
Begitu mengetahui sang adik yang mendapatkan teror dari seorang yang misterius, Anin segera berniat untuk berbagi dengan kakak tertua mereka. Dengan usaha keras, akhirnya Alisya mau ikut sang kakak untuk keluar pertama kalinya setelah seminggu terakhir dia mengurung diri.
Di dalam mobil yang di kemudikan oleh Agatha, Alisya terus memeluk sang kakak dengan penuh ketakutan. Bagaimanapun dia masih memiliki rasa takut ketika keluar rumah, pikirannya sudah kemana mana. Bagaimanapun ketika dia keluar, seseorang akan mencoba menyakiti dirinya.
Ketakutan itu terus menghantui gadis belia itu, bahkan di dalam rengkuhan sang kakak, gadis kecil itu tak berani untuk membuka matanya. Di dalam rengkuhan sang kakak, gadis berwajah pucat dengan mata yang terlihat membengkak itu bergetar hebat.
" Tenanglah, Alisya. Di mana Alisya pemberani dulu, mengapa sekarang kau ketakutan seperti ini? Lawanlah ketakutanmu itu, jangan biarkan rasa takut itu menguasai dirimu, Alisya. "
Anin terus mengusap punggung sang adik. Sebagai seorang kakak, Anin bisa merasakan bagaimana adiknya saat ini. Namun meskipun begitu, dia tetap harus berusaha menenangkan gadis kecil ini. Sedangkan Alisya hanya hanya terisak di pelukan sang kakak. Hidungnya kini terlihat memerah, dengan wajah yang semakin memucat dan mata yang semakin membengkak.
Hati Anin teriris melihat keadaan sang adik saat ini. Dalam hatinya dia mengutuk seseorang yang sudah membuat keadaan sang adik seperti ini. Sama seperti Anin, Agatha yang sudah menjadi sahabatnya pun juga merasakan hal yang sama seperti Anin.
" Alisya, tenanglah. Semuanya akan segera berakhir, setelah Kak Anna dan Kak Daniel tahu, mungkin mereka akan segera menyelesaikan semua masalah ini. Jangan menangis lagi, kakak tidak sanggup melihatmu seperti ini. "
__ADS_1
Alisya hanya mengangguk sembari sesekali terisak. Gadis kecil itu berusaha untuk tidak menangis sembari mengeratkan tangannya kepada sang kakak. Agatha pun menambah kecepatan mobilnya membelah jalan raya itu. Melihat terjadi kemacetan di depan, Agatha membelokkan mobilnya ke kiri untuk mengambil jalan pintas agar segera sampai.
Dan beruntungnya jalan yang dia ambil cukup sepi dan hal itu memudahkannya untuk semakin menambah kecepatan laju mobilnya. Sesekali dia melirik Anin dan Alisya melalui spion depannya. Sebagai sahabat, Agatha bisa merasakan bagaimana keadaan Alisya saat ini. Mungkin jika dia yang menjadi Alisya, entah dia sanggup atau tidak ketika mendapatkan teror seperti itu.
" Ah sial! "
Agatha menginjak rem mobilnya mendadak ketika melihat sebuah mobil yang menyalip mereka di depan. Hal itu membuat Anin dan Alisya tersentak ketika mobil tersebut berhenti mendadak bahkan mereka hampir terjungkal ke depan jika saja mereka tidak menggunakan sabuk pengaman.
" Aku tidak tahu kak. Tiba tiba ada sebuah mobil yang menyalip kita. "
Alisya pun melepaskan pelukannya dari sang kakak. Dengan menyeka air matanya, dia melihat sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di depan mereka. Perasaannya semakin tidak karuan, melihat mobil yang menghalangi perjalanan mereka, berhasil membuatnya memikirkan yang tidak tidak.
Sama halnya dengan Alisya, baik Anin dan Agatha kini juga merasakan sesuatu yang tidak baik akan terjadi. Apalagi kondisi jalan yang begitu sepi hanya ada beberapa mobil yang melewati jalan tersebut. Menyadari hal itu, Agatha segera memundurkan mobilnya bermaksud untuk segera pergi dari sana.
__ADS_1
Namun belum menginjakkan pedal gas mobilnya, Ketiga gadis itu di kejutkan dengan sebuah ketukan kaca dari luar. Ketiganya di buat terkejut ketika melihat seorang pria berpakaian serba hitam serta menutupi seluruh permukaan wajahnya, terus menggedor jendela mobil milik Agatha.
" Keluarlah! Jika tidak aku akan menghancurkan mobil ini! "
Mendengar teriakan pria itu, membuat ketiga gadis itu ketakutan. Alisyalah yang paling takut saat ini bahkan dirinya tidak berani membuka matanya sekalipun. Agatha hendak melajukan mobilnya namun tersentak takut ketika suara tembakan di ban mobilnya hingga membuat mobilnya oleng.
" Kak aku sangat takut! "
" Tenanglah. Tidak akan terjadi apapun, aku akan menghubungi Kak Anna. "
Belum sempat Anin menghubungi sang kakak, pintu mobil itu sudah di rusak lebih dulu oleh pria tadi. Pria itu menyemprotkan sesuatu kepada ketiganya, hingga beberapa saat kemudian ketiganya jatuh pingsan karena menghirup itu.
Dua pria lainnya juga datang mengangkat tubuh Anin dan Agatha yang sudah tidak sadarkan diri dan membawanya ke sebuah mobil. Tak terkecuali dengan Alisya yang juga di angkat oleh seseorang serta membawanya ke mobil lainnya.
__ADS_1