Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Malaikat kecilku


__ADS_3

Aku diam di meja kerja ku dengan perasaan yang masih belum menentu.


Aku masih saja memikirkan tentang perkataan Papa tentang Nicko. Dia begitu percaya kepada Nicko sampai tidak ingin membayang kan jika hal yang terjadi pada orang tua Ben terjadi kepada mereka. Andai saja Papa tau jika aku hamil bukan lah oleh Ben, dan orang tua Ben marah karena hal itu. Papa pasti akan marah besar kepada ku juga Nicko.


Nicko masuk ke ruangan ku dengan raut wajah yang khawatir melihat ku.


“Aku sudah berbicara kepada Papa” ujar Nicko.


Aku masih saja melamun di meja kerja ku, menatap kosong komputer yang ada di hadapan ku.


“Papa mu begitu percaya kepada mu Nicko” ujar ku tanpa menghiraukan ucapan nya.


Aku melirik Nicko yang terlihat bingung.


“Dia sangat tidak ingin anak nya melakukan hal memalukan seperti itu. Bagaimana sekarang?” Tanya ku dengan mata yang mulai kembali basah.


“Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita masih akan tetap mengatakan yang sejujurnya kepada mereka ?” Aku menggelengkan kepala ku begitu bingung.


“Aku tidak mau mereka membenci ku Nicko”


Nicko menghampiri ku di meja kerja dan dia berlutut di samping ku.


“Dengarkan aku baik-baik”


“Aku sudah berjanji kepadamu, untuk tidak pernah meninggalkan mu apapun yang terjadi. Biarpun Papa akan membenci ku, aku tidak akan peduli Fawnia. Kita akan lewati ini bersama, aku tidak bisa lagi menjalani hidupku tanpa kamu” ujar Nicko menguatkan aku.


Aku diam tak menjawab nya. Aku masih bingung dengan situasi ku sekarang. Aku tidak ingin mengecewakan Papa,namun aku merasa yakin jika semua rahasia ini akan terbongkar kepada orang tua Nicko cepat atau lambat. Dan aku tidak sanggup melihat kekecewaan mereka.


Malam hari nya aku pulang ke apartemen ku dengan perasaan yang begitu kacau. Aku melihat Keysa yang berada di ruang tamu ku bersama Kara yang sedang bermain di samping nya.


“Mamaa” sapa Kara seperti biasa sambil berlari ke arah ku.

__ADS_1


Aku berusaha tersenyum untuk nya.


“Hay sayang, bagaimana hari mu?” Tanya ku.


“Seru Ma, di sekolah Kara belajar menggambar, dan Kara hebat di sekolah”


“O yah? Ya sudah kembali bermain,Mama mau ganti dulu baju ya”


Lalu Kara kembali berlari ke tempat nya bermain, dan Keysa melihat ku dengan tatapan nya yang aneh.


“Hay Key” sapa ku dengan lemas.


“Kenapa lo? Kusut amat tu muka” ledek Keysa dengan hanya memutarkan kepala nya melihat ku berjalan melewati nya.


“Nanti gue cerita, gue ganti dulu baju” jawab ku tanpa melirik nya dan masuk ke dalam kamar.


Aku mengganti pakaian ku dengan baju oversize polos berbahan lembut dan tipis berwarna putih dengan gambar kucing di tengah nya. Dan memakai celana pendek berwarna peach agar kaki ku bisa leluasa berjalan di rumah.


Aku berjalan ke luar kamar dengan mengikat rambut ku dan duduk di meja pantry. Keysa menghampiri ku.


Aku menceritakan semua kisah ku beberapa hari ini kepada Keysa. Karena aku belum sempat bercerita kepada nya karena dia sedang ada pekerjaan di luar kota mengatur bisnis nya, dan aku tidak ingin menceritakan semua hal besar ini lewat telepon.


“Terus gimana ?” Tanya Keysa ketika aku telah sampai bercerita tentang Papa Nicko kepada nya.


“Gue ga tau Key. Gue malah makin takut buat jujur ke keluarga Nicko tentang Kara”


“Gue ngerti sih Faw. Di saat lo udah dapetin lagi keluarga Nicko, sekarang malah masih ada satu masalah yang begitu besar yang bisa saja buat lo kehilangan mereka lagi”


Ucapan Keysa lagi-lagi benar.


