Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Flashback ‘kepergian Orang tua ku’


__ADS_3

Beberapa tahun silam. Ketika aku berumur 5 tahun dengan Nicko,aku selalu bermain dengan nya di taman perumahaan dekat rumah kami.


Nicko adalah satu-satu nya teman sebaya ku dan sejak bayi kami memang selalu di pertemukan oleh kedua orang tua kami yang begitu bersahabat. Apalagi Mama ku dan Mama Nicko, begitu bersahabat semenjak mereka remaja dulu hingga mereka menikah dan memiliki seorang anak bersama. Kelahiran ku dan Nicko hanya berjarak beda 3 bulan,jadi kami berdua masih seumuran.


Nicko selalu menjadi Kakak untuk ku, dan bahkan orang tua kami selalu menganggap kami adalah anak kembar. Rumah kami pun hanya berbeda beberapa blok saja, jadi tidak heran jika kami hampir setiap hari bertemu. Orang tua ku mulai membuat bisnis untuk masa depan keluarga ku, karena konon katanya orang tua ku telah di buang oleh kakek nenek ku karena pernikahan mereka tidak di setujui. Begitulah aku mendengar cerita itu dari Papa Nicko atau Om Rio.


Bisnis Papa mulai melesat. Papa mulai memiliki kantor kecil untuk usahanya. Beruntunglah Papa memiliki kecerdasan yang tinggi dan ilmu yang dia ambil dari keluarga nya, sehingga Papa dengan mudah bisa merubah nasib keluarganya dengan cepat. Lalu Papa menolong Papa Nicko untuk ikut berbisnis, dan akhirnya usaha mereka pun semakin mencuat. Papa ku mengajarkan Papa Nicko bagaimana menjalankan perusahaan nya,karena dia ingin perusahaan nya di pegang juga oleh Papa Nicko. Mungkin Papa sudah memiliki firasat buruk untuk masa depan nya.


Sejak duduk di bangku SD,aku dan Nicko selalu di masukan di sekolah yang sama,sehingga saat kecil Mama kami bisa mengantarkan kami sekolah bersama-sama. Dulu Mama Nicko tidak memiliki mobil, jadi selalu ikut mobil Mama ku.


Dan setelah lulus SD pun,kami masih di masukan ke Sekolah Menengah Pertama yang sama bahkan kami bisa satu kelas. Sehingga ketika ada pekerjaan rumah, kita selalu mengerjakan nya sama-sama, sama seperti kejadian di malam mengerikan itu.


Ketika aku sedang bermain game di dalam kamar, Mama masih terlihat begitu sibuk kesana kemari bersiap untuk tidur.


“Fawniaaa” panggil Mama dengan lembut ketika masuk ke dalam kamar dan membereskan baju kotor ku yang berserakan dan membereskan barang-barang yang ku simpan dimana saja.


Mama memakai piyama tidur berwarna merah, dan rambut nya begitu pendek sebahu nya. Kulitnya begitu mulus dan masih terlihat awet muda untuk model ibu yang sudah memiliki satu anak.


“Hmmm” jawab ku dengan mata yang begitu sibuk menatap layar komputer.


“Besok hari Rabu kan ?” Tanya Mama.


“Iyaaa” jawab ku.


“Baju olah raga sudah di masukan ke dalam tas ?”


“Sudah”


“Ada pekerjaan rumah yang belum di selesaikan?” Tanya Mama.


“Sudah Ma”


“Bener?” Tanya Mama ragu.


Lalu aku teringat akan sesuatu.


“Astagaaa” ucap ku dengan terkejut.


“Nah kaannnn” ledek Mama begitu tahu dengan sikap anak nya yang pelupa dan ceroboh.


“Aku ada PR Fisika Maaa, aku janji mau mengerjakan nya di rumah Nicko” ucap ku dan langsung turun dari tempat duduk ku dengan cepat mencari buku fisika ku.


“Pelan-pelan sayang carinya kalau seperti itu tidak akan ketemu bukunya” omel Mama membantu ku mencari kan buku ku.


“Iniii” Mama menemukan buku ku.


“Buku catatan nya?” Tanya ku.


