
Di sebuah taman yang indah apalagi karena bunga sakura yang di identik dengan negara itu kini sedang bermekaran begitu indah. Taman terlihat sedikit sepi karena jam masih menunjukkan waktu bekerja. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang, tak terkecuali dengan dua orang gadis yang berbeda cara berpakaian kini sedang duduk di salah satu bangku taman.
Kedua gadis itu saling membagikan makanan yang mereka makan terkadang di sela sela itu mereka juga tertawa bersama. Siapapun yang melihat mereka saat ini pasti mengira mereka begitu bahagia. Tanpa ada yang tahu, di balik tawa bahagia itu menyimpan sebuah luka dan kesedihan karena baru saja di tinggalkan untuk selamanya oleh orang yang di cintainya.
" Alisya, tersenyumlah! "
Agatha pun memotret Alisya yang tersenyum kepadanya, gadis tanpa penutup rambutnya itu berusaha membuat sahabatnya tertawa dan melupakan kesedihannya. Karena itu dia mengajak sang sahabat untuk datang ke tempat ini, setelah satu jam lalu mereka menyelesaikan kegiatannya di universitas.
Agatha memperlihatkan hasil potretnya kepada Alisya, gadis berkerudung itu pun melihat dirinya yang tersenyum di gambar itu. Sesaat Alisya melupakan kesedihannya, dia begitu senang mendapatkan sahabat sebaik Agatha. Kedua gadis yang kebetulan satu kelas dan satu jurusan itu, menjadi semakin akrab. Baik Alisya dan Agatha, keduanya terlihat seperti kakak dan adik.
" Apa kau senang, Alisya? "
" Aku senang sekali, terima kasih karena sudah mengajakku ke tempat ini, Agatha! "
__ADS_1
Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi ada seseorang yang terus memperhatikan mereka lebih tepatnya kepada Alisya. Sepasang tatapan tajam tak berhenti melihat ke arah Alisya. Sebuah tatapan yang membuat siapa saja melihatnya, pasti akan ketakutan.
Aaron, pria itu duduk di dalam mobil yang jauh dari jangkauan kedua gadis itu sehingga tak ada yang merasakan keanehan dari mobil itu. Bibirnya tertarik dan menampilkan sebuah senyum devil mematikan dirinya.
" Berbahagialah gadis kecil. Setelah ini mungkin hidupmu akan menyedihkan. Kau tidak bersalah, tetapi kakakmu Annastasia yang memaksaku melakukan hal ini. Jika saja kakakmu menerima cintaku dan pergi dari Daniel, mungkin kau tidak akan menjadi korbannya. "
***
" Boleh aku bergabung, dokter Anindhita? "
Seorang pria berjas putih mengganggu Anin yang sedang menikmati makan siangnya sendirian. Bukan tak ada yang berusaha berteman dengannya, namun Anin sendiri yang tidak terlalu cocok berteman dengan orang asing di sana.
" Dokter Anindhita? "
" Ah iya, maaf aku melamun tadi. "
__ADS_1
" Apa aku boleh bergabung denganmu untuk makan siang? "
Anin mengangguk dan keduanya kini duduk di meja yang sama. Pria yang berprofesi sama dengan Anin kini menatap dirinya, Anin yang di tatap seperti itu menjadi tidak nyaman. Ingin dia menyuruh pria itu pergi tetapi dia tidak bisa mengatakannya.
" Perkenalkan namaku Jonathan. Aku di pindahkan ke rumah sakit ini tidak lama sebelum kau bekerja di sini. Saat melihat wajahmu, aku merasa tidak asing. Kau mirip dengan dokter Annastasia! "
Jonathan, pria yang sama yang pernah memiliki perasaan kepada Annastasia namun perasaan itu terpaksa harus di lupakan kala mendengar bahwa wanita yang di sukainya ternyata sudah menikah. Hingga tak lama setelah mengetahui hal yang membuat hatinya terluka, dia tiba tiba di pindahkan ke rumah sakit ini.
Beberapa bulan setelah kepindahannya ke rumah sakit itu, Anin pun datang dan bekerja menjadi salah satu dokter di sana. Sejak saat itu dia penasaran dengan dokter baru itu, dia pun mulai memperhatikan Anin secara diam diam apalagi wajahnya begitu mirip dengan wanita yang sudah membuatnya patah hati.
" Kau mengenalnya? Annastasia adalah kakakku. "
Jonathan terkejut mendengar jawaban dari pertanyaan selama ini. Namun dia tidak begitu heran karena mereka terlihat mirip.
" Jadi kalian adik kakak? Pantas saja kalian begitu mirip satu sama lain. Aku pernah menjadi rekan kerjanya saat bekerja di rumah sakit yang dulu. Dunia begitu sempit bukan? Sekarang aku malah di pertemukan dengan adik dari rekanku dulu. "
__ADS_1
" Senang bertemu denganmu dokter Anindhita. "
" Senang juga bertemu denganmu dokter Jonathan. "