Cinta Hitam Putih

Cinta Hitam Putih
CHP: Says Everything!


__ADS_3

Sudah hampir seminggu seorang gadis yang dulunya begitu ceria kini terdiam dalam ketakutan. Mengurung diri dalam kamarnya tanpa ingin keluar. Alisya begitu takut untuk sekedar keluar rumah, bahkan kini ponselnya sudah dia nonaktifkan.


Wajahnya memucat bahkan tubuhnya semakin kurus serta kedua matanya yang membengkak karena setiap hari menangis. Dia mengabaikan makannya, pikirannya terlalu takut bahkan melupakan kesehatannya. Di samping ranjangnya, dia terduduk dengan memeluk kedua lututnya.


Buliran bening terus keluar dari mata indahnya. Gadis itu begitu ketakutan ketika mengingat orang yang sudah menerornya selama beberapa hari kebelakang. Rasanya dia tidak pernah memiliki masalah dengan siapapun, tetapi mengapa ada yang tega menerornya seperti ini.


" Aku sangat takut! "


Lirihnya sembari menyembunyikan wajahnya di lutut yang dia rengkuh. Dirinya terus menangis tanpa suara, hingga dirinya di kejutkan dengan suara ketukan pintu. Tak lupa menyeka air matanya, Alisya segera membuka pintu kamarnya ketika mendengar suara sang kakak dari luar.


Menyembunyikan kesedihannya, Alisya berusaha tersenyum kepada sang kakak yang terlihat mengkhawatirkannya. Alisya tidak memberitahu sedikit pun tentangnya kepada sang kakak dengan alasan tidak ingin membuat sang kakak mengkhawatirkannya.


Dengan begitu pintar, dia menyembunyikan ketakutannya di depan sang kakak. Seolah olah sedang belajar di dalam kamar dan tidak bisa keluar, Alisya sukses menyembunyikannya kepada sang kakak. Namun Anin tetap menaruh kecurigaan kepada adik satu satunya, beberapa hari terakhir dia merasa ada keanehan kepada sang adik. Belum lagi keadaan Alisya yang memucat, dengan mata yang bengkak, hal itu semakin membuatnya khawatir. Dan setiap bertanya, jawaban Alisya tetap sama yaitu ingin belajar keras agar segera menyelesaikan pendidikannya.


" Apa kau baik baik saja, Alisya? "


" Iya kak, aku baik baik saja. "

__ADS_1


Meskipun demikian, Anin tetap merasa ada sesuatu yang adiknya sembunyikan. Tetapi setiap bertanya, sang adik tetap memberikan jawaban yang Anin tidak puas.


" Ponselmu kemana? Mengapa setiap aku menghubungimu, selalu saja tidak aktif? "


" Ah itu kak, aku terkadang sengaja mematikannya. Karena aku tidak mau belajarku terganggu, makanya aku menonaktifkan ponselku. "


Anin menatap mata sang adik, sedangkan yang di tatap hanya menundukkan wajahnya. Dan itu semakin membuat Anin yakin ada sesuatu yang adiknya sembunyikan. Ketika dia hendak bertanya lagi, terdengar suara bel dari luar. Anin pun segera berjalan ke depan untuk membukakan pintunya.


Anin tersenyum ketika melihat siapa yang datang, yang tak lain adalah Agatha. Gadis itu hampir setiap hari berkunjung ke rumah, hanya dia yang tahu keadaan Alisya. Terkadang dia juga menginap di rumah itu untuk sekedar menemani sahabatnya.


" Ayo masuk. Kebetulan sekali kau datang, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. "


Ketiga perempuan cantik itu kini sudah duduk di ranjang milik Alisya. Anin menatap dalam kedua gadis yang menundukkan wajahnya ke bawah. Dan itu semakin membuat dirinya yakin sesuatu telah terjadi kepada mereka.


" Aku tahu ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Ceritakan kepadaku, apa yang sudah terjadi Alisya, Agatha! "


Alisya menahan air matanya agar tidak terjatuh sembari meremas jemarinya. Bahkan tangannya kini sudah memerah, sekarang dia sudah tidak bisa menyembunyikan apapun lagi dari sang kakak. Kejadian yang membuatnya trauma beberapa hari terakhir, sudah tidak bisa dia tahan sendiri.

__ADS_1


Agatha yang mengerti dengan ketakutan sang sahabat, segera merengkuhnya. Dan detik itu juga air mata yang Alisya tahan kini tumpah. Kesedihan yang sejak tadi dia pendam, kini dia tumpahkan di dalam rengkuhan sang sahabat.


" Mengapa kau menangis, Alisya? Ada apa ini, apa yang sudah terjadi? "


Anin menggenggam jemari sang adik yang bisa di rasakannya bergetar. Dia pun menarik tubuh lemah itu ke dalam pelukannya. Dia mengusap lembut punggung sang adik. Apa yang sedang di sembunyikan oleh Alisya, sehingga tak bisa menceritakan kepada dirinya.


Alisya bergetar dan jemarinya menggenggam erat baju sang kakak. Dengan suara bergetar, Alisya pun mulai menceritakan kejadian yang menghantuinya selama beberapa Minggu terakhir. Anin yang mendengarnya begitu terkejut, dia tidak menyangka adiknya menyembunyikan masalah sebesar ini kepada dirinya.


" Mengapa kau menyembunyikan ini semua kepadaku, Alisya? "


Anin memegang bahu sang adik. Dia bisa melihat bagaimana keadaan sang adik sekarang. Dia merasa sudah menjadi kakak yang tidak berguna menjaga sang adik. Tak terasa dia pun meneteskan air matanya karena tak sanggup melihat keadaan sang adik.


" Siapa yang sudah berani melakukan itu kepadamu, Alisya? Kita harus segera melaporkan itu kepada pihak berwajib. Ini sudah termasuk tindakan kriminal. "


" Tidak kak. Kita tidak bisa melaporkannya, karena sampai sekarang aku tidak tahu siapa yang melakukan itu. "


Alisya mengambil ponselnya dan mengaktifkan kembali benda pipih itu. Dan di saat aktif, banyak pesan dari nomor yang berbeda yang menerornya. Anin menutup mulutnya tidak percaya ketika membaca satu persatu pesan teror tersebut.

__ADS_1


" Kita harus mengatakan semuanya kepada kak Anna. Kau jangan takut lagi, Alisya. Kami semua bersamamu, tidak ada yang bisa melukaimu sedikitpun! "


__ADS_2