,dan Nicko terus mengusap punggungku,untuk menenangkanku.
Nicko membawaku duduk, dan dia terus menggenggam kedua tangan ku. Mama dan Papa nya juga ikut duduk di kursi yang memanjang ini.
Nicko melirik Mama dan Papa nya yang berada di sampingku.
“Jadi Mama dan Papa sudah tahu?” Tanya Nicko padaku.
Membuat Mama dan Papa nya bisa mendengar itu dan melirik kami berdua.
Aku menganggukan kepala.
“Apa kamu di marahi?”tanya Nicko membuatku menghela nafas berat.
“Kamu yang harusnya kami marahi!” Ucap Papa nya kembali kesal.
“Sudah berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab!” Ucap Papa nya begitu tegas.
Aku hanya bisa mengusap keningku mendengar Papa memarahi Nicko. Dan Nicko pun tampak takut menatap Papa nya yang mulai marah.
“Kamu sebagai laki-laki seharusnya memiliki jiwa yang besar untuk bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan dengan Fawnia. Ini malah membiarkan Fawnia membesarkan anak kalian seorang diri”
“Pa. Papa kan tahu sendiri, aku sudah mencarinya kemanapun,tapi Fawnia sulit di temukan. Bahkan aku sampai depresi karena memikirkan dia,kalau aku tahu jika dia sedang hamil,aku tidak akan mungkin membiarkan dia hilang dari pandanganku sebentar saja” ujar Nicko mengingatkan hal itu kepada Papanya.
“Iya tapi kenapa kamu bisa sampai kehilangan Fawnia? Kenapa bisa kamu sampai tidak tahu jika Fawnia sudah hamil ?! Memalukan”
Nicko hanya bisa diam mendengar ceramah dari Papa nya. Dia tidak bisa melawan, dan aku hanya melirik Nicko dengan kasihan.
“Dan kamu!” Ucap Papa kepadaku.
__ADS_1
Aku melirik Papa dengan takut,walaupun sebenarnya aku sudah tahu Papa sudah memaafkan ku, tapi aku tetap saja takut kepadanya.
“Pa. Sudahlah, aku kan sudah minta maaf tentang Kara. Lebih baik sekarang kita berdo’a untuk kesembuhan Kara,agar kita semua bisa kembali memeluk nya” ucap Nicko berusaha melindungiku.
“Tidak bisa!” Ucap Papa dengan tajam.
“Papa mau, setelah Kara sadar, kamu dan Kara kembali ke rumah”
Aku membulatkan mataku,mendengar perintah Papa yang masih saja menginginkan aku kembali kerumahnya.
“Tapi Pa..”
“Tidak ada tapi. Jika tidak,kami tidak akan mau memaafkan kalian”
Aku hanya bisa menghela nafasku dengan lemah. Aku melirik Mama yang hanya bisa tersenyum mendengar permintaan suaminya. Ini juga adalah salah satu hal yang selalu Mama inginkan,untuk aku kembali kerumah itu dan menemani nya.
Aku kembali melirik Nicko.
“Jika kamu pulang, aku pun akan pulang” ujar nya.
Aku memasang wajah begitu tak berdaya kepada Nicko. Karena bisa-bisa nya dia juga ikut memintaku untuk kembali pulang ke rumah itu.
Beberapa saat kemudian,pintu ICU masih saja tertutup, belum ada orang yang keluar dari dalam ruangan. Kami berempat sudah mulai terlihat lelah.
“Ma” panggil ku kepada Mama yang berada di sampingku.
“Mama dan Papa pulang lah. Biar aku dan Nicko yang menunggu disini. Mama dan Papa perlu beristirahat” ucap ku.
“Tidak Nak. Mama mau menunggu cucu Mama. Mama mau melihat dia dan mencium nya”
“Kita berdua bisa makan di kantin rumah sakit”
“Ya. Papa juga sudah mulai lapar,kalau begitu ayo kita makan dulu” ajak Papa.
“Mama dan Papa duluan saja, aku menunggu dokter dulu”
“Ya sudah. Kita makan dulu, segera kabari Mama jika dokter sudah keluar”
“Iya Ma”
Lalu Mama dan Papa Nicko pergi ke kantin, dan tersisalah kami berdua di depan ruang ICU. Masih duduk di kursi panjang dan bersandar di tembok.
