
Daniel menghentikannya mobilnya tepat di depan sebuah rumah sakit besar untuk mengantar kembali sang istri. Dia tidak ingin istrinya pergi sendirian karena dia tidak ingin mengambil resiko untuk keselamatan istrinya itu. Oleh karena itu Daniel memutuskan untuk mengantar jemput wanita tercintanya.
Daniel melihat ke arah samping di mana istrinya duduk yang kini sudah memberikannya sebuah senyuman indah. Senyuman indah itu Anna berikan kepada suaminya karena kejadian kemarin. Anna masih di selimuti rasa bahagia ketika kini keluarganya sudah lengkap.
" Jika kau terus tersenyum seperti itu, maka jangan salahkan aku jika bibirmu bisa membengkak nanti. "
Anna kini malah tertawa ketika mendengar ucapan suaminya yang menurutnya begitu lucu. Daniel hanya terdiam melihat tawa istrinya yang bisa dia lihat bagaimana rasa bahagia wanita di depannya.
" Terima kasih suamiku. "
Anna mengecup sekilas pipi Daniel dan dengan sigap memeluk tubuh kekar milik suaminya. Daniel seketika memegang pipinya yang baru di kecup oleh wanitanya. Bibirnya tertarik ketika merasakan sentuhan begitu hangat dari wanita di dekapannya.
__ADS_1
Anna pun melepaskan pelukannya dan langsung menyalami serta mencium tangan kekar itu. Daniel pun membalasnya dengan sebuah kecupan di bibir, pipi hingga berakhir dengan kecupan lama di kening istrinya.
Anna pun segera keluar dan memasuki area rumah sakit itu. Dia berjalan dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari wajahnya dan hal itu semakin membuat dirinya semakin cantik. Tak lupa pula membalas sapaan para staf rumah sakit yang menyapa dirinya.
" Dokter Annastasia. Pasien bernama Aaron Harrison ingin bertemu dengan anda sekarang. "
Seorang perawat wanita tiba tiba menghalangi niatnya membuka pintu ruangan miliknya,sehingga Anna terpaksa menghentikan nistnya. Setelah mendengar perkataan perawat itu Anna pun menganggukinya dan segera menaruh tasnya di ruang kerja miliknya serta tak lupa memakai jas putih kedokteran.
" Bagaimana kabarmu tuan? "
Anna tersenyum sembari memeriksa keadaan pasien di depannya. Seluruh pergerakan Anna tak luput dari kedua mata elang milik Aaron yang menatapnya penuh obsesi. Anna sama sekali tidak menyadari tatapan Aaron untuk dirinya. Aaron tiba tiba menyentuh tangan Anna yang sedang melihat infus di lengannya, hal itu sontak membuat Anna menjauhkan tangannya dari tangan Aaron.
__ADS_1
" Ah maaf dokter Anna, aku tidak sengaja menyentuhmu. "
Anna pun mengangguk mengerti dan terus memeriksa keadaan Aaron yang jauh lebih baik daripada orang lain yang terkena tembakan seperti Aaron. Anna sekilas merasa heran mengapa Aaron bisa se tenang itu ketika mendapat sebuah tembakan. Dia tidak boleh berpikir buruk mengenai pasiennya, Anna pun menghilangkan pikiran buruk itu dari pikirannya.
" Kata perawat tadi kau ingin bertemu denganku, ada apa? "
" Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menolongku kemarin. "
Anna tersenyum dan itu semakin membuat Aaron terobsesi untuk merasakan bibir merah muda milik Anna. Tatapan mata Aaron tak pernah teralihkan dari bibir Anna yang begitu indah di matanya.
" Bibir itu membuatku ingin merasakannya. Ah Anna kau benar benar membuatku candu, tidak lama lagi aku akan membuatmu menjadi milikku selamanya. Tunggulah sayang, aku mencintaimu Anna. "
__ADS_1
" Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku tuan Aaron. Sebagai dokter sudah menjadi kewajibanku untuk membantu orang yang membutuhkan. "