“Ini” lagi-lagi dia yang menemukan nya.


Lalu aku mencium pipi nya dan tiba-tiba saja ingin memeluk nya.


“Terimakasih Mama. Aku sayang Mama” ucap ku dengan memeluk nya begitu erat.


“Mama juga sayang kamu Nak, akan selalu sayang kamu”


Lalu kami melepaskan pelukan nya dan aku berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa. Aku melihat Papa yang sedang duduk di meja ruang keluarga dengan koran di tangan nya. Perawakan nya yang tinggi,gagah, wajah putih,berjenggot tipis dan kaca mata membuat dia begitu gagah dan berwibawa walaupun di dalam rumah.


“Mau kemana sayang?” Tanya Papa ketika melihat ku turun dari tangga.


“Aku lupa ada PR Pah, dan janji mau mengerjakan nya dirumah Nicko”


“Perlu di antar Mbak tidak?”


“Tidak perlu aku berani sendiri” ucap ku dan langsung menghampiri Papa dan juga mencium pipi nya.


“Aku sayang Papa”


“Papa juga sayang kamu Nak”

__ADS_1


Lalu aku kembali berlari keluar rumah dan menuju rumah Nicko.


Aku membuka gerbang dan berlari menuju pintu rumah Nicko. Aku menekan bel rumah nya sampai ada yang membuka kan pintu.


Beberapa saat kemudian seseorang membuka kan pintu.


“Fawniaa” sapa Mama Nicko dengan baju tidur berwarna hitam dan rambut nya yang di gulung ke belakang. Wajah nya tidak kalah cantik dengan Mama, mereka berdua memang suka sekali merawat kecantikan mereka sejak dulu.


“Hallo tante. Aku ada PR fisika yang lupa di kerjakan. Nicko ada ?” Tanya ku.


“PR ? Wah seperti nya Nicko juga lupa ada PR, soalnya dia dari tadi tidak ada mengerjakan tugas apapun”


Aku tersenyum mendengar nya. Begitulah Nicko, jika aku tidak mengerjakan tugas,Nicko pun pasti ikut tidak mengerjakan nya.


“Sana samperin dia di kamar nya”


“Terimakasih tante” aku langsung kembali berlari ke lantai atas menuju kamar Nicko.


Benar saja Nicko juga masih berbaring di tempat tidur nya dengan ponsel di tangan nya. Dia terkejut begitu melihat ku masuk ke dalam kamar nya dan aku langsung ikut berbaring di samping nya dengan nafas yang masih ter engah-engah.


“Kenapa?” Tanya nya dengan terus bermain game di ponsel nya.


Aku menamparkan buku fisika ini ke wajah Nicko.


“Ada PR Fisika di kumpulin besok” ucap ku dengan terus mengatur nafas ku.


Nicko menyampingkan buku fisika ku dan terus fokus untuk bermain game.


“Ya sudah kamu saja yang mengerjakan” ucap nya dengan dingin.


Aku bangun dari tidur ku dan memicingkan mata menatap nya yang masih berbaring dengan santai nya.


“Kamu fikir aku pembantu mu!” Ucap ku dengan kesal.


Namun dia masih tidak menghiraukan ku.


“Ya sudah aku pulang saja,aku mau mengerjakan nya sendiri di rumah” ancam ku sambil hendak berdiri meninggalkan nya.


“Ehh jangan jangan jangan” ucap Nicko sambil mengakhiri game nya dan menyimpan handphone nya di samping nya.


“Iyaa ayo kita kerjakan sama-sama” ujar Nicko dengan malas nya.


Dia pergi ke rak buku untuk mencari buku catatan nya. Aku turun dari tempat tidur Nicko dan duduk di karpet lantai kamar nya.


Kita mulai mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama di kamar Nicko. Sesekali aku memecahkan soal PR itu, dan Nicko pun ikut mengecek nya. Kita tertawa bersama, bergosip bersama, dan bercerita tentang kejadian yang baru saja kita lalui dengan penuh kebahagiaan. Aku dan Nicko selalu menghabiskan waktu seperti ini bersama-sama hingga kita lupa,jika kita sudah beranjak dewasa dan sudah bisa merasakan bagaimana itu cinta.