“Aku lega, akhirnya Mama dan Papa tahu tentang Kara” ucap Nicko.
“Aku juga lega. Tidak ada rahasia besar yang aku pikul sendiri sekarang” ujar Ku.
“Andai saja hal ini sudah kamu beritahu sejak dulu,aku pasti akan mengurus Kara dari dia lahir dan kita pasti masih akan bersama di rumah besar itu”
Aku mendelikan mataku merasa begitu lelah mendengar keluhan dia yang seakan menyalahkan ku.
“Sudahlah Nick. Hal itu tidak perlu kita bahas kembali. Semua memang sudah takdir, takdir jika aku harus menyembunyikan semua ini,dan takdir ku juga untuk membantu Ben mendapatkan jalan keluar untuk masalahnya. Dan mungkin baru sekarang takdirnya jika kamu dan kedua orang tua mu tahu tentang Kara”
Nicko menganggukan kepalanya.
__ADS_1
“Jadi..” ucap Nicko dengan menggantungkan kalimat nya.
“kapan kita menikah?” lanjut Nicko membuat ku langsung membulatkan mataku kembali.
“Menikah?” Tanya ku meyakinkan apa yang aku dengar.
“Iya menikah” jawab Nicko dengan begitu semangat.
“Orang tua ku sudah mengetahui tentang Kara. Dan mereka pasti ingin segera aku untuk bertanggung jawab dan menikahimu”
Aku merenyitkan dahi ku dengan menghela nafas dengan lemas.
“Apa harus ?” Tanyaku konyol.
“Iya harus !” Jawab nya dengan bingung melihat ku yang seperti tidak yakin.
“Kenapa? Kamu tidak mau?” Tanya Nicko menyelidik wajah ku dengan tajam.
“Bukan seperti itu. Tapi aku belum pernah berfikir sejauh itu sebelum nya”
“Apa kamu kira orang tua ku akan membiarkan Kara tumbuh tanpa seorang ayah yang sah?” Nicko benar lagi,Seharusnya aku memikirkan tentang itu sejak awal.
“Aku juga mau ikut mengurusnya Fawnia,dan aku pun ingin di panggil Papa oleh Kara,bukan lagi Om Nicko” ujar nya dengan sedikit sindiran.
“Tapi..”
“Bisakah kamu menurut saja,jangan terlalu banyak pertimbangan. Pernikahan kita itu harus di lakukan,siap atau pun tidak Papa pasti akan meminta kita untuk menentukan pernikahan nya. Dan aku mau secepatnya”
Aku memicingkan mataku menatap mata Nicko dengan kesal. Bahkan di keadaan seperti ini pun dia masih menyebalkan dan berlaku semaunya nya.
“Apa jadinya nanti di kantor ketika mereka tahu jika bos nya menikahi sekretaris cantiknya” ucap ku meledek.
Nicko mengangkat satu halis nya mendengar ucapanku.
“Kamu tidak perlu lagi menjadi sekretaris. Kamu cukup menjadi istri ku, menunggu ku di rumah dan mulai belajar menjadi seorang istri yang baik untuk ku. Tidak perlu bekerja”
Sekarang giliran ku yang mengkerutkan kening mendengar ocehan nya.
“Aku bisa mencari sekretaris lain”
“Tidak bisa. Aku tidak mau” ucap ku dengan serius.
“Aku juga mau mengurus bisnis orang tua ku Nicko”
“Iya tapi kamu bisa dengan bekerja di rumah,dan memantau bisnis Papa yang lain yang lebih kecil?”
“Aku tidak mau!” Ucap ku terus saja teguh pada keinginanku.
“Aku tidak mau. Aku hanya ingin menjadi sekretaris dan terus membantumu”
Nicko terlihat menghela nafas nya begitu panjang.
“Kenapa? Kamu mau mencari sekretaris lain? Mau mencari wanita lain untuk menemanimu?” Tanyaku meledek dengan tatapan yang sinis.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Nicko” ucap ku tajam memperingatinya.
Nicko tersenyum manis kepada ku dan dia menatap ku begitu dalam.