“Gue selalu mikir, andai aja gue dari dulu jujur sama mereka tentang Kara. Gue pasti ga perlu menikah dengan Ben dan musuhan sama keluarga Ben”

__ADS_1


“Hey. Lo udah nolongin Ben waktu itu. Lo kan tau Ben ga bisa punya anak”


“Tapi akhirnya Ben ninggalin gue sebelum dia bisa melihat anak yang di kandung gue Key. Apa ga percuma semua usaha yang udah kita lakuin? Ben udah bohongin keluarganya, gue juga udah ninggalin keluarga Nicko, dan gue ga jadi bunuh diri waktu itu” ucap ku dengan tanpa sadar,entah apa yang sudah merasuki ku bisa berkata seperti itu.


“Gila ya lo!” Ucap Keysa dengan kesal.


“Lo liat ke belakang! Liat Kara!” Pinta Keysa dengan emosi.


Aku melirik ke belakang ku dan melihat Kara yang sedang bermain di meja ruang tamu. Aku perhatikan dia dengan seksama, kepolosan nya,kecantikan nya,kebaikan nya, membuat ku beruntung bisa memiliki nya.


“Kara itu ga berdosa. Dia ga punya salah apa-apa. Dia ga pantes buat nanggung semua penderitaan lo Faw. Lo berharap bunuh diri lo terjadi saat itu?” Tanya Keysa tak percaya dengan apa yang sudah aku katakan.


“Dan lo tega, ngebiarin Kara mati sebelum dia merasakan indahnya hidup?” Tanya Keysa. Membuat ku kembali merenung dan berfikir.


“Udahlah Faw, Jangan terus menyalahkan masa lalu. Dengan tanpa lo sadari, Ben udah bantu Kara untuk lahir ke dunia ini. Dan lo juga memiliki kebahagiaan yang lebih atas lahirnya Kara kan?” Aku diam membenarkan ucapan Keysa.


“Kalo lo memang ga mau pusing dari dulu. Kenapa lo ga kasihin aja Kara ke keluarga Ben ketika mereka meminta Kara saat bayi, dan tetap menjaga rahasia tentang ayah kandung Kara. Lo kan ga akan pusing dengan fakta yang lo punya sendiri. Lo ga perlu pusing mikirin Nicko, lo ga perlu pusing musuhin keluarga Ben, lo ga perlu takut orang tua Nicko tau yang sebenarnya. Se simple itu sebenernya” ujar Keysa dengan mengangkat kedua bahu nya.


“Tapi lo ga mau kan Faw?” Tanya Keysa dengan menatap ku tajam.


“Iya. Gue ga mau kehilangan Kara” jawab ku.


Lalu aku kembali melirik Kara di belakang ku dengan sedih.


“Saat gue tahu pertama kali ada bayi di dalam perut gue. Gue sempet frustasi Key, tapi semakin lama gue malah merasakan ada kekuatan yang di berikan Kara di dalem perut gue. Gue merasa Kara adalah kekuatan baru untuk gue, dia adalah malaikat yang di kirim tuhan untuk menemani gue. Dan memang, dia adalah pengobat masalah dalam hidup gue sampai sekarang”


Mata ku mulai basah, namun aku menahan nya agar tidak keluar. Karena hari ini aku terlalu banyak mengeluarkan air mata ku.


“Apapun yang akan terjadi di hadapan lo, gue harap lo bisa tahan,dan lo bisa terima segala konsekuensi nya. Percaya deh, badai pasti berlalu. Dan gak selamanya apa yang lo takutin itu terjadi Faw” ucap Keysa penuh penghayatan.


Aku tersenyum kepada satu-satu nya sahabat yang aku miliki. Selain Kara, Keysa adalah penguat hidup ku yang selalu ada di saat aku butuhkan. Aku memeluk Keysa dengan haru.

__ADS_1


“Thank ya Key,udah mau jadi sahabat gue selama ini”


“It’s Ok. Gue akan selalu ada untuk elo Faw”


__ADS_2