Aku selalu mengagumi Nicko dalam diam, aku selalu melihat perubahan wajah Nicko yang semakin hari semakin terlihat tampan dan begitu keren. Di sekolah pun Nicko selalu jadi artis sekolah dan banyak di kagumi para siswi disana. Namun Nicko tidak pernah menanggapi nya,karena Nicko juga terkenal dengan sikap dingin dan ketus nya di sekolah. Di sekolah malah Nicko selalu membuntuti kukemana aku pergi, bahkan dia sering menemani ku makan di kantin dengan teman-teman perempuan ku. Terkadang aku merasakan jika Nicko itu adalah benar Kakak ku, namun terkadang juga aku selalu merasa jika Nicko adalah pelindung ku.


Aku tertidur saat kami hampir menyelesaikan tugas kami. Aku tertidur di karpet Nicko dengan langsung nyenyak saat itu juga, mungkin rasa kantuk yang sudah menyerang ku sudah sulit untuk ku tahan lagi. Sehingga aku bisa langsung tertidur pulas seperti ini. Sebenarnya aku merasakan tubuh ku di angkat, namun mata ku begitu berat untuk membuka nya, dan aku tiba-tiba saja merasakan alas tidur yang begitu empuk dan selimut yang begitu hangat dan nyaman, sampai membuat aku kembali tertidur pulas. Aku merasakan ada kecupan di kening ku ketika aku hampir tertidur pulas, aku enggan untuk melihat siapa orang itu,karena tiba-tiba saja aku sudah masuk ke dalam mimpi.


Aku memimpikan Mama. Dia memeluk ku di sebuah padang rumput yang luas. Dan dia tengah memakai baju serba putih menemui ku.


“Jaga diri baik-baik sayang. Kamu pasti akan menemukan kebahagiaan mu. Bersabar lah” ucap Mama dengan senyum penuh kepedihan.


“Mama mau kemana?” Tanya ku begitu takut.


“Mama mau pergi” jawab Mama sambil perlahan Mama menjauh dariku.


Kaki ku tertahan,aku tidak bisa mengejar nya. Mama terus menjauh sambil menatap ku dengan air mata nya.


“Maa..Mama…Mamaaa!!!” Teriak ku langsung terbangun dari tidur ku dengan nafas yang begitu terengah engah.


Aku terduduk dengan cemas nya langsung memegang kepala ku berusaha mengembalikan semua nyawaku. Tiba-tiba Nicko menghampiri ku dan duduk di samping ku.


“Kenapa?” Tanya nya terdengar begitu khawatir.


“Aku bermimpi Mama pergi” ucap ku dengan panik menatap Nicko.


Nicko mengusap-usap punggungku.

__ADS_1


“Sudah lah. Itu kan hanya mimpi. Kembali tidur” pinta Nikco dengan wajah dingin nya.


Aku menarik nafas ku begitu dalam dan berusaha menenangkan diriku. Nicko kembali ke sofa yang berada di samping jendela dan hendak kembali tidur namun aku mendengar suara langkah kaki yang cepat dari arah luar kamar.


Itu Mama Nicko dengan panik dia berdiri di ambang pintu menatap ku dengan begitu sedih. Air mata nya ternyata sudah mengalir begitu deras, dia diam sulit untuk membuka mulut.


Aku dan Nicko diam menatap orang tua nya yang hanya terlihat menangis di ambang pintu.


“Faw… rumah mu” ucap Tante Shinta.


“Kenapa Ma?” Tanya Nicko menghampiri Mama nya.


“Rumah Fawnia” mama Nicko terlihat begitu berat untuk berbicara.


“Kenapa rumah ku tante?” Tanya ku dengan tidak sabar mendengar kelanjutan nya.


“Rumah mu Kebakaran sayang” ucap Mama Nicko membuat ku membulatkan mata dan langsung turun dari tempat tidur dengan cepat.


Aku berlari melewati Nicko dan Mama nya yang hanya bisa terdiam tak percaya.


