Cinta, Biarkan Tersesat

Cinta, Biarkan Tersesat
Berjanji untuk Nicko


__ADS_3

Aku masuk ke dalam mobil ku dengan kesal. Aku menutup pintu mobil begitu kencang dan menatap lurus ke depan, terfikirkan apa yang di inginkan Ben.


Apa yang Nicko takutkan ternyata terjadi, Ben memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat ku kembali kepadanya. Dia memang sudah gila, bahkan dia berkata jika dia tidak peduli dengan kebahagiaan yang telah aku miliki sekarang.


Aku mulai resah, aku begitu bingung. Karena di sisi lain aku harus memikirkan perusahaan ku yang hampir hancur karena Ben, dan di sisi lain aku harus menghargai perasaan Nicko. Aku sudah berjanji kepadanya jika aku tidak akan pernah menururti keinginan Ben, dan aku yakin Nicko pasti tidak akan pernah menyetujui rencana busuk Ben.


Aku langsung melajukan mobil ku kembali ke kantor. Beberapa saat kemudian aku sampai di kantor dan masuk ke dalam ruangan ku. Aku menatap Nicko yang ada di dalam ruangan nya.


Dia sedang berdiri di depan jendela dengan menatap keluar kantor terlihat terpatung. Aku menghela nafas ku melihat dia yang pasti sedang merasa frustasi sekarang. Lalu aku masuk ke dalam ruangan nya, namun Nicko tak menoleh sedikit pun. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiran ku,karena begitu serius nya dia melamun.


Aku berjalan mendekati nya dan berdiri di samping nya. Aku menatap Nicko dengan risau,lalu Nicko akhirnya menoleh ke arah ku dengan tatapan nya yang dingin.


“Bagaimana?” Tanya Nicko tanpa ekspresi sedikit pun.


“Ben hanya ingin menghancurkan perusahaan kita” jawab ku dengan kecewa.


Nicko kembali menatap lurus ke depan.


“Dia pasti memiliki tujuan, kenapa dia melakukan ini” tebak Nicko.


“Dia tidak ingin melihat ku bahagia”


Nicko menundukan kepala nya.


“Aku yakin dia pasti masih menginginkan kamu untuk kembali”


Aku begitu kesal dengan apa yang ada di dalam fikiran nya, aku membalikan badan ku menghadap Nicko dengan tatapan yang begitu kesal.


“Berapa kali harus aku katakan? Aku tidak akan pernah mau kembali kepada Ben. Dan Jika memang Ben melakukan ini hanya untuk membuat ku kembali kepadanya, aku akan mengikuti apa yang di katakan Papa. Membiarkan perusahaan ini hancur, asalkan aku tidak pernah pergi lagi di dalam kehidupan kalian”


Lalu Nicko menarik ku ke dalam pelukan nya begitu erat. Dia terus memeluk ku dalam beberapa saat tanpa bicara, dan aku membiarkan dia untuk memeluk ku, asal dia bisa merasa tenang.


“Aku minta maaf. Aku terlalu takut kehilangan kamu”


Aku memejamkan mata ku, dan diam tak menjawab ucapan nya.


“Kehilangan mu selama 5 tahun, sudah membuat ku merasa begitu tersiksa. Aku tidak ingin merasakan hal itu terjadi lagi”


“Itu tidak akan terjadi lagi, aku janji”


Padahal aku sudah begitu sering berjanji kepadanya seperti ini, tetapi Nicko masih saja meragukan ku. Dia seperti memiliki rasa trauma dan terlalu khawatir dengan keadaan ku.


Hari sudah mulai sore. Aku dan Nicko segera pulang dari kantor dan menemui Kara yang sedang bermain di taman dengan babby sitter nya. Ya itu Mbak Susi, pengasuh Kara yang kembali aku pekerjaan, karena aku merasa kasihan kepada Mama dan Papa yang tidak beristirahat menjaga Kara.


“Mama” sapa Kara seperti biasa, dia berlari ke arah ku dan Nicko lalu memeluk kami berdua.


“Hallo sayang” sapa ku.

__ADS_1


“Sedang bermain apa?”


“Kara bermain puzzle sama Mbak Susi”


“Oma mana?” Tanya ku.


“Oma sedang tidur Mah”


“Kara sudah makan?” Tanya Nicko.


“Sudah dong Pah, tapi tadi Oma minta Kara makan sayuran” ujar Kara dengan cemberut.


Aku melirik Nicko.


“Lalu Kara makan?” Tanya Nicko.


Kara mengangguk dengan lemah.


“Soalnya Oma bilang, kalau Kara tidak makan sayuran, nanti sayur yang udah di buat Oma nangis”


Nicko tertawa mendengan cerita Kara.


