Cinta Hitam Putih

Cinta Hitam Putih
CHP: Successful Operation


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Anna berhenti tepat di depan gedung rumah sakit tempatnya bekerja. Dengan keadaan yang sudah berantakan serta noda darah yang memenuhi seluruh pakaiannya. Anna berteriak memanggil beberapa staf rumah sakit hingga beberapa staf berlari ke arahnya serta membawa sebuah brankar.


Tiga perawat yang datang membantu Anna membaringkan tubuh lemah sang suami. Anna menahan tangisannya sembari berlari mendorong brankar itu. Tatapannya tak pernah terlepas dari wajah sang suami yang kian sudah memucat. Tak memperdulikan keadaannya saat ini, Anna memasuki ruang operasi.


Semuanya sudah di persiapkan karena sebelum dirinya sampai, Anna sudah terlebih dahulu pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruang operasi. Hingga tak membutuhkan waktu yang lama kini beberapa orang dokter sudah siap melakukan tindakan operasi.


" Bertahanlah suamiku! "


Anna mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus, Anna mengusap kasar air matanya ketika melihat suaminya yang tidak sadarkan diri itu. Anna bergetar ketika mengambil sebuah peralatan yang di butuhkan hingga membuat seorang dokter berkata.


" Dokter Annastasia, sebaiknya kau tidak perlu ikut operasi ini. Keadaanmu tidak memungkinkan, kami akan berusaha menyelamatkan suamimu, dokter. "


" Tidak. Aku bisa. "

__ADS_1



Semuanya mulai bertugas melakukan tugas mereka masing masing. Begitu juga dengan Anna yang berusaha melakukan semaksimal mungkin untuk mengeluarkan peluru dari punggung suaminya. Sesekali dia meneteskan air matanya, namun dia tetap melakukan semaksimal mungkin.


Operasi itu membutuhkan waktu hingga 3 jam, dan sekarang operasi itu berjalan lancar. Anna segera keluar dari ruang bedah itu serta melepas masker di wajahnya dan menangis sejadi jadinya tepat di dinding ruang operasi itu sembari meringkuk di lantai. Anna terisak mengingat keadaan suaminya yang begitu kritis, namun dirinya sangat bersyukur karena berhasil melakukan operasi itu.


" Jangan membuatku membencimu Daniel, bangunlah! "


Anna menekuk wajahnya di kedua lututnya dan menangis sejadi jadinya apalagi memorinya terulang ke beberapa jam yang lalu. Tak pernah dia merasa bergetar seperti ini setelah melakukan sebuah operasi besar. Tetapi sekarang berbeda, karena dirinya mengoperasi sendiri suaminya dengan kedua tangannya sendiri.


" Menangislah, Anna. "


Orang tersebut terus mengusap punggung salah satu sahabatnya. Membiarkan sang sahabat mengeluarkan semua kesedihannya saat ini. Jangan tanya mengapa dia berada di sini, karena mulai hari ini dia juga akan bekerja di rumah sakit sama dengan Anna.

__ADS_1


" Suamiku, Alice. Suamiku kritis di dalam sana. "


Ujar Anna yang masih terisak di pelukan sahabatnya. Cukup lama dia mencurahkan kesedihannya kepada Alice, Anna mulai membaik dan dengan perlahan Alice membawanya ke sebuah kursi panjang yang ada tak jauh dari mereka berada.


" Tenanglah, Anna. Percayakan semuanya kepada Tuhan, kau harus yakin suamimu akan segera pulih. "


" Aku takut, Alice. Aku takut sesuatu akan terjadi padanya, aku belum siap kehilangannya. "


" Hustt... Jangan bicara seperti itu. Yakinlah bahwa tak lama lagi suamimu akan pulih dan bisa kumpul lagi denganmu nanti. "


Alice kembali memeluk sahabatnya itu sembari menenangkan kondisi Anna yang masih dalam keadaan shock. Anna berusaha tenang dengan menarik nafasnya dalam. Anna melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya sendiri dan menyadari keberadaan Alice yang tiba tiba berada di sana.


" Kau di sini? "

__ADS_1


" Iya, mulai hari ini aku akan bekerja di rumah sakit ini, Anna. "


__ADS_2