Aku berlari dengan melesat menuju rumah ku. Aku tidak percaya dengan apa yang di katakan Mama Nicko. Aku terus berlari menuju rumah ku dengan jantung yang sudah berdebar dengan hebat. Aku berlari dengan tanpa alas kaki dan terus menyentuh aspal yang dingin. Dari jauh aku sudah melihat kobaran api yang begitu tinggi, namun aku sangat berharap jika itu bukanlah rumah ku.


Semakin dekat aku semakin takut. Terlihat sekali banyak orang yang sudah mengerumuni rumah itu dan beberapa orang tengah berusaha memadamkan nya. Namun semakin mendekat aku semakin bisa melihat rumah ku yang sudah di lahap api.


“Tidaaaakkkk!!!” Teriak ku dengan histeris dan begitu tak percaya.


Aku berlari ingin masuk ke dalam kobaran api mencari Mama dan Papa, namun Om Rio,Papa Nicko langsung melepaskan selang air dan menangkap ku dengan cepat sebelum aku berhasil menerjang api.


“Mamaaaa… Papaa” teriak ku dengan memaksa ingin masuk ke dalam rumah ku yang sudah di lahap api itu.


Aku menangis sejadi jadi nya,di dalam dekapan Om Rio dan aku terus berontak ingin masuk ke dalam rumah.


“Tidak,lepaskan aku om lepaskan!!” Teriak ku kepada Om Rio berusaha melepaskan diriku namun dia tetap berusaha memeluk ku.


“Fawniaa,tenang lah Nak tenang”


“Tidak Om tidak, aku mau bersama Mama Papa Om lepasakan aku,tolong lepaskan om” histeris ku yang memaksa ingin masuk ke dalam rumahku.


“Sayang tolong tenanglah” ucap Papa Nicko terdengar dia pun sedih melihat keadaan ku sekarang.


“Lepaskan aku om lepaskan” teriak ku begitu histerisnya.


“Fawniaaa” panggil Nicko yang ikut menenangkan ku.


Aku melirik Nicko di belakang ku.


Dia begitu khawatir berjalan mendekatiku,dia juga terlihat berlinang air mata.


“Mama dan Papa di dalam Nick, Mama dan Papa ku sedang tidur di dalam” ucap ku sambil bersedih kepada Nicko lalu aku terduduk dengan lemas di aspal jalan.


Aku menangis sejadi jadi nya disana, aku menutup wajah ku dengan tangan, tidak tahan dengan kenyataan di hadapanku.


Nicko lalu memeluk ku dengan erat. Dia tidak berkata apapun, hanya memeluk ku dan menenangkan ku. Sementara aku terus menangis dengan histeris.


“Mama dan papa di dalam Nick”


Nicko hanya memeluk ku dengan erat dan terus mengelus rambut ku.


“Hanya mereka yang aku punya Nick,aku tidak memiliki siapapun lagi selain mereka” ujar ku dengan begitu sakit nya mengingat jika aku tidak memiliki keluarga kandung selain mereka di dunia ini.


“Masih ada aku” bisik Nicko di telinga ku dengan begitu dalam nya.


“Aku akan ada di samping mu selamanya”


Entah itu janji atau hanya untuk menenangkan ku saja.


Dia menjulurkan telunjuk nya kepadaku,dengan isakan tangis ku yang masih hebat aku mengaitkan telunjuk ku dengan telunjuknya dengan erat.


Ikrar janji Nicko berhasil membuat ku benar-benar sedikit tenang.

__ADS_1


Sejak saat itu. Aku di rawat oleh kedua orang tua Nicko. Dan mereka berjanji di depan pemakaman orang tua ku akan menjaga ku hingga besar dan merawat ku dengan sebaik mungkin. Dan mereka benar-benar melakukan nya. Mereka merawat ku seperti anak nya sendiri dan tidak membeda-beda kan nya dengan Nicko. Orang tua Nicko meminta ku memanggil mereka dengan Papa dan Mama agar aku bisa terbisa menganggap mereka sebagai orang tua ku,walaupun pada awal nya begitu sulit,namun pada akhirnya aku bisa terbiasa memanggill mereka dengan sebutan Papa dan Mama. Setidak nya aku bisa merasakan kehadiran orang tua ku dalam diri mereka.


__ADS_2