“Ya. Sejak kecil juga Oma selalu berkata seperti itu setiap kali Oma membuat sayuran, dan Oma bilang sayur nya nangis kalau Papa ga makan. Terus Papa biarin sayur nya nangis, karena Papa ga mau makan sayur”


“Terus sayur nya nangis?” Tanya Kara dengan penasaran.


“Sayur nya nangis, jadi kuah sayur nya berubah jadi asin” jawab Nicko membuat ku ingin tertawa namun aku menahan nya karena tidak ingin membuat Kara curiga dengan karangan cerita Nicko.


Kara menatap ku, lalu aku berpura-pura mengangguk seolah mengiyakan apa yang di katakan Nicko. Kara langsung ikut mengangguk dengan ku.


“Ya sudah, Mama dan Papa mandi dulu dan berganti dulu pakaian ya”


Aku mengelus kepala Kara dengan lembut.


“Oke”


Nicko juga ikut mengelus kepala Kara dan mengecup kening Kara sebelum dia mengikuti ku menuju kamar.


Sesampainya di kamar aku langsung memecahkan tawa ku yang sudah di tahan sejak tadi.


“Apa? Kuah sayur nya jadi asin?” Ledek ku kepada Nicko,sambil terus berdiri di hadapan nya.


Nicko menutup pintu dengan rapat,dan terlihat senyum di raut wajah nya.


“Apa itu trik Mama kamu setiap kali kamu tidak ingin memakan sayur?” Tanya ku.


Dia mengangkat bahu nya dan melepaskan dasi yang melingkar di leher nya.

__ADS_1


“Tetapi trik seperti itu berhasil sampai beberapa tahun”


“O ya?”


“Ya. Sampai aku besar dan mengetahui jika sayur tidak bisa menangis, aku kembali tidak mau memakan sayur”


Aku memicingkan mata ku.


“Aku masih bingung sampai sekarang. Kenapa bisa-bisa nya Kara memiliki sifat dan watak yang begitu sama dengan mu”


Nicko tertawa mendengar ucapan ku.


“She’s my daughter” ucap Nicko begitu bangga nya.


“Yeah that’s true. Tapi kenapa sifat jelek mu yang harus di turunkan kepada Kara, kenapa tidak yang baik nya”


Nicko melingkarkan tangan nya di tubuh ku dengan terus tersenyum mendengar ocehan ku yang merasa tidak terima dengan kenyataan yang ada.


“Kalau begitu kita harus membuat Kara kecil untuk menurunkan sifat baik ku” ucap Nicko membuat ku memelototi nya dengan membaca pikiran nya.


“No!” Ucap ku dengan begitu jelas lalu melepaskan diri ku dari jeratan nya.


“Kenapa?” Tanya Nicko sambil terus mengejarku dan kembali memeluk ku.


“Jangan sekarang Nicko” ucap ku.


“Kenapa? Mama juga sudah bilang jika Kara sudah besar kan? Kasihan Kara tidak punya teman” goda Nicko dengan berusaha mencium ku membuat ku begitu geli.


Aku tertawa dengan godaan nya.


“Tidak Nicko” aku terus tertawa dan berusaha melepaskan diri ku dari pelukan nya.


“Ayolah” ucap Nicko membuat ku merasa jadi takut kepadanya.


Aku berhasil melepaskan diri ku dari pelukan nya dan berlari mengitari kamar ini sambil tertawa dan berusaha menghindari Nicko. Nicko mengejarku dengan santai sambil terus tertawa, karena langkah dia begitu lebar dan dia tahu aku tidak akan bisa kabur kemana pun di dalam kamar ini.


Dia akhirnya bisa menarik tangan ku dan melempar ku ke atas tempat tidur,membuat ku memantul dan aku tidak bisa berhenti untuk tertawa lalu dia diam di atas ku dan menjerat ku agar tidak bisa kabur lagi.


Nafas ku masih ter engah-engah dan tawa ku masih belum bisa hilang, namun aku melihat Nicko begitu tenang dan tersenyum begitu manis nya.


“I Love You” ucap Nicko membuat ku tersihir dan terdiam menatap nya begitu dalam.


“I Love You Too” jawab ku.


Lalu Nicko mencium bibir ku dengan begitu lembut pada awal nya, dan semakin lama ciuman nya berubah menjadi menggebu gebu.


Nicko melepaskan kancing kemeja ku, dan aku ikut membuka kancing kemeja nya dengan tanpa melepaskan ciuman kami. Ciuman nya sudah mulai menjalar kemana mana, dan kami melakukan nya lagi.

__ADS_1


__